Naomi Allora mati membeku di tengah bencana cuaca ekstrem setelah dikeluarkan dari bunker oleh orang tua kandung dan tunangannya sendiri, dikorbankan demi anak angkat keluarga Elios, Viviane. Padahal Naomi adalah anak kandung yang pernah tertukar sejak kecil dan rela meninggalkan keluarga angkatnya demi kembali ke darah dagingnya, namun justru ditolak dan dibuang.
Diberi kesempatan kedua sebelum kiamat memusnahkan umat manusia, Naomi bangkit dengan ingatan penuh dan bantuan sistem. Kali ini, ia memilih keluarga angkat yang benar-benar mencintainya, mempersiapkan diri menghadapi bencana, mengumpulkan pengikut, dan membalas pengkhianatan. Dari kehancuran dunia lama, Naomi membangun peradaban baru sebagai sosok yang tak lagi bisa dikorbankan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mobil Jelek
Di waktu yang sama, suasana ruang tamu keluarga Atlas terasa berbeda.
Nyonya Arumi berdiri di tengah ruangan dengan kening berkerut. Matanya menyapu ke sekeliling, seolah mencari sesuatu yang semalam jelas memenuhi setiap sudut ruangan.
“Di mana semua barang itu?” gumamnya pelan.
Beberapa pelayan berdiri dengan wajah bingung.
“Semalam masih ada, bukan?” tanya Nyonya Arumi lagi, kini menatap kepala pelayan.
“Benar, Nyonya,” jawab kepala pelayan dengan hati-hati. “Setelah makan malam, barang-barang itu masih tertata di sini. Kami tidak memindahkannya.”
“Lalu sekarang kenapa hilang tanpa bekas?” Nada suara Nyonya Arumi mulai terdengar khawatir.
Para pelayan saling pandang. “Kami benar-benar tidak tahu, Nyonya.”
“Astaga! Jangan-jangan Naomi memindahkannya sendirian. Kalian ini benar-benar tak bisa diandalkan. Putriku pasti kelelahan,” omelnya pada para pelayan itu.
Belum sempat kebingungan itu terjawab, terdengar langkah kaki ringan menuruni tangga.
Naomi muncul dengan pakaian kuliahnya. Rambutnya tergerai rapi, wajahnya tenang seperti biasa.
Begitu melihat putrinya, Nyonya Arumi langsung berjalan mendekat dan menarik tangan Naomi dengan lembut.
“Naomi, Mama mau bertanya. Barang-barang yang semalam kamu beli … di mana semuanya?”
Naomi tersenyum, meski ada sedikit kekakuan di sudut bibirnya. “Aku sudah memindahkannya, Ma.”
“Kamu sendiri?” Mata Nyonya Arumi membesar. “Itu jumlahnya sangat banyak, Nak. Kenapa kamu tidak menyuruh pelayan? Atau panggil pengawal? Di mana kamu menyimpannya?”
Naomi terdiam sepersekian detik. Pikirannya berputar cepat mencari jawaban yang masuk akal.
Ia jelas tidak mungkin mengatakan bahwa seluruh barang itu kini tersimpan rapi dalam ruang penyimpanan sistem miliknya.
“Aku .…” Naomi membuka mulut, lalu menutupnya kembali.
Tiba-tiba suara berat terdengar dari arah tangga. “Aku yang menyuruh pengawal bayanganku memindahkannya.”
Semua kepala menoleh.
Max berdiri beberapa anak tangga di atas, mengenakan setelan rapi, wajahnya datar seperti biasa.
Naomi ikut menoleh, sedikit terkejut.
Nyonya Arumi langsung menghela napas lega. “Oh, begitu rupanya.”
Ia menatap Naomi lagi. “Mama kira kamu mengerjakannya sendiri. Itu bisa membuat Mama marah. Kamu ini tidak boleh memaksakan diri.”
Naomi tersenyum tipis. “Maaf, Ma.”
Max turun perlahan. Tatapannya sekilas tertuju pada Naomi, dalam dan sulit ditebak.
Nyonya Arumi mengangguk puas. “Bagus kalau begitu. Lain kali, kalau mau menyimpan sesuatu, bilang saja. Rumah ini cukup besar.”
“Baik, Ma,” jawab Naomi lembut.
Namun di balik wajah datar Max, pikirannya kembali pada kejadian semalam.
Setelah Naomi keluar dari ruang kerjanya, Max tidak langsung beristirahat. Entah mengapa, ia membuka layar pemantau CCTV. Ia melihat Naomi berjalan menuju ruang tamu.
Awalnya tidak ada yang aneh. Namun kemudian, gadis itu berhenti di depan tumpukan barang. Naomi mengangkat tangannya perlahan dan dalam sekejap, seluruh barang di depannya menghilang.
Max bahkan sempat mengucek matanya sendiri. Ia memutar ulang rekaman itu. Sekali, dua kali bahkan tiga kali. Hasilnya tetap sama. Barang-barang itu benar-benar lenyap begitu saja itu benar-benar bukan ilusi ataupun kesalahan kamera.
Max terdiam lama di depan layar. Namun alih-alih memanggil siapa pun, ia justru menghapus rekaman tersebut sepenuhnya. Tidak ada satu pun jejak yang tersisa.
Kembali ke pagi hari itu, Max menatap Naomi sekilas sebelum mengalihkan pandangan.
“Aku berangkat dulu,” ucapnya singkat.
Naomi mengangguk kecil. “Hati-hati, Kak.”
Setelah itu, Naomi menoleh pada Nyonya Arumi. “Ma, aku juga berangkat kuliah.”
Nyonya Arumi tersenyum hangat dan mencium kening putrinya. “Belajar yang rajin. Jangan terlalu lelah.”
“Baik, Ma.”
Naomi melangkah keluar dari mansion Atlas dengan langkah tenang.
Di belakangnya, Max berdiri diam beberapa saat, matanya menerawang. Gadis itu jelas menyembunyikan sesuatu yang besar.
*
Naomi baru saja melangkah ke arah bagasi mobil lamanya ketika ia mendapati sesuatu yang berbeda di halaman depan mansion Atlas.
Sebuah mobil mewah berwarna hitam metalik terparkir rapi di sana. Desainnya elegan namun kokoh, dengan garis tegas yang menunjukkan kekuatan tersembunyi.
Naomi berhenti.
“Mobil siapa itu?” gumamnya pelan.
Ia menoleh ke arah salah satu pengawal yang berdiri tegap di dekat pilar.
“Mobil itu—”
Belum sempat pengawal itu menjawab, suara berat terdengar dari belakangnya.
“Itu mobil barumu.”
Naomi langsung membalikkan badan. Max berdiri beberapa langkah di belakangnya, kedua tangan dimasukkan ke saku celana, ekspresinya datar seperti biasa.
“Kak Max?” Naomi menatapnya terkejut. “Kakak memberikan aku mobil baru lagi?”
Max mengangguk santai. “Mobil kemarin kualitasnya sangat jelek. Itu hanya uji coba.”
Beberapa pengawal yang berdiri tidak jauh dari sana saling melirik dan meringis dalam hati.
Kualitas jelek?
Mobil sebelumnya adalah edisi terbatas.hanya ada tiga unit di dunia. Keluaran terbaru dari perusahaan Atlas. Banyak miliarder yang mengajukan permintaan, tetapi tidak mendapatkannya. Dan sekarang disebut kualitas jelek.
Max melanjutkan dengan nada tenang, “Yang ini sudah dirancang ulang. Sistem anti-pecah, anti-peluru, dan perlindungan penuh. Kalau perlu, bisa dibawa ke medan perang.”
Naomi berkedip beberapa kali. “Medan perang? Itu sangat berlebihan kak. Aku hanya pergi ke kampus, Kak.”
“Lebih baik berlebihan daripada kurang,” jawab Max singkat.
Naomi terdiam beberapa detik, lalu tiba-tiba wajahnya berubah cerah. Tanpa aba-aba, ia melangkah maju dan memeluk Max.
Max membeku seketika.
“Kak Max, terima kasih!” ucap Naomi tulus.
Sebelum Max sempat bereaksi, Naomi langsung melompat dan mengecup pipinya dengan cepat.
Cup!
“Aku berangkat dulu!”
Ia segera melepaskan pelukannya dan berlari kecil menuju mobil barunya, meninggalkan Max yang masih berdiri kaku.
Beberapa pengawal di sekitar halaman tidak bisa menyembunyikan senyum tipis mereka.
Max masih mematung beberapa detik, lalu menggeram pelan. “Dasar gadis nakal.”
Namun sudut bibirnya terangkat tipis. Tangannya tanpa sadar menyentuh pipinya yang terasa hangat.
Beberapa detik kemudian, ia menyadari tatapan para pengawal yang berusaha keras menahan ekspresi.
Max mengalihkan pandangan tajam ke arah mereka.
“Apa yang kalian lihat?”
Para pengawal langsung berdiri lebih tegap.
“Tidak melihat apa-apa, Tuan.”
“Kami melihat ayam terbang, Tuan,” jawab Pengawal smbil mendongak ke atas.
“Kami melhat tikus berdasi, Tuan,” jawab yang lain dengan cepat dan ketakutan.
Max menyipitlan matanya tajam dan mendengus pelan, lalu memutar badan dan kembali masuk ke dalam mansion.
Di halaman, mesin mobil Naomi sudah menyala. Dengan senyum lebar, gadis itu melaju keluar dari gerbang Atlas, tanpa tahu bahwa satu kecupan kecilnya barusan cukup membuat seorang pria setenang Max kehilangan ketenangannya.
*
*
Sedangkan di sisi lain.
Plak!
Suara tamparan keras menggema di antara puing-puing.
Carlos terhuyung setengah langkah. Pipi kirinya langsung memerah.
Semua orang membeku.
Jack berdiri tegak di hadapannya, tongkat di tangan kiri, tangan kanan masih sedikit terangkat.
“Kau sudah menyinggung siapa?” suaranya rendah namun penuh tekanan.
nnti pulang jadi apa coba