Pembalasan Item Surgawi
"Sampah tidak berguna." Itulah julukan bagi Tian Feng. Di saat murid lain bertaruh nyawa demi setetes energi kultivasi, Feng justru memilih tidur malas sebagai pelayan di Paviliun Pengobatan.
Namun, dunia tidak tahu bahwa Feng menyembunyikan rahasia besar: Ia adalah keturunan terakhir Aliran Tao Terlarang yang diburu seluruh dunia.
Dengan bantuan Perkamen Alkimia Arus Balik, Feng mengambil jalan pintas mematikan. Ia bisa menjadi kuat dalam semalam tanpa latihan! Tapi, surga tidak memberi cuma-cuma. Setiap kekuatan instan menciptakan Hutang Karma—sebuah "penagihan" nyawa yang datang dalam bentuk petir bencana dan musuh-musuh haus darah.
Demi menyembunyikan identitasnya, Feng rela difitnah sebagai "Kelinci Percobaan Medis" yang sekarat. Namun, saat segel giok di dadanya retak dan para Tetua mulai mengincarnya, si pemalas ini terpaksa bangun.
Satu pil untuk menghancurkan pedang jenius. Satu teknik untuk membungkam langit.
Mampukah Tian Feng melunasi hutang karmanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AUDIT SANG JENDERAL
Debu sisa hantaman mendaratnya Jenderal Wei masih berputar di udara, menciptakan tirai buram di antara kedua pria itu. Wei berdiri tegak, baju zirah emasnya memancarkan cahaya yang begitu murni hingga mengaburkan bayangan di sekitarnya. Di punggungnya, sebuah tombak raksasa dengan mata ganda bergetar, merespons keberadaan Pedang Keseimbangan Agung yang kini berada di tangan Feng.
"Kau tahu, Tian Feng," suara Wei berat dan berwibawa, tipe suara yang biasa memberikan perintah eksekusi. "Kekaisaran Pusat tidak peduli dengan urusan internal sekte rendahan seperti Kunci Langit. Tapi ketika kau menyentuh pusaka yang tertanam di akar dunia... kau bukan lagi seorang kriminal. Kau adalah anomali yang harus dihapus dari catatan sejarah."
Feng merasakan gagang pedang emas itu berdenyut panas di telapak tangannya. Beratnya tidak lagi membebani ototnya, melainkan merambat masuk ke dalam jiwanya. Ia bisa merasakan setiap butir pasir di lembah ini, setiap tarikan napas murid-muridnya di bawah sana, seolah-olah ia sedang memegang timbangan raksasa yang menyeimbangkan seluruh lembah.
"Hapus saja kalau kau bisa, Jenderal," Feng menyeringai. "Tapi peringatan kecil: aku baru saja melakukan audit pada tanah ini. Dan menurut hukumku, kehadiranmu di sini adalah pelanggaran wilayah tanpa izin. Dendanya... cukup mahal."
“Feng, jangan remehkan dia,” Yue Er memperingatkan, sosok transparannya kini berdiri di sisi kiri Feng, matanya yang ungu menatap tombak Wei dengan waspada. “Dia adalah pengguna 'Hukum Ketertiban'. Serangannya tidak memiliki celah karena ia bergerak berdasarkan garis takdir yang sudah ditentukan oleh Kaisar.”
Wei tidak membuang waktu. Ia mencabut tombaknya dengan satu gerakan kilat.
"Hukum Pertama: Penyeragaman!"
Wei menusukkan tombaknya ke depan. Udara di depan Feng mendadak mengeras, berubah menjadi ribuan jarum cahaya emas yang melesat dengan presisi matematis. Tidak ada satu pun jarum yang melenceng; semuanya mengarah ke titik-titik meridian vital di tubuh Feng.
Feng tidak menghindar. Ia mengangkat Pedang Keseimbangan Agung secara horizontal.
"Penyitaan: Beban Momentum!"
Saat jarum-jarum cahaya itu menyentuh radius satu meter di sekitar Feng, mereka mendadak melambat hingga hampir berhenti. Kecepatan mereka yang dahsyat seolah-olah "disita" oleh pedang Feng. Feng kemudian memutar pedangnya, dan ribuan jarum itu jatuh ke tanah seperti kerikil yang tak bertenaga.
Jenderal Wei mengerutkan kening. "Kau menyita energi kinetik dari seranganku?"
"Aku menyita apa pun yang menurutku terlalu mahal untuk kubayar dengan nyawaku," balas Feng.
Feng melesat maju. Meski tubuh mudanya belum pulih sepenuhnya, dukungan energi dari pedang purba itu membuatnya bergerak seperti kilat emas. Ia mengayunkan pedang besarnya dari atas ke bawah.
CLANG!
Tombak Wei menahan hantaman itu, namun Jenderal tersebut terkejut saat merasakan kakinya amblas ke dalam batu tebing sedalam sepuluh inci. Tekanan dari pedang Feng bukan berasal dari kekuatan otot, melainkan dari Massa Kosmik yang dimanipulasi.
"Kau membawa berat satu gunung dalam satu tebasan?" Wei menggeram, otot lengannya menegang hingga baju zirahnya berderit.
"Kenapa? Terasa terlalu berat untuk pundak Kekaisaranmu?" Feng menekan lebih keras.
Di bawah tebing, Xuelan menatap pertarungan itu dengan jantung berdebar. Ia bisa melihat percikan energi emas dan hitam yang menerangi langit malam. Ia tahu ia tidak bisa ikut campur secara langsung, namun ia menyadari sesuatu. Kapal emas Kekaisaran di atas sana mulai menurunkan meriam-meriam bawahnya, membidik ke arah pemukiman pelayan di lembah.
"Mereka tidak mengincar Feng... mereka mengincar sandera!" teriak Xuelan kepada Guru Lin. "Guru, aktifkan formasi pertahanan es sekarang! Zhao! Pindahkan semua orang ke dalam gua di balik air terjun!"
Kembali di atas tebing, Wei menyadari taktik Feng yang mencoba mengulur waktu. Ia melepaskan ledakan energi dari tubuhnya, memaksa Feng mundur beberapa langkah.
"Cukup bermain-main," Wei mengangkat tombaknya ke langit. "Jika kau tidak mau menyerah, maka aku akan meratakan lembah ini menjadi dataran kosong. Hukum Kedua: Penghapusan Eksistensi!"
Kapal emas di langit melepaskan tembakan cahaya raksasa yang langsung mengarah ke tengah lembah—ke arah di mana Xuelan dan ribuan orang lainnya berada.
"TIDAK!" Feng berteriak.
Dalam momen keputusasaan itu, Feng melakukan sesuatu yang gila. Ia tidak mencoba menangkis tembakan itu dengan pedangnya. Ia justru melempar Pedang Keseimbangan Agung ke arah aliran cahaya tersebut.
"Akusisi Total: Hutang Nyawa Kolektif!"
Feng mengulurkan tangannya ke arah 2.000 murid di bawah. Ia tidak menghisap nyawa mereka, melainkan ia "meminjam" kehadiran mereka secara spiritual. Tato teratai di dadanya berpendar hingga menembus kulitnya.
Pedang emas yang melayang itu mendadak membesar, berubah menjadi perisai transparan raksasa yang menutupi seluruh lembah. Saat cahaya penghancur dari kapal Kekaisaran menghantam perisai itu, suaranya bukan ledakan, melainkan suara dentingan koin yang jatuh ke dalam botol kaca raksasa.
Seluruh energi penghancur itu... diserap sepenuhnya oleh perisai Feng.
Wei terbelalak. "Kau... kau mengubah serangan tingkat pemusnah massal menjadi 'Simpanan Energi'?"
Feng terengah-engah, matanya memerah karena tekanan. "Aku sudah bilang... aku adalah bendahara. Dan di wilayahku, tidak ada energi yang terbuang percuma."
Feng menarik kembali pedangnya yang kini memancarkan cahaya merah terang—energi dari tembakan kapal tadi yang telah ia murnikan.
"Sekarang," Feng menatap Wei dengan tatapan predator. "Aku akan mengembalikan pinjaman ini... dengan bunga seribu persen."
Feng mengayunkan pedangnya ke arah kapal emas di langit. Sebuah tebasan cahaya merah-emas melesat membelah awan, jauh lebih besar dan lebih kuat dari tembakan yang dilepaskan kapal itu sebelumnya.
BOOOMMMM!
Kapal perang Kekaisaran itu terbelah menjadi dua di udara. Ledakannya menerangi seluruh Hutan Kematian seperti matahari kedua. Serpihan emas berjatuhan dari langit seperti hujan meteor.
Jenderal Wei berdiri mematung. Kapal kebanggaannya hancur dalam satu serangan. Ia menatap Feng yang kini berdiri dengan pedang yang tertancap di tanah untuk menopang tubuhnya yang hampir ambruk.
"Kau..." Wei berbisik, suaranya penuh dengan rasa ngeri yang belum pernah ia rasakan. "Kau bukan lagi penganut Tao. Kau adalah bencana berjalan bagi tatanan dunia."
Wei tidak melanjutkan serangan. Ia tahu, tanpa dukungan kapalnya dan dengan Feng yang memegang senjata purba itu, ia tidak akan menang tanpa mengorbankan nyawanya sendiri. Ia mengaktifkan jimat teleportasi di pergelangan tangannya.
"Ini belum selesai, Tian Feng. Kekaisaran Pusat akan mengirimkan Tujuh Hakim Agung untuk menagih kepalamu. Nikmatilah kemenangan kecilmu ini selagi kau bisa."
Wei menghilang dalam pusaran cahaya emas.
Feng akhirnya jatuh berlutut. Pedang emasnya kembali ke ukuran normal dan meredup. Xuelan segera berlari menaiki tebing dan menangkap tubuh Feng sebelum ia tersungkur ke tanah.
"Feng! Kau melakukannya! Kau menghancurkan kapal mereka!" Xuelan memeluknya erat, air mata kelegaan membasahi wajahnya.
Feng mencoba tersenyum, namun ia terlalu lelah bahkan untuk menggerakkan bibirnya. Ia melihat ke arah 2.000 orang di bawah yang bersorak-sorai merayakan kemenangan pertama mereka.
“Feng...” suara Yue Er terdengar lembut di telinganya. “Kau baru saja melunasi hutang pertama pada takdirmu. Tapi ingat, setiap kali kau menang melawan Kekaisaran, harga kepalamu akan naik di bursa pasar gelap dunia atas. Siapkan dirimu... karena besok, dunia akan tahu bahwa 'Sekte Tanpa Hutang' telah berdiri.”
Feng memejamkan matanya di pelukan Xuelan. Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun di masa lalu, ia merasa tidur sejenak bukan lagi ide yang buruk.
"Xuelan..." bisik Feng lirih. "Besok... kita mulai bangun tembok kota yang lebih kuat."
"Iya, Feng. Tidurlah," jawab Xuelan lembut sambil mengusap rambut perak pemuda itu.
Di kejauhan, di antara puing-puing kapal emas yang jatuh, sebuah tangan kecil merayap keluar dari reruntuhan. Bukan prajurit Wei, melainkan seorang gadis kecil dengan pakaian pelayan yang selamat dari kapal tersebut, matanya menatap tajam ke arah tebing tempat Feng berada. Di tangannya, ia memegang sebuah instrumen musik petik yang rusak—instrumen yang mirip dengan milik Yan Ling.