‼️MC BERSIFAT IBLIS‼️
Langit memberinya takdir kejam, dibenci Oleh Qi, tidak memiliki dantian, bahkan tidak memiliki meridian.
Dibuang oleh ayahnya sendiri.
Sifat lembut Lu Daimeng hilang tak tersisa, digantikan oleh sifat iblis yang mengerikan.
Dia adalah anti dao, sebuah jalan yang tercipta karena perlawanan kepada langit.
Dia tidak di takdirkan untuk naik menuju puncak.
Dia di takdirkan untuk menghancurkan puncak itu sendiri.
Ini adalah kisah dari apa yang mereka sebut
ANTI DAO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Transplantasi Tabu
Puncak pohon Ironwood Hitam itu bergoyang pelan diterpa angin beracun. Di ketinggian seratus empat puluh meter, dunia bawah hanyalah hamparan kabut abu-abu yang tak berujung, seperti lautan susu yang telah basi.
Lu Daimeng meletakkan beban di bahunya.
Mayat anak perempuan itu jatuh dengan suara buk yang lembut di atas permukaan dahan yang lebar dan berlumut. Kepala yang terbungkus kain sutra itu diletakkan tepat di sebelahnya.
Darah masih menetes dari leher yang terputus, menggenang di celah-celah kulit kayu. Bagi Lu Daimeng, ini bukan pembunuhan keji terhadap seorang anak. Ini adalah perpindahan aset.
Dia duduk bersila, mengatur napasnya. Udara dingin menusuk kulitnya yang setengah telanjang, tapi panas di dalam perutnya—sisa dari memakan jantung gagak—masih memberinya kehangatan.
Dia membuka bungkusan kain di tangan kanannya. Kepala gadis itu menatapnya. Mata Tiga Pupil (Triple Pupil) itu masih terbuka, membeku dalam keindahan anomali yang tragis. Tiga pupil yang saling bertumpuk di dalam satu bola mata, irisnya berwarna hitam pucat dengan corak geometris yang rumit.
"Mata yang bisa melihat surga," bisik Lu Daimeng. "Sayang sekali kau mati sebelum sempat melihat betapa busuknya dunia."
Dia menggeledah saku jubah gadis itu. Seperti dugaannya, sebagai anggota keluarga kerajaan, dia membawa perbekalan darurat.
Sebuah botol giok kecil.
Lu Daimeng membukanya. Bau herbal yang menyegarkan langsung menyeruak, melawan bau busuk mayat di sekitarnya. Di dalamnya ada tiga butir pil berwarna hijau muda.
Pil Pemulih Nafas Kecil.
Ini adalah obat penyembuh luka tingkat rendah bagi kultivator, tapi bagi manusia fana, ini adalah obat dewa yang bisa menyambung tulang dan menumbuhkan daging dalam semalam.
Lu Daimeng tidak memakannya. Dia meletakkannya di atas daun lebar.
Dia mengambil tanduk kelinci hitamnya—pisau bedahnya.
Dia menatap mata gadis itu, lalu menatap pantulan wajahnya sendiri di bilah pedang kultivator yang dia letakkan di samping.
"Aku buta," ucapnya pada dirinya sendiri.
Itu adalah pengakuan yang jujur. Selama sebulan ini, dia bertarung seperti binatang. Dia mengandalkan pendengaran, penciuman, dan insting. Tapi dia buta terhadap esensi dunia ini. Dia tidak bisa melihat Qi. Dia tidak bisa melihat jebakan formasi. Dia tidak bisa melihat "Hukum".
Jika dia ingin membalas dendamnya, dia harus melihat apa yang dilihat mereka.
Dia mendekatkan pisau tanduknya ke wajah mayat gadis itu.
Dengan gerakan yang stabil—tangan seorang ahli bedah gila yang tidak memiliki lisensi selain keberanian—dia mulai bekerja.
Dia mengiris kelopak mata gadis itu agar terbuka lebih lebar. Dia memutus otot-otot ekstraokular dengan presisi yang mengerikan. Dia sangat berhati-hati agar tidak merusak saraf optik terlalu pendek.
Cplot.
Bola mata kanan gadis itu keluar. Utuh. Basah. Menatap langit dengan tiga pupilnya yang diam.
Lu Daimeng meletakkannya di atas daun yang bersih.
Sekarang, bagian yang sulit.
Lu Daimeng menarik napas panjang. Dia tidak punya obat bius. Dia tidak punya alkohol untuk menahan sakit. Dia hanya punya hati yang telah dilatih Hukum Kemalasan (untuk mematikan respon panik) dan Hukum Keserakahan (untuk menginginkan kekuatan lebih dari rasa takut).
Dia mengarahkan ujung tanduk yang tajam itu ke mata kanannya sendiri.
Tangan itu tidak gemetar.
"Mata fana ini... tidak berguna," doktrinnya bergema.
JLEB.
Dia menusuk sudut matanya sendiri.
"ARGHHH!"
Geraman tertahan lolos dari tenggorokannya. Rasa sakitnya meledak, tajam dan menyilaukan. Saraf optik adalah salah satu bagian tubuh yang paling sensitif. Rasanya seperti ada paku panas yang diputar langsung ke dalam otaknya.
Darah segar mengalir membasahi pipinya.
Lu Daimeng tidak berhenti. Dia tidak bisa berhenti. Jika dia berhenti sekarang, dia hanya akan menjadi orang buta sebelah yang bodoh.
Dia memutar pisau itu, memotong otot matanya sendiri. Dia merasakan sensasi pop yang menjijikkan saat bola matanya terlepas dari rongganya.
Dunia di sisi kanannya menjadi gelap total.
Dia menarik bola matanya keluar, memutus saraf terakhir dengan satu sentakan cepat, dan membuangnya ke bawah pohon. Makanan untuk semut.
Rongga matanya kini kosong, berdarah, dan berdenyut dengan penderitaan yang tak terlukiskan.
Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Dia hampir pingsan karena syok. Tapi dia menggigit lidahnya sendiri sampai berdarah untuk tetap sadar.
Fokus. Jaringan masih hangat. Saraf masih hidup. Sambungkan sekarang atau gagal selamanya.
Dia mengambil bola mata gadis itu. Terasa dingin dan licin di jarinya yang berdarah.
Dia mengambil satu butir Pil Pemulih Nafas Kecil, meremasnya dengan jari hingga hancur menjadi bubuk halus.
Dia menaburkan sebagian bubuk itu ke dalam rongga matanya yang kosong—rasanya seperti ditaburi garam dan cabai, membakar daging yang terluka—dan sebagian lagi dia balurkan ke saraf optik bola mata gadis itu.
Lalu, dia memasukkannya.
Dia mendorong bola mata asing itu masuk ke dalam kepalanya sendiri.
Ukurannya sedikit berbeda. Terasa sesak. Terasa salah.
Tubuhnya menjerit menolak. Ini bukan milikku! Benda asing! Usir!
Tapi bubuk obat itu bekerja. Energi medis yang kuat mulai meleleh, memaksa daging yang terluka untuk beregenerasi, memaksa saraf yang putus untuk mencari pasangannya.
"Menyatu..." desis Lu Daimeng, menekan mata itu agar masuk ke posisinya. "Menyatulah, atau aku akan menghancurkanmu."
Dia merobek gaun sutra gadis itu—kain yang halus dan bersih—menjadikannya perban panjang.
Dia membalut kepalanya dengan erat, menutup mata kanannya yang baru dicangkok. Darah merembes menembus kain putih itu dalam hitungan detik, tapi pendarahannya melambat.
Lu Daimeng jatuh terlentang di dahan pohon. Napasnya seperti orang yang baru saja tenggelam.
Satu mata selesai.
Malam itu, demam menyerangnya.
Itu bukan demam biasa. Itu adalah perang biologis.
Sistem kekebalan tubuhnya menyerang organ baru itu. Matanya terasa bengkak, panas, dan berdenyut seirama detak jantung. Nanah mulai terbentuk.
Dalam hayalannya, Lu Daimeng melihat bayangan gadis itu. Dia berdiri di ujung dahan, tanpa kepala, menunjuk ke arahnya.
“Pencuri...” bisik suara di kepalanya.
Lu Daimeng, yang menggigil kedinginan di tengah demam, tertawa.
"Diam!!," racanya dalam kegelapan. "Kau sudah mati... Matamu... akan lebih berguna jika aku gunakan."
Dia memanggil kekosongan di perutnya—kekosongan yang dia beri makan dengan Dantian kultivator. Dia memerintahkan ketiadaan itu untuk mengalir ke matanya.
Tapi percuma ketiadaan itu tidak bisa dia kendalikan.
Jangan tolak, perintahnya pada sel-sel darah putihnya. Itu bukan musuh. Itu senjata.
Energi abu-abu dari tulangnya merambat naik ke tengkorak, menenangkan peradangan, memaksa tubuhnya untuk menerima transplantasi itu secara brutal.
Tujuh hari berlalu.
Tujuh hari Lu Daimeng hidup dalam kegelapan parsial. Dia tidak turun dari pohon. Dia memakan sisa daging gagak yang mulai membusuk. Dia minum dari embun yang terkumpul di daun.
Dia duduk diam, membiarkan pil dan tubuhnya bekerja.
Pada pagi hari ketujuh, rasa sakit yang berdenyut itu hilang. Digantikan oleh rasa gatal yang tak tertahankan.
Gatal adalah tanda penyembuhan.
Lu Daimeng duduk tegak. Matahari pagi baru saja menembus kabut, mengirimkan pilar-pilar cahaya tipis.
Dia menyentuh perban di kepalanya. Kain sutra itu sudah kaku oleh darah kering dan nanah yang mengeras.
Perlahan, dia mulai membukanya.
Lilitan demi lilitan.
Saat lapisan terakhir terbuka, kelopak mata kanannya terasa berat dan lengket.
Dia menarik napas panjang.
"Buka," perintahnya.
Dia membuka mata kanannya.
BOOM.
Itu bukan suara ledakan fisik. Itu adalah ledakan persepsi.
Otaknya tersentak. Vertigo menghantamnya begitu keras hingga dia hampir muntah.
Dunia... dunia ini berbeda.
Dengan mata kirinya (mata aslinya), dia melihat dahan pohon, daun hijau kusam, dan kabut abu-abu.
Tapi dengan mata kanannya...
Dia melihat aliran.
Dia melihat bahwa "kabut" itu bukan sekadar uap air. Itu adalah partikel-partikel kecil berwarna abu-abu yang bergetar, sisa-sisa energi kematian (Death Qi) yang mengambang di udara.
Dia melihat "daun" itu bukan hanya benda padat. Dia melihat pembuluh-pembuluh halus di dalamnya, dialiri oleh cahaya hijau redup (Wood Qi) yang dipompa dari akar pohon.
Dan saat dia melihat tangannya sendiri...
Dia melihat tubuh yang kosong.
Di mana seharusnya ada aliran Qi kehidupan, tubuhnya tampak seperti lubang hitam di tengah kanvas berwarna-warni. Dia tidak memancarkan cahaya. Dia menyerap cahaya di sekitarnya.
"Indah..." bisiknya, air mata mengalir dari mata barunya—air mata refleks karena intensitas cahaya. "Sangat... berisik."
Informasi visual itu berlebihan. Tiga pupil di mata kanannya berputar pelan, masing-masing pupil menangkap spektrum yang berbeda: satu melihat materi fisik, satu melihat aliran energi, dan satu lagi melihat jejak.
Dia bisa melihat jejak kaki gagak yang mendarat di dahan itu seminggu yang lalu, tertinggal seperti hantu tipis di udara.
Lu Daimeng menutup mata kirinya. Dia melihat dunia hanya dengan mata kanannya.
Jelas. Tajam. Dan penuh dengan lapisan rahasia yang selama ini disembunyikan darinya.
Dia menatap mayat gadis itu yang sudah mulai membusuk. Dia bisa melihat sisa-sisa energi jiwanya yang perlahan pudar, meninggalkan tubuh kosong itu.
"Eksperimen berhasil," katanya datar.
Dia tidak merayakan keberhasilan itu dengan sorak-sorai. Dia merayakannya dengan efisiensi.
Dia menatap mata kiri gadis itu yang masih ada di kepala yang terpenggal.
"Masih ada satu lagi."
Tanpa ragu, tanpa istirahat. Dia mengambil pisau tanduknya lagi.
Dia sudah tahu rasa sakitnya. Dia sudah tahu prosesnya.
Dia mengulanginya.
Dia mencungkil mata kirinya sendiri dengan gerakan yang lebih cepat, lebih mantap, seolah dia sedang membuang bagian mesin yang rusak.
Sakitnya tetap sama—neraka yang membakar—tapi mentalnya sudah siap.
Dia menghancurkan pil kedua. Menaburkannya. Memasukkan mata kiri gadis itu ke rongga matanya sendiri.
Perban kembali dililitkan. Kegelapan kembali menyelimuti.
Dia buta lagi.
Tapi dia tidak takut. Dia tahu apa yang menunggunya di ujung kegelapan ini. Dia menunggu dengan kesabaran seekor laba-laba yang sedang merajut jaringnya sendiri di dalam kepalanya.
Satu bulan kemudian.
Penampilannya sekarang benar-benar mengerikan dan mempesona.
Dia mengenakan jubah yang dia jahit kasar dari kulit gagak dan sisa pakaian sutra gadis itu. Rambut hitamnya panjang terurai.
Tapi wajahnya...
Kedua matanya kini terbuka.
Irisnya berwarna emas pucat. Di dalam setiap mata, tiga pupil hitam berputar perlahan dengan ritme yang hipnotis.
Lu Daimeng turun dari pohon itu.
Tatapannya tajam, menembus kabut, menembus kulit pohon, menembus ilusi.
Dunia di sekelilingnya adalah peta strategi yang terbuka lebar.
Dia melihat seekor Ular Sanca Batu yang bersembunyi di balik semak, lima puluh meter di depan. Dengan mata lamanya, dia tidak akan pernah tahu. Tapi dengan mata ini, dia bisa melihat panas tubuh ular itu dan sirkulasi Qi racun di taringnya.
Dia juga bisa melihat titik lemahnya. Ada satu titik di tujuh inci dari kepala ular itu di mana aliran Qi-nya terputus sedikit—bekas luka lama.
"Kau punya celah," bisik Lu Daimeng.
Tapi dia tidak menyerang ular itu. Itu buang-buang waktu.
Lu Daimeng terus berjalan. Dia tidak lagi tersesat. Dia bisa melihat jejak Ley Lines (Jalur Nadi Bumi) yang samar di tanah, membimbingnya keluar dari zona hutan dalam yang menyesatkan ini.
Namun, dia menyadari satu hal yang pahit.
Meskipun dia memiliki Mata Ini, dia tetap tidak bisa mengendalikan Qi yang dia lihat.
Dia mencoba menarik benang cahaya hijau dari pohon. Tidak bisa. Tangannya menembus cahaya itu. Dia mencoba menyerap kabut kematian. Tidak bisa. Tubuhnya hanya menyerap secara pasif, tidak bisa memanipulasi secara aktif untuk serangan jarak jauh.
Dia adalah orang yang bisa melihat kunci jawaban ujian, tapi tidak punya tangan untuk menulis jawabannya.
"Aku hanya pengamat," simpulnya. "Tapi pengamat yang tahu di mana harus menusuk."
Dia memutuskan untuk pindah. Hutan Dalam terlalu statis. Dia butuh variabel. Dia butuh mangsa yang membawa sumber daya: senjata, pil, informasi.
Dia butuh manusia.
Lu Daimeng mengikuti jejak samar sisa-sisa aroma manusia yang terbawa angin—aroma keserakahan, aroma logam, dan aroma rempah-rempah dagang.
Dia berjalan menuju Jalur Perdagangan Kuno di pinggiran Hutan Bagian Tengah. Tempat di mana para pedagang gelap, kultivator liar, dan tentara bayaran sering lewat untuk memotong jalan.
Dua hari perjalanan.
Dia tiba di sebuah ngarai sempit yang diapit tebing batu kapur. Di bawahnya, ada jalan setapak yang cukup lebar untuk dua kereta kuda.
Tempat penyergapan yang sempurna.
Lu Daimeng memanjat tebing itu. Dia menemukan sebuah ceruk kecil yang tertutup tanaman merambat, sepuluh meter di atas jalan.
Dia masuk ke sana, membersihkan sisa kotoran kelelawar, dan duduk.
Dari sini, mata barunya bisa melihat hingga satu kilometer ke depan dan belakang jalan setapak itu. Dia bisa melihat debu yang beterbangan jauh sebelum targetnya muncul. Dia bisa melihat tingkat kultivasi mereka dari terangnya aura mereka.
Dia meletakkan pedang sekte awan biru di samping. Dia mengasah tanduk kelincinya.
"Di sini," ucapnya, suaranya bergema kecil di ceruk batu. "Di sini aku akan mengumpulkan sumber daya."
Dia tidak akan menjadi bandit yang berteriak "Serahkan hartamu!". Itu norak.
Dia akan menjadi predator yang menjatuhkan batu di saat yang tepat. Yang memanah kuda di titik vitalnya. Yang turun saat kekacauan terjadi dan menghilang sebelum debu turun.
Lu Daimeng menutup matanya—mengistirahatkan penglihatan dewa yang membebani otaknya—dan menunggu.
Di bawah, angin berhembus melalui ngarai, membawa suara lonceng kereta pedagang yang samar di kejauhan.
Domba-domba sedang datang. Dan gembala mereka kali ini adalah serigala iblis.
Bersambung...