Bayangan pernikahan yang bahagia agaknya tidak berlaku untuk Nadia Witama. Gadis seperempat abad itu justru terpaksa menikah dengan pria kasar dan arogan seperti Arya Dirgantara untuk melunasi hutang ayahnya. Bisakah Nadia bertahan dengan sikap Arya? Atau pada akhirnya dia akan menyerah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
" Bagian mana yang akan kamu pilih? Leherku atau dadaku?"
Pertanyaan Arya membuat Nadia bungkam. Ia tidak mau jika laki-laki itu adalah orang yang begitu mahir bersilat lidah. Wajar saja karena dia tidak akan sukses berbisnis di usianya yang sekarang jika hanya mengandalkan tampangnya saja.
"Bagaimana kalau kamu pilih perutku? Kamu bisa langsung menewaskanku jika terjadi pendarahan hebat di sini." Arya menarik dua bajunya berlawanan arah, membuat semua kancing bajunya terlepas dan menggelinding di lantai. Kemudian ia menunjuk perut bagian kanannya.
"Kamu bisa menikmati di sini, di hatiku. Kamu akan berhasil menumbangkan ku dalam waktu singkat."
Langkah kaki Nadia berhenti, ia tidak bisa bergerak lebih jauh lagi karena punggungnya menabrak dinding. Laki-laki itu terasa semakin mendominasi, memanipulasi keadaan dan berbalik menyerangnya.
"Apa yang kamu pikirkan, huh?"tanya Arya, ia menghentikan langkahnya tepat di depan Nadia yang terlihat semakin canggung. Wanita itu membuang wajahnya, enggan bersih tetap dengan Arya.
Arya terus bergerak, melangkah maju dan dan mengunci wanita itu supaya tidak pergi lebih jauh.
"Kenapa diam?" Arya mendekatkan kepalanya, kemudian mengatakan sesuatu tepat di telinganya." Aku rela mati untukmu jika kamu bisa membuatku senang dan memanggil namaku."
Mata Nadia terbelalak, ketika menyadari jika pria di hadapannya ini sedang menahan sesuatu.
"Brengsek!"
Umpatan Nadia terdengar jelas, wanita itu tidak lagi menyembunyikan kemarahannya seperti sebelumnya. Dia tidak lagi bisa menahan diri untuk mengatai pria di hadapannya dengan kalimat kasar. Dengan sekuat tenaga Nadia menghalau bibir Arya yang hendak menciumnya. Kesabarannya semakin menipis jika berhadapan dengan pria ini. Benar-benar membuatnya emosi.
"Aku memang brengsek, kenapa? Kamu tidak terima memiliki suami sepertiku?"
Arya menikmati setiap kaya kasar yang keluar dari bibir Nadia. Sejak pertemuan pertama kemarin, wanitanya sangat jarang berbicara. Dia cenderung pendiam dan bisa menguasai emosi dengan baik dan sekarang Arya sengaja memancing gadis itu agat lebih banyak bicara.
Nadia diam, di dunia ini tidak akan ada yang menikah secara suka rela dengan pria kasar, arogan, pemarah dan memaksa sepertinya. Satu-satunya kelebihan pria ini adalah memiliki banyak uang, hanya itu!
"Kenapa diam?" Arya mengamati mata indah di hadapannya.
Nadia mendengus kesal, dia benar-benar harus menambah stok kesabaran nya.
"Bapak Dirgantara yang terhormat, mari kita buat kesepakatan," tegas Nadia.
Kalimat itu meluncur dari bibir Nadia dengan suara yang terdengar lebih stabil daripada perasaannya sendiri. Ia tidak tahu dari mana keberanian itu datang mungkin dari kelelahan, mungkin dari titik jenuh, atau mungkin dari kesadaran pahit bahwa satu-satunya cara bertahan hidup di hadapan pria seperti Arya adalah dengan berdiri sejajar, meski kakinya gemetar.
Arya terdiam sesaat.
Sorot matanya yang semula penuh ejekan perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain ketertarikan yang gelap, berbahaya. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding, menyilangkan tangan di dada, mengamati Nadia seolah gadis itu adalah teka-teki yang baru saja ia temukan.
Menarik.
Arya memang selalu membenci wanita yang melekat padanya tanpa harga diri, yang menunduk dan menerima apa pun hanya karena uang dan nama belakangnya. Ia muak pada mereka yang mengaku cinta tapi sejatinya hanya ingin hidup nyaman. Namun Nadia berbeda. Gadis itu melawan. Berani bicara. Berani menatap matanya meski ketakutan jelas terpancar.
“Apa katamu?” tanya Arya pelan, dengan senyum yang perlahan membentuk seringai iblis. “Kesepakatan?”
Nadia mengangguk. Tenggorokannya kering, tapi ia memaksa diri untuk tidak mundur. “Ya.”
Detik berikutnya terjadi begitu cepat.
Arya melangkah mendekat, meraih tubuh Nadia tanpa peringatan. Nadia tersentak, refleks berpegangan pada bahunya, sebelum tubuhnya terangkat dan dilemparkan ke atas ranjang besar di belakangnya. Kasur empuk itu meredam benturan, namun guncangan di dadanya terasa nyata.
Belum sempat Nadia bangkit, Arya sudah berdiri di hadapannya, melepaskan kemejanya yang sejak tadi terbuka, bukan dengan tergesa, melainkan dengan kesengajaan yang membuat udara di ruangan terasa menebal.
“Katakan,” ujar Arya, suaranya rendah dan mengandung tekanan yang membuat bulu kuduk Nadia berdiri, “apa yang kamu inginkan.”
Nadia menahan napas.
Posisi ini jarak sedekat ini membuat pikirannya kacau. Ia manusia. Wanita normal. Tubuhnya bereaksi sebelum logikanya sempat bekerja. Ia memalingkan pandangan, berusaha mencari sesuatu untuk dijadikan jangkar agar tidak tenggelam dalam situasi ini.
Namun tanpa bisa ia cegah, matanya sempat melirik sekilas ke arah perut Arya yang kini terbuka. Kulit itu bersih, ototnya terdefinisi, menunjukkan disiplin dan kekuasaan yang sama dengan sikap pemiliknya.
Arya menangkap lirikan itu.
Senyum miring terbit di wajahnya. “Kalau kamu mau,” katanya santai, “kamu bisa menyentuhnya.”
Nadia tersentak dan segera memalingkan wajahnya kembali. “Tidak.”
Arya terkekeh pelan. Ia meraih helai rambut Nadia yang terjatuh ke wajahnya, menyingkirkannya dengan gerakan yang hampir lembut nyaris menipu.
“Jadi,” katanya, “apa yang kamu inginkan, Nadia?”
Gadis itu menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Arya dengan tatapan yang lebih mantap daripada sebelumnya. “Saya ingin kita memperhitungkan waktu.”
Alis Arya terangkat. “Waktu?”
“Waktu yang anda habiskan bersamaku,” lanjut Nadia. “Setiap detiknya.”
Arya mengerutkan kening. Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung memahami maksud Nadia. “Jelaskan.”
Nadia menelan ludah, lalu berbicara dengan hati-hati, memilih setiap kata seolah nyawanya bergantung padanya. “Saya bukan wanita murahan yang menjajakan dirinya pada sembarang orang. Saya tidak pernah menjadi itu, dan saya tidak akan menjadi itu.”
Arya terdiam, menatapnya tanpa berkedip.
“Anda adalah satu-satunya,” lanjut Nadia, suaranya bergetar tapi tidak goyah, “yang berhak menyentuh saya. Bukan karena saya ingin, tapi karena keadaan memaksa saya. Karena kontrak itu.”
Arya menyandarkan tangannya ke kasur, mendekat. “Dan?”
“Dan karena itu,” kata Nadia, “saya ingin harga yang pantas.”
Keheningan kembali turun.
Arya menatapnya lama, lalu tertawa pendek. “Mulutmu,” ujarnya, “ternyata ada gunanya juga.”
Nadia tidak menanggapi ejekan itu. Ia tahu jika ia terpancing emosi sekarang, semua akan runtuh.
“Sepuluh juta,” ucap Nadia tegas. “Setiap kali.”
Arya membeku.
“Sepuluh juta?” ulangnya, seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. “Kamu serius?”
Nadia menggenggam sprei di bawah jarinya. Jantungnya berdegup keras. “Ya.”
Arya tertawa kali ini lebih keras, lebih tajam. “Bahkan gaji pelayan di rumahku lebih dari itu. Sepuluh juta? Apakah kamu salah hitung?”
Nadia menelan ludah dengan susah payah. Untuk sesaat, keraguan menyusup. Apakah ia salah bernegosiasi? Apakah angka itu terlalu kecil? Terlalu bodoh?
Arya mencondongkan tubuhnya. “Apakah kamu benar-benar ingin menghargai waktumu denganku dengan nominal sekecil itu?”
Nadia terdiam.
Ia teringat masa lalunya jam-jam panjang di minimarket, berdiri hingga kaki pegal, menerima upah yang bahkan tidak mencapai setengah dari angka itu. Sepuluh juta baginya bukan uang kecil. Itu seperti mimpi. Namun di hadapan Arya, angka itu terasa menghina.
“Kamu tidak ingat,” lanjut Arya dengan suara yang lebih pelan, lebih menusuk, “bagaimana kita menghabiskan waktu bersama?”
Nadia memejamkan mata sesaat. Ingatan itu datang tanpa diundang—liar, gelap, dan menyakitkan. Ia membuka matanya kembali, rahangnya mengeras.
“Apakah kamu tidak merasa rendah,” tanya Arya dingin, “dengan nominal itu?”
Kata-kata itu seperti tamparan.
“Bahkan wanita liar di luar sana,” lanjutnya tanpa belas kasihan, “meminta harga lebih mahal.”
Hati Nadia terasa diremas. Dadanya sesak. Ia ingin berteriak, ingin membela diri, ingin mengatakan bahwa ia tidak pernah memilih ini. Namun ia tahu menangis tidak akan mengubah apa pun.
Arya menghela napas, lalu berkata dengan nada yang hampir terdengar murah hati, “Lima puluh juta.”
Nadia terbelalak. “Apa?”
“Aku akan menghargai lima puluh juta,” ulang Arya. “Setiap kali.”
Angka itu menggema di kepala Nadia. Terlalu besar. Terlalu tidak masuk akal. Apakah ia pantas dihargai sebesar itu? Atau apakah ini hanya cara lain Arya menunjukkan kekuasaannya bahwa ia mampu membeli apa pun, siapa pun?
Arya mengangkat tangannya, mengelus wajah Nadia dengan ibu jarinya. Sentuhannya ringan, tapi maknanya berat. “Kenapa,” tanyanya pelan, “kamu membuat kesepakatan bodoh seperti ini?”
Nadia menatapnya, matanya berkaca-kaca namun penuh tekad. “Karena jika saya harus terjebak di sini,” katanya lirih, “saya tidak mau kehilangan diri saya sepenuhnya.”
Arya terdiam.
Untuk sesaat hanya sesaat sesuatu di wajahnya berubah. Bukan empati. Bukan penyesalan. Tapi rasa ingin tahu yang lebih dalam. Nadia bukan sekadar milik yang bisa ia atur sesuka hati. Gadis itu menawar. Melawan. Menetapkan harga.
Dan bagi pria seperti Arya, itu jauh lebih berbahaya daripada kepatuhan.
Ia tersenyum tipis. “Kamu menarik,” katanya akhirnya. “Lebih dari yang kuduga.”
Nadia tidak membalas senyum itu. Ia tahu, kesepakatan ini bukan kemenangan. Ini hanya strategi bertahan. Jalan panjang masih terbentang di hadapannya jalan penuh duri, manipulasi, dan permainan kuasa yang belum tentu bisa ia menangkan.
Namun satu hal pasti
Malam ini, untuk pertama kalinya sejak semuanya runtuh, Nadia tidak sepenuhnya diam. Ia berbicara. Ia menawar. Ia berdiri.
Dan di dunia Arya Dirgantara, keberanian seperti itu tidak pernah dibiarkan tanpa konsekuensi.