Tentang Sasa yang jatuh cinta dengan Arif Wiguna,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dutta Story_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Laras memasukkan telepon genggamnya ke dalam tas kecil, lalu dia pun berdiri dan melangkah keluar kamar.
Saat dia melangkah menuju ruang tamu, dari belakang Bu Ani mendekat sambil berbicara, "Mba Laras," ucapnya.
Laras terhenti, lalu membalikkan badannya dan berbicara, "Kenapa, bibi?" jawabnya.
"Mba mau ke mana? Udah cantik, wangi, keliatannya cerah," tanya Bu Ani dengan wajah terus memperhatikan Laras.
"Saya mau..." jawab Laras terhenti, karena Bu Ani kembali berbicara.
"Mba mau jalan sama pacar ya? Kiw." ucapnya dengan wajah tersenyum.
"Apalah, bibi ini. Enggak, kok."
"Jangan bohong, jujur saja, bibi dukung kok. Lagian pacar Mba Laras kelihatannya baik, sopan, tampan, pokoknya lengkap banget."
"Hehe, iya, bibi, iya. Aku mau jalan sama pacar," jawab Laras dengan jujur, lalu melangkah pergi menuju ruang tamu.
***
Sedangkan Arif, dia sedang mengemudi kendaraannya di jalan raya. Saat dia berbelok ke jalan menuju ke jalan menuju rumah Laras, di belokan dia berpapasan dengan sebuah kendaraan.
Hampir saja Arif akan menabrak kendaraan itu, namun Arif memberhentikan dan memundurkan kendaraannya dan memberikan jalan agar mobil itu lewat lebih dulu.
"Hampir saja celaka, tapi kok mobilnya kaya pernah lihat?" bisik Arif pelan, memperhatikan mobil itu yang berlalu pergi.
"Mungkin perasaan gue aja," bisik Arif, lalu kembali melajukan kendaraannya untuk menjemput Laras.
Di jalan itu, Arif melajukan kendaraannya dengan cepat karena tidak ada kendaraan yang lewat dari depan.
Sesampainya di depan rumah Laras, Arif memberhentikan kendaraannya, memarkirkannya di pinggir jalan depan halaman rumah, lalu menyalakan klakson.
Kik, Kik, Kik.
Beberapa kali Arif menyalakan klakson, lalu dia pun turun dari kendaraannya. Arif berdiri, lalu melangkah.
Saat berada di halaman rumah, langkah Arif terhenti saat melihat pintu depan rumah terbuka dan terlihat Laras berpenampilan cantik.
Arif yang berdiri menatapnya begitu lekat tersenyum, lalu berbicara, "Cantik banget sih, pacarku," ucapnya pelan, dengan tatapan lekat kepada Laras yang melangkah mendekat.
Sampai langkah Laras berada di depan Arif, lalu dia pun berbicara, "Kenapa, sayang? Kok diam begitu?" tanyanya.
"Eh, enggak, sayang. Aku rasa penampilan kamu cantik banget," Arif menatapnya dengan senyuman. Tangannya bergerak untuk memegang tangan Laras.
"Kamu juga tampan banget, sayang," Laras berbicara sambil bergandengan tangan.
"Ya sudah, kita jalan, yuk."
Laras menganggukkan kepalanya. Wajahnya tersenyum, lalu mereka pun melangkah menuju kendaraan yang terparkir di pinggir jalan.
Di depan kendaraan itu, Arif membuka pintu, lalu Laras pun melangkah masuk. Arif pun langsung masuk ke dalam kendaraannya.
Di dalam kendaraan itu, Arif menyalakan mesin lalu melajukan kendaraannya untuk pergi berdua.
***
Sedangkan Sasa, saat ini dia sedang duduk di kursi meja makan di sebuah coffe shop. Sasa duduk berhadapan dengan Wita yang duduk di kursi di depannya.
Wita begitu fokus ke buku-buku di depannya. Sampai semua selesai dia lihat, dia menggesernya sambil berbicara, "Kalau saya lihat, dalam jumlah segini banyak banget, tapi saya ingin bertanya, kapan pembangunannya berlangsung mba?" tanya Wita.
"Kalau bisa sih secepatnya, asisten saya juga sedang mencari orang yang akan bekerja proyek ini dengan baik dan profesional. Saya ingin perkembangan ini lebih baik dari bangunan lainnya yang sudah saya bangun. dari posisi, lokasi, sejauh ini, ini paling strategis." ucapnya sambil tersenyum.
"Saya sangat senang mendengar kabar baiknya,"
"Setelah saya selidiki, banyak juga yang setuju dan banyak investor yang melirik. Justru itu saya menerima untuk bekerja sama."
Di saat mereka sibuk mengobrol, dari arah pintu depan kafe, Arif dan Laras melangkah masuk dengan tangan bergandengan.
Sasa yang sibuk berbicara dengan Wita, sama sekali tidak melihat bahwa Laras berada di kafe itu.
Bahkan tak hanya itu, Laras yang bersama Arif sedang menuju kasir, mereka sama sekali tidak melihat Sasa yang sedang duduk di meja itu.
Di depan kasir, Arif berbicara, "Mas, saya pesan cappucino sama kentang goreng, sosis goreng, " ucap Arif menatap lekat kepada seorang kasir, lalu mengalihkan tatapannya ke Laras sambil kembali berbicara, "Kamu mau apa, sayang?" tanya Arif.
"Aku juga sama kaya kamu sayang," jawab Laras sambil tersenyum menatap Arif.
"Jadi cappucinonya dua, kentang goreng dua, sosis juga dua," ucap Arif sambil memperhatikan kasir menulis pesanannya.
"Baik, Mas, silakan ditunggu ya sebentar," ucapnya disertai senyuman.
Arif menganggukkan kepalanya, lalu menarik tangan Laras menuju kursi meja yang masih kosong.
Saat melangkah ditarik Arif, Laras sempat menatap ke meja yang sedang ditempati dua wanita. dia memperhatikan wanita yang duduk dan terlihat dari arah belakang.
Dalam pikiran Laras, dia berkata, "kaya Mama, apa jangan-jangan Mama?" Gumamnya. Sampai di depan kursi meja kosong, langkah Arif terhenti.
Mereka berdua pun duduk. Laras duduk membelakangi meja yang ditempati oleh Sasa, sedangkan dalam pikirannya, dia terus bertanya-tanya karena merasa penasaran.
Arif yang duduk di depannya langsung bertanya, "Kamu kenapa, sayang?" tanyanya.
"enggak ada apa apa, kok, sayang," jawab Laras sambil tersenyum.
"Aku liatin, kamu seperti lagi mikirin sesuatu?"
"E-enggak ada, kok."
"Eum, ya sudah, kalau kepikiran sesuatu, coba ngomong sama aku."
"Enggak ada, kok. Oh iya, kamu tadi pergi ada masalah apa?"
"Abdul sama Ryuken," ucap Arif, namun terhenti karena Laras kembali berbicara.
"Kenapa sama mereka?"
"Mereka sudah tiada."
"Maksudnya?"
"mereka Sudah meninggal."
"Kok bisa begitu?"
"Mereka dikeroyok sama orang-orang. Felix sudah membawa mereka ke rumah sakit, tapi semuanya terlambat, karena mereka terlalu kehabisan darah sampai tidak tertolong," Arif menghela napas kasar, lalu kembali berbicara, "enggak tahu kenapa orang lain sekejam itu. Coba kalau aku tahu, aku pasti akan membantu mereka?" ucapnya.
"Sabar ya, sayang, kamu tidak kesepian kok, kan ada aku," ucap Laras sambil tersenyum.
Sedangkan Sasa yang selesai mengobrol dengan Wita, mereka berdua berdiri dari kursi meja itu. Tanpa menatap ke sekitar, mereka melangkah ke arah pintu keluar kafe.
Arif yang duduk di kursi, sempat menatap ke arah Sasa. Pikirannya sempat mengingat Sasa yang pernah bertemu di pernikahan orang tuanya.
Bahkan Arif tak mengetahui bahwa Sasa adalah mamanya Laras, saat dia begitu fokus memperhatikan ke arah Sasa yang berlalu pergi.
Laras yang duduk, dia berbicara, "Sayang, kamu liatin apa?" tanya Laras, lalu ikut mengalihkan tatapannya ke arah yang dilihat Arif.
Namun Laras tidak melihat apa-apa. Saat dia mengalihkan tatapannya ke Arif, Laras sedikit bingung dengan apa yang dilihat Arif.
Laras kembali mengalihkan tatapannya ke belakang. Dalam hatinya berkata, "dua wanita tadi kemana ya, ko aku rasa itu kaya mama ya," gumamnya dalam hati.
Saat Laras mengalihkan tatapannya, terlihat di samping meja itu, seorang pelayan menaruh pesanan mereka sambil berbicara, "Silakan dimakan," ucapnya dengan senyuman.
Pelayan itu pun berlalu pergi. Laras yang duduk bersama Arif, mulai menikmati makanan itu.