Nara menjalin hubungan asmara dengan Dewa sejak duduk di bangku SMA. Lima tahun kemudian Nara dilamar sang kekasih. Tetapi, di hari pernikahan, Nara menikah dengan orang lain yaitu Rama.
Rama adalah tunangan sepupunya yang bernama Gita.
Hidup memang sebercanda itu. Dewa dan Gita diam-diam menjalin hubungan di belakang Nara. Hubungan itu hingga membuahkan kehidupan di rahim Gita.
Demi ayahnya, Nara menerima Rama. Menjadi istri dari lelaki yang tidak punya pekerjaan tetap.
Simak cerita selengkapnya 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_va, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
"Mariasih?" Sekar mengerutkan keningnya.
"Marniasih, Nyonya." Jia mengoreksi. Tidak lupa memberitahu nama sekolah yang terletak di desa.
Sekar menganggukkan kepala. Mendengar informasi yang dengan seksama.
"Apakah Bianca dan Marniasih orang yang sama?" gumam Sekar pelan, jari telunjuk mengetuk-ngetuk dagu.
"Santi bilang mirip, hanya kulit saja yang berubah, Nyonya. Tapi dia kemudian ragu karena sudah lama," terang Jia.
"Waktu itu usianya sebelas tahun."
Sekar mengangguk-angguk lagi. Marniasih pendatang di desa itu. Dirawat sebentar oleh neneknya yang tidak lama kemudian meninggal dunia.
"Aku akan menyuruh Abra menyelidiki. Mungkin ada catatan atau foto di sekolah maupun kantor kelurahan," ucap Sekar sangat pelan. Melirik pintu kamarnya.
Jia juga melihat ke arah pintu, melihat bayangan di bawah celah pintu. Kedua kakinya bergerak cepat untuk menangkap basah.
"Desi, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Jia.
"Nguping?"
"Eh, nggak." Telapak tangan Desi bergerak ke kanan kiri.
"Aku mau memberitahu kalau Nyonya Hanum menunggu di bawah."
Sekar yang mendengarnya, meletakkan cangkir di meja. Lantas berdiri perlahan.
"Nyonya Hanum di kamar bayi," imbuh Desi seraya mundur selangkah karena sang majikan akan lewat.
Sekar berjalan cepat menuju tangga. Langkah kakinya sangat hati-hati ketika menuruni anak tangga.
Di dalam kamar, Hanum sedang memangku si bayi. Mengelus pipi Nindy penuh kasih sayang.
"Aku berasa tua sekali, punya cicit dari Radit," kata Hanum.
"Mungkin sebentar lagi istrinya Rama hamil."
Ucapan Hanum membuat Bianca dan Karina meradang tetapi keduanya tidak berani protes, hanya saling memandang. Bianca hanya berani pada Sekar.
"Papamu sebentar lagi pulang, Nindy." Hanum mendongak menatap Bianca yang berbaring di tempat tidur.
"Kamu tentu bahagia kan? Karena Radit sadar dan kembali ke rumah."
"Iya, Oma. Tentu saja aku bahagia. Aku dan suamiku akan merawat Nindy...." jawab Bianca.
Hanum menyuruh Karina mengambil Nindy dari pangkuannya. Setelah itu mengajak Sekar ke halaman belakang, yang terdapat beberapa koleksi anggrek milik Sekar.
Hanum dan Sekar duduk di bangku di bawah pohon yang teduh.
"Istrinya Rama lugu dan cantik. Alisnya masih asli, juga bulu matanya. Yang paling penting, cara Rama menatapnya. Penuh cinta," kata Hanum.
"Sesuai di foto, kan?"
"Iya, lebih cantik. Nara sebelumnya tidak tahu kalau Rama putramu." Hanum menyandarkan punggungnya.
"Kamu harus datang ke rumah Nara, Sekar. Menemui kedua orang tuanya. Supaya saling mengenal."
"Iya, Ma. Aku akan menemui Nara dan kedua orangtuanya. Secepatnya. Aku mau memastikan Radit dulu," sahut Sekar.
"Aku pasti bertemu mereka."
Hanum melihat ke arah jendela kamar yang ditempati Bianca. Melihat Karina yang menimang bayi.
"Waktu itu aku emosi sekali, sehingga tidak bisa berpikir jernih. Membiarkan Restu dan papamu mengusir Rama." Hanum menghela napas.
"Tapi papa sepertinya mulai melihat dari sisi Rama, Ma ...."
"Papamu bahkan tidak protes saat mengetahui aku ingin bertemu Rama. Sayang sekali kondisi Radit saat ini belum sehat," ucap Hanum.
"Melihat kondisi Bianca yang pakaiannya robek sana sini, lebam di pipi, celana dalam turun. Rama yang agak mabuk...."
"Sudah, Ma. Jangan diingat lagi. Doakan saja ada titik terang." Sekar menggenggam tangan Hanum.
"Rama yang terbiasa hidup berkecukupan, ternyata bisa menghadapi hidup tanpa fasilitas. Dia masih punya uang di tabungan, tapi tetap kerja. Kerja apa saja. Ada hikmah di balik fitnah. Rama ulet sekali," papar Hanum.
"Rama sempat membuka usaha minimarket sendiri tapi mengalami musibah. Ya, Rama pantang menyerah."
...****************...
Nara rebahan di karpet. Membiarkan televisi menyala, siaran berita yang berganti acara gosip.
Kedua mata Nara fokus di layar ponsel. Melihat-lihat baju di aplikasi marketplace. Sementara masuk keranjang. Nara juga memilih sepatu, pakaian tidur seksi, pakaian dalam seperti bra dan celana dalam.
Nara menguap panjang. Diraihnya remote, mematikan televisi. Karena mengantuk berat, Nara pindah ke ruang tengah. Mengenyakkan tubuhnya di atas kasur. Kedua matanya tidak langsung terpejam. Masih sempat memilih lingerie dan skincare. Makin lama, matanya memejam. Ponsel tergeletak di atas perut, masih di dalam aplikasi.
Satu jam kemudian, dia mendengar lamat-lamat suara suaminya yang sedang bicara dengan lelaki. Nara menggeliat tapi masih merem.
"Pesan ikan kembung sekilo, cumi setengah saja .." kata Rama.
Nara jadi tahu suaminya bicara dengan siapa. Pak Samsul, yang sehari-hari berjualan keliling tahu, tempe dan hasil laut seperti ikan, udang, cumi, kadang ada kepiting.
Rama masuk rumah, ia sudah pulang lima belas menitan yang lalu. Membiarkan Nara pulas tanpa ingin mengganggu atau membangunkan.
"Mas Rama, kebiasaan deh... nggak pernah bangunin aku. Berasa jadi istri yang kerjaannya molor mulu." gurau Nara.
"Orang tidur kok dibangunkan. Lagi pula nggak ada yang penting, Nara. Kalau ada sesuatu yang penting banget, aku pasti bangunin kamu," tukas Rama.
Nara duduk, memandangi suaminya. Kadang ada rasa bersalah, dirinya enak-enak tidur, suaminya di luar rumah mencari nafkah.
"Nggak datang?"
"Datang ke mana, Mas?" Nara bertanya seraya turun dari pembaringan.
"Ke pernikahan sepupumu," jawab Rama.
Nara tertawa kecil.
"Nanti viral loh, Mas. Nanti ada orang yang diam-diam merekam kita, terus diunggah ke medsos. Terus caption nya, mantan kekasih datang ke acara pernikahan."
"Nggak apa-apa. Datang yuk...." ajak Rama serius sekali.
"Mas Rama nggak demam, kan?" Nara menyentuh kening suaminya.
"Aku nggak demam. Sekalian jalan-jalan sore, nanti mampir ke bioskop," jawab Rama.
"Sudah move on, kan?"
"Mas Rama kok tanya gitu?" Nara mencebik.
"Sudah move on, makanya mau," katanya, lalu berdehem.
Melihat istrinya yang mulai manyun, Rama minta maaf.
"Kalau kamu nggak mau, nggak apa-apa."
"Datang sebentar saja. Bukan ide yang buruk karena diundang. Nggak apa-apa viral." Nara terkekeh sendiri.
Setengah jam kemudian, Nara dan Rama sudah siap. Nara memakai atasan batik lengan pendek warna biru muda, celana panjang putih, dan sepatu cokelat.
Rama juga memakai kemeja batik yang motifnya sama dengan Nara. Celana panjang hitam dan sepatu hitam.
"Kok berasa kek gimana gitu," ujar Nara, yang naik ke boncengan motor.
"Memangnya yang kek gimana?"
"Lucu, dan aneh gitu. Konyol juga, Mas," sahut Nara.
"Makanya kita jodoh," tukas Rama.
Motor melaju cepat di jalanan, menuju ke arah gedung pernikahan. Untuk akad sudah diselenggarakan di rumah Gita jam sebelas.
Kedatangan Nara dan Rama membuat penerima tamu terbengong-bengong. Tidak menyangka memang ada di daftar tamu, yang berarti di undang.
"Mbak Nara."
Nara tertawa melihat ibu, bapak, dan adiknya.
"Mbak Nara datang juga?" Yuda menatap tidak percaya.
"Iya, diajak Mas Rama. Buk, kok datang?" Nara menghampiri ibunya.
"Diundang sama Bude Yuni yang terhormat," jawab Risna.
"Dia yang nantang."
Keluarga besar Rahmat yang menjadi among tamu juga terkejut melihat kedatangan keluarga itu, yang tampak bahagia. Yang paling bikin melongo, Rama mengajak Nara ke pelaminan. Menyalami pengantin dan kedua orang tua.
Karena di tempat umum dan banyak tamu, Gita hanya bisa memendam amarah. Tidak menyangka, Nara dan Rama datang di pesta pernikahannya.
Rahang Dewa pun mengeras tapi berusaha tersenyum. Tidak menyukai Rama yang tangannya di pinggul Nara. Bahkan hampir menyentuh bokong.
"Selamat ya, Gita. Mas Dewa," ucap Nara.
"Aku senang akhirnya kalian berdua menikah."
"Terima kasih, Nara," sahut Gita, yang malah salah fokus melihat kalung Nara. Halah paling beli online yang seharga seratus ribu rupiah.
Saat turun dari pelaminan, Nara menahan tawa. Entah mengapa, padahal tidak ada yang lucu.
Nara bersama Risna, keliling dari satu stan ke stan lain. Nara mengambil zuppa soup dan es dawet. Lantas bergabung dengan Rahmat, Yuda, dan Rama yang berada di teras bagian samping. Keluarga itu makan dan bersenda gurau.
"Gita sendiri yang datang mengantar undangan, Buk. Terus Mas Rama yang ngide," ucap Nara.
"Terus ibu dan bapak kok datang? Siapa yang duluan ngajak?"
"Ya, jelas ibumu. Bapak dan Yuda tim pendukung aja," sahut Rahmat.
"Ayo, bapak ibuk kita nonton film di bioskop," ajak Rama.
"Mau nggak, Yud?"
"Mau, dong." Yuda menyahut antuasias.
"Jangan horror, misteri...." Risna bergidik.
"Jangan yang romantis...." Rahmat menimpali.
"Cari action saja." Nara menukas.
...****************...
Dari pesta resepsi, berlanjut ke pesta bersama teman-temannya dan teman Dewa. Berpesta di salah satu hotel sampai tengah malam.
Gita memakai gaun putih off shoulder yang pas di badan. Merasa dirinya sangat seksi karena memakai gaun di atas lutut juga payu dara yang sedikit terekspos.
"Aku istirahat ke kamar dulu ya, Sayang," pamit Gita, karena Dewa masih betah dengan teman-temannya.
Dewa mengangguk saja.
Gita ke kamar hotel sendirian. Di dalam kamar, dia memotret ranjang pengantin bertabur bunga mawar. Juga pemandangan kota dari balkon.
Hari itu, dia posting foto-fotonya di IG dan Tik Tok. Followersnya meningkat, karena mendapatkan atensi yang lumayan ramai. Apalagi saat pamer foto Dewa yang memakai seragam hijau loreng. Gagah sekali.
Gita berganti lingerie merah menyala tanpa memakai pakaian dalam. Rambutnya digerai.
"Huh, dadaku memang top." Gita narsis sendiri.
"Belum tidur?" Dewa memasuki kamar.
"Aku nungguin kamu, Mas."
"Aku capek, Gita," sahut Dewa.
"Tapi, ini malam pengantin kita, Mas," kata Gita.
"Kemarin kita sudah melakukannya di kamar."
Mereka melakukannya karena Dewa menginap. Tengah malam Gita menyusup masuk ke kamar tamu.
Gita berdecak kesal. Memakai jubah tidurnya lalu scroll media sosial. Malah melihat unggahan Nara di bioskop, yang memeluk lengan Rama.
"Cih, manja.."
Org yg berpacaran kalau sudah menikah n tinggal brng akan ketahuan sifat nya
Nindy juga bukan anak radit kah 🤨🤨
Siapa dibelakang Bianca, yg pasti org penting yg bisa melindungi nya 👀
Selalu menilai diri perfect, pdhal etikamu 0 NOL, , , , pamer sana sini ciihh, , , ,
Org macam spt mu harus di panasi sama kemesraan Nara & Rama
nanggung kelanjutan nya 😬😬