NovelToon NovelToon
CIREMAI: THE LAST SURVIVAL

CIREMAI: THE LAST SURVIVAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Epik Petualangan
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Lima sahabat mendaki Gunung Ciremai untuk merayakan kelulusan, namun terjebak di tengah wabah mayat hidup yang muncul dari balik kabut. Di jalur Linggarjati yang ekstrem, perjalanan perpisahan ini berubah menjadi ujian survival yang brutal. Mereka harus memeras logika, naluri, dan kesetiaan demi bertahan hidup dari kepungan monster sekaligus tipisnya oksigen di puncak tertinggi Jawa Barat.
Mereka bergabung bersama Satria seorang tentara, dan Shakira seorang dokter untuk Bertahan Hidup dari serangan Mayat Hidup.

Jika kalian diposisi mereka apa yang akan kalian lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

Sabtu, 17 Mei : Pukul 23.50 WIB

Api sudah mulai redup.

Kayu kering semakin sulit ditemukan karena tanah di sekitar mereka lembab semua. Dimas menambahkan ranting-ranting terakhir yang dia bisa temukan dalam radius tak terlalu jauh dari bivak karena dia tak mau keluar terlalu jauh dalam gelap.

Bagas tertidur setengah, kepalanya bersandar ke carrier-nya.

Fajar tak bisa tidur.

Suhu tubuhnya masih rendah meski sudah minum air hangat dan mengganti posisi duduk semakin dekat ke api. Ada sesuatu yang tak nyaman di perutnya bukan mual, tapi rasa penuh yang aneh, seperti ada sesuatu yang tak beres di dalam tanpa bisa dijelaskan secara spesifik.

Fajar menatap kegelapan hutan di luar lingkaran cahaya api.

Matanya tertangkap sesuatu.

Di pangkal akar pohon besar pohon yang paling dekat dengan bivak mereka, pohon yang sudah dia lihat sejak tadi tapi tak pernah benar-benar diperhatikan ada sesuatu yang tumbuh.

Dalam cahaya api yang kecil dan redup, sulit melihat dengan jelas. Tapi Fajar mendekat, kepalanya condong.

Jamur.

Ukurannya kecil. Lebih kecil dari jamur kuping yang biasa dijual di pasar. Tudungnya tipis, melengkung ke bawah seperti payung yang hampir terbalik, berwarna cokelat tua dengan sedikit semburat kuning kehijauan di pinggirannya. Tangkainya panjang dan tipis, seperti benang yang mampu berdiri tegak.

Ada banyak dari mereka. Tumbuh berkelompok dari sesuatu yang gelap di bawah tanah dari bangkai seekor semut, meskipun Fajar tak bisa melihat itu dalam gelap.

Fajar sudah lama tak makan sesuatu yang proper. Bekal mereka dimakan sejak tadi sudah hampir habis karena tak ada yang membawa untuk bermalam. Perutnya menerima sinyal kelaparan yang semakin keras sejak satu jam lalu.

Dia meraih jamur itu.

Jangan makan jamur liar yang tak dikenal. Dia pernah merekam konten tentang ini. Pernah bilang di depan kamera dengan sangat serius. Pernah menjelaskan berapa banyak spesies jamur hutan yang berbahaya, beracun, mematikan.

Tapi malam itu, suhu tubuhnya rendah, pikirannya kabur, dan perutnya kosong.

Tanpa benar-benar memutuskan atau mungkin tepatnya tanpa kapasitas untuk benar-benar memutuskan jari Fajar memetik beberapa lembar jamur itu.

Teksturnya lembut di ujung jarinya. Tak berbau aneh. Tak ada warna peringatan yang mencolok.

Dia memasukkannya ke mulutnya.

Rasa pertama: tak ada. Hambar, sedikit tanah, sedikit pahit di ujung lidah yang hilang dengan cepat.

Dia mengunyah. Menelan.

Lalu kembali duduk di depan api yang semakin redup, memeluk lututnya, dan menatap kegelapan.

Tak ada yang terjadi.

Tak langsung.

Minggu, 18 Mei Pukul 02.30 WIB

Dimas terbangun karena mendengar suara.

Bukan suara hutan. Bukan suara angin atau binatang malam.

Suara napas yang berbeda.

Dia membuka matanya. Api sudah mati hanya tersisa bara kecil yang tak lagi memberi cahaya berarti. Gelap nyaris total, hanya mata yang sudah sedikit teradaptasi yang bisa membedakan siluet dari kekosongan.

Bagas masih tidur di kirinya.

Tapi di kanan di tempat Fajar seharusnya duduk atau tidur Kosong.

Dimas berdiri langsung. “Fajar?”

Suaranya lenyap ke dalam pohon-pohon.

Tak ada jawaban.

Dia menyalakan headlamp. Cahaya putih membelah kegelapan, menerangi area bivak, menerangi tanah berlumut, menerangi Jejak kaki.

Satu set jejak yang mengarah ke dalam hutan. Ke arah yang lebih dalam. Ke arah yang tak ada satupun dari mereka yang pernah berjalan ke sana.

“BAGAS.” Dimas menendang kaki Bagas. “BANGUN. FAJAR PERGI.”

Minggu, 18 Mei Pukul 03.15 WIB

Entah Di Mana, Hutan Lindung Ciremai

Fajar Anggara berjalan.

Dia tak tahu kenapa dia berjalan. Dia tak punya tujuan yang bisa dia artikulasikan, tak punya peta, tak punya kompas, tak punya headlamp karena headlamp-nya masih di bivak.

Tapi kakinya bergerak.

Satu langkah. Satu langkah lagi. Satu langkah lagi.

Ada sesuatu di kepalanya yang bukan lagi sepenuhnya suaranya sendiri. Bukan suara yang bisa didengar bukan kata-kata, bukan perintah yang jelas. Lebih seperti… tarikan. Seperti magnet. Seperti ada sesuatu di kedalaman hutan yang sudah tahu posisinya, yang sudah menghitung jaraknya, yang sudah memutuskan bahwa Fajar Anggara perlu berjalan ke sana.

Suhu tubuhnya yang rendah sejak sore tadi sudah melakukan setengah pekerjaan itu melemahkan sistem imun, mengganggu keseimbangan hormonal, membuka celah yang biasanya tertutup.

Dan sesuatu yang masuk melalui jamur kecil yang dia petik dari pangkal akar itu sudah mengerjakan setengah sisanya.

Ophiocordyceps unilateralis dalam inangnya yang biasa, ia bekerja dalam hitungan hari. Tapi kondisi Fajar malam itu suhu tubuh rendah, sistem imun melemah, saluran pencernaan yang kosong dan langsung menyerap apapun yang masuk menyediakan lingkungan yang lebih dari ideal untuk sesuatu yang tak seharusnya ada di dalam tubuh manusia.

Hifa-hifa jamur itu, yang biasanya hanya bekerja pada jaringan saraf semut yang sederhana, menemukan sesuatu yang jauh lebih kompleks di dalam. Dan kompleksitas itu bukan hambatan.

Ia adalah peta.

Fajar berjalan terus. Kakinya tak tersandung. Matanya tak berkedip terlalu sering. Langkahnya teratur, mekanis, seperti seseorang yang berjalan dalam tidur tapi bukan tidur, karena matanya terbuka, karena dia merasakan ranting yang menyentuh wajahnya, karena suatu bagian kecil dari dirinya, di sudut yang paling dalam dan paling terisolasi dari pikirannya, masih berteriak.

Ini bukan aku yang bergerak.

Tapi tak ada yang mendengarnya.

Dan di batang pohon yang mereka tinggalkan di pangkal akar di mana Fajar memetik jamur tadi hifa-hifa halus yang tersisa sudah mulai tumbuh lagi.

Pelan. Sabar.

Seperti yang sudah mereka lakukan selama jutaan tahun.

Pos Pendaftaran Pendaki, Pukul 06.00 WIB

Dimas dan Bagas turun dengan wajah yang sudah tak punya warna.

Mereka sudah mencari Fajar dari jam dua pagi sampai subuh berteriak, meniup peluit, menyusuri jejak kaki yang hilang di bebatuan. Sampai Dimas akhirnya menarik Bagas kembali dengan argumen yang tak bisa dibantah: kalau kita ikut tersesat, tak akan ada yang melaporkan Fajar.

Petugas pos yang menerima laporan, mereka adalah seorang pria paruh baya bernama Pak Ujang, dengan wajah yang sudah terbiasa menerima berbagai macam kabar dari gunung. Tapi saat Dimas menyebutkan posisi terakhir Fajar dan kondisi kabut semalam, ada sesuatu di wajah Pak Ujang yang berubah.

Bukan kaget.

Lebih seperti… mengenal.

“Arahnya ke mana, Mas? Waktu jejaknya hilang?”

“Ke barat-laut. Ke arah yang lebih dalam. Menjauhi jalur”

Pak Ujang sudah mengangkat handy talkie-nya sebelum Dimas selesai bicara.

“Pos dua, ini pos satu. Ada pendaki hilang. Zona Barat-Laut. Kirim tim SAR. Dan Pak Rudi bawa protokol yang kemarin. Yang itu.”

Dimas dan Bagas bertukar pandang.

Protokol yang kemarin.

Artinya Fajar bukan yang pertama.

1
Kustri
lanjutkan!!!
Kustri
oalah zidan... zidan orang terbirit" kamu malah nyantai😂
Kustri
semangat buat lanjutin karyamu ini
sabar, yakin pasti byk yg mampir
💪💪💪
Kustri
hlaa py to, saya jg sdh siap melanjutkan, koq malah mentok😩
Kustri
kamu salah 1 dr mrk, tubuhmu ada zat yg sama dgn mrk zidaaaan... 😁bener gk sih thor🤭
ambil yg bisa kau bawa, ingat temen"mu😂lari butuh tenaga💪
Kustri
mayan di swalayan stok makanan & minuman aman👌🤭
Kustri
☕tak sogok biar crazy up🤭😁
Kustri
weh zidan 🎷🎼ada apa dgnmu...
Kustri
ngeyel BGT👊👊👊wae
Kustri
qu msh capek, dok masa iya baru nyampe bawah, istirahat jg blm masak suruh naik lagi😫😫😫
Kustri
ky'a satria gk nyebut zidan, koq sakira tau yg terpapar itu zidan🤔ampe qu ulang baca'a🤭
NR: wkwk, terimakasih kak.
total 1 replies
Kustri
diminumin air kelapa ijo x yaa🤭
Kustri
memukul jgn hanya pukul
melirik, melihat dll, klu hrs ditambah awalan/akhiran tambahkan thor, spy bahasa'a enak dibaca
lanjuuuut👉👉👉
Kustri
wah zidan ky'a terpapar dr serbuk nih, melihat kondisi'a
Kustri
eumm... dr jamur yg fajar makan waktu kelaparan itu yaa
Kustri
kira" apa obat penyembuh'a ya🤔
wlu cm baca, tp deg"an jg 💪
t-rex
suka banget upnya langsung banyak gini. btw Thor, perkiraan end dibab berapa? wkwk. mau nabung bab😭😭🤭
NR: Up banyak kalo lagi ada ide aja kak wkwk, kalo up nya cuman 1 bab itu lagi stuck alur ceritanya mao dibawa kemana yak ini wkwk,
total 1 replies
Kustri
qu koq deg"an klu zidan terpapar😫
lanjut lagii
Kustri
lanjuuut 👉👉👉
Kustri
bisa gk thor kalimat"nya diperhalus, perasaan dipart" awal kalimat'a enak dibaca
mrk blm saling kenal mosok manggil'a lu gue, yg pasti satria jg lbh tua✌
saran ajaa spy karyamu lbh sempurna💪
NR: oke kak, terimakasih saran nya, 😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!