Niat hati menjalani KKN dengan tenang, Mikayla (25) malah mencatat skor buruk di hari pertama: memaki pria berjaket denim yang ternyata adalah Alvaro (30), sang Kepala Desa Asih yang dingin dan otoriter.
Bagi Mika, Alvaro adalah penghambat kelulusannya yang sangat menyebalkan. Bagi Alvaro, Mika hanyalah mahasiswi kota manja yang terlalu banyak bicara. Namun, di antara riset perairan dan debu jalanan desa, arus perasaan mulai mengalir di luar kendali. Di Desa Asih, mampukah Mika menaklukkan kerasnya hati Pak Kades, atau justru ia yang tenggelam dalam pesonanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Malam di Desa Asih terasa jauh lebih hidup dibandingkan siangnya. Lampu-lampu jalan yang temaram mulai menyala, dan aroma kayu bakar dari dapur-dapur warga menyeruak di udara. Mika, yang sudah mandi bersih hingga kulitnya nyaris memerah karena digosok sekuat tenaga untuk menghilangkan bau lumpur, melangkah keluar posko dengan langkah gusar.
Ia mengenakan kaus oblong putih dan celana kulot, rambutnya dibiarkan terurai namun masih menyisakan sisa-sisa kekesalan dari kejadian di dermaga tadi pagi. Di sampingnya, Siti berjalan sambil sesekali melihat peta desa di ponselnya.
"Gue laper banget, Ti. Sumpah, gara-gara insiden 'nyebur' tadi, kalori gue habis buat nahan emosi," keluh Mika sambil menendang kerikil di jalanan.
"Sabar, Mik. Itu di depan ada warung sate Madura yang katanya paling enak se-kecamatan. Kita makan enak malam ini, oke?" Siti mencoba menenangkan sahabatnya itu.
Mika mendengus. Mata indahnya melirik ke arah Balai Desa yang lampunya masih terang benderang. "Duh, bisa nggak sih warga desa sini tuh milih kepala desa yang bener dikit? Maksud gue, yang ramah, yang kebapakan, yang murah senyum gitu. Kenapa harus yang nyebelin kayak Dajjal itu yang dipilih? Udah kaku, sombong, sok jagoan lagi!"
Siti refleks menghentikan langkah dan membungkam mulut Mika untuk yang kesekian kalinya hari itu. "Mika, mulut lo! Jaga dong! Ini lingkungan warga, nanti kalau ada yang denger terus dilaporin ke Pak Alvaro, posisi kita di sini bisa makin susah!"
Mika melepaskan tangan Siti dengan kasar. "Gue kesel, Siti! Lo liat sendiri kan gimana dia ngetawain gue pas gue kejebur? Bukannya ditolongin malah dikuliahin. Dia pikir dia siapa? Dewa air?"
"Ya tetep aja dia Kades, Mik. Dan secara teknis, dia emang ganteng dan berwibawa, makanya warga sini hormat banget sama dia," bisik Siti.
"Ganteng nggak bisa dimakan! Yang ada bikin darah tinggi!" pungkas Mika sambil mempercepat langkahnya menuju warung sate yang asapnya sudah mulai terlihat mengepul di pinggir jalan.
Warung sate itu cukup ramai. Mika dan Siti berdiri di barisan antrean ketiga. Mika sudah membayangkan sepiring sate ayam dengan bumbu kacang yang melimpah. Perutnya sudah keroncongan hebat. Sepuluh menit mereka berdiri di sana, menahan liur setiap kali melihat potongan daging dibakar di atas arang.
Tepat saat orang di depan Mika selesai membayar dan Mika hendak melangkah maju ke depan sang penjual, sebuah bayangan tinggi besar tiba-tiba menyeruak dari samping. Tanpa permisi, tanpa merasa bersalah, sosok itu langsung berdiri tepat di depan hidung Mika, menghalangi pandangannya ke arah panggangan sate.
Pria itu masih memakai kaos hitam yang sama dengan tadi siang, namun kali ini dilapisi jaket bomber tipis. Bau maskulin yang khas—campuran kayu cendana dan sedikit aroma tembakau—langsung menyerbu indra penciuman Mika.
"Saya dulu Mbak... kayak biasa ya. Sepuluh tusuk, bumbunya pisah, banyakin kecapnya," ucap suara berat itu dengan nada yang sangat santai, seolah-olah dunia ini miliknya sendiri.
Mika membeku sejenak. Suara itu. Nada bicara yang otoriter itu. Ia mendongak dan benar saja, punggung tegap itu milik Alvaro.
Darah Mika langsung naik ke ubun-ubun. Rasa lapar yang berpadu dengan dendam tadi siang meledak seketika.
"Ehh, nggak bisa gitu dong! Saya duluan yang ngantre, Pak!" Mika berteriak cukup kencang hingga beberapa warga yang sedang makan menoleh ke arah mereka.
Alvaro sedikit memutar tubuhnya. Ia menunduk untuk menatap Mika, sebelah tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Matanya yang tajam menatap Mika dengan datar, tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.
"Oh, kamu lagi," ucap Alvaro singkat.
"Iya, saya lagi! Bapak ini gimana sih? Katanya Kepala Desa, harusnya kasih contoh yang baik dong. Di mana-mana yang datang duluan itu yang dilayani duluan. Main potong antrean aja, emangnya bapak darurat apa? Kelaparan tingkat nasional?" cerocos Mika dengan nada yang sangat nyebelin.
Alvaro menaikkan sebelah alisnya. Ia melirik ke arah penjual sate, seorang wanita paruh baya bernama Bu Ida.
"Bu Ida, biasanya saya gimana?" tanya Alvaro tenang.
Bu Ida tersenyum canggung ke arah Mika. "Anu, Neng... Pak Kades ini biasanya memang pesan lewat telepon dulu tadi sebelum jalan ke sini. Jadi saya tinggal bungkusin pas beliau sampai."
Skakmat. Mika terdiam sejenak, wajahnya memerah bukan karena malu, tapi karena semakin kesal karena merasa kalah telak. Namun, dasar Mika yang keras kepala, ia tidak mau kalah begitu saja.
"Tetep aja! Meskipun pesan lewat telepon, kalau fisiknya belum sampai dan saya sudah berdiri di sini duluan, secara etika saya yang harus dilayani bayar duluan! Bapak jangan pakai jabatan buat nyerobot urusan perut orang lain!" Mika melipat tangan di dada, menantang tatapan Alvaro.
Alvaro menarik napas panjang, lalu melangkah satu langkah lebih dekat ke arah Mika. Jarak mereka kini hanya terpaut beberapa sentimeter. Mika bisa melihat pantulan cahaya lampu warung di mata gelap Alvaro.
"Kamu ini... hobi sekali berteriak, ya?" bisik Alvaro, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Tadi siang teriak di sungai, sekarang teriak di warung sate. Apa semua mahasiswi kota memang tidak dibekali tata krama kalau berbicara dengan orang yang lebih tua?"
"Tata krama itu untuk orang yang menghargai orang lain, Pak Kades yang terhormat," balas Mika, suaranya pelan tapi tajam. "Bapak pikir dengan ngasih jaket tadi siang, saya bakal langsung tunduk sama bapak? Enggak ya!"
Alvaro melirik jaket denim yang tadi siang ia berikan, yang kini tidak dipakai oleh Mika melainkan disampirkan di tas Siti. "Oh, jadi itu alasan kamu marah-marah? Karena merasa berhutang budi?"
Alvaro kemudian merogoh dompetnya, mengeluarkan selembar uang seratus ribu, dan memberikannya kepada Bu Ida. "Bu, satenya Neng yang cerewet ini saya yang bayar. Tolong buatkan punya dia dulu, biar dia cepat kenyang dan berhenti membuat polusi suara di warung Ibu."
"Eh! Apa-apaan! Saya punya uang ya! Saya nggak butuh sedekah dari bapak!" Mika mencoba meraih uang itu tapi Alvaro lebih cepat menghalanginya dengan tangannya yang besar.
"Anggap saja itu kompensasi karena saya 'menyerobot' antreanmu, dan sebagai permohonan maaf karena saya membuatmu mandi lumpur tadi siang," ucap Alvaro dengan nada yang terdengar tulus namun tetap menyebalkan di telinga Mika.
Alvaro mengambil bungkusan satenya yang sudah jadi, lalu menoleh ke arah Mika sebelum pergi. "Satu lagi, Mikayla. Besok jam tujuh pagi di balai desa. Jangan telat, dan jangan pakai baju putih kalau tidak mau berakhir jadi cokelat lagi."
Tanpa menunggu jawaban, Alvaro berjalan menuju motor Ninjanya yang terparkir tak jauh dari sana. Suara mesin motor itu kembali menderu, memecah kesunyian malam Desa Asih.
Mika berdiri mematung di depan rombong sate. Tangannya masih mengepal.
"Gila... gila banget tuh orang!" Mika menghentakkan kakinya.
Siti mendekat sambil membawa bungkusan sate yang baru saja diserahkan Bu Ida. "Wah, beruntung banget lo, Mik. Udah dapet sate gratis, dibayarin Kades ganteng lagi. Tuh kan, apa gue bilang, benci ama cinta itu beda tipis."
"Diem lo, Siti! Gue nggak bakal makan sate ini kalau bukan karena gue laper banget!" Mika menyambar bungkusan itu dengan kasar.
Sepanjang jalan pulang ke posko, pikiran Mika tidak bisa lepas dari sosok Alvaro. Ada sesuatu dari pria itu yang membuatnya sangat terusik. Bukan hanya karena sifatnya yang otoriter, tapi karena cara Alvaro menatapnya—seolah-olah Alvaro bisa membaca semua kekesalan dan rasa tidak aman di dalam diri Mika.
"Dia pikir dia keren apa?" gumam Mika pelan sambil menggigit tusuk sate ayamnya. "Awas aja besok di balai desa. Gue bakal kasih liat data penelitian gue yang bakal bikin dia melongo."
Namun, di balik rasa bencinya yang meluap-luap, ada satu hal yang tidak bisa Mika pungkiri. Saat Alvaro berdiri sangat dekat dengannya di warung sate tadi, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Dan itu bukan karena marah.
"Nggak, nggak mungkin. Gue pasti cuma lagi hipoglikemia karena telat makan," batin Mika mencoba menyangkal.
Malam itu, di bawah langit Desa Asih yang penuh bintang, Mika tidur dengan perasaan campur aduk. Ia tidak tahu bahwa Alvaro, di rumahnya yang besar, juga sedang duduk di teras sambil menyesap kopi, memikirkan seorang mahasiswi galak yang baru saja berani meneriakinya di depan umum—hal yang tidak pernah berani dilakukan oleh siapapun di desa itu selama setahun terakhir.