Di dunia tempat kekuatan adalah hukum dan kelemahan adalah dosa, Qiu Liong hanyalah sampah sekte murid buangan dengan akar spiritual retak, bahan ejekan, dan simbol kegagalan.
Ia dihina, dipermalukan, bahkan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.
Namun takdir berputar ketika ia menemukan Inti Kekosongan Tanpa Batas, warisan kuno dari dewa yang telah musnah. Kekuatan itu bukan sekadar energi… melainkan kemampuan untuk menembus hukum langit, menelan takdir, dan menciptakan ulang realitas.
Dari seorang pecundang yang diinjak-injak, Qiu Liong bangkit.
Ia akan merobek langit. Menghancurkan para dewa. Dan memahat namanya sebagai legenda yang tak akan pernah pudar.
Karena ketika dunia menertawakannya…
ia diam-diam sedang belajar menjadi tak terbatas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lin Xue’er dan Luka Lama
Angin sore berembus pelan di halaman Paviliun Bunga Plum. Kelopak-kelopak putih beterbangan, jatuh tanpa suara di atas batu-batu datar yang tersusun rapi. Tempat itu tenang terlalu tenang untuk hati Qiu Liong yang sedang gelisah.
Ia datang bukan untuk berlatih.
Ia datang karena sebuah nama.
Lin Xue’er.
Sudah lama ia tidak berbicara dengannya secara langsung. Sejak hari di Aula Luar, sejak tatapan yang memilih diam daripada membela. Sejak harga dirinya diinjak di depan semua orang.
Dan hari ini, tanpa ia sangka, mereka bertemu lagi.
Lin Xue’er berdiri di dekat kolam kecil, memandangi bayangannya sendiri di permukaan air. Gaunnya putih kebiruan, rambutnya tergerai panjang. Ia tetap seperti dulu—tenang, anggun, seolah tidak tersentuh badai.
Namun ketika ia menoleh dan melihat Qiu Liong, ada sesuatu yang retak di sorot matanya.
“Kau berubah,” ucapnya pelan.
Bukan tuduhan.
Bukan pujian.
Hanya pernyataan yang menggantung.
Qiu Liong menahan napas sejenak. Ia bisa merasakan pusaran di dalam dirinya bergerak pelan, seolah mengenali emosi yang muncul. Luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.
“Semua orang berubah,” jawabnya datar.
Lin Xue’er menatapnya lebih lama. “Bukan seperti ini.”
Ada jeda yang panjang di antara mereka. Angin membawa harum bunga, tapi tidak mampu mengusir ketegangan.
“Aku mendengar tentang pertarungan di Aula Luar,” lanjutnya. “Tentang bagaimana kau menang.”
“Apakah itu mengecewakanmu?” tanya Qiu Liong tanpa sadar.
Pertanyaan itu keluar lebih tajam dari yang ia maksudkan.
Lin Xue’er terdiam. Ujung jarinya menggenggam kain gaunnya perlahan.
“Kau masih menyimpan itu?” suaranya nyaris berbisik.
Qiu Liong tertawa kecil. Bukan tawa bahagia melainkan pahit.
“Menyimpan?” ulangnya. “Beberapa hal tidak perlu disimpan. Mereka tidak pernah pergi.”
Bayangan hari itu kembali menghantam pikirannya. Saat ia dipermalukan. Saat namanya diinjak. Saat ia mencari satu tatapan yang akan berdiri di sisinya
dan tidak menemukannya.
“Aku tidak membelamu,” kata Lin Xue’er akhirnya.
Tidak ada pembelaan.
Tidak ada alasan.
Hanya pengakuan.
Jantung Qiu Liong bergetar.
“Aku tahu.”
“Aku takut,” lanjutnya. “Keluargaku sudah terikat dengan keluarga Zhao. Jika aku berbicara, bukan hanya aku yang terkena.”
Kata-kata itu masuk seperti pisau tipis.
Bukan karena kebohongan
tetapi karena kejujuran.
Ia bisa memahami logikanya.
Namun pemahaman tidak menghapus rasa sakit.
“Kau memilih aman,” ucap Qiu Liong pelan.
Lin Xue’er mengangguk.
“Dan kau memilih berubah.”
Tatapan mereka kembali bertemu.
Namun kali ini, tidak ada jarak karena hinaan.
Ada jarak karena waktu.
Qiu Liong menyadari sesuatu yang aneh.
Ia tidak lagi merasa marah seperti dulu.
Luka itu masih ada
namun tidak lagi berdarah.
Yang tersisa hanyalah bekasnya.
“Aku tidak datang untuk menyalahkanmu,” katanya akhirnya.
“Lalu untuk apa?”
Ia menatap kolam di samping mereka.
Permukaannya tenang, memantulkan langit senja.
“Untuk melihat apakah aku masih merasakan apa pun.”
Jawaban itu membuat Lin Xue’er membeku sesaat.
“Dan?” tanyanya pelan.
Qiu Liong menarik napas panjang.
Di dalam dirinya, Inti Kekosongan berputar stabil.
Tidak liar.
Tidak haus.
Hanya tenang.
“Aku merasakan sesuatu,” katanya jujur. “Tapi bukan seperti dulu.”
Lin Xue’er tersenyum tipis.
Ada kesedihan di sana.
“Mungkin itu yang disebut dewasa.”
“Atau kehilangan,” balasnya.
Mereka berdiri dalam diam.
Dua orang yang pernah berbagi mimpi, kini berdiri di jalur berbeda.
Angin kembali bertiup, menggugurkan kelopak terakhir dari ranting.
“Apa kau akan membenciku selamanya?” tanya Lin Xue’er tiba-tiba.
Qiu Liong menatapnya lama.
“Aku tidak punya waktu untuk membenci,” jawabnya tenang. “Jalanku terlalu panjang.”
Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari
ia benar-benar telah melangkah jauh.
Lin Xue’er mungkin adalah bagian dari masa lalunya.
Luka yang dulu membentuk tekadnya.
Namun kini, ia bukan lagi sumber amarah.
Ia hanyalah pengingat.
Bahwa kelemahan bukan hanya tentang kekuatan
tetapi tentang pilihan.
Saat Qiu Liong berbalik untuk pergi, suara Lin Xue’er terdengar sekali lagi.
“Hati-hati dengan kekuatanmu.”
Ia berhenti sejenak.
“Kenapa?”
“Karena aku bisa merasakan jaraknya,” jawabnya lirih. “Kau terlihat dekat… tapi terasa jauh.”
Kalimat itu membuat langkahnya terhenti sepersekian detik.
Namun ia tidak menoleh.
Karena ia tahu
jarak itu memang ada.
Dan mungkin,
itu harga dari menjadi seseorang yang tak lagi tunduk pada masa lalu.
jangan bikin kecewa ya🙏💪