Merupakan cerita alternatif dari light novel Fated Across Borders; Menceritakan Amayah yang terjebak dalam trauma masa lalu, ia berubah menjadi gadis keras yang melampiaskan lukanya lewat kekerasan dan penindasan.
Brian melihat sisi rapuh di balik sikapnya dan berusaha membantunya keluar dari kegelapan, namun kehadirannya selalu diabaikan seolah tak pernah ada. Di tengah luka yang terus menghantui Amayah, muncul satu pertanyaan: bisakah Brian benar-benar menolongnya, atau kegelapan itu telah menjadi bagian dari dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiano R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 07
Suatu malam, Amayah yang baru saja menyelesaikan PR dan bersiap pulang ke rumahnya tiba-tiba dibuat kebingungan oleh teriakan yang terdengar dari arah kamar Brian.
Merasa aneh, Amayah pun mendekati kamar Brian. Di sana, ia melihat Brian sedang asyik bermain gim sambil mengenakan headphone, padahal jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Brian," panggil Amayah.
Namun, Brian sama sekali tidak mendengarnya. Suara dari dalam gim terlalu bising dan menutupi suara di sekitarnya.
Merasa diabaikan, Amayah pun kesal. Tanpa ragu, ia mencabut kabel headphone milik Brian.
"Hei! Mengapa kamu mencabutnya?" protes Brian terkejut.
"Karena kau tidak mendengarku," jawab Amayah kesal.
"Memangnya ada apa?" tanya Brian, wajahnya tampak kesal.
"Kau tahu ini jam berapa? Sudah kukatakan sebelumnya bahwa kau harus menjaga kesehatanmu dan jangan tidur larut malam!" kata Amayah dengan nada tegas.
Brian menatap Amayah serius. "Aku sedang menjalani misi tahunan yang tidak boleh dilewati, jadi aku terpaksa begadang," balasnya, mencoba membela diri.
"Tidak ada alasan! Justru jika dibiarkan, kau bisa jatuh sakit. Dan siapa yang akan kerepotan nantinya?" ucap Amayah, nada suaranya terdengar cemas.
"Kau sendiri juga belum tidur jam segini, jadi berhenti menyuruhku tidur," kata Brian, berusaha menyerang balik.
"Aku baru saja menyelesaikan PR. Tidak seperti dirimu yang bermain gim," balas Amayah cepat.
Brian tidak terima. "Kalau begitu urus saja dirimu sendiri. Aku melakukan ini demi kepuasan pribadiku," ujarnya ketus.
"Asal kau tahu, aku menyuruhmu beristirahat juga demi kepuasan pribadiku," kata Amayah. "Lagipula kau bisa bermain lagi besok. Waktu masih banyak, bukan? Yang perlu kau khawatirkan adalah kondisi tubuhmu jika terus seperti ini," lanjutnya dengan nada khawatir.
Keduanya saling menatap. Wajah mereka sama-sama serius, seolah tidak ada yang ingin mengalah. Namun akhirnya, Brian menghela napas.
"Baiklah… maafkan aku karena mengatakan hal yang kasar," ucap Brian menyesal. Ia melepas headphonenya, berdiri dari kursi, lalu mematikan komputernya.
"Maaf juga karena terlalu galak padamu…" balas Amayah lirih.
"Tidak perlu. Aku tahu kau marah karena mengkhawatirkanku. Kau cemas pada kesehatanku, dan itu wajar," kata Brian.
Ia lalu menambahkan dengan nada bercanda, "Aku akan mulai mendengarkanmu, wahai ibu angkatku."
Amayah langsung menyangkal. "Baguslah kalau begitu. Tapi bukan berarti aku khawatir atau peduli padamu, aku hanya mengingatkanmu saja," katanya cepat.
"Baik, baik… sekarang kau bisa meninggalkan kamarku. Atau kau mau di sini semalaman?" ujar Brian, mengusir Amayah dengan sopan.
"Berhenti mengatakan hal yang ambigu. Aku akan pergi," jawab Amayah dengan nada sebal.
Namun sebelum ia benar-benar keluar, Brian tiba-tiba bertanya, "Bagaimana dengan persiapan ujian akhir semestermu?"
Mendengarnya, Amayah terdiam. Ia baru teringat soal itu. Ujian kali ini sangat penting baginya—ia harus segera memperbaiki nilainya.
"Aku ingin terus berada di sisinya… jadi aku harus meningkatkan nilaiku agar layak mendampinginya," batin Amayah. Ia mengepalkan kedua tangannya sambil menundukkan kepala.
"Aku akan berusaha sebaik mung—"
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Amayah menyadari sesuatu. Brian sudah tertidur lelap di tempatnya.
Dengan pelan, Amayah mematikan lampu kamar Brian dan menutup pintu. Ia meninggalkan ruangan itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Malam itu, Amayah pulang dengan hati yang penuh keraguan.
"Dulu nilaiku bagus… tapi sekarang tidak. Semuanya karena pengaruh orang lain yang menindasku. Ini benar-benar buruk…" gumamnya sambil duduk murung di atas kasur.
Ia lalu menatap ke arah jendela. Langit malam dipenuhi bintang.
"Andai saja ayah ada di sini, pasti…"
Tiba-tiba, Amayah mencubit kedua pipinya sendiri. "Tidak boleh begitu. Ayah sudah tenang di alam sana. Aku tidak boleh bergantung padanya seperti saat masih kecil. Aku harus berubah."
"Aku harus belajar, meski harus mati-matian."
Amayah bangkit dari kasurnya dan duduk di kursi belajar. Ia membuka buku catatan sekolahnya, namun tak banyak hal yang bisa ia temukan di sana.
"Aku jarang mencatat sebelumnya… hanya ini yang bisa kupelajari sekarang…"
"Semua materi terasa sulit… bahkan memahaminya saja aku kesulitan…"
Ia menjatuhkan dagunya di atas meja, menatap ke depan—ke arah cermin yang memantulkan wajahnya sendiri.
"Aku harus bagaimana…?"
---
Di sekolah, sepanjang hari pikiran Amayah dipenuhi kebingungan menghadapi persiapan ujian akhir semester. Hampir semua teman sekelasnya sibuk membicarakan rencana belajar bersama—belajar kelompok, saling berbagi catatan, dan bertanya satu sama lain. Sementara itu, Amayah hanya bisa mendengarkan dari kejauhan.
Ia tidak memiliki teman sama sekali. Lebih tepatnya, tidak ada yang ingin berteman dengannya.
Keraguan mulai menggerogoti hatinya. Ia tidak punya siapa pun untuk diajak belajar. Nama Brian sempat terlintas di pikirannya, namun rasa malu segera menyusul. Ia takut Brian menolak, atau menganggap permintaannya merepotkan.
Saat jam istirahat tiba, Amayah memilih pergi ke perpustakaan. Ia berharap menemukan buku-buku yang memuat materi ujian nanti. Namun begitu berada di antara rak-rak buku, ia justru semakin bingung. Ia bahkan tidak tahu materi apa saja yang akan diujikan.
Banyak pelajaran yang terlewat. Banyak catatan yang kosong. Ia merasa tidak memahami apa pun.
Amayah menunduk, merenungkan nasibnya sendiri. Hingga akhirnya, sebuah tekad perlahan muncul.
"Aku harus berani mengatakannya!" gumamnya pelan, mencoba meyakinkan diri.
---
Di rumah Brian, Amayah memasak seperti biasa di dapur. Aroma masakan perlahan memenuhi ruangan, sementara Brian menunggunya di ruang tamu sambil membaca sebuah buku.
"Tumben sekali kau membaca buku," ujar Amayah, berniat sedikit menyindir.
"Aku sering membaca buku," balas Brian datar, tanpa mengalihkan pandangannya dari halaman yang ia baca.
Amayah mendekat dan melirik buku itu. "Itu kan komik. Aku kira kau membaca buku pelajaran," katanya bingung.
"Aku tidak perlu belajar. Semuanya akan mudah aku lalui," jawab Brian santai. "Jadi aku hanya perlu bersantai."
"Kau mengatakan itu seolah-olah ujian hanyalah hal sepele," gumam Amayah. "Tapi... wajar saja untukmu, mengingat nilai sempurnamu itu."
"Kau mengetahuinya, kan," kata Brian ringan, meski kesan angkuh tak sepenuhnya tersembunyi.
Amayah terdiam. Ia menatap Brian dengan ekspresi serius, seolah ingin mengatakan sesuatu. Tatapan itu tak luput dari perhatian Brian.
"Ada apa?" tanya Brian heran.
"Tidak ada..."
"Hanya saja..."
"Hm?"
"Tidak ada apa-apa!"
Brian jelas menyadari ada sesuatu yang disembunyikan Amayah. Namun ia memilih bersikap acuh dan kembali fokus membaca komiknya.
---
Join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini : https://whatsapp.com/channel/0029Vag3odvKQuJCLN490I0V (Jika tidak bisa dipencet, screenshot lalu pergi ke google lens)
---
Seusai makan malam, Brian dan Amayah mencuci piring bersama. Mereka berdiri berdampingan di dapur, hanya suara air dan gesekan piring yang terdengar. Tak satu pun dari mereka membuka pembicaraan.
Ketika semuanya selesai, Brian berbalik hendak menuju kamarnya untuk beristirahat. Namun langkahnya terhenti oleh suara Amayah.
"Brian..."
Brian menoleh ke belakang. Ia melihat Amayah berdiri kaku, wajahnya sedikit memerah, jelas tampak ragu. "Ada apa?"
"Itu..."
Brian menunggu dengan sabar, memberi Amayah waktu untuk mengumpulkan keberanian.
"Kau tahu, sebentar lagi ujian akan tiba..." ucap Amayah akhirnya.
Brian memutar tubuhnya sepenuhnya, menatapnya dengan penuh perhatian.
"Aku melewatkan banyak sekali materi. Aku tidak mencatatnya, apalagi memahaminya," lanjut Amayah. "Tapi aku harus memperbaiki nilaiku demi harapan ibuku... Maka dari itu..."
Kalimatnya terhenti. Amayah menggenggam ujung bajunya, sementara Brian seolah sudah memahami maksudnya.
"Aku bersedia membantumu belajar," ujar Brian datar.
"Eh—serius?" Amayah terkejut.
"Tentu saja," jawab Brian. "Aku akan membantumu saat kesulitan. Jadi, tidak usah segan meminta pertolonganku."
Ia melanjutkan, "Seharusnya kau mengatakannya lebih awal. Jangan memendam semuanya sendiri."
"Begitu ya..." Amayah mengangguk pelan. "Tapi bukan berarti aku ini bodoh atau apa. Aku hanya ingin kau mengajariku saja!"
"Siapa yang bilang kau bodoh?" Brian berhenti sejenak, lalu menambahkan sambil berbalik badan, "Oh ya, kalau dilihat dari nilaimu sih..."
"Hei!" Amayah mencubit lengan Brian dengan kesal. "Arghhh, maaf!"
Brian meringis kesakitan, dan Amayah segera melepaskan cubitannya.
"Jadi... kapan kita akan mulai belajar?" tanya Amayah.
"Akhir pekan ini," jawab Brian. "Apakah kau luang?"
---
Akhir pekan pun tiba. Sesuai janji, Brian akan mengajari Amayah untuk persiapan ujian. Namun kenyataannya, Brian justru bangun kesiangan. Hal itu membuat Amayah tidak mampu menahan amarahnya. Ia membangunkan Brian dengan cukup kasar hingga pemuda itu terlonjak sadar.
Setelah mandi dan sarapan, barulah mereka benar-benar memulai sesi belajar. Tempatnya adalah kamar Brian. Mereka duduk di lantai, menghadap sebuah meja belajar kecil yang dipenuhi buku dan alat tulis.
"Jadi, pelajaran apa yang sangat sulit kau kuasai?" tanya Brian dengan nada datar.
"Aku tidak menguasai semuanya. Tapi bukan berarti aku bodoh! Aku hanya tidak tahu harus mulai belajar dari mana," jawab Amayah, berusaha membela diri.
Brian menghela napas pelan, sedikit bingung dengan alasan yang dilontarkan Amayah. "Kau ini anak dokter dan dosen. Seharusnya pintar, bukan?"
Amayah terdiam. Ucapan itu membuatnya kesal, seolah Brian menganggapnya bodoh. Namun ia menahan emosinya.
"Dulu aku selalu dapat peringkat pertama," ucapnya akhirnya. "Tapi sejak kejadian pada ayahku, aku sudah tidak peduli dengan nilai. Aku bahkan beruntung bisa masuk Empire Heights karena rekomendasi dari Pak William. Itu pun ibuku yang memberitahuku."
"Kalau begitu, seharusnya dia seharusnya bisa dengan mudah memahami apa yang aku ajarkan," pikir Brian. "Aku hanya perlu mencari metode yang tepat."
Brian lalu mengumpulkan semua buku catatan dari berbagai mata pelajaran. "Baiklah, kita mulai dari yang paling sulit."
"Eh? Mengapa?"
"Supaya otakmu bekerja maksimal di awal, lalu bisa lebih santai di akhir. Metode ini jarang dipakai karena dianggap aneh," jelas Brian.
"Ternyata kau benar-benar memikirkannya..." gumam Amayah bingung.
Brian pun mulai menjelaskan berbagai materi. Tanpa disadari, jarak duduk mereka semakin dekat. Sesekali tangan mereka bersentuhan, membuat Amayah tersipu malu dan wajahnya memerah. Sementara itu, Brian tetap terlihat tenang seolah tak menyadari apa pun.
"Tolong fokus dan dengarkan aku," ujar Brian.
"Aku mendengarkanmu, kok!" balas Amayah cepat.
Waktu berlalu. Amayah ternyata mampu memahami penjelasan Brian dengan cepat. Ia bahkan menyelesaikan soal-soal yang diberikan tanpa banyak kesulitan.
"Cepat tanggap, mudah mengerti, dan daya ingatnya sangat baik," pikir Brian. "Kejam sekali, bakat seperti ini ditekan oleh banyak orang... Yah, mirip denganku."
Ekspresinya tetap datar, namun ada sedikit kesedihan yang hanya bisa ditangkap oleh Amayah.
"Ada apa?" tanya Amayah.
"Tidak ada. Aku hanya merasa kau akan mengerjakan ujian dengan lancar nanti," jawab Brian singkat.
Mendengarnya, Amayah tersenyum sombong. "Tentu saja! Aku akan membuktikan padamu kalau aku tidak bodoh!" katanya angkuh.
"Ini baru dasar-dasarnya. Masih banyak yang harus kau pelajari sampai ujian minggu depan," balas Brian.
Amayah menghela napas ringan. "Benar juga..."
Namun tiba-tiba, sebuah ide muncul di kepalanya. "Bagaimana kalau kita belajar di luar?" tanyanya antusias, meski ekspresinya tetap terlihat tenang.
"Aku tidak keberatan," jawab Brian. "Tapi mau ke mana?"
---
Siang harinya, Amayah membawa Brian ke sebuah kafe yang cukup tenang. Aroma kopi memenuhi udara saat mereka duduk berhadapan dan memesan minuman.
Brian memesan secangkir teh manis, sementara Amayah dengan tenang memesan kopi hitam.
"Kau memesan kopi Americano? Kau serius?" tanya Brian, sedikit bingung sekaligus penasaran dengan pilihan Amayah.
"Ya. Aku sering meminumnya," jawab Amayah datar, penuh keyakinan.
Padahal, ia sama sekali belum pernah menyentuh kopi sebelumnya—apalagi Americano yang terkenal pahit. Namun, Amayah merasa perlu terlihat sedikit dewasa agar Brian tidak memandangnya sebelah mata.
Beberapa saat kemudian, Amayah membuka pembicaraan lagi.
"Tapi aku penasaran. Bagaimana caranya kau bisa mendapatkan nilai sempurna itu, Brian?" tanyanya datar, meski jelas terlihat rasa ingin tahunya.
Brian menyandarkan bahunya ke kursi. "Itu rahasia pribadi."
"Beritahu aku."
"Tidak mau."
"Cepat. Aku ingin tahu... mungkin itu bisa menginspirasiku," ujar Amayah, sedikit memohon.
Brian menghela napas singkat. "Karena metode belajar mandiri."
"Belajar mandiri?" Amayah memiringkan kepala.
"Bisa dibilang, sejak kecil aku jarang punya teman dan tidak banyak bergaul," jawab Brian santai. "Aku hanya fokus pada diriku sendiri dan belajar tanpa memedulikan orang di sekitarku."
Ia melanjutkan dengan nada yang sama tenangnya. "Tapi semua nilai yang aku raih itu tidak membuat orang lain mengakui kehebatanku. Hanya keluargaku yang melakukannya."
"Jadi, aku terus fokus belajar dan mencari ilmu baru setiap hari, dari mana pun bisa kudapatkan."
Amayah menyimaknya dengan rasa kagum yang samar, meski ia berusaha menutupinya. "Ternyata sifat sulit bergaul sudah kau terapkan sejak kecil, ya. Pantas saja kau tidak punya teman."
"Kau butuh cermin?" balas Brian datar, menyerang balik.
"Tapi sekarang berbeda," lanjut Brian. "Aku punya teman. John, dan dirimu. Jadi aku merasa lebih baik sekarang."
Ucapan itu membuat Amayah terdiam sejenak. Ekspresinya berubah murung.
"Kau tidak keberatan berteman denganku?" tanyanya tiba-tiba.
"Mengapa?"
"Karena... aku selalu merepotkanmu berkali-kali. Dan mungkin ke depannya akan terus begitu," ucap Amayah pelan. "Aku juga sering dikaitkan dengan rumor buruk. Semua orang membenciku."
Brian terdiam, menatap wajah Amayah dengan serius. Ia menaruh kedua sikunya dan melipat jari-jarinya, lalu dengan ekspresi datarnya, ia menjawab perlahan.
"Aku memilih sendiri siapa yang ingin kujadikan teman. Tidak peduli semenyebalkan apa tingkahnya, atau apa pun yang orang lain katakan tentangnya."
Ia menambahkan, "Aku pernah merasakan apa yang kau rasakan. Mungkin tidak sepenuhnya, tapi setidaknya sedikit."
"Aku pun tidak merasa benci saat berada di dekatmu."
Mendengar itu, Amayah tersipu malu, namun kemudian ia menarik napas dalam-dalam. Tiba-tiba, ia menampar kedua pipinya sendiri.
"Hei?" Brian menatapnya bingung.
"Tidak apa-apa. Ayo lanjutkan belajarnya," jawab Amayah cepat, seolah tak ingin suasana berubah terlalu serius.
Tak lama kemudian, seorang pelayan datang membawa pesanan.
"Pesanan kalian sudah tiba."
Brian segera mencicipi teh manisnya dengan santai. Sementara itu, Amayah menatap cangkir kopinya dengan ragu. Namun, demi gengsi, ia akhirnya menyesapnya.
"Pahit!" serunya kecil tanpa bisa ditahan.
Brian menatapnya heran, lalu mengambilkan gula dan menuangkannya ke cangkir Amayah.
"Ini gulanya. Untukmu, wahai wanita pecinta kopi pahit," ejeknya datar.
"Berisik!" balas Amayah kesal, meski wajahnya memerah.
Suasana kafe kembali terasa ringan, diisi percakapan kecil dan keheningan yang anehnya terasa nyaman.
Bersambung.
semangat terus bang!!!