Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.
Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.
Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Satu minggu setelah insiden bunga Daisy itu, suasana di SMA Garuda mendadak panas. Bukan karena cuaca, tapi karena spanduk raksasa yang terbentang di gerbang sekolah: FINAL TURNAMEN BASKET ANTAR SMA SE-PROVINSI.
Arkan, sebagai kapten, nyaris tidak punya waktu untuk bernapas. Ia sering melewatkan jam istirahat untuk latihan tambahan di GOR. Namun, susu cokelat dingin tetap rutin muncul di meja belajarku setiap pagi, terkadang disertai memo kecil: "Doain asuransi lo nggak tumbang di lapangan ya, Ra."
Kamis sore, saat aku sedang merapikan buku di perpustakaan, sesosok jangkung dengan jersey basket nomor 07 yang basah oleh keringat muncul di ambang pintu. Napasnya memburu, seolah habis lari maraton dari lapangan.
"Ra," panggilnya serak.
Aku mendongak, terkejut melihat Arkan yang biasanya rapi kini tampak berantakan namun tetap terlihat... tampan. "Lo bukannya harusnya latihan?"
Arkan berjalan mendekat, lalu merogoh saku celana pendek basketnya. Ia mengeluarkan sebuah kartu plastik dengan tali kain berwarna biru tua. VIP Access: Final Match.
"Ini buat lo," ucapnya sambil menyodorkan kartu itu. "Gue nggak maksa. Gue tahu lo benci keramaian. Gue tahu lo benci suara peluit dan teriakan suporter yang berisik."
Ia terdiam sejenak, menatap mataku dengan intensitas yang membuatku lupa bagaimana cara bernapas. "Tapi lusa itu pertandingan terakhir gue di SMA. Dan gue pengen... pas gue masukin bola terakhir, orang pertama yang gue liat di tribun adalah lo. Bukan sebagai 'Tuan Putri', tapi sebagai alasan kenapa gue pengen menang."
Aku menatap kartu VIP itu. Terbayang betapa riuhnya GOR nanti. Sorak-sorai, kamera, dan pasti gosip yang akan semakin menggila jika aku duduk di barisan depan.
"Arkan, gue—"
"Jangan jawab sekarang," potongnya cepat, seolah takut mendengar penolakan. "Gantungan kunci Daisy di tas lo itu... dia butuh jalan-jalan ke lapangan basket sekali-sekali. Kalau lo dateng, pake jaket varsity gue yang kemarin. Biar semua orang tahu siapa 'pemilik' asuransi paling mahal di sekolah ini."
Arkan nyengir nakal, lalu sebelum aku sempat memprotes, ia sudah berbalik lari kembali menuju lapangan sambil berteriak pelan, "Gue tunggu di tribun utama, Sabtu jam sepuluh pagi, Ra!"
Aku terpaku, menggenggam kartu plastik itu erat. Di sudut tas ranselku, bunga Daisy rajutan dari Arkan seolah ikut bergoyang tertiup angin dari jendela perpustakaan yang terbuka.
Malamnya, aku menatap kartu itu di meja belajar. Kak Pandu masuk ke kamar tanpa mengetuk, melihat kartu itu, lalu bersiul panjang. "Wah, Arkan beneran nekat ya. Dia bilang ke gue, kalau lo nggak dateng, dia bakal mogok main di kuarter ketiga."
"Dia lebay," gumamku, tapi senyum tipis tak bisa kusembunyikan.
"Dia bukan lebay, Ra. Dia cuma lagi naruh seluruh taruhannya di tangan lo. Lo mau jadi kemenangannya, atau cuma jadi penonton dari jauh?" Kak Pandu menepuk pundakku sebelum keluar kamar.
Aku menoleh ke arah jaket varsity Arkan yang tergantung rapi di balik pintu. Wanginya masih sama. Aroma keberanian yang pelan-pelan mulai menular padaku.
Aku tidak membalas pesan Arkan. Aku hanya ingin memberi jawaban dengan kehadiranku.
Sabtu pagi, GOR SMA Garuda sudah seperti lautan manusia berbalut warna sekolah kami. Suara drum suporter bersahut-sahutan dengan teriakan yel-yel yang memekakkan telinga. Aku berdiri di depan cermin sekali lagi, merapikan kerah jaket varsity Arkan yang terasa begitu hangat—atau mungkin suhu tubuhku sendiri yang naik karena gugup.
"Ayo, Ra! Kita telat dikit, Arkan bisa-bisa beneran mogok main," ajak Kak Pandu sambil menarik kunci motornya.