“Capek tidak, Sayang? Aku masih mau sekali lagi.”
“Kamu kuat sekali, Mas,” jawab istrinya sambil tersenyum lelah.
Tama tertawa pelan dan mencium pipi wanita itu dengan penuh kasih. Namun beberapa detik kemudian ia bertanya pelan,
“Sudah diminum pilnya?”
Senyum sang istri perlahan memudar.
“Harus terus, Mas? Aku lelah minum pil KB…”
Tama terdiam sejenak sebelum mengelus rambutnya lembut.
“Turuti saja, Sayang. Ini demi kebaikan kita.”
Istrinya tidak pernah benar-benar mengerti mengapa Tama selalu menolak memiliki anak.
Malam kembali hening saat Tama memeluknya dari belakang. bayangan masa lalu itu kembali datang.
Sebuah rahasia yang selama ini ia sembunyikan.
“Aku takut kamu meninggalkanku jika tahu siapa aku sebenarnya,” bisiknya dalam hati.
Karena jauh di masa lalu, Tama pernah melakukan sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia lupakan.
Dan jika kebenaran itu terungkap…
yang hancur bukan hanya rahasianya.
Tetapi juga pernikahan yang selama ini ia jaga mati-matian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nufierose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERNYATAAN PERANG !
BAB 26
PESTA YANG TERUSIK
Setelah perayaan wisuda yang emosional, Gery mengajak para sahabatnya untuk melepas penat di sebuah bar mewah bernuansa kayu ek di dalam hotel. Selin tampak lebih rileks di samping Gery, sementara Gani sibuk mencoba berbagai camilan lokal.
“Hai sayang..”
“Ger!”
Selin malu bahkan dia sampai membuang pandangannya.”
“Kamu sudah menjadi kekasihku sekarang sayang, masa aku tidak boleh menggodamu?”
“Malu Ger!”
“Malu sama siapa?”
Selin menunjuk Tama dengan dagunya, rupanya pria itu sejak tadi memperhatikan interaksi keduanya.
“Biarkan saja.”
Selin melepaskan pegangan Gery pada pinggangnya.
“Sel?”
“Hmm?”
“Mau bermalam denganku?”
BUGH!
“Aduh!”
Selin memukul lengan Gery keras.
“Jangan aneh-aneh ya Ger!”
“Sakit sayang.”
Tama yang melihat itu tertawa.
“Pacarmu itu Keturunan dewi ular Ger, Jangan membuatnya marah.”
Tama sedikit teriak dan itu membuat Selin kesal.
Selin memutar bola matanya malas.
“Aku lupa Tam, bisanya bisa mematikan kapan saja.”
Semakin di goda semakin kesal saja si Selin ini, Tama dan Gery tertawa bersama.
Jika sudah berdua memang keduanya sangatlah akrab, bahkan Alisya saja sampai bingung. Saat dengan Gery, Tama tidak ketus dan dingin.
Dua puluh menit berlalu.
Alisya, yang merasa kelelahan karena perjalanan jauh dan perbedaan suhu, memilih untuk beristirahat lebih dulu.
Argo, sebagai sosok yang paling protektif dan tenang, menawarkan diri untuk mengantar Alisya kembali ke kamar hotel.
“Saya antar bu.”
“terimakasih Go.”
Melihat itu Tama menganggukan kepala, dia sangat yakin Istrinya aman di tangan Argo.
“Tidurlah lebih dulu sayang, setelah ini aku menyusulmu ke kamar.”
“Iya Mas.”
Tama mengecup bibir Alisya membuat istrinya itu tersipu.
"Titip Istri saya ya, Go, pastikan dia masuk ke dalam kamar" ucap Tama pelan. Ia tidak tahu bahwa itu adalah saat terakhir ia merasa tenang malam itu.
“Siap Pak.”
Tama menatap kepergian Alisya, bibirnya mengukir senyum.
Semakin malam semakin panas.
Saat Tama sedang menyesap minuman non-alkoholnya, seorang pelayan mendekat dan meletakkan sebuah amplop cokelat di atas meja.
Di sudut amplop itu, terdapat sebuah stempel kecil berbentuk serigala, logo pribadi Kevin Alvaro, adik tiri Tama yang selama ini menjadi musuh dalam selimut.
Dengan tangan bergetar, Tama membuka amplop itu. Isinya hanya selembar foto usang yang mengabadikan momen mengerikan.
sosok pria yang bersimbah darah di sebuah gudang tua. Itulah rahasia tergelap Tama, sosok yang terpaksa ia bunuh.
Di balik foto itu tertulis.
"bagaimana jika kakak ipar melihat ini?"
Mata Tama memerah. Rahasia yang ia kubur dalam-dalam kini bangkit menghantuinya di tanah asing ini.
PRANG!
Tama menghempaskan gelasnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping.
"Selin! Cari Kevin! Dia ada di kota ini!" geram Tama dengan suara yang mengerikan.
Selin, yang menyadari situasi darurat, segera memberi kode pada Gani. Mereka berdua bergegas keluar bar untuk melacak keberadaan Kevin melalui jaringan informan mereka.
Dalam kondisi emosi yang tidak stabil, Tama yang biasanya disiplin, kehilangan kendali.
Ia menyambar botol wiski di meja dan menuangkannya ke gelas baru. Ia tidak sadar bahwa di dalam gelas itu, orang bayaran Kevin telah memasukkan cairan bening yang tidak berbau.
obat perangsang dosis tinggi.
“jangan minum terlalu banyak Tam.” Gery menggeser botol minuman, pasalnya dia tau Tama tidak pernah minum alkohol, dan jika itu terjadi pasti sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja.
“Ger,”
“apa?”
“Cari pelayan tadi.”
“Siap Tam”
Gery mengancing Jasnya dan langsung bergegas.
Hanya dalam hitungan menit, dunia di mata Tama mulai berputar. Rasa panas yang tidak wajar membakar dadanya, menjalar hingga ke seluruh sarafnya.
Napasnya memburu, dan penglihatannya mengabur.
“Tuan Tama?”
Lelaki itu menoleh dengan kepalanya yang berat.
"Maaf, Tuan. Istri Tuan Tama meminta saya menjemput karena ada keadaan darurat di kamar," ucap pria itu dengan sangat meyakinkan.
Mengetaui saat istrinya tidak baik-baik saja Tama langsung bergegas, dia mengikuti langkah kaki pria yang menghampirinya.
“Kemana Tama?” Gery kembali dan mendapati sahabatnya menghilang, dia langsung menghubungi Selin.
Pintu kamar hotel terbuka. Tama dihempaskan ke atas ranjang yang empuk. Di dalam kegelapan yang hanya diterangi lampu remang-remang, seorang wanita cantik dengan pakaian minim sudah menunggu.
Wanita itu adalah pion Kevin.
Misinya sederhana,menghancurkan pernikahan Tama dengan Alisya melalui skandal yang tidak bisa dimaafkan.
Tama berusaha melawan, otaknya berteriak memanggil nama Alisya, namun obat di tubuhnya bekerja lebih cepat daripada logikanya.
Di luar hotel, Kevin Alvaro berdiri di balik jendela mobil mewahnya, menatap ke arah kamar hotel Tama sambil tersenyum sinis.
"Malam ini, kamu tidak hanya akan kehilangan kehormatanmu, Tama... tapi kamu akan kehilangan alasanmu untuk hidup," bisik Kevin dingin.
Selin panik saat mendapatkan kabar Tama menghilang, tapi dia harus sesegera mungkin mengurus Kevin.
Selin berlari menembus udara malam yang membekukan. Instingnya tajam dia tahu Kevin tidak akan jauh dari lokasi
Dengan bantuan pelacakan sinyal singkat dari ponsel Gani, Selin berhasil menyudutkan sebuah mobil sedan hitam di gang sempit dekat distrik Schipfe.
Kevin Alvaro keluar dari mobil, menyalakan sebatang rokok dengan tenang. Di belakangnya, dua pria berbadan tegap berjaga.
"Langkahmu sangat berani, Selin. Tapi kamu salah alamat," ucap Kevin dengan nada meremehkan.
Selin tidak membalas dengan kata-kata. Dia bergerak secepat kilat. Sebelum pengawal Kevin sempat bereaksi,
Selin melakukan tendangan memutar yang telak mengenai rahang salah satu pengawal. Gani, yang baru saja tiba, langsung menerjang pengawal lainnya.
Selin kini berdiri satu lawan satu dengan Kevin. Dia mencengkeram kerah kemeja Kevin dan menekannya ke dinding batu yang dingin.
“Dimana Tama hah?"
Lelaki itu tertawa menghapus surut bibirnya yang berdarah.
"Sudah terlambat, Sayang. Kakakku tersayang itu sedang menikmati 'hadiah' dariku. Besok pagi, Alisya akan menemukan suaminya di tempat tidur wanita lain. Hancur, Lin. Semuanya akan hancur."
Selin Menekan pisau lipat kecil ke leher Kevin
"Kamu pikir aku bercanda? Aku tahu kamu yang mengirim foto itu. Jika terjadi sesuatu pada Tama, aku sendiri yang akan mengirimmu menyusul orang di dalam foto itu."
-----
Saat mendapat info dimana keberadaan Tama Selin bergegas menjemput bosnya.
Selin melesat di lorong hotel bak peluru. Begitu sampai di depan pintu kamar 404, ia tidak menunggu kunci cadangan. Dengan satu tendangan terukur pada titik kunci, pintu terbuka lebar.
Di dalam, suasananya kacau. Aroma parfum wanita yang menyengat bercampur dengan hawa panas yang tidak wajar.
Selin melihat wanita bayaran itu sedang mencoba melepaskan kemeja Tama.
“Brengsek!” Selin menarik rambut wanita itu dan membuat Nya turun dari tubuh Tama.
"KELUAR! SEKARANG!" teriak Selin dengan suara yang sanggup membekukan darah.
Wanita itu, melihat kilatan kemarahan di mata Selin, langsung menyambar pakaiannya dan lari terbirit-birit melewati pintu.
Selin menghampiri Tama yang terkapar di ranjang. Keringat dingin membanjiri tubuh pria itu. Mata Tama merah padam, tatapannya kosong namun penuh gejolak akibat obat perangsang dosis tinggi yang merusak sistem sarafnya.
“Tam, are you oke?”
Tama berdehem membuka kancing kemejanya.”
"Tam, sadar! Ini aku, Sein!" Selin mencoba memegang bahu Tama untuk membawanya ke kamar mandi.
Namun, Tama sudah kehilangan logikanya. Dalam pengaruh obat, ia hanya merespons sentuhan. Dengan kekuatan yang luar biasa, Tama justru menarik lengan Selin hingga gadis itu jatuh ke atas ranjang dalam kukungannya.
"Alisya... panas, Sya..." gumam Tama tidak sadar, ia mengira Selin adalah istrinya.
Selin berusaha sekuat tenaga melepaskan diri tanpa menyakiti Tama, namun tenaga pria yang sedang dalam pengaruh obat itu berlipat ganda.
Tepat saat situasi menjadi semakin kritis, Gery muncul di pintu yang sudah terbuka.
Ia terengah-engah, namun langsung sigap melihat apa yang terjadi.
Tanpa membuang waktu, Gery menarik bahu Tama dan memberikan tekanan pada titik saraf di lehernya untuk melemaskan cengkeraman Tama pada Selin.
Selin terlepas, napasnya memburu.
“Kamu baik-baik saja?”
Gery ingin memukul Tama namun di tahan oleh Selin.
"Dia keracunan obat, Ger! Dia mengira aku Alisya."
Gery menatap Selin dari atas hingga bawah.
“Tama tidak menyentuhku, Ger.” Selin mencoba menjelaskan apa yang Gery ingin dengar.
Gery menatap Tama dengan nanar, lalu ia mengambil keputusan cepat. Ia merogoh ponselnya dan menghubungi Argo.
"Go! Bawa Alisya ke kamar 404 sekarang! Jangan tanya kenapa, bilang ini darurat nyawa Tama. Cepat!"
Beberapa menit kemudian, pintu kembali terbuka. Argo datang bersama Alisya yang wajahnya pucat pasi karena panik.
Begitu melihat Tama yang meronta di ranjang dengan baju berantakan, Alisya hampir jatuh pingsan jika tidak ditahan oleh Argo.
"Mas Tama kenapa?!" jerit Alisya.
"Dia dijebak, Sya. Seseorang memberinya obat perangsang dosis tinggi," jelas Gery singkat namun tegas.
"Hanya kamu yang bisa bantu dia tenang sekarang. Kamu istrinya. Masuklah, kunci pintunya dari dalam. Jangan biarkan dia menyakiti dirinya sendiri."
Selin, Gery, dan Argo keluar dari kamar, meninggalkan Alisya dengan suaminya.
Di luar pintu, Selin bersandar di dinding, tangannya masih gemetar. Gery menghampirinya, merangkul bahu Selin dengan protektif.
“Kamu baik-baik saja Sel?”
“Aman Ger! Terimakasih.”
Gery memeluk tubuh Selin, memberikan rasa aman pada sosok yang baru saja dia jadikan pacar.
Walaupun Selin kuat dan tak terkalahkan tapi dia juga butuh sosok yang menjadi rasa amannya. Kini ada Gery di sisinya.
Di lobi hotel, Gani muncul dengan tangan yang lecet. Ia baru saja menyelesaikan urusannya dengan Kevin, meski bajingan itu berhasil meloloskan diri dengan mobil cadangannya.
"Kevin kabur, tapi aku sudah hancurkan ponsel dan semua data yang dia pegang malam ini," lapor Gani dengan napas tersengal.
Tama mungkin selamat malam ini karena istri dan sahabat-sahabatnya, tapi mereka semua tahu fajar yang akan terbit bukan lagi tentang liburan atau wisuda.
Ini adalah pernyataan perang.
-----
suka sama karakter Tama walaupun kejam dan cuek tapi sama istri selalu lembut
love banget pokonya 😗 😗
antagonis mulai keluar nih kayanya