Jian Yi dan para rekannya gugur setelah menantang kekuatan besar Kekaisaran Pusat. Pertempuran itu seharusnya menjadi akhir dari segalanya bagi mereka.
Namun saat kesadaran Jian Yi memudar, sebuah keajaiban terjadi. Berkat campur tangan Raja Naga, mereka diberi kesempatan kedua—sebuah reinkarnasi yang mengubah takdir mereka.
Terlahir kembali di dunia yang sama namun dengan kehidupan baru, Jian Yi menyimpan satu janji dalam hatinya: membalas kehancuran yang dialaminya dan melampaui semua batas kekuatan.
Kali ini, dia tidak akan jatuh lagi.
Tapi di dunia yang dipenuhi kultivator kuat, sekte kuno, dan kekaisaran yang menguasai segalanya …
Mampukah Jian Yi benar-benar bangkit, menuntut balas, dan mencapai puncak kekuatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Mudah sekali
Giliran pertama jatuh kepada Lu Feng. Lawannya adalah seorang bocah dari perguruan bela diri lokal yang bertubuh dua kali lebih besar darinya.
Namun, bagi Lu Feng, ukuran tubuh hanyalah angka yang tak berarti di hadapan tekniknya.
Pertarungan itu berakhir bahkan sebelum penonton sempat duduk kembali.
Lu Feng hanya melangkah satu kali, menghindari serangan lawan dengan gerakan malas, lalu mendaratkan satu pukulan telak ke ulu hati lawan.
Tanpa suara, lawannya ambruk seperti karung pasir. Lu Feng berjalan pergi sambil menguap, melambaikan tangan ke arah orang tuanya seolah baru saja memenangkan lomba makan kerupuk, bukan duel maut.
Di sisi lain arena, Wei Yan berdiri dengan tubuh gemetar karena amarah yang tertahan. Sifat arogan dan haus kekuasaannya bukanlah tanpa alasan.
Ayahnya, Wei Bo, adalah pria bertangan besi yang tidak mengenal kata "kalah". Di Keluarga Wei, anak-anak tidak dianggap sebagai manusia, melainkan investasi.
Sejak kecil, Wei Bo selalu menanamkan pada Wei Yan bahwa menjadi nomor dua adalah sebuah aib yang setara dengan kematian.
Setiap kali Wei Yan gagal dalam latihan, ia akan dikurung di ruang gelap tanpa makanan.
Hal inilah yang membentuk mentalitas Wei Yan; ia harus berada di puncak, dan siapa pun yang menghalangi jalan atau menghinanya harus dihancurkan berkeping-keping.
Baginya, Jian Yi bukan sekadar lawan, melainkan noda yang harus dihapus untuk memvalidasi keberadaannya di mata sang ayah.
"Pertandingan selanjutnya: Jian Yi dari Keluarga Jian melawan Wei Yan dari Keluarga Wei!"
Wei Yan melompat ke arena dengan gerakan teatrikal, pedang panjangnya berkilat tajam di bawah sinar matahari.
Di sisi lain, Jian Yi berjalan santai, tangannya masih memegang sisa tusuk sate yang ia temukan di tribun tadi.
Ia bahkan tidak membawa pedang kayu, hanya berdiri dengan tangan kosong dan tatapan yang sangat mengantuk.
"Aku akan mencabut lidahmu yang sombong itu, Jian Yi!" teriak Wei Yan, matanya memerah.
Jian Yi tidak menjawab. Ia justru melepaskan aura jiwa sebuah teknik penekanan batin yang seharusnya hanya dimiliki oleh para Pendekar Agung.
Udara di sekitar arena mendadak terasa berat, seolah gravitasi meningkat berkali-kali lipat.
Wush!
Wei Yan menyerang dengan rangkaian teknik Pedang Badai Hijau. Bilah pedangnya menciptakan puluhan bayangan yang mengincar titik vital Jian Yi. Kecepatannya luar biasa, cukup untuk membuat penonton awam terpukau.
Namun, Jian Yi bergerak dalam "Kehampaan". Ia tidak menghindar dengan melompat, melainkan hanya menggeser tubuhnya setipis helai rambut.
Setiap tebasan Wei Yan hanya membelah udara kosong. Jian Yi melangkah maju perlahan, setiap pijakannya di atas batu arena menciptakan retakan halus yang memancar seperti jaring laba-laba.
Tekanan Qi dari tubuh Jian Yi mulai mencekik Wei Yan. Bocah Wei itu merasa seolah sedang mencoba menebas gunung yang tak berujung.
Keringat dingin mengucur deras di dahi Wei Yan. Ia berteriak, mengerahkan seluruh energi Qi dalam satu serangan tebasan vertikal yang dahsyat.
BUM!
Jian Yi tidak menghindar. Ia mengangkat satu tangan, menangkap bilah pedang tajam Wei Yan hanya dengan dua jari yang dilapisi energi biru pekat. Suara denting logam yang patah bergema ke seluruh penjuru arena.
Jian Yi menatap mata Wei Yan yang kini penuh ketakutan. Tanpa emosi, Jian Yi melancarkan satu pukulan telapak tangan terbuka ke arah dada Wei Yan. Pukulan itu terlihat lambat, namun membawa beban ribuan ton tekanan atmosfer.
DUARRRR!
Wei Yan terlempar seperti peluru kendali. Tubuhnya menghantam dinding pembatas arena hingga hancur berkeping-keping, lalu terus terpental hingga keluar dari area stadion dan mendarat di tumpukan sampah di luar gerbang.
Arena mendadak sunyi senyap. Wei Bo berdiri dari kursi kehormatannya, wajahnya merah padam hingga ke telinga.
Ini bukan sekadar kekalahan; ini adalah penghinaan publik yang paling telak dalam sejarah keluarga mereka.
Anaknya, sang jenius yang dibanggakan, dikalahkan oleh bocah berusia delapan tahun tanpa senjata, bahkan tanpa keringat.
Tan Yin'er yang menonton dari tribun VIP menutup mulutnya dengan tangan, matanya terbelalak.
Ia tahu Jian Yi kuat, tapi ia tidak menyangka kekuatannya berada di level yang tidak masuk akal bagi seorang anak kecil.
Jian Yi mengibas-ngibaskan tangannya seolah baru saja menyentuh sesuatu yang kotor. Ia berbalik dan berjalan menuju lorong pemain tanpa menoleh sedikit pun ke arah Wei Bo yang sedang menahan napas karena murka.
"Menyedihkan," gumam Jian Yi pelan.
Di reruntuhan di luar sana, Wei Yan berusaha bangkit dengan sisa tenaganya. Tulang rusuknya retak, namun yang lebih hancur adalah harga dirinya.
Di dalam hatinya, sebuah benih iblis mulai tumbuh. Dendamnya kini bukan lagi soal persaingan bisnis, melainkan sebuah obsesi gelap untuk melihat Jian Yi memohon ampun di bawah kakinya.
Lu Feng menyambut Jian Yi di lorong dengan seringai lebar. "Kau terlalu berlebihan, kawan. Lihat wajah ayahnya, dia tampak seperti ingin menelan stadion ini bulat-bulat."
"Dia butuh pelajaran tentang realitas," sahut Jian Yi dingin. "Ayo pergi. Kita harus menemui A-Lang. Kurasa dia butuh bantuan untuk menghadapi tunangannya yang 'cantik' itu."
Keduanya berjalan menjauh, meninggalkan kekacauan dan kebencian yang akan menjadi api besar di masa depan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
𝗝𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗨𝗣𝗔 𝗧𝗜𝗡𝗚𝗚𝗔𝗟𝗞𝗔𝗡 𝗝𝗘𝗝𝗔𝗞 𝗗𝗘𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗜𝗞𝗘 ... 𝗛𝗘𝗛𝗘🏁