NovelToon NovelToon
TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak / Nikahmuda
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author:

Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.

Ingatan yang Dicuri

Ruangan itu sunyi setelah kalimat terakhir ayah Arkan menggantung di udara.

Orang yang paling kau percaya malam itu.

Kalimat itu seperti racun yang menyebar perlahan ke dalam pikiran Aluna.

“Apa maksudmu?” suara Arkan terdengar rendah dan berbahaya.

Ayahnya tidak langsung menjawab.

Ia justru menatap Aluna dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Kau tidak pernah bertanya kenapa ingatanmu tentang malam itu kosong?” tanyanya pelan.

Aluna menelan ludah.

“Aku tidak tahu kalau ada yang kosong.”

“Itulah masalahnya,” jawab pria itu.

Kevin melangkah maju. “Pak, jika Anda tahu sesuatu, katakan sekarang.”

Surya menyipitkan mata. “Atau Anda hanya sedang memancing reaksi?”

Ayah Arkan tersenyum tipis.

“Aku tidak perlu memancing. Kalian sudah berada di tengah permainan.”

Arkan kehilangan kesabaran.

“Siapa yang menghapus memorinya?”

Beberapa detik hening.

Lalu jawabannya jatuh seperti palu.

“Dokter yang merawatnya malam itu.”

Semua membeku.

“Rumah sakit itu?” tanya Kevin cepat.

“Bukan di rumah sakit utama,” jawab pria itu. “Setelah kebakaran gudang, ia dibawa ke klinik swasta kecil. Klinik yang tidak tercatat dalam laporan resmi.”

Aluna memegang kepalanya.

Potongan-potongan samar mulai muncul.

Lampu putih.

Bau antiseptik.

Suara pria berkata, ‘Kau akan baik-baik saja. Lupakan saja malam ini.’

“Kenapa?” bisiknya.

“Karena kau melihat sesuatu yang tidak boleh kau lihat.”

Arkan menoleh tajam. “Apa yang dia lihat?”

Ayahnya menatapnya dalam.

“Wajah orang yang membakar gudang.”

Jantung Aluna seperti berhenti.

“Siapa?” suaranya bergetar.

Pria itu tidak langsung menjawab.

Sebaliknya, ia berkata pelan, “Orang itu masih sangat dekat denganmu sampai sekarang.”

Semua orang di ruangan itu menegang.

Kevin terlihat berpikir keras.

Surya mengamati satu per satu wajah mereka.

Arkan menggenggam tangan Aluna.

“Jangan bermain teka-teki,” katanya tajam. “Siapa?”

Ayahnya tersenyum samar.

“Jika aku menyebut nama, kau tidak akan percaya.”

“Coba saja.”

Pria itu akhirnya mengucapkannya.

“Kevin.”

Keheningan menghantam ruangan.

Kevin membeku.

“Itu tidak masuk akal,” katanya cepat. “Saya bahkan tidak berada di lokasi gudang malam itu.”

“Kau yang memindahkan dana,” balas Surya.

“Ya, tapi saya tidak pernah menyentuh api.”

Arkan menatap Kevin dalam.

“Aku ingin kebenaran.”

Kevin menelan ludah.

“Saya memang ada di sekitar proyek malam itu,” katanya pelan.

Aluna merasakan napasnya tercekat.

“Tapi bukan untuk membakar apa pun.”

“Lalu untuk apa?” tanya Arkan.

“Saya ingin memastikan tidak ada dokumen tambahan yang tertinggal.”

“Dokumen apa?”

“Bukti transfer asli.”

Semua terdiam.

Kevin menghela napas panjang.

“Saya tidak tahu ada kebakaran sampai api sudah membesar.”

“Dan kau melihat Aluna di sana?” tanya Surya.

Kevin menatap Aluna.

“Ya.”

Dunia terasa berputar.

“Kau melihatku?” bisik Aluna.

“Kau berdiri di dekat gudang. Kau tampak kebingungan. Aku menarikmu menjauh sebelum api menyebar.”

Arkan menegang.

“Kenapa kau tidak pernah mengatakan ini?”

Kevin terdiam.

“Karena Pak Wijaya memintaku diam.”

Semua menoleh pada ayah Arkan.

“Kenapa?” suara Arkan tajam.

“Karena jika terungkap bahwa dia berada di lokasi ilegal itu, media akan menghancurkannya.”

Aluna merasa mual.

“Jadi Anda menghapus memoriku demi citra perusahaan?”

“Bukan hanya itu,” jawab pria itu. “Ada orang lain yang melihatnya malam itu.”

“Siapa?”

“Orang yang benar-benar menyalakan api.”

Hening.

“Dan orang itu menyadari bahwa Aluna melihat wajahnya.”

Aluna menggenggam tangan Arkan lebih erat.

“Jadi mereka mencoba membungkamku?”

“Awalnya hanya menghapus ingatan,” jawab ayah Arkan. “Tapi situasi berkembang.”

Kevin menggeleng.

“Saya tidak tahu soal klinik itu.”

Surya memandang Kevin tajam.

“Benarkah?”

“Saya hanya menyerahkannya pada tim keamanan.”

Arkan menatap ayahnya lagi.

“Siapa dokter itu?”

“Dr. Mahesa.”

Nama itu membuat Kevin terkejut.

“Dia spesialis neurotrauma,” gumamnya.

Surya langsung berdiri. “Kliniknya sudah tutup tiga tahun lalu.”

“Tepat setelah kasus proyek mereda,” tambah Kevin.

Aluna memejamkan mata.

Ia mencoba mengingat wajah dokter itu.

Samar.

Kabur.

Namun ada satu detail yang muncul tiba-tiba.

Cincin hitam di jari manisnya.

Ia membuka mata mendadak.

“Aku ingat sesuatu.”

Semua langsung menatapnya.

“Dokter itu memakai cincin hitam besar. Dengan simbol segitiga kecil di tengah.”

Kevin membeku.

Surya menatap ayah Arkan.

Arkan merasakan sesuatu tidak beres.

“Simbol apa?”

Aluna mencoba menggambar di udara dengan jarinya.

“Segitiga terbalik. Dengan garis di dalamnya.”

Ayah Arkan tersenyum tipis.

“Kau memang melihat terlalu banyak malam itu.”

“Simbol apa itu?” tanya Arkan tajam.

Kevin menjawab pelan.

“Itu simbol grup investasi bayangan yang dulu mencoba mengakuisisi perusahaan kita.”

Keheningan kembali turun.

“Nama grupnya?” tanya Surya.

Kevin menelan ludah.

“Obsidian Circle.”

Nama itu terdengar asing bagi Aluna.

Tapi dari ekspresi Arkan dan ayahnya—

Itu bukan nama kecil.

“Mereka tidak pernah berhasil masuk,” kata Arkan pelan.

“Mereka tidak perlu masuk,” jawab ayahnya. “Cukup menanam satu orang di dalam.”

Darah Aluna terasa dingin.

“Siapa?” bisik Arkan.

Ayahnya menatapnya dalam.

“Orang yang paling tidak kau curigai.”

Suasana kembali tegang.

Arkan memandang Kevin.

Kevin langsung menggeleng.

“Saya tidak pernah berhubungan dengan grup itu.”

Surya berbicara pelan.

“Obsidian Circle dikenal menggunakan metode manipulasi psikologis untuk melindungi rahasia mereka.”

Aluna merasa dunia mengecil.

“Jadi memori yang dihapus…”

“Bisa jadi bukan hanya untuk melindungi perusahaan,” lanjut Surya, “tapi untuk melindungi mereka.”

Arkan berdiri.

“Kita harus menemukan dokter itu.”

Kevin mengangguk. “Saya akan lacak keberadaannya.”

Tiba-tiba—

Ponsel Aluna berbunyi lagi.

Nomor tak dikenal.

Ia ragu sejenak sebelum mengangkatnya.

“Halo?”

Suara yang menjawab bukan pria.

Melainkan wanita.

Lembut. Tenang.

“Sudah mulai ingat, Aluna?”

Darahnya membeku.

“Siapa ini?”

“Tentu saja kau tidak ingat suaraku.”

Arkan mendekat, mencoba mendengar.

Wanita itu tertawa pelan.

“Kau berdiri tepat di depanku malam itu. Dan kau melihat semuanya.”

Jantung Aluna berdetak keras.

“Melihat apa?”

“Api… dan siapa yang mendorong ayahmu ke arah gudang yang terbakar.”

Tubuh Aluna terasa lemas.

Arkan meraih ponsel dan menyalakan speaker.

“Siapa kau?” tanyanya dingin.

Suara wanita itu berubah lebih tajam.

“Seseorang yang ingin permainan ini berakhir.”

“Nama,” bentak Arkan.

Beberapa detik hening.

Lalu jawabannya datang.

“Cemalia.”

Semua membeku.

Aluna menatap Arkan dengan mata melebar.

Cemalia.

Wanita yang dulu menjadi pusat konflik awal.

Yang sempat menghilang dari pusaran utama.

Kini kembali.

“Kenapa?” bisik Aluna.

Cemalia tertawa pelan di ujung sana.

“Karena ayahmu tidak mati karena api.”

Ruangan terasa runtuh.

“Dia mati karena didorong.”

Keheningan memekakkan telinga.

“Dan kau melihat siapa yang melakukannya.”

Aluna merasa dunia berputar.

Potongan ingatan kembali muncul.

Siluet wanita.

Wajah tertutup bayangan.

Tangan mendorong.

Teriakan.

Api menyala.

Dan sebelum semuanya gelap—

Seseorang berbisik di telinganya:

‘Lupakan malam ini jika kau ingin hidup.’

Air mata mengalir di pipinya.

“Siapa yang mendorongnya?” suara Arkan nyaris bergetar.

Cemalia menjawab dengan satu kalimat yang menghancurkan semua kestabilan mereka.

“Orang yang saat ini berdiri paling dekat denganmu.”

Klik.

Telepon terputus.

Semua orang di ruangan itu membeku.

Aluna menatap satu per satu wajah di hadapannya.

Arkan.

Kevin.

Surya.

Ayah Arkan.

Salah satu dari mereka—

Adalah pembunuh.

Dan mungkin…

Ia pernah melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.

END BAB 12 🔥

1
Veline
Semangat Author untuk Karya nya 🔥🔥💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!