Isya adalah anak yatim piatu yang hidup sederhana bersama nenek dan adiknya. Sejak kecil ia dibekali ilmu agama, dan ketika kehilangan datang, ia dipaksa dewasa sebelum waktunya.
Ia sekolah sambil bekerja. Ia menjadi kakak, sekaligus ibu di rumah kecil yang penuh keterbatasan.
Banyak yang terpikat oleh wajahnya.
Namun yang membuat orang benar-benar jatuh hati adalah akhlaknya.
Ia tidak mudah didekati.
Bukan harta, bukan popularitas yang bisa mendapatkannya.
Hanya satu jalan.
Temukan dia dengan Bismillah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Namira Ahsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Capther 18 — Tamu Kecil yang Tak Terduga
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi.
“TRIIINGGG!”
Suasana kelas langsung berubah.
Beberapa siswa langsung berdiri, ada yang merapikan tas, ada yang sudah buru-buru keluar kelas.
Isya memasukkan bukunya ke dalam tas dengan rapi.
Di sebelahnya, Ayin sudah tertawa sendiri sejak tadi.
“Hahahaha… aduh perut aku…”
Isya menoleh bingung. “Kenapa kamu ketawa terus dari tadi?”
Ayin mengusap matanya yang sampai berair karena tertawa.
“Aku masih ingat wajah Mei waktu ditinggal sama Dadang.”
Ia menirukan ekspresi Mei dengan wajah pura-pura elegan.
“Ayy baik-baik saja…”
Lalu langsung mengubah wajahnya menjadi panik.
“Padahal di dalam hati dia pasti teriak…”
Ayin menutup mulut sambil menahan tawa lagi.
“Hahahaha…!”
Isya ikut tersenyum kecil.
Sementara di depan mereka…
Mei berjalan sambil sedikit cemberut.
Namun ketika menoleh ke arah Ayin dan Isya, ia tetap menjaga sikapnya.
“Ahh… Ayin…”
“Kelakuanmu itu sangat tidak elegan.”
Ayin langsung tersenyum lebar.
“Loh? Tapi lucu kan?”
Mei menghela napas.
“Untung saja ayy wanita yang kuat.”
Ia mengangkat dagunya sedikit.
“Kalau bukan, mungkin sudah pingsan menghadapi Dadang.”
Ayin langsung tertawa lagi.
Namun suasana mereka tetap terasa akrab.
Tak lama kemudian mereka sampai di gerbang sekolah.
Di sana sudah terparkir sebuah mobil hitam yang terlihat cukup mewah.
Seorang sopir berdiri di sampingnya.
Ketika melihat Mei, ia langsung membuka pintu.
“Non Mei.”
Isya langsung berhenti berjalan.
Matanya membesar sedikit.
Ayin juga ikut berhenti.
Mereka berdua saling melirik.
Ayin berbisik pelan.
“Sya…”
“Dia dijemput sopir?”
Isya mengangguk kecil dengan mata kagum.
“Iya…”
Mereka berdua kembali melihat mobil itu.
Ayin berbisik lagi dengan kagum.
“Wah…”
“Orang kaya…”
“Sampai punya sopir pribadi…”
Isya juga tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya.
Sementara itu Mei berjalan mendekati mobil dengan santai.
Seolah itu hal yang sangat biasa baginya.
Ia lalu menoleh ke arah Isya dan Ayin.
“Baiklah.”
“Ayy pulang dulu.”
Isya tersenyum ramah.
“Hati-hati ya.”
Ayin melambaikan tangan.
Lalu ia masuk ke mobil.
Mobil itu perlahan pergi meninggalkan gerbang sekolah.
Ayin menghela napas.
“Anak orang kaya memang beda ya.”
Isya tertawa kecil.
“Dia sebenarnya baik kok.”
Ayin mengangkat bahu.
“Iya sih… cuma narsis sedikit.”
“Sedikitttttttt bangettttttt.”
Mereka berdua lalu berjalan pulang.
Tak lama kemudian Isya sampai di rumah.
Ia membuka pintu sambil mengucap salam.
“Assalamu’alaikum…”
Rumah terlihat cukup tenang.
Isya meletakkan tasnya, lalu melakukan beberapa aktivitas ringan.
Ia mengganti pakaian, mencuci tangan, dan merapikan beberapa barang di ruang tamu.
Namun tiba-tiba matanya tertuju ke arah sofa.
Di sana ada sebuah selimut besar yang menggembung aneh.
Seperti ada sesuatu di dalamnya.
Isya mengernyit.
“Hm?”
Ia mendekat pelan.
“Ba’da?”
Tidak ada jawaban.
Isya semakin bingung.
“Kenapa dia sembunyi begitu…”
Tiba-tiba…
dari luar rumah terdengar suara anak perempuan.
“Assalamu'alaikum…”
“Selamat siang…”
Suaranya kecil dan terdengar sopan.
Isya menoleh dan membalas salam.
"Wa'laikumusalam
Ia lalu keluar rumah.
Dan ketika melihat siapa yang berdiri di depan rumah…
Isya langsung terkejut.
“Ahh… siapa ini?”
Di depan rumah berdiri seorang gadis kecil yang sangat imut.
Wajahnya manis, rambutnya rapi, dan pakaiannya juga terlihat sopan.
Gadis kecil itu menunduk sedikit dengan sopan.
“Selamat sore"
Isya masih sedikit bingung.
“ahh iyaa sore…”
Gadis kecil itu tersenyum manis.
“Salam kenal.”
“Nama saya Beby.”
Ia berkata dengan percaya diri.
“Saya adalah calon istri Ba’da.”
Isya tersenyum kecil.
“Ahh… calon istri Ba’da ya.”
“Wah… masih kecil sudah sopan sekali.”
Namun beberapa detik kemudian…
mata Isya membesar.
“Eh…”
“Calon istri Ba’da?”
“HAHHH?!”
Seakan baru menyadari sesuatu.
Beby hanya tersenyum manis.
“Iya kak.”
Isya tiba-tiba langsung mengerti.
Ia teringat Ba’da yang tadi sembunyi di bawah selimut.
“Ohhh…”
“Pantas saja…”
Senyum jahil perlahan muncul di wajah Isya.
“xixixi…”
“Masuk dulu yuk.”
Beby mengangguk sopan.
“Terima kasih kak.”
Mereka masuk ke dalam rumah.
Isya menunjuk ke arah sofa yang masih tertutup selimut.
Beby langsung berjalan mendekat dengan langkah kecilnya.
Ia memegang ujung selimut.
Lalu berkata dengan nada serius.
“Ihhh…”
“Masih pagi sudah tidur saja.”
“Bagaimana mau jadi suami yang baik?”
“Hiyaaaa!”
Beby langsung menarik selimut itu.
Ba’da yang sembunyi di dalam langsung meloncat kaget.
“AHHHH!”
Ia langsung sembunyi di belakang isya.
“Kakak tolong!!”
Isya yang melihat itu sempat bengong beberapa detik…
lalu tiba-tiba tertawa keras.
“Hahaha…!”
Suasana ruang tamu rumah kecil itu langsung dipenuhi tawa.
Sementara Ba’da masih panik dikejar oleh Beby yang sangat bersemangat.
Dan Isya…
hanya bisa tertawa melihat kekacauan kecil yang sangat lucu di rumah mereka.
Ba’da bersembunyi di belakang isya.
Tangannya memegang baju kakaknya erat-erat.
“Kaak… tolong!”
Beby berdiri di depan mereka dengan tangan di pinggang.
Wajah kecilnya terlihat sangat serius.
“Ba’da!”
“Kenapa kamu lari terus dari aku?!”
Ba’da menggeleng cepat.
“Karena kamu ngejar terus!”
Beby mendengus kecil.
“Itu karena kamu calon suami aku!”
Ba’da langsung protes keras.
“Aku bukan calon suami kamu!”
Beby langsung menunjuknya.
“Bohong!”
“Kemarin kamu bilang mau!”
Ba’da semakin panik.
“Itu karena kamu maksa!”
“Katanya kalau tidak mau kamu mau lapor ke nenek!”
Beby mengangkat dagunya dengan bangga.
“Itu namanya strategi.”
Ba’da langsung menggerutu.
“Itu namanya curang!”
Beby melangkah mendekat lagi.
Ba’da langsung berpindah ke sisi lain Isya.
Kini mereka seperti bermain kejar-kejaran kecil di sekitar Isya.
“Ba’da! Jangan lari!”
“Tidak mau!”
“Kamu harus tanggung jawab!”
“Aku masih kelas dua!”
Isya yang melihat semua itu hanya bisa menutup mulut sambil menahan tawa.
Namun akhirnya ia tidak tahan lagi.
“Hahaha…!”
Ia memegang perutnya karena terlalu geli.
Ba’da dan Beby akhirnya berhenti sebentar.
Mereka berdua menoleh ke arah Isya.
Isya masih tersenyum lebar.
“Tunggu… tunggu…”
Ia mencoba menenangkan napasnya.
“Kakak bingung ini…”
Ia melihat Ba’da.
Lalu melihat Beby.
“Kenapa kalian sudah jadi calon suami istri?”
Ba’da langsung menunjuk Beby dengan wajah penuh protes.
“Itu dia yang bilang!”
Beby langsung membalas.
“Karena Ba’da sudah janji!”
Isya semakin penasaran.
Ia duduk di sofa sambil masih tersenyum.
“Hmmm…”
Ia menopang dagunya dengan tangan.
“Sepertinya ini cerita yang menarik.”
Ia melihat mereka berdua dengan mata penuh rasa ingin tahu.
“Coba ceritakan ke kakak…”
“Bagaimana ceritanya Ba’da bisa punya calon istri?”
Ba’da dan Beby saling melirik.
Suasana ruang tamu tiba-tiba terasa seperti akan dimulai sebuah cerita besar dari dua anak kecil itu.
---Namira Ahsya\_\_
. 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚒𝚗𝚐𝚊𝚝 𝚊𝚓𝚓 𝚛𝚞𝚙𝚊-𝙽𝚢𝚊𝚊 ,, 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚊𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚗𝚍𝚊𝚔 𝚙𝚎𝚛𝚗𝚊𝚑 𝚕𝚒𝚊𝚝 ,, 𝚙𝚛𝚎𝚎𝚎𝚝 .
. 𝑖𝑡𝑢-𝐿𝑎ℎℎ 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎 ,, 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑠𝑒𝑛𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑎𝑗𝑗 𝑛𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑎𝑢𝑢 𝑛𝑔𝑎𝑘𝑢𝑖𝑛 𝑎𝑝𝑎𝑙𝑎𝑔𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑖𝑛𝑛 ..
𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝑤𝑎𝑛𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑢𝑛𝑦𝑎 𝑟𝑎𝑠𝑎 𝑚𝑎𝑙𝑢𝑢 ..
. 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝐿𝑎𝑘𝑖-𝑙𝑎𝑘𝑖 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑢𝑛𝑑𝑢𝑘-𝐾𝑎𝑛𝑛 𝑝𝑎𝑛𝑑𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎𝑎 ..
𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐬𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐫𝐢 𝐢𝐥𝐦𝐮 ..
. 𝑠𝑢𝑘𝑎 𝑛𝑜𝑣𝑒𝑙-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 . 😘
. 𝑚𝑒𝑠𝑘𝑖 𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ ,, 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑘𝑖𝑚𝑖 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 𝑑𝑖 𝑎𝑗𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟 ..
. 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝑘𝑒𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑑𝑎 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑘𝑎ℎ 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑏𝑎𝑖𝑘𝑖 ..
. 𝐬𝐞𝐝𝐢𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚𝐚 ..
. 𝐊𝐞𝐬𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚 𝐚𝐤𝐮𝐮𝐮 ,, 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐭-𝐊𝐮𝐮𝐮 ------ 𝐧𝐨𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚 𝐭𝐲 .
. 𝐍𝐚𝐦𝐮𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐮𝐫𝐚𝐡 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐀𝐥𝐚𝐫𝐦 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩-𝐊𝐮𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐝𝐢 𝐭𝐮𝐧𝐠𝐠𝐮 𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭𝐚𝐧-𝐍𝐲𝐚𝐚
. 𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐧𝐚-𝐋𝐚𝐡𝐡𝐡 𝐛𝐚𝐢𝐭-𝐛𝐚𝐢𝐭 𝐝𝐨'𝐚 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚-𝐊𝐮𝐮 𝐭𝐮𝐦𝐛𝐮𝐡 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤-𝐌𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐍𝐚𝐦𝐢𝐫𝐚 𝐀𝐡𝐬𝐲𝐚 . 🤭😘