sebuah kehancuran adalah sebuah derita bagiku, seperti kutukan akan kelakuan berat masa laluku. nyatanya itu hanyalah sebatas prasangka. _Ailavati Keysa Maharani.
wajah datar tampak acuh adalah penguat ku, aku terlalu takut untuk dikasihani sebagai alasan pertemanan ku. hidupku telah luluh lantah atas kehancuran.~Alga Mahensa Putra
Di sinilah kisahku dimulai.
Aku Aila Putri cantika yang memiliki trauma akan masalalu, yang di pertemukan dengannya Alga Mahensa Putra.
Pria yang memiliki parasa tampan dan berwajah datar.
Akankah Aku bisa bersamanya?
Apakah ego kita yang akan sama sama menyakiti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetya_nv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ada apa dengan tanala
Matahari hari ini tampak malu malu muncul di ujung timur, aku terbangun dari mimpiku. Ku cari Nala yang ternyata tidak ku temukan barang hidungnya. Aku celingukan mencarinya kesana kemari. Aku memutuskan untuk menanti dia pulang. Kuputuskan untuk mandi agar diriku terasa segar.
Sudah biasa rumah dia hampa. Hanya tersisa jarum jam yang berdetak.
"Masih sama, tiada bedanya dengan rumah. Sunyi. Dia sama kesepiannya." Dalam batinku.
Aku memasak di dapur, tanganku dengan lihai menari di atas penggorengan. Pisauku dengan telaten memotong bahan bahan di depanku. Api di atas kompor ku atur dengan pas. Dan aroma masakanku kini mengudara menyeruak di ruangan dapur milik Tanala.
Di sisi lain Nala sedang asik berbicara dengan Gilang, memang kemarin malam Nala menghubungi Gilang agar bertemu pagi ini di taman. Gilang menyanggupi karena tahu ada sesuatu yang penting.
" Lang, pastinya Ila sebentar lagi menemuimu hati hati. Jangan sampai di tahu semuanya." wanti wanti Nala terhadap Gilang. Ada rasa gelisah yang ketara di raut wajah Nala.
" itu urusan gue. " Gilang menjawab dengan tenang. Memberikan ketenangan terhadap Nala agar gadis itu lebih rileks.
Hening, Nala memandang keluar jendela. Pikirannya menerawang jauh di sana. Gilang dengan tenang memandang Tanala yang gusar di depannya. Meja di ketiknya dengan jari sepanjang dia berpikir. Tiada suara di antara mereka berdua hingga Gilang kembali bersuara.
" apa kabar dia La?, gimana kamu denganya?. " pertanyaan Gilang mengungkit rasa bersala Nala 1 tahun lalu.
" dia baik, bahkan sering ada di depan mata, tapi ada jarak di antara kita. " Nala menjawab dengan sendu, dia terdiam lebih lama, tenggelam dalam penyesalannya.
" aku tahu perasaan bakal berubah kapan saja, tapi yang kamu lakukan dulu adalah sebuah kesalahan. Dia adalah korban, cuman dia memilih jalan yang mungkin buat kalian sakit tapi itu yang terbaik. Dia memilih menjauh adalah bentuk pertahanan dirinya. " jawab Gilang dengan hati hati takut melukai hati Nala. Sebuah kesalahan Gilang bertanya tentang dia. Gadis di depannya masih sama larut dalam penyesalan masa lalu. Dia masih belum menerima.
"Aku sang ratu egois,
memilih sebagai pemenang
Bukan suatu hal keberuntungan
Yang ada adalah sesal.
Ratu yang malang yang tetap berkilau
Keegoisan yang memupuk seakan dosanya
Hidup dalam sesal yang kian memburuk
Sebagai daya tahan hanya berpura lupa" Batin Nala berucap dengan perasaan yang campur aduk.
" udah aku pamit, nanti siang pasti Ila akan meminta kau temui. Datang kerumahnya. Pura pura bertamu, lagian lo lama gak ketemu diakan. Dia cantik dan sekarang udah mulai berbaur dengan lingkungan. Aku tahu lo rindu, hati lo takkan berubah. " ucap Nala sebelum pergi
" nyatanya dia tak pernah menganggapku ada, mungkin aku merelakannya sekarang tapi aku tak tahu kapan aku harus berjuang. " jawab Gilang dengan serius walaupun mimik wajahnya kini menjadi sendu. Dia tak bergerak dengan semestinya. Dia hanya diam tertinggal dengan rasa yang lalu.
" gue tahu lo marah, tapi dia yang menyuruhnya untuk menjadi teman Ila. " jawab Nala dengan tiba tiba berhenti berputar balik menghadap Gilang yang setia duduk di bangku taman.
" ku harap lo tahu, kalau Ila sekarang jauh berbeda dari dua tahun lalu. Dia semakin jauh dari orang orang terdekat. Dia punya batas abu yang tak bisa kita lewati Lang" tutur Nala dengan serius. Mengingatku yang sekarang berada di rumahnya.
" aku tahu dia jadi salah satu primadona yang menawan, walaupun tertutup dengan tingkah misteriusnya. " jawab Gilang seraya bangkit berdiri mengikuti Nala pulang.
Di sinilah aku menunggu Nala di rumahnya. Aku menghitung setiap helai rambutku yang menjuntai dengan malas. Ku pandangi jam di dinding meja makan itu dengan malas.
Aku yang sudah lama menunggu Nala mulai kelaparan dan bosan, dengan terpaksa aku makan sendiri tanpa menunggunya. Nala pasti nantinya akan makan dengan sendirinya tanpa aku temani. Lagian ini rumah Nala.
Selesai makan aku terburu buru bersiap pergi meninggalkan tempat ini. Aku teringat akan tas dan ponselku yang tertinggal di rumah Al. Aku harus pulang ke rumah takutnya dia datang kerumah.
( Kriieettt... ) terdengar pintu depan ke buka, ku harap Nala yang datang bukanlah bik Sumi pembantu Nala yang pulang pergi setiap harinya.
" La lo di mana??? Gue pulang nih. Makanan lo yang bikin ya?" Terdengar teriakan Nala dari bawah. Dan ternyata pikiranku benar bahwa Nala yang datang. Aku lari turun ke bawah dengan menenteng paperbag yang berisikan seragam sekolahku kemarin. Soal baju ganti aku pinjam baju Nala, sudah kebiasaan aku memakai baju Nala saat menginap.
" iya gue yang masak, maaf dapur lo belum gue beresin. Lo beresin sendiri gue buru buru mau balik. Ada urusan. " jawa ku sambil berlari menenteng paperbag tadi. Aku berlalu meninggalkan rumah Nala dengan perut yang terisi penuh.
Aku tergesa gesa untuk pulang hingga aku melupakan satu hal bahwa aku tidak membawa uang sepeserpun. Rencanaku yang langsung mencari Gilang hilang sudah. Aku harus singgah dulu di rumah untuk menggambil uang untuk membayar taksi yang ku tumpangi.
Sampai depan rumah aku menemukan mobil asing yang terparkir di halaman rumahku. Aku penasaran dengan keberadaan mobil itu. Aku turun dan menyuruh supir taksi menungguku karena aku harus menggambil uang untuk ongkosnya.
Di sini aku berlalu. Di dalam rumahku, pandanganku tertuju pada sosok laki laki yang duduk di kursi tamu yang membelakangi ku. Tetapi, tujuan ku sekarang untuk menggambil uang, aku harus buru buru karena sudah ada yang menungguku di depan sana.
Aku biarkan rasa penasaran ku sebentar untuk menyelesaikan kepentinganku terlebih dahulu. Nanti akanku jawab rasa penasaran ku dengan caraku tersendiri.