"Aku bukan di sini untuk menyelamatkan nyawamu. Aku di sini untuk memastikan kematianmu tidak jatuh ke tangan yang salah."
Kenzi hanyalah pengawal misterius dengan tatapan sedingin es yang disewa untuk melindungi Alana, pewaris tunggal yang penuh musuh. Namun, di balik seragamnya, Kenzi adalah "eksistensi terlarang" ---seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi dengan misi rahasia untuk menghancurkan keluarga Alana..
Saat konspirasi mulai terkuak, Kenzi terjebak dalam pilihan sulit: Menyelesaikan misi mautya atau mengkhianati takdir demi melindungi wanita yang mulai dicintainya.
Ketika pelindungmu adalah ancaman terbesarmu, masihkah ada jalan keluar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Jebakan di Pesta Kostum
Bab 18: Jebakan di Pesta Kostum
Musik techno yang menghentak keras beradu dengan riuh rendah percakapan ribuan tamu yang memenuhi ballroom hotel bintang lima itu. Malam ini adalah pesta kostum tahunan yang digelar oleh asosiasi pengusaha muda, sebuah acara elit di mana identitas disembunyikan di balik topeng dan jubah mahal.
Tuan Wijaya, yang baru saja kembali dari luar negeri, bersikeras agar Alana hadir. "Ini bagus untuk citra perusahaan, Alana. Kau harus menunjukkan wajahmu," ujarnya dingin beberapa jam yang lalu. Alana, yang masih terguncang oleh perubahan sikap Kenzi yang tiba-tiba, tidak memiliki energi untuk mendebat.
Kini, Alana berdiri di sudut ruangan, mengenakan gaun malam berwarna merah marun yang elegan, dipadukan dengan topeng venetian berwarna emas yang menutupi separuh wajahnya. Matanya yang sembab karena kurang tidur dan sisa tangis tadi malam tersembunyi dengan baik, namun tatapannya kosong, memandang kerumunan orang yang menari dan tertawa seolah dunia tidak sedang runtuh di sekitarnya.
Beberapa meter darinya, Kenzi berdiri tegak, menyatu dengan bayang-bayang pilar besar. Dia mengenakan tuxedo hitam yang dipesan khusus, pas di tubuh taktisnya. Topeng venetian hitam legam menutupi wajah dinginnya. Bram telah mengaudit tatonya, tetapi laporan intelijen internasional belum kembali. Posisi Kenzi masih aman, namun dia tahu waktunya terbatas.
Analisis Lingkungan: Ballroom Grand Astria. Luas: 2.500 m². Tamu: Est. 1.800 orang. Keamanan internal: 50 personel (tidak memadai). Pintu darurat: 4 titik (terdeteksi celah operasional).
Pemindaian Ancaman: 360 derajat. 98% tamu bermasker. Probabilitas penyusupan: Tinggi.
Tiba-tiba, Kenzi menangkap sebuah visual anomali. Seorang pelayan dengan kostum pelayan istana abad ke-18 berjalan melewati kerumunan. Gerakannya terlalu kaku untuk seorang pelayan, dan postur tubuhnya—bahu yang lebar, pinggang yang sempit—lebih menyerupai seorang prajurit.
Analisis Target: Subjek bermasker full-face. Tinggi: 185 cm. Berat: Est. 85 kg. Cara berjalan: Taktis, 75% mirip dengan "Viper" yang dieliminasi di apartemen.
"Nona, segera menjauh ke arah pilar C. Ada pergerakan mencurigakan," suara Kenzi terdengar datar namun mendesak melalui interkom taktis kecil yang terpasang di telinga Alana.
Alana tersentak, tatapan kosongnya seketika buyar. Dia menoleh ke arah Kenzi, mencari kepastian di balik topeng hitam itu. Dia ingin bertanya, ingin mendebat, ingin merasakan sedikit saja kelembutan yang dulu pernah ada. Namun, yang dia lihat hanyalah patung es yang berdiri siaga.
Kekecewaan melanda Alana. Dia mengepalkan tangannya, kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri. Perubahan sikap Kenzi benar-benar membunuh semangatnya.
"Kenzi, bisakah kau berhenti bicara seperti mesin? Kita di pesta, bukan di medan perang," balas Alana, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan.
"Bahaya tidak mengenal lokasi, Nona. Viper memiliki koneksi. Baron tidak akan berhenti. Ikuti protokol atau risiko keselamatan meningkat 60% dalam dua menit ke depan," jawab Kenzi kasar, matanya tidak beralih dari pelayan mencurigakan itu.
Alana mendengus frustrasi, tetapi dia tahu berdebat dengan Kenzi adalah kesia-siaan. Dia melangkah ragu-ragu menuju pilar C, hatinya terasa berat.
Sementara itu, pelayan mencurigakan itu semakin mendekati posisi Alana. Kenzi bergerak cepat, menyelip di antara kerumunan tamu dengan kelincahan yang tidak manusiawi. Topeng hitamnya menyamarkannya dengan baik, membuatnya tampak seperti salah satu tamu pesta.
Analisis Taktis: Ruang sempit, banyak sipil. Penggunaan senjata api risiko tinggi. Eliminasi harus bersih dan senyap.
Pelayan itu kini hanya berjarak lima meter dari Alana. Dia merosotkan nampan perak yang dibawanya, menyingkapkan sebuah pisau belati tipis yang berkilau di bawah lampu chandelier.
"Nona! Tiarap!" teriak Kenzi melalui interkom, suaranya meledak di telinga Alana.
Alana, yang masih terlarut dalam kesedihannya, tidak sempat merespons dengan cepat. Dia membeku melihat belati yang mengarah lurus ke jantungnya.
Brak!
Kenzi menerjang pelayan itu tepat saat belati itu hampir menusuk Alana. Kekuatan terjangan Kenzi membuat nampan perak itu terlempar dan menghantam lantai dengan suara dentuman keras, menarik perhatian tamu di sekitarnya. Terjadi kontak fisik di ruang sempit.
Pelayan Viper itu ternyata lebih terlatih dari yang diperkirakan. Dia berhasil menghindar dari kuncian Kenzi dan melakukan serangan balik dengan rangkaian pukulan krav maga yang cepat dan presisi. Kenzi, dengan kacamata night vision di balik topengnya, menangkis setiap serangan dengan tenang.
Analisis Target: Viper Level 2. Gaya bertarung: Campuran krav maga dan kali (senjata tajam). Kondisi fisik: 95%. Estimasi waktu eliminasi: 30 detik.
Kenzi menangkap pergelangan tangan pelayan itu, memutarnya hingga terdengar suara tulang retak, dan menggunakan tubuh lawan sebagai perisai saat pelayan itu mencoba menusuknya lagi.
"Siapa yang mengirimmu? Baron? Atau Baron?" desis Kenzi dingin, matanya menatap tajam di balik topeng hitam.
"Kau... kau adalah setan dari organisasi itu, bukan? Kenapa kau membela putri Wijaya?" gertak pelayan itu, rasa sakit di pergelangan tangannya mulai terasa.
Kenzi menyipitkan mata. Pelayan ini tahu tentang latar belakangnya. Ini adalah komplikasi yang tidak terduga. Penyamarannya benar-benar dalam bahaya. Tanpa jawaban, Kenzi menghantamkan tumitnya ke pelipis pria itu, memastikan dia tidak akan bicara untuk waktu yang lama.
Di kejauhan, alarm pesta mulai melolong. Keamanan internal, dipimpin oleh Bram yang terlihat paranoid, merangsek masuk ke area keributan.
"Nona Alana! Anda aman?!" teriak Bram, matanya memindai ruangan dengan waspada.
Alana berdiri di dekat pilar C, tubuhnya gemetar, wajahnya pucat di balik topeng emas. Dia menatap Kenzi yang berdiri diam di tengah kerumunan, topeng hitamnya sedikit sobek, menyingkapkan goresan kecil di pipinya.
"Saya netralisir ancaman, Tuan Bram. Viper Level 2. Informasinya telah diredam," ujar Kenzi kaku, suaranya datar seolah-olah dia baru saja menyelesaikan tugas administrasi.
Bram menurunkan senjatanya, tetapi kecurigaannya tidak berkurang. "Anak baru, kau terlalu efisien. Latar belakangmu terlalu sempurna. Aku akan menggali siapa kau sebenarnya, Kenzi. Bahkan jika aku harus membongkar setiap lubang di dunia ini untuk menemukan asal-usulmu."
"Silakan dicoba," sahut Kenzi singkat.
Hening kembali menyelimuti ballroom, hanya menyisakan suara guntur dari luar dan napas Alana yang tersengal. Kenzi berdiri tegak, merapikan tuxedo-nya yang sedikit kusut. Dia memeriksa denyut nadi Viper Level 2 itu dengan ujung sepatunya.
Status: Satu eliminasi permanen.
"Kenzi..." Alana melangkah mendekat, matanya berkilat karena air mata yang mulai menggenang. "Kau... kau menyelamatkanku lagi."
Kenzi menoleh. Wajahnya tidak menunjukkan penyesalan, tidak juga kemenangan. Hanya kekosongan yang mengerikan. "Saya netralisir ancaman. Dalam kalkulasi saya, membiarkan dia hidup hanya akan membahayakan Anda di masa depan."
Kata-kata Kenzi kembali menghantam Alana. Dia berharap ada sedikit saja kelembutan, sedikit saja kepedulian di balik kata-kata robotik itu. Namun yang dia temukan hanyalah kehampaan yang dalam.
Alana mendekati Kenzi, tangannya bergetar saat dia menyentuh pipi Kenzi yang terluka. "Siapa sebenarnya kau? Bodyguard biasa tidak bertarung seperti itu. Kau bergerak seolah-olah... seolah-olah kau sudah tahu setiap gerakan mereka sebelum mereka melakukannya."
Kenzi menatap Alana. Untuk sesaat, dia ingin memberikan jawaban jujur tentang pelatihannya di organisasi gelap, tentang dendam ayahnya, tentang alasan mengapa dia begitu efisien dalam mencabut nyawa. Namun, logikanya segera memblokir keinginan itu.
"Saya adalah hasil dari investasi besar Ayah Anda untuk memastikan Proyek Phoenix tidak terhenti karena kematian putrinya," jawab Kenzi kaku.
"Bohong!" Alana meraih kerah tuxedo Kenzi, memaksa pria itu menatapnya. "Ayahku tidak pernah menemukan orang seperti ini. Kau punya agenda sendiri, kan? Katakan padaku!"
Kenzi menatap Alana. Di balik kerah tuxedo-nya, interkom rahasianya bergetar. Organisasi menelepon. Mereka mencium adanya keraguan dalam dirinya.
"Agenda saya adalah menjaga Anda tetap hidup, Nona. Setidaknya untuk malam ini," Kenzi menarik tangan Alana dari kerahnya.
Malam itu, di tengah kemeriahan pesta yang telah runtuh, Alana menyadari satu hal: Bahaya terbesar bukanlah orang-orang bermasker yang ingin membunuhnya, melainkan pria yang kini sedang berdiri di hadapannya—pria yang hatinya benar-benar dingin sekeras es. Perang dingin di dalam kediaman Wijaya baru saja dimulai.