NovelToon NovelToon
Whispers Of The Ancestors

Whispers Of The Ancestors

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:788
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.

Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.

Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.

seorang dukun yang diminta untuk membantu nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Kelelahan yang Menggelayut

Lampu neon di dalam bus kota berkedip-kedip redup, menciptakan bayangan yang melonjak-lonjak di dinding kendaraan yang sudah tua itu. Colette menyandarkan keningnya pada kaca jendela yang dingin. Di luar, rintik hujan mulai turun, membiaskan lampu-lampu jalanan kota menjadi pendaran warna yang kabur.

Ia merasa bus malam ini berjalan jauh lebih lambat dari biasanya. Setiap lampu merah terasa abadi, dan setiap pemberhentian terasa seperti disengaja untuk menunda kepulangannya. Deru mesin bus yang berat terdengar seperti geraman rendah yang memekakkan telinga bagi kepalanya yang sudah berdenyut nyeri akibat menatap layar monitor selama berjam-jam.

Regulatory Compliance benar-benar menguras energinya hari ini. Memastikan label kemasan sesuai aturan hukum pangan bukan hanya soal ketelitian mata, tapi juga ketahanan mental.

"Sedikit lagi, Colette... sedikit lagi," bisiknya parah, memejamkan mata rapat-rapat.

Bayangan kasur empuk di kamarnya, selimut hangat, dan aroma kamper yang menenangkan seolah menjadi satu-satunya motivasi yang tersisa.

Saat bus akhirnya berhenti di halte dekat rumahnya, Colette turun dengan langkah gontai. Udara malam yang lembap menusuk pori-porinya. Ia merapatkan jaketnya, berjalan cepat menyusuri gang sempit menuju rumah kecilnya.

Keadaan lingkungan rumahnya sangat sepi. Hanya terdengar suara jangkrik dan tetesan air dari daun mangga. Namun, saat ia sampai di depan pagar rumah, rasa lelahnya mendadak digantikan oleh kewaspadaan yang tajam.

Lampu teras rumahnya yang tadi ia kira mati, ternyata menyala dengan warna kuning yang sangat terang, jauh lebih terang dari lampu yang biasanya ia pasang. Dan yang lebih aneh lagi, pintu depan rumahnya sedikit terbuka, membiarkan seberkas cahaya panjang jatuh ke tanah yang basah.

Harapan Colette untuk segera menenggelamkan tubuhnya di balik selimut dan melupakan kepeningan label kemasan pangan seketika pupus. Begitu ia melangkah melewati ambang pintu ruang tengah, udara di dalam rumahnya terasa berbeda—lebih berat, lebih dingin, dan beraroma kayu cendana bercampur hujan yang sangat tajam.

Di sana, di atas kursi rotan tua.

Caspian Hawthorne Sinclair.

Ia tidak lagi mengenakan jubah hitam lusuh seperti di gubuk hutan jati. Malam ini, ia tampak seperti predator puncak yang baru saja keluar dari ruang rapat dewan direksi. Setelan jas hitamnya yang mahal tampak kontras dengan kesederhanaan ruang tamu Colette. Kaki panjangnya menyilang dengan santai, sementara jemarinya yang kokoh mengetuk-ngetuk sandaran kursi dengan irama yang membuat jantung Colette berdegup tidak keruan.

Colette mematung di dekat pintu. Rambut hitamnya yang panjang dan berantakan karena angin malam terjatuh menutupi matanya, menjadi tirai pelindung terakhirnya. Ia menunduk, menatap ujung sepatunya yang basah oleh air hujan.

"Kau terlambat sepuluh menit dari jadwal bus terakhir, Colette," suara bariton Caspian memecah kesunyian, rendah namun bergaung kuat di ruangan itu.

Pikirannya berkecamuk. Bagaimana mungkin pria ini tahu persis menit ke berapa bus terakhir lewat dan seberapa lama ia terlambat?

Tentu saja, dia kan dukun, batin Colette kecut.

Meski penampilannya kini sudah berubah drastis menjadi pria kota yang sangat berkelas dengan setelan jas yang pas di tubuh tegapnya, aura mistis yang menyelimuti Caspian tidak pernah benar-benar hilang. Kehadirannya di ruang tamu yang sempit itu membuat udara terasa statis, seolah-olah waktu sengaja dihentikan olehnya.

"Aku menepati janjiku pada ibumu, Colette," ucap Caspian, suaranya kini terdengar lebih lembut namun tetap berwibawa. "Tugas terakhirku sebagai dukun adalah memastikan kau benar-benar 'bersih' dari sisa-sisa kegelapan yang ditinggalkan orang-orang itu."

"Ibumu bilang, kau sering mengigau dan terbangun tengah malam dengan napas tersengal sejak kejadian di kantor itu," ucap Caspian rendah, suaranya terdengar seperti getaran selo yang dalam.

Colette tersentak kecil. Ia tidak menyangka ibunya akan menceritakan hal sedetail itu pada pria yang baru mereka kenal.

Caspian kemudian melirik ke arah pintu kamar Colette yang tertutup rapat—satu-satunya ruang pribadi di mana Colette merasa bisa benar-benar bersembunyi dari dunia.

"Pembersihan ini tidak bisa dilakukan di ruang terbuka seperti ini. Energi negatif itu biasanya mengendap di tempat kau menghabiskan waktu paling lama untuk memejamkan mata," Caspian menjeda kalimatnya, menatap Colette dengan intensitas yang membuat gadis itu merasa sesak.

"Boleh aku melihat kamarmu, Colette? Aku perlu memastikan tidak ada 'sisa' yang tertinggal di sana."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!