NovelToon NovelToon
KESEMPATAN KEDUA BAGI SEORANG IBU

KESEMPATAN KEDUA BAGI SEORANG IBU

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Kirana Seo, seorang penulis novel yang hidup pas-pasan, baru saja menyelesaikan bab terakhir novelnya yang tragis. Namun, alih-alih merayakannya, ia justru terbangun dalam tubuh karakter antagonis utama yang ia ciptakan sendiri: Gwyneth Valerine.
Terjebak dalam tubuh seorang "monster" yang terkenal dingin dan kejam, Kirana menyadari situasi berbahaya yang dihadapinya. Dua hari lagi, suaminya, Xavier Zhang, akan kembali, dan sebuah insiden kelam yang seharusnya meninggalkan trauma mendalam bagi putrinya, Amethysta Valerine, akan terjadi.

Bertekad untuk mengubah takdir, Kirana—dalam tubuh Gwyneth—memutuskan untuk menulis ulang kisah hidup mereka. Ia berusaha mendekati Amethysta kecil yang ketakutan, mengganti ketakutan dengan kasih sayang, dan berusaha mencegah tragedi yang telah ia tulis sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

< EXTRA PART >

...- ✦ -...

Gwyneth Valerine belajar membuat pancake pada hari Sabtu di bulan keenam.

Bukan karena ada yang memintanya. Bukan karena ada acara khusus atau tamu yang datang atau alasan yang bisa ia tuliskan di kalender sebagai justifikasi. Hanya karena Amethysta suatu pagi menyebut bahwa Naira bilang neneknya membuat pancake setiap Sabtu, dan Gwyneth - tanpa berpikir terlalu panjang, tanpa menghitung apakah ini sesuai dengan citra yang ingin ia tampilkan - berkata, "Kalau begitu kita coba juga."

Percobaan pertama gosong di satu sisi dan terlalu pucat di sisi lain.

Amethysta memakannya tanpa komentar, dengan ekspresi serius seseorang yang sedang mengevaluasi data, lalu berkata, "Apinya terlalu besar. Dan diaduknya terlalu lama jadi keras."

Gwyneth menatap putrinya. "Kamu tahu cara membuat pancake?"

"Tidak. Tapi nenek Naira bilang begitu waktu Naira cerita."

Percobaan kedua lebih baik. Ketiga sudah bisa disajikan dengan malu-malu. Keempat - yang keluar dari wajan dengan warna keemasan yang merata dan pinggiran yang tidak terlalu keras - membuat Amethysta bertepuk tangan sekali dengan ekspresi yang biasanya ia simpan untuk penemuan astronomi yang signifikan.

"Ini berhasil," kata Amethysta.

"Ini berhasil," setuju Gwyneth, dan merasakan sesuatu yang hangat di dadanya yang tidak ada hubungannya dengan kompor.

...✦ ✦ ✦...

Sabtu-Sabtu berikutnya menjadi hari pancake.

Bukan keputusan yang diumumkan atau disepakati secara formal - hanya terjadi, seperti banyak hal baik yang terjadi tanpa rapat dan agenda. Amethysta turun setiap Sabtu pagi dengan ekspektasi yang tidak perlu diucapkan, dan Gwyneth sudah di dapur dengan mangkuk dan tepung, dan Xavier kadang bergabung untuk membuat kopi dan duduk di kursi bar menjadi penonton yang memberi komentar tidak diminta tentang teknik mengaduk.

"Kamu tidak diminta pendapatnya," kata Gwyneth suatu Sabtu.

"Aku tahu," kata Xavier. "Tapi aku berikan secara gratis."

Amethysta tertawa - tawa kecil yang lepas, yang tidak minta izin dulu - dan Gwyneth mengancam Xavier dengan spatula yang tidak pernah benar-benar ia ayunkan, dan dapur kecil itu penuh dengan sesuatu yang tidak bisa dimasukkan ke dalam resep manapun.

...✦ ✦ ✦...

Bulan keenam juga adalah bulan ketika Amethysta meminta diajari naik sepeda.

Ia sudah berusia delapan tahun - ulang tahunnya dirayakan bulan lalu dengan cara yang sederhana, hanya keluarga dan Naira dan kue yang Gwyneth buat sendiri dengan hasil yang tidak sempurna tapi yang ditiup lilinnya oleh Amethysta dengan senyum yang naik sampai ke matanya. Delapan tahun dan belum bisa naik sepeda, yang menurut Naira adalah situasi yang perlu segera diperbaiki.

"Naira yang bilang lagi?" tanya Gwyneth.

"Naira sumber informasi yang baik," jawab Amethysta dengan serius.

Sepeda ditemukan di gudang - sepeda kecil milik Amethysta yang dibeli beberapa tahun lalu dan tidak pernah benar-benar digunakan, yang bannya kempes dan setangnya sedikit berkarat tapi yang setelah dibersihkan dan dipompa kembali ternyata masih layak pakai.

Xavier yang mengajari. Gwyneth yang berdiri di pinggir jalanan depan rumah dengan tangan di saku dan ekspresi yang berusaha terlihat tenang tapi yang setiap kali Amethysta oleng sedikit langsung bergerak maju setengah langkah sebelum menahan diri.

"Mama gugup," observasi Amethysta dari atas sepedanya, sebelum sesi bahkan dimulai.

"Mama tidak gugup."

"Mama sudah tiga kali hampir lari ke sini padahal aku belum jatuh."

Xavier menyembunyikan senyumnya di balik punggung tangannya. Gwyneth memilih untuk tidak menanggapi.

Amethysta jatuh dua kali - jatuh yang tidak dramatis, lebih ke oleng dan turun terlalu cepat daripada tersungkur, dengan lutut yang sedikit lecet di kejadian pertama dan siku yang merah di kejadian kedua. Setiap kali, Gwyneth sudah ada di sisinya sebelum ia sempat berdiri sendiri, memeriksa dengan tangan yang tidak gemetar tapi yang bergeraknya terlalu cepat untuk seseorang yang mengaku tidak gugup.

"Aku baik-baik saja, Mama," kata Amethysta di kejadian kedua, sabar.

"Aku tahu."

"Mama bisa mundur sedikit."

"Aku di sini saja."

Amethysta menatapnya sebentar dengan mata ungu yang sudah pandai membaca ekspresi yang disembunyikan. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia mengulurkan tangannya - bukan meminta bantuan berdiri, sudah berdiri sendiri - hanya mengulurkan, menunggu.

Gwyneth mengambilnya. Menggenggamnya sebentar.

"Oke," kata Amethysta. "Sekarang mundur."

Gwyneth mundur. Dan Amethysta naik lagi ke sepedanya, dan kali ini tidak jatuh.

...✦ ✦ ✦...

Vivienne datang berkunjung pada pertengahan bulan keenam.

Bukan kunjungan yang direncanakan jauh-jauh hari - hanya pesan singkat dua hari sebelumnya, *aku lewat daerahmu, boleh mampir?* yang Gwyneth balas dengan *tentu* tanpa berpikir terlalu lama.

Vivienne tiba dengan membawa kue dari toko yang Gwyneth tidak ingat pernah menyebutkan sebagai favoritnya, yang berarti Vivienne ingat dari percakapan yang sudah sangat lama atau memang tahu dengan cara yang tidak perlu dijelaskan. Keduanya mungkin.

Mereka duduk di teras belakang dengan teh dan kue dan angin sore yang bergerak di antara dedaunan pohon pir. Amethysta muncul sebentar untuk menyapa - sopan, tidak lagi menyembunyikan diri, meski masih hati-hati dengan orang yang tidak ia kenal baik - lalu kembali ke kamarnya dengan alasan PR yang Gwyneth cukup yakin sudah selesai sejak tadi.

"Ia berbeda," kata Vivienne setelah Amethysta masuk.

"Ya."

"Kamu juga." Vivienne meneguk tehnya. "Tapi aku sudah bilang itu bulan lalu."

"Kamu bilang itu enam bulan lalu juga."

"Karena memang sudah enam bulan kamu berbeda." Vivienne meletakkan cangkirnya. "Aku tidak bertanya bagaimana. Aku tidak akan bertanya. Tapi aku senang, Gwyneth. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku melihat kamu dan tidak merasa seperti melihat seseorang yang sedang memegang segalanya begitu erat sampai tangannya putih."

Gwyneth menatap taman di depannya. Pohon pir yang sudah mulai berbuah. Tanaman lavender Pak Wirawan. Bangku besi yang sudah ia duduki berkali-kali.

"Aku masih belajar," katanya.

"Aku tahu. Tapi kamu sedang belajar." Vivienne mengambil sepotong kue. "Itu yang berbeda dari sebelumnya."

Mereka duduk sampai matahari mulai turun, berbicara tentang hal-hal yang besar dan hal-hal yang kecil dengan cara yang tidak perlu membedakan keduanya, dan Gwyneth merasakan bahwa ini - dua orang yang duduk di teras dengan teh dan kue dan angin sore - adalah persahabatan yang sesungguhnya, yang tidak butuh nama besar atau definisi yang rapi untuk menjadi nyata.

...✦ ✦ ✦...

Malam sebelum Ibu Zhang berkunjung lagi, Gwyneth tidak bisa tidur.

Bukan karena cemas - sudah bukan. Ibu Zhang menelepon setiap Minggu sekarang, dan percakapan itu sudah tidak lagi terasa seperti berjalan di atas es tipis. Lebih seperti dua orang yang sedang belajar mengenal satu sama lain dari awal, dengan sabar, tanpa terburu-buru.

Gwyneth tidak bisa tidur karena sedang memikirkan sesuatu.

Ia pergi ke perpustakaan, menyalakan lampu meja, dan duduk di kursi yang sudah akrab. Buku astronomi masih di raknya, di tempat yang sama. Ia mengambilnya - bukan untuk dibaca, hanya dipegang - dan duduk dalam keheningan yang penuh dengan hal-hal yang tidak perlu disuarakan.

Enam bulan.

Enam bulan sejak ia membuka mata di langit-langit putih yang sudah akrab dan merasakan bahwa ada sesuatu yang hangat tertinggal di udara kamar. Enam bulan dari amplop putih di meja dan kata-kata yang meresap seperti air ke tanah kering. Enam bulan dari percobaan pancake pertama yang gosong dan sepeda yang berdebu di gudang dan Vivienne yang datang dengan kue dari toko yang tepat.

Gwyneth membuka buku astronomi ke halaman yang sudah lusuh - halaman konstelasi Orion, yang garis-garis antar bintangnya sudah sedikit pudar karena terlalu sering disentuh jari-jari kecil.

Pelindung.

Ia menutup buku itu lagi. Meletakkannya kembali di rak.

Lalu ia melakukan sesuatu yang tidak ia rencanakan - ia mengambil kertas dan pena dari laci meja, dan mulai menulis. Bukan untuk siapa-siapa. Bukan surat yang akan dikirim ke mana-mana. Hanya kata-kata yang perlu keluar karena sudah terlalu lama duduk di dalam.

Aku tidak tahu apakah kamu bisa membaca ini. Aku tidak tahu apakah ada cara kata-kata di sini sampai ke tempat di mana kamu berada sekarang. Mungkin tidak. Mungkin ini hanya untuk diriku sendiri, untuk kejelasan yang kadang hanya bisa datang kalau ditulis.

Tapi kalau bisa: aku baik-baik saja. Amethysta baik-baik saja. Xavier baik-baik saja. Lavendernya sudah mekar, seperti yang kamu bilang akan terjadi. Pancake Sabtunya gosong di percobaan pertama tapi sekarang sudah keemasan merata. Amethysta baru belajar naik sepeda dan mengulurkan tangannya padaku setelah jatuh dan memintaku mundur setelah aku mengambilnya - dan aku mundur, dan ia tidak jatuh lagi.

Rantai itu masih dalam proses diputus. Tapi potongannya sudah cukup panjang untuk melihat bahwa memang bisa. Itu yang paling penting.

Terima kasih. Untuk memulainya. Untuk memastikan semua ini ada ketika aku kembali.

- G.

Gwyneth melipat kertas itu. Memasukkannya ke dalam amplop. Tidak menulis nama di depannya karena tidak tahu nama yang tepat untuk dituliskan di sana - nama yang melampaui nama, nama yang ada di antara penulis dan karakter dan dua kehidupan yang menyentuh tepian satu sama lain tanpa pernah benar-benar bisa saling lihat.

Ia menyimpan amplop itu di laci kiri meja, di sebelah surat Kirana yang sudah lusuh.

Dua surat. Dua tulisan tangan yang berbeda. Dua orang yang menghuni tempat yang sama pada waktu yang berbeda, yang meninggalkan kata-kata untuk satu sama lain karena beberapa hal terlalu penting untuk dibiarkan hanya tinggal di dalam.

...✦ ✦ ✦...

Keesokan paginya, Ibu Zhang tiba dengan oleh-oleh permen jahe dan - untuk pertama kalinya - sebungkus permen rasa stroberi yang dibungkus dengan catatan kecil bertuliskan *untuk yang tidak suka jahe.*

Amethysta membaca catatan itu dua kali. Lalu menatap neneknya dengan ekspresi yang tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan bahwa ia tersentuh.

"Nenek ingat," katanya.

"Nenek ingat," konfirmasi Ibu Zhang, dengan nada yang datar tapi matanya tidak.

Mereka duduk di ruang tamu - Ibu Zhang dan Amethysta di sofa, dengan atlas bintang terbuka di antara mereka karena Amethysta langsung menarik neneknya ke sana untuk menunjukkan konstelasi baru yang ia pelajari minggu ini. Gwyneth dan Xavier di kursi seberang, tidak menginterupsi, hanya ada.

Gwyneth menatap ibu mertuanya - wanita tujuh puluhan dengan rambut putih yang disanggul rapi, yang enam bulan lalu menatapnya dengan mata yang tidak melewatkan banyak hal dan berkata *jangan berhenti* - dan merasakan sesuatu yang tidak punya nama sederhana tapi yang paling dekat bisa ia deskripsikan sebagai: syukur. Untuk orang yang tidak banyak bicara tapi yang kata-kata sedikitnya selalu tepat sasaran. Untuk nenek yang ingat permen rasa stroberi. Untuk keluarga yang sedang belajar menjadi keluarga, dengan cara yang tidak sempurna tapi yang sungguh-sungguh.

"Ini namanya apa?" tanya Ibu Zhang, menunjuk titik di atlas.

"Betelgeuse," jawab Amethysta. "Itu bintang raksasa merah. Ukurannya seribu kali matahari kita. Dan suatu hari dia akan meledak jadi supernova."

"Supernova itu apa?"

"Ledakan bintang yang sangat besar. Tapi tidak perlu khawatir, Nek - jaraknya masih tujuh ratus tahun cahaya. Kita aman."

Ibu Zhang mengangguk dengan ekspresi seseorang yang menerima informasi astronomi tentang ledakan bintang dari cucunya berusia delapan tahun sebagai hal yang sepenuhnya normal untuk diperbincangkan di Minggu pagi.

"Baik," katanya. "Lanjutkan."

Dan Amethysta melanjutkan, dan suaranya mengisi ruang tamu dengan cara yang enam bulan lalu tidak pernah ada - penuh, tidak minta izin, tidak menjaga diri. Hanya ada, sepenuhnya, di antara orang-orang yang memilih untuk hadir bersamanya.

...✦ ✦ ✦...

Malam itu, setelah Ibu Zhang pulang dan Amethysta tidur dan rumah kembali ke ritme malamnya yang sudah akrab, Gwyneth berdiri di teras belakang sendirian.

Tidak lama - hanya beberapa menit, cukup untuk menghirup udara malam yang berbeda dari udara dalam ruangan. Di atas, langit bersih dan gelap dan bintang-bintang ada di sana, seperti selalu.

Gwyneth mendongak.

Ia mencari sabuk Orion dulu - sudah terbiasa sekarang, titik pertama yang selalu ia temukan karena tiga bintangnya yang berbaris rapi paling mudah dikenali. Dari sana ia bergerak ke Betelgeuse, yang Amethysta baru saja ajarkan - bintang merah di bahu kanan Orion, yang ukurannya seribu kali matahari dan yang suatu hari akan meledak tapi tidak perlu dikhawatirkan sekarang.

Ia tidak menemukan Andromeda - butuh langit yang lebih gelap untuk itu, butuh pergi ke luar kota dan membiarkan mata menyesuaikan diri. Tapi ia tahu sekarang bahwa Andromeda ada di sana, di titik yang tidak bisa ia lihat dari sini tapi yang nyata, yang jutaan tahun cahaya jauhnya tapi yang bisa dilihat kalau kondisinya tepat.

Seperti banyak hal.

Gwyneth menurunkan kepalanya. Masuk ke dalam rumah. Mematikan lampu teras. Berjalan ke atas dengan langkah yang tidak terburu-buru, melewati pintu kamar Amethysta yang sedikit terbuka, melihat siluet kecil yang tidur di bawah selimut biru muda.

Pot lavender di ambang jendela. Bunganya masih mekar - sudah bertahan lebih lama dari yang Gwyneth perkirakan, gigih seperti pemiliknya.

Ia menarik pintu kembali ke posisinya - sedikit terbuka, cahaya lorong masuk secukupnya - dan berjalan ke kamarnya.

Berbaring. Menatap langit-langit putih yang sudah ia hafal setiap sudutnya.

Enam bulan, dan langit-langit itu masih sama. Tapi cara ia menatapnya sudah tidak.

Gwyneth menutup matanya. Dan untuk pertama kali dalam waktu yang sangat lama - mungkin pertama kali yang bisa ia ingat - ia tidak merencanakan hari esok sebelum tidur. Tidak menyusun agenda. Tidak memikirkan hal-hal yang perlu dikendalikan atau dijaga atau dipastikan berjalan sesuai rencana.

Ia hanya berbaring.

Dan membiarkan hari ini menjadi cukup.

Pancake keemasan di Sabtu pagi. Amethysta yang mengulurkan tangannya setelah jatuh dari sepeda. Vivienne dengan kue dari toko yang tepat. Ibu Zhang yang ingat permen rasa stroberi. Betelgeuse yang seribu kali matahari dan tidak perlu dikhawatirkan. Bintang-bintang di langit malam yang selalu ada untuk yang mau mendongak dan melihat.

Hal-hal yang tidak perlu alasan untuk menjadi berharga.

Yang tidak perlu sempurna untuk menjadi cukup.

Yang tidak perlu nama besar untuk diingat seumur hidup.

Gwyneth tertidur dengan senyum kecil yang tidak ia sadari ada di bibirnya - senyum yang tidak dipasang untuk siapapun, yang tidak ada dalam kalkulasi apapun, yang hanya muncul karena hari ini adalah hari yang baik dan besok mungkin juga akan baik, dan kalau tidak, hari berikutnya bisa dicoba lagi.

Satu hari dalam satu waktu.

Seperti selalu.

...- F I N -...

...✦ ✦ ✦...

...A Mother's Second Chance...

...SAMPAI JUMPA DILAIN WAKTU ...

1
Anonymous
Cerita yg filosofis banget. Dan dalem banget. Bagus 👍🏻👍🏻
AinaAsila: terimakasih 🙏😄
total 1 replies
Freg ftu
mantap 💪
AinaAsila: terimakasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!