Seorang laki-laki yang sudah lama mencintai seseorang dalam diam, berhasil menikahinya tapi bukan dengan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenangan Itu Lagi
Naya menarik selimutnya sampai ke dada, foto itu masih dalam pelukannya.
Ia memejamkan mata, mencoba memahami semua yang terjadi hari itu.
Pikiran Naya justru kembali melayang pada seseorang yang selalu ada di hatinya tapi tak bisa lagi melihatnya seperti dulu.
Ingatan itu datang perlahan, seperti potongan kenangan yang kembali hidup.
Siang itu kantin kampus cukup ramai, suara mahasiswa yang berbincang bercampur dengan bunyi sendok dan piring yang saling beradu.
Naya dan Damar duduk berhadapan di salah satu meja dekat jendela. Di depan mereka ada dua piring makanan yang hampir habis.
Damar menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Naya dengan ekspresi santai seperti biasanya.
"Sayang, aku mau makan malam di rumahmu, boleh nggak?" katanya tiba-tiba.
Sendok di tangan Naya yang hendak ia suapkan perlahan ia turunkan kembali.
"Di rumah?"
Damar mengangguk ringan, "Terdengar aneh, ya? Aku ingin ngobrol-ngobrol sama orangtua mu."
Naya menatap kekasihnya, sedikit gugup tapi juga merasa hangat mendengar itu.
Damar membalas tatapan Naya, menunggu jawabannya.
"Tunggu, ya... aku tanya ibu dulu." Naya mengambil ponselnya dari tas di sampingnya.
Damar tersenyum kecil.
Naya menghubungi ibunya, "Bu, malam ini Damar mau makan malam di rumah," ucapnya hati-hati.
Di ujung telepon terdengar jeda sebentar sebelum ibunya menjawab.
"Malam ini ibu sibuk."
Naya menoleh Damar, lalu berdiri sedikit menjauh dari Damar.
"Ibu sibuk apa malam ini?"
"Ada urusan." jawaban itu singkat, bahkan terlalu cepat untuk dijawab.
"Jadi..... nggak bisa, Bu?" tanya Naya pelan.
"Lain kali saja."
Percakapan itu berakhir, telepon itu dimatikan.
Naya kembali ke tempat duduknya. Damar menarik kursinya, duduk lebih dekat.
"Gimana?" tanya Damar penasaran. "Boleh?"
Naya mengalihkan pandangannya ke samping mencari kata-kata yang tepat. Ia tidak ingin Damar merasa tidak diterima.
Naya menarik napas pelan sebelum menjawab.
"Ternyata malam ini Ibu ada urusan."
Damar mengernyit tipis, "urusan?"
Naya mengangguk pelan, "iya... Aku baru ingat, itu memang sudah direncanakan dari kemaren."
Naya mencoba tersenyum kecil agar terdengar biasa saja."
"Jadi malam ini nggak bisa makan malamnya di rumah, Dam"
Damar terdiam beberapa detik, lalu mengangguk pelan.
Naya memperhatikan wajahnya dengan hati-hati, takut kalau Damar merasa kecewa.
"Mungkin lain kali," tambah Naya pelan.
Damar akhirnya tersenyum tipis.
"Iya... Nggak apa-apa, Sayang"
Walaupun jawaban terdengar santai, Naya tetap merasa ada sedikit rasa bersalah di hatinya.
Suara Damar dari masa lalu menemani malamnya. Rasa kantuk datang sampai tertidur.
Pagi hari di rumah Naya terasa tenang seperti biasa. Cahaya matahari masuk melalui jendela ruang makan sederhana, menerangi meja yang sudah dipenuhi sarapan sederhana.
Ibu Naya meletakkan sepiring nasi goreng di depan suaminya, sementara Naya duduk di kursi seberang dengan segelas teh hangat di tangannya.
"Pak, makan dulu sebelum dingin," Ujar ibunya.
Mereka mulai makan dalam suasana yang cukup tenang, sampai akhirnya ayah Naya membuka pembicaraan.
"Mulai malam ini Bapak kembali kerja."
Naya yang sedang menyuap makanan langsung mengangkat wajahnya.
"Bukannya Ayah masih cuti?"
Ayahnya menggeleng pelan.
"Cuti sudah cukup lama. Badan Ayah juga sudah lebih baik."
Ia meneguk air putih sebentar sebelum melanjutkan.
"Kebetulan dapat shift malam." jelas ayahnya.
Ibu Naya menoleh ke arahnya dengan sedikit khawatir.
"Apa itu tidak terlalu cepat, Pak?"
"Tidak apa-apa," jawab suaminya santai. "Kalau di rumah terus, Bapak juga bosan, Bu."
Naya memperhatikan ayahnya. Ia tahu pekerjaannya sering membuat ayahnya lelah harus berjaga sepanjang malam, tetapi melihat ayahnya kembali semangat bekerja membuatnya sedikit lega.
"Ayah.... Kalau capek istirahat, ya. Jangan dipaksakan." kata Naya pelan menatap Ayahnya dengan mata berkaca-kaca.
Ayahnya tersenyum kecil.
"Tenang saja, Nak."
Naya kembali menunduk, melanjutkan sarapannya. Namun ada hal lain yang sejak tadi ia ingin katakan.
Naya melirik ibunya sebentar.
"Bu.... nanti Naya mungkin pulang agak malam."
Ibunya langsung menoleh, "lembur lagi?"
Naya sempat terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Ada acara kantor,"
Ibu Naya mengangguk pelan, tampak tidak terlalu curiga.
"Sampai jam berapa, Nak?" tanya ayahnya.
"Belum tau pasti, Ayah. Tapi Naya janji nggak akan pulang terlalu malam kok."
"Ya sudah, hati-hati saja pulangnya..." ucap ibunya lembut.
Naya mengangguk kecil, meskipun dalam hatinya ia tahu acara itu bukan sepenuhnya acara kantor.
Naya berangkat ke kantor dengan sedikit rasa khawatir mengingat ayahnya akan kembali kerja lagi. Apalagi shift malam. Tapi Naya belum bisa bilang supaya ayahnya nggak usah bekerja lagi, karna gajinya belum sepenuhnya cukup memenuhi kebutuhan mereka.
Nadira sudah lebih dulu duduk di kursi kerjanya. Tangannya memegang mouse, tetapi pandangannya sesekali mengarah ke pintu masuk ruang kerja.
Beberapa karyawan datang berganti-ganti, Nadira menunggu-nunggu kehadiran Naya.
Pada akhirnya Naya muncul.
Langkahnya tenang, dari pintu ia langsung melirik ke arah meja kerjanya. Nadira sudah berada disana.
Naya langsung berjalan ke mejanya sendiri, tanpa mengatakan apa pun. Tidak ada sapaan pagi di antara mereka berdua.
Hal itu tak biasa untuk Nadira, ia merasa sedikit tidak nyaman. Ia melirik Naya, ragu apakah harus mendekat atau tidak. Akhirnya ia berdiri dari kursinya, mendekati Naya.
"Nay... " panggilnya pelan.
Naya menghentikan gerakan tangannya di keyboard dan menoleh.
Nadira terlihat canggung. Ia menggenggam tangannya sendiri sebelum akhirnya berbicara.
"Aku... Mau minta maaf tentang kemaren. Aku nggak bermaksud bikin kamu nggak nyaman. Dan aku benar-benar nggak nyaman kita jadi gini."
Naya menatapnya tanpa bicara. Ruangan terasa hening sejenak di antara mereka.
Naya menarik napas kecil, ekspresinya perlahan melunak.
"Iya, Dir. Aku juga minta maaf, ya."
Nadira merasa lega, tersenyum kecil, rasa tegang di wajahnya perlahan menghilang.
Nadira memeluk Naya manja, "sayang banget sama kamu, Nay...."
Naya membalas pelukan itu, "udah, Dir... kita kerja lagi, yok. Banyak loh yang harus diselesaikan."
Nadira melepaskan pelukannya, berganti dengan genggaman tangannya.
"Terimakasih, Nay," katanya sekali lagi, Nadira melompat kecil-kecil kegirangan.
Naya tersenyum tipis.
Pada saat itu, langkah dua orang melewati lorong di depan ruang kerja mereka. Ceo bersama asistennya.
Dia selalu sengaja melambatkan langkahnya saat melewati itu, pandangannya tertuju pada Naya. Cukup lama untuk membuat asistennya ikut melirik ke arah yang sama sebelum melanjutkan langkah.
Ceo itu meletakkan map yang dibawanya di atas meja. Membuka jasnya sedikit sebelum duduk di kursi kerjanya.
Asistennya tetap berdiri di depan meja dengan tabletnya.
"Ada beberapa rapat sore ini, Pak," kata asistennya.
"Pastikan satu hal. Setelah jam tujuh malam, jangan ada lagi urusan pekerjaan yang dijadwalkan."
Asistennya langsung memperhatikan, dan mengangguk.
"Restoran yang saya minta semalam," katanya sambil menatap asistennya, "sudah diatur?" Asistennya itu langsung mengangguk.
"Sudah, Pak. Restorannya tenang dan cukup privat, seperti yang Bapak minta. Reservasi atas nama Bapak untuk pukul tujuh malam."
CEO itu mengangguk pelan, terlihat puas.