NovelToon NovelToon
Cinta Pertama Dan Takdir Keluarga

Cinta Pertama Dan Takdir Keluarga

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sandi Wabaswara

Episode 1 – Pertemuan yang Tak Pernah Terduga
Arga Wibawa adalah putra dari seorang ayah yang memiliki perusahaan ternama di Jakarta. Takdir mempertemukannya kembali dengan Alya Putri Kirana, cinta pertamanya yang tak pernah bisa ia lupakan.
Sejak perpisahan mereka di bangku SMA, Arga harus mengikuti kedua orang tuanya pindah ke Bali karena ayahnya mendapatkan proyek besar di sana. Mau tak mau, Arga meninggalkan Jakarta dan melanjutkan pendidikan kuliahnya di Pulau Dewata. Meski waktu terus berjalan, bayangan Alya tak pernah benar-benar pergi dari pikirannya.
Bertahun-tahun kemudian, Arga akhirnya lulus dari kuliahnya. Dengan tekad yang kuat, ia memutuskan kembali ke Jakarta untuk mencari sang pujaan hati. Sebulan setelah kelulusannya, Arga bersiap dan terbang menuju kota yang penuh kenangan itu.
Setibanya di Jakarta, Arga mulai mencari pekerjaan sambil berusaha menelusuri keberadaan Alya.
Sementara itu, kehidupan Alya tak berjalan semulus ya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandi Wabaswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 — Pertarungan Terakhir

Langit tampak mendung ketika Arga tiba di sebuah gedung tua yang berdiri sunyi di pinggiran kota. Bangunan itu terlihat tak terurus, penuh coretan di dinding, dan dikelilingi semak liar. Tempat yang sempurna untuk sebuah pertemuan berbahaya.

Arga memarkir mobilnya perlahan. Jantungnya berdegup kencang. Setiap langkah yang ia ambil terasa berat, seolah kakinya tertahan oleh rasa takut dan cemas yang mengikat kuat di dadanya.

Pintu gedung itu terbuka setengah. Arga mendorongnya perlahan. Suara engsel berderit memecah keheningan.

“Rayhan!” seru Arga lantang.

Suara langkah kaki terdengar menggema dari lantai atas. Tak lama, sosok Rayhan muncul di tangga, menatap Arga dengan senyum sinis.

“Akhirnya kau datang,” ucap Rayhan sambil menepuk tangannya pelan. “Aku tahu kau tidak akan mengecewakanku.”

“Apa maumu?” tanya Arga tegas, menahan emosi.

Rayhan turun perlahan, tatapannya tajam dan dingin. “Aku ingin kau merasakan apa yang selama ini kurasakan. Kehilangan. Ketakutan. Kehancuran.”

“Kau sudah menghancurkan hidup banyak orang,” balas Arga. “Termasuk hidupmu sendiri.”

Rayhan tertawa pendek. “Dan ayahmu adalah penyebabnya.”

“Kau yang memilih jalan ini!” bentak Arga.

Wajah Rayhan seketika mengeras. “Jangan sebut-sebut soal pilihan. Kau tidak tahu apa yang kulalui!”

Rayhan melangkah mendekat. “Ayahmu meninggalkanku dalam dunia gelap tanpa arah. Semua koneksi, semua perlindungan, ia cabut begitu saja. Aku dikejar, diburu, dan hampir mati.”

“Lalu kau balas dendam dengan menjadi monster?” suara Arga bergetar.

Rayhan menatap Arga dengan mata penuh kebencian. “Aku hanya membalas apa yang telah dirampas dariku.”

“Kau salah,” ucap Arga tegas. “Dan hari ini, semua harus berakhir.”

Rayhan menyeringai. “Aku setuju.”

Tanpa peringatan, Rayhan melayangkan pukulan. Arga sigap menghindar. Benturan demi benturan tak terelakkan. Suara napas mereka terdengar berat, bercampur dengan gema langkah kaki di lantai beton.

Rayhan menyerang dengan brutal, seolah meluapkan seluruh dendam yang selama ini ia pendam. Arga bertahan, menahan setiap serangan, berusaha tidak kehilangan kendali.

“Kau tidak akan menang!” teriak Rayhan sambil menyerang lagi.

“Aku tidak ingin menang,” balas Arga. “Aku hanya ingin menghentikanmu!”

Pukulan Rayhan mengenai bahu Arga. Arga terhuyung, namun segera bangkit. Dengan sisa tenaga, Arga membalas, membuat Rayhan terlempar ke samping.

Keduanya terdiam sesaat, napas tersengal.

“Kau memang kuat,” gumam Rayhan. “Pantas saja ayahmu begitu bangga.”

Ucapan itu membuat Arga tersentak. “Jangan sebut ayahku!”

Rayhan tersenyum miring. “Kenapa? Takut mengakui bahwa kau hanya hidup dalam bayang-bayangnya?”

Amarah Arga meledak. Ia berlari, mendorong Rayhan hingga tubuh mereka membentur dinding. Pertarungan semakin sengit. Keduanya saling menjatuhkan, berguling di lantai berdebu.

Rayhan sempat meraih benda keras di dekatnya dan mengayunkannya ke arah Arga. Arga menghindar tipis. Benda itu menghantam lantai, memecah keheningan dengan suara nyaring.

“Cukup, Rayhan!” teriak Arga. “Hentikan semua ini!”

Rayhan terdiam sesaat. Tatapannya bergetar. Namun hanya sepersekian detik, sebelum wajahnya kembali mengeras.

“Tidak,” katanya dingin. “Semuanya harus dibayar.”

Rayhan kembali menyerang, namun kali ini Arga berhasil menjatuhkannya. Rayhan tergeletak, napasnya tersengal.

Arga berdiri di atasnya, dadanya naik turun.

“Serahkan dirimu,” ucap Arga. “Akhiri semua ini dengan cara yang benar.”

Rayhan tertawa lemah. “Kau pikir setelah semua ini aku masih punya tempat di dunia?”

“Kau masih punya kesempatan,” balas Arga lirih.

Rayhan menatap langit-langit gedung yang retak. Ingatan masa kecilnya, harapan yang hancur, dan dendam yang membusuk dalam hatinya, semuanya berputar seperti kilatan cahaya.

“Aku sudah terlalu jauh,” bisiknya.

Di kejauhan, suara sirene polisi mulai terdengar.

Rayhan tersenyum pahit. “Sepertinya waktuku sudah habis.”

Ia bangkit perlahan, menatap Arga dalam-dalam. “Jaga Alya baik-baik. Jangan biarkan siapa pun merenggut kebahagiaanmu, seperti yang terjadi padaku.”

Arga terkejut. “Rayhan...”

Namun Rayhan hanya melangkah mundur.

“Ini akhir dari semuanya,” ucapnya pelan.

Tak lama kemudian, suara langkah kaki dan teriakan polisi memenuhi gedung. Rayhan berdiri pasrah, mengangkat kedua tangannya.

“Aku menyerah.”

Arga menutup mata, menghembuskan napas panjang. Beban yang selama ini menghimpit dadanya seakan luruh perlahan.

Rayhan digiring keluar gedung, borgol melingkar di pergelangan tangannya. Tatapannya sempat bertemu dengan Arga.

“Aku kalah,” katanya lirih.

“Tidak,” balas Arga. “Kau hanya berhenti melarikan diri.”

Beberapa jam kemudian, Arga tiba di rumah. Alya langsung berlari memeluknya begitu melihat suaminya masuk.

“Ga...” isak Alya. “Aku takut kehilanganmu.”

Arga memeluk Alya erat. “Aku pulang. Semua sudah selesai.”

Orang tua mereka menghela napas lega. Tangis haru memenuhi ruangan.

Malam itu, mereka duduk bersama, merasakan ketenangan yang telah lama hilang.

Namun di balik rasa lega, terselip kesedihan. Arga menyadari bahwa dendam hanya melahirkan kehancuran, dan masa lalu, sekelam apa pun, seharusnya tidak diwariskan pada generasi berikutnya.

Alya menggenggam tangan Arga. “Kita mulai hidup baru ya, Ga.”

Arga tersenyum. “Iya. Tanpa ketakutan.”

Di luar, hujan mulai turun, seolah membersihkan luka-luka lama dan memberi harapan baru.

Akhir dari teror. Awal dari kehidupan yang lebih damai.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Maulana Hasanudin
cerita sangat menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!