Nadin Kirana tidak pernah menyangka hidupnya akan hancur dalam semalam. Ayahnya kabur membawa uang perusahaan, meninggalkan utang sebesar sepuluh miliar rupiah dan adiknya yang sedang kritis di rumah sakit. Dikejar oleh rentenir kejam dan diboikot dari semua pekerjaan, Nadin tersudut di ujung jurang.
Satu-satunya jalan keluar datang dari Gilang Mahendra—CEO dari Mahendra Corp, pria bertangan dingin yang dikenal tidak memiliki belas kasihan dalam bisnis maupun kehidupan pribadinya. Gilang bersedia melunasi seluruh utang Nadin dan membiayai pengobatan adiknya, namun dengan satu syarat mutlak: Nadin harus menandatangani kontrak untuk menjadi "miliknya" sepenuhnya selama tiga tahun.
Tidak ada cinta. Tidak ada janji pernikahan. Nadin hanya menjadi properti pribadi Gilang yang harus siap memuaskan pria itu kapan pun dan di mana pun dia inginkan, serta tinggal bersamanya di penthouse mewahnya bagaikan burung dalam sangkar emas.
Awalnya, hubungan mereka murni transaksional dan dipenuhi kebe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Perjanjian Iblis di Ujung Keputusasaan
Aroma karbol, obat bius, dan keputusasaan menguar tebal di udara lorong rumah sakit malam itu. Jam digital di dinding putih yang catnya mulai mengelupas menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh lima menit. Suasana sepi, hanya terdengar dengungan pelan dari mesin pendingin ruangan dan suara langkah kaki perawat yang sesekali melintas di ujung koridor.
Nadin Kirana duduk meringkuk di atas kursi tunggu berbahan besi tahan karat yang terasa sedingin es. Dia merapatkan jaket rajut tipisnya, berusaha mencari kehangatan yang sebenarnya tidak ada. Matanya yang merah dan membengkak menatap kosong ke arah selembar kertas tagihan rumah sakit di tangannya. Angka yang tertera di kertas itu begitu banyak hingga membuat pandangannya mengabur. Tiga ratus juta rupiah. Itu hanya untuk biaya operasi tahap pertama adiknya, Arya, yang saat ini terbaring kritis di ruang ICU dengan gagal ginjal akut.
Namun, angka tiga ratus juta itu terasa tidak ada artinya jika dibandingkan dengan akar dari semua kehancuran ini. Ayahnya, pria yang seharusnya menjadi pelindung keluarga, telah melarikan diri dua minggu yang lalu. Pria pengecut itu membawa kabur seluruh uang kas perusahaan tempatnya bekerja, meninggalkan utang senilai sepuluh miliar rupiah atas nama Nadin sebagai penjamin tanpa sepengetahuannya.
Sejak malam itu, hidup Nadin berubah menjadi neraka. Dia dipecat dari pekerjaannya di firma arsitektur karena rentenir terus membuat keributan di kantor. Rekening banknya dibekukan. Teman-temannya menghilang bagaikan ditelan bumi. Sekarang, dia hanya memiliki sisa uang lima puluh ribu rupiah di dompetnya, sementara nyawa adiknya bergantung pada mesin cuci darah di balik pintu kaca di seberang lorong sana.
Suara derap langkah kaki yang kasar dan berat membuyarkan lamunan Nadin. Suara itu bukan milik perawat atau dokter jaga. Itu suara sepatu bot kulit yang beradu keras dengan lantai linoleum.
Nadin mengangkat wajahnya. Jantungnya seketika berdetak memburu, memompa adrenalin bercampur rasa takut ke seluruh aliran darahnya. Tiga pria bertubuh besar dengan wajah beringas berjalan ke arahnya. Pria yang berada di depan memiliki tato naga yang menjalar dari leher hingga ke balik kerah kemeja hitamnya yang terbuka. Namanya Boni. Dia adalah tangan kanan dari bos rentenir yang memburu ayah Nadin.
Nadin buru buru melipat kertas tagihan di tangannya dan memasukkannya ke dalam saku jaket. Dia berdiri, memaksakan kedua kakinya yang gemetar untuk tetap tegak. Dia tidak boleh terlihat lemah. Jika dia menunjukkan ketakutan, orang orang ini akan menelannya hidup hidup.
"Ketemu juga kau di sini, Nona Manis," sapa Boni dengan suara serak yang diiringi tawa mengejek. Dia berhenti tepat di depan Nadin, menghalangi cahaya lampu neon di atas mereka. Bau asap rokok murahan dan alkohol langsung menusuk hidung Nadin, membuat perutnya yang belum terisi makanan sejak pagi semakin mual.
"Ini rumah sakit. Jangan membuat keributan di sini," desis Nadin pelan namun tegas. Matanya menatap lurus ke arah rahang Boni.
"Kami tidak akan membuat keributan kalau kau mau bekerja sama. Mana ayahmu yang bajingan itu?" tanya Boni. Nada suaranya meninggi, menggema di lorong yang sunyi. Dua anak buahnya ikut melangkah maju, mempersempit jarak dan mengurung Nadin ke sudut dinding.
"Sudah seribu kali saya bilang, saya tidak tahu di mana dia. Dia pergi dan memblokir semua kontak kami. Kalian buang buang waktu mencarinya lewat saya," jawab Nadin. Suaranya diusahakan setenang mungkin meskipun keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.
Boni meludah ke lantai, tepat di sebelah sepatu kets Nadin yang sudah kusam. Pria itu tiba tiba menjulurkan tangannya yang besar dan kasar, mencengkeram kerah jaket Nadin dengan kuat hingga tubuh perempuan itu terangkat beberapa sentimeter dari lantai. Punggung Nadin menghantam dinding berkeramik dingin di belakangnya dengan suara debuman yang cukup keras. Rasa sakit langsung menjalar di tulang belikatnya.
"Jangan bercanda denganku, Nadin," geram Boni tepat di depan wajah Nadin. "Ayahmu berutang sepuluh miliar. Uang bosku bukan daun yang bisa kalian bawa lari begitu saja. Kalau ayahmu tidak bisa bayar, maka kau yang harus bayar."
"Saya tidak punya uang. Kalian sudah merampas rumah saya. Kalian sudah menghancurkan pekerjaan saya. Apa lagi yang mau kalian ambil?" Nadin membalas tatapan Boni dengan penuh amarah. Dia tidak menangis. Air matanya sudah kering. Yang tersisa di dalam dadanya hanyalah api kemarahan dan keputusasaan yang menyatu. "Bunuh saja saya di sini. Silakan. Tapi saya peringatkan, jangan pernah kalian berani menyentuh adik saya di dalam sana."
Mendengar ancaman dari seorang perempuan yang sudah tidak memiliki apa apa, Boni tertawa keras. Tawa yang terdengar sangat kejam. Pria itu melepaskan cengkeramannya dari kerah jaket Nadin, namun tangannya berpindah menepuk pipi Nadin dengan kasar.
"Membunuhmu tidak akan menghasilkan uang. Tubuhmu masih muda. Kau cantik. Bos kami punya banyak kelab malam eksklusif untuk orang orang kaya. Kau bisa melunasi utang ayahmu dengan melayani tamu tamu VIP kami di sana. Tiga atau empat tahun melacur, mungkin utangmu bisa berkurang sedikit," ucap Boni sambil tersenyum menjijikkan. Tangannya bergerak turun, berniat menyentuh dagu Nadin.
Nadin menepis tangan kotor itu dengan sekuat tenaga. Matanya menyala penuh kebencian. "Sentuh saya satu kali lagi, dan saya pastikan tanganmu patah."
Boni mengangkat sebelah alisnya, merasa tertantang. Pria itu mengayunkan tangannya, bersiap memberikan tamparan keras untuk memberi pelajaran pada perempuan keras kepala di hadapannya. Nadin secara refleks memejamkan mata, bersiap menerima rasa sakit.
Namun, tamparan itu tidak pernah mendarat di pipinya.
Terdengar suara tulang berderak keras, disusul oleh erangan kesakitan yang memekakkan telinga dari mulut Boni. Nadin membuka matanya dengan terkejut. Di hadapannya, seorang pria tinggi tegap berjas hitam telah memelintir lengan Boni ke belakang dengan gerakan yang sangat cepat dan efisien. Boni meronta kesakitan hingga lututnya menghantam lantai. Dua anak buah Boni yang berniat membantu langsung ditendang hingga terjerembap ke lantai oleh dua pria berjas hitam lainnya yang muncul dari arah lorong.
Kejadian itu berlangsung hanya dalam hitungan detik. Kekerasan yang terjadi begitu brutal namun sangat terorganisir.
Nadin terdiam kaku. Napasnya tertahan di tenggorokan. Dia mengalihkan pandangannya melewati pria berjas hitam yang sedang mengunci Boni di lantai, dan saat itulah dia melihatnya.
Di ujung lorong, berdiri seorang pria.
Udara di sekitar pria itu terasa membeku. Dia mengenakan setelan jas tiga potong berwarna biru gelap yang jahitannya terlihat sangat sempurna, melekat pas di tubuhnya yang tinggi dan atletis. Sepatu kulitnya yang mengkilap melangkah perlahan mendekati keributan tersebut. Setiap langkahnya memancarkan aura kekuasaan yang absolut, seolah olah seluruh dunia ini memang diciptakan untuk tunduk di bawah kakinya.
Wajah pria itu sangat tampan, dengan garis rahang yang tegas, hidung mancung, dan rambut hitam pekat yang disisir rapi ke belakang. Namun, yang paling menonjol dari pria itu adalah sepasang matanya. Mata hitam legam yang menatap datar, dingin, dan sama sekali tidak memiliki emosi. Mata seorang predator yang berada di puncak rantai makanan.
Di belakang pria itu, Direktur Rumah Sakit berlari kecil dengan wajah pucat pasi dan peluh membanjiri dahinya.
"Maafkan saya, Tuan Mahendra. Saya sungguh meminta maaf atas ketidaknyamanan ini. Kami akan segera memanggil pihak keamanan untuk membersihkan sampah sampah ini dari rumah sakit Anda," ucap sang Direktur Rumah Sakit dengan suara bergetar dan tubuh membungkuk hormat.
Pria yang dipanggil Tuan Mahendra itu tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun kepada sang Direktur. Dia adalah Gilang Mahendra. CEO dari Mahendra Corp, konglomerat muda yang baru saja mengakuisisi rumah sakit ini minggu lalu. Gilang dikenal di dunia bisnis sebagai pria bertangan besi yang bisa menghancurkan sebuah perusahaan raksasa hanya dengan jentikan jarinya sebelum jam makan siang berakhir.
Gilang menghentikan langkahnya tepat satu meter di depan Nadin. Tubuhnya yang menjulang tinggi membuat Nadin harus sedikit mendongak untuk menatap wajahnya. Gilang menatap Nadin dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dia memperhatikan jaket Nadin yang kusut, rambutnya yang berantakan, dan wajahnya yang pucat. Lalu, pandangan Gilang berhenti tepat di mata Nadin.
Gilang melihat sesuatu di dalam sepasang mata bulat tersebut. Kebanyakan orang yang berada di posisi Nadin akan menangis memohon pertolongan atau jatuh pingsan karena ketakutan. Namun perempuan ini tidak meneteskan air mata setetes pun. Matanya justru memancarkan perlawanan yang liar. Tatapan itu menantang Gilang, seolah berkata bahwa dia tidak butuh dikasihani oleh siapa pun.
Sudut bibir Gilang berkedut sangat samar, membentuk senyuman tipis yang lebih mirip seperti seringai. Dia menemukan mainan yang menarik malam ini.
"Bereskan kekacauan ini, Dimas. Pastikan lalat lalat ini tidak pernah menginjakkan kakinya lagi di properti saya," perintah Gilang dengan suara bariton yang berat, dalam, dan terdengar sangat tenang namun mematikan.
Pria berjas hitam yang memegang Boni mengangguk patuh. "Baik, Tuan."
Dimas dan dua anak buahnya langsung menyeret Boni beserta kelompoknya pergi dari lorong tersebut. Boni bahkan tidak berani mengeluarkan suara protes sedikit pun saat menyadari siapa pria yang baru saja mereka usik. Nama Gilang Mahendra terlalu mengerikan untuk dijadikan musuh di kota ini.
Setelah lorong kembali sepi, Gilang menatap Direktur Rumah Sakit yang masih berdiri gemetar. "Buka ruangan VIP lantai atas. Sekarang."
"Ba... baik, Tuan Mahendra," sang Direktur langsung berlari menuju lift untuk menyiapkan ruangan.
Kini hanya tersisa Gilang dan Nadin di lorong tersebut. Nadin masih berdiri dengan posisi waspada. Dia tidak bodoh. Pria di hadapannya ini baru saja menyelamatkannya dari singa, namun aura yang dipancarkannya jauh lebih berbahaya daripada rentenir rendahan seperti Boni. Pria ini adalah harimau yang sesungguhnya.
"Ikut saya," ucap Gilang singkat. Dia membalikkan badan, berjalan menuju lift tanpa repot repot menoleh ke belakang untuk memastikan apakah Nadin mengikutinya atau tidak. Gilang sangat yakin perempuan itu akan patuh.
Nadin menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu. Dia menoleh ke arah ruang ICU tempat adiknya dirawat. Dia butuh keajaiban malam ini. Dan pria bernama Mahendra itu memiliki semua keajaiban di dunia ini dalam bentuk kekuasaan. Mengumpulkan sisa keberaniannya, Nadin melangkah mengikuti pria itu masuk ke dalam lift eksklusif rumah sakit.
Lima menit kemudian, Nadin mendapati dirinya duduk di atas sofa kulit mewah berwarna hitam di dalam sebuah ruangan direksi yang luas. Gilang duduk di kursi kebesaran di balik meja kerja kayu mahoni yang besar, menatap Nadin dengan pandangan menilai yang membuat kulit Nadin terasa panas.
Suasana di ruangan itu sangat hening. Gilang mengambil sebuah map tablet dari atas meja, menggeser layarnya beberapa kali dengan jari telunjuknya yang panjang. Ruangan ini begitu sunyi hingga Nadin bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu liar.
"Nadin Kirana. Usia dua puluh empat tahun. Lulusan terbaik fakultas arsitektur. Memiliki seorang adik laki laki bernama Arya yang divonis gagal ginjal akut sejak enam bulan lalu. Dan seorang ayah bernama Herman yang baru saja membawa kabur uang sepuluh miliar rupiah milik perusahaan properti." Gilang membacakan data itu dengan suara datar, seolah dia sedang membacakan menu makan malam. Dia meletakkan tablet itu di atas meja dan menautkan jemarinya di bawah dagu. "Hidupmu hancur berantakan dengan sangat sempurna, Nona Kirana."
Nadin mengeraskan rahangnya. "Anda membawa saya ke sini hanya untuk membacakan betapa menyedihkannya hidup saya? Jika Anda mengharapkan ucapan terima kasih karena sudah menyingkirkan rentenir tadi, saya ucapkan terima kasih. Tapi saya tidak punya apa apa untuk membalas budi Anda. Saya harus kembali menjaga adik saya."
Nadin berniat bangkit dari sofa, namun suara Gilang menghentikannya.
"Saya akan melunasi utang sepuluh miliar itu besok pagi."
Gerakan Nadin terhenti di udara. Matanya membelalak lebar, menatap Gilang dengan ketidakpercayaan yang nyata. Sepuluh miliar. Pria ini menyebutkan angka raksasa itu seenteng orang membeli kopi di pinggir jalan.
"Saya juga akan mendatangkan tim dokter spesialis ginjal terbaik dari Singapura khusus untuk menangani operasi transplantasi adikmu. Semua biaya rumah sakit, obat obatan, hingga pemulihan, saya yang akan menanggungnya sepenuhnya," lanjut Gilang dengan nada yang sangat tenang.
Nadin kembali duduk perlahan. Dadanya naik turun dengan cepat. Tawaran itu terlalu mustahil. Terlalu sempurna. Ini adalah jawaban dari semua doa keputusasaannya selama dua minggu terakhir. Namun, Nadin tahu betul bahwa di dunia ini, terutama dari seorang pebisnis kejam seperti Gilang Mahendra, tidak ada makan siang yang gratis.
"Apa yang Anda inginkan dari saya sebagai gantinya?" tanya Nadin. Suaranya bergetar hebat. Dia mencengkeram lututnya sendiri kuat kuat.
Gilang bersandar di kursinya. Mata hitamnya menatap Nadin dengan intensitas yang membuat perempuan itu merasa ditelanjangi hingga ke dasar jiwanya.
"Tubuhmu, waktumu, dan kepatuhanmu. Semuanya menjadi milik saya secara eksklusif. Itu harganya." Gilang mengucapkan kata kata itu dengan sangat jelas, menyita seluruh oksigen di ruangan tersebut. "Tiga tahun. Selama tiga tahun itu, kau pindah ke penthouse saya malam ini juga. Kau hidup di bawah aturan saya. Kau melayani semua kebutuhan saya kapan pun dan di mana pun saya menginginkannya. Kau adalah milik saya sepenuhnya."
Wajah Nadin memucat. Rasa jijik dan ngeri mengalir deras di pembuluh darahnya. "Anda... Anda ingin menjadikan saya pelacur simpanan Anda?"
"Saya lebih suka menyebutnya sebagai investasi dan kompensasi," ralat Gilang dingin. Tidak ada sedikit pun penyesalan atau rasa bersalah di wajah pria itu atas permintaannya yang menjijikkan. "Tidak ada cinta. Tidak ada janji pernikahan. Ini murni kontrak bisnis. Tiga tahun dari sekarang, saat masa kontrakmu habis, kau bisa pergi membawa adikmu dengan utang yang sudah lunas dan kehidupan baru. Pilihan ada di tanganmu, Nadin."
Gilang membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah map hitam tebal berisi kontrak perjanjian yang entah bagaimana sudah disiapkannya, dan melemparkannya ke atas meja kaca di hadapan Nadin. Bersamaan dengan itu, dia meletakkan sebuah pulpen emas mewah tepat di atas map tersebut.
"Adikmu tidak punya waktu lagi sampai besok pagi, Nona Kirana. Mesin penunjang hidupnya memakan biaya puluhan juta per hari yang tidak akan pernah bisa kau bayar. Silakan keluar dari ruangan ini jika kau ingin mempertahankan harga dirimu dan melihat adikmu mati." Gilang menatap Nadin dengan dominasi yang menghancurkan. "Atau, ambil pulpen itu. Tanda tangani, dan malam ini juga adikmu selamat."
Nadin menatap map hitam di atas meja itu seolah map itu adalah seekor ular berbisa yang siap mematuk lehernya. Air mata yang sejak tadi dia tahan mati matian akhirnya menggenang di pelupuk matanya. Dia merasa sangat kotor, sangat hina, dan sangat tidak berdaya. Harga dirinya diinjak injak hingga rata dengan tanah.
Namun, bayangan wajah pucat Arya di ruang ICU berkelebat di benaknya. Adiknya yang selalu tersenyum padanya meskipun tubuhnya dipenuhi selang medis. Nadin memejamkan matanya erat erat, membiarkan satu tetes air mata keputusasaan jatuh membasahi pipinya. Persetan dengan harga diri. Jika dia harus menjual jiwanya kepada iblis demi menyelamatkan Arya, maka dia akan melakukannya dengan sukarela.
Dengan tangan yang bergetar hebat, Nadin meraih pulpen emas itu. Dia menatap lurus ke dalam mata hitam Gilang yang tidak berkedip sedikit pun. Kebencian yang teramat dalam berkobar di mata Nadin.
Tanpa ragu lagi, Nadin menggoreskan tanda tangannya di atas kertas tersebut, secara resmi menyerahkan hidup, kebebasan, dan tubuhnya ke dalam cengkeraman obsesi Gilang Mahendra.