NovelToon NovelToon
Idol Di Balik Pintu Kosan

Idol Di Balik Pintu Kosan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Amnesia / Idol / Komedi
Popularitas:431
Nilai: 5
Nama Author: PutriBia

Javi, center dari grup LUMINOUS, jatuh dari balkon kosan Aruna saat mencoba kabur dari kejaran fans. Bukannya kabur lagi, Javi malah bangun dengan ingatan yang kosong melompong kecuali satu hal yaitu dia merasa dirinya adalah orang penting yang harus dilayani.
Aruna yang panik dan tidak mau urusan dengan polisi, akhirnya berbohong. Ia mengatakan bahwa Javi adalah sepupunya dari desa yang sedang menumpang hidup untuk jadi asisten pribadinya. Amnesia bagi Javi mungkin membingungkan, tapi bagi Aruna, ini adalah kesempatan emas punya asisten gratis untuk mengerjakan tugas kuliahnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali ke Pabrikan

Pukul 04.00 pagi, basecamp LUMINOUS yang mewah sedang dalam kondisi berduka. Manajer Han sedang tertidur di sofa dengan masker oksigen, sementara Kenji, Satya, dan Rian sedang merenung sambil makan mi instan dingin.

BIP! BIP! BIP!

Suara kode akses pintu depan berbunyi. Semua member langsung berdiri siaga.

"Siapa? Polisi?" tanya Rian ketakutan.

Pintu terbuka. Sosok pria tinggi dengan kemeja flanel bau matahari, topi miring, dan kacamata renang biru di leher masuk dengan gaya yang sangat arogan.

"Saya pulang," ucap Javier singkat.

Hening. Mi instan di mulut Rian jatuh kembali ke mangkuk.

"HYUUUUUUUUNG!"

Rian lari menubruk Javier.

"Kamu ingat?! Kamu sudah tidak gila?!"

Javier melepaskan pelukan Rian dengan satu tangan.

"Saya ingat semuanya. Saya ingat kalian meninggalkan saya di kosan itu demi makan durian. Dan saya ingat... Satya, kamu belum bayar utang es mambo saya di warung Bang Tejo."

Satya melongo.

"Wah, memorinya sudah kembali 100%. Bahkan utang receh aja dia ingat!"

Kenji mendekat, melihat plester dinosaurus yang masih menempel di rahang Javier.

"Hyung... kenapa kamu pake kacamata renang dan plester itu? Kita ada pemotretan jam sembilan pagi."

Javier menyentuh plester itu, matanya mendadak melembut.

"Ini adalah tren fashion masa depan. Dan soal pemotretan... batalkan semua. Saya ingin tidur di kasur empuk saya sendiri, tapi tolong... belikan saya es mambo melon satu dus."

Manajer Han terbangun, melihat Javier, dan langsung pingsan lagi untuk yang kesekian kalinya.

Matahari pagi di Jakarta menyelinap masuk melalui celah ventilasi kamar kos Aruna dengan sangat tidak tahu diri. Cahayanya yang silau menghantam kelopak mata Aruna, memaksanya terbangun dari tidur yang terasa sangat berat, seolah-olah seluruh tugas anatominya semalam menumpuk di atas kelopak matanya.

"Ujang... bangun, Jang... gantian mandinya, airnya bentar lagi mati kalau Mbak Widya udah mulai nyuci," gumam Aruna dengan suara serak.

Tangannya meraba-raba lantai di samping kasur secara otomatis, mencari sosok tinggi besar yang biasanya meringkuk seperti udang di atas tikar mendong.

Kosong.

Tangan Aruna hanya menyentuh anyaman tikar yang sudah mendingin. Dingin sekali, seolah-olah tidak ada kehidupan di sana sejak berjam-jam yang lalu.

Aruna langsung terduduk tegak. Matanya melotot, nyawanya yang baru terkumpul 20% mendadak dipaksa full power. Dia menoleh ke jendela yang terbuka lebar, membiarkan angin pagi memainkan gordennya yang kusam.

"Oh... iya. Dia udah pergi," bisik Aruna pada dirinya sendiri.

Aruna turun dari kasur, melangkah menuju meja gambarnya. Di sana, tertindih oleh sepasang kacamata renang biru yang konyol, terdapat selembar kertas sketsa dengan tulisan pensil 2B yang besar-besar.

Aruna membaca surat itu pelan-pelan. Dia mengharapkan ada rasa marah yang meledak, atau keinginan untuk mengejar mobil van hitam yang membawanya pergi. Namun, yang dia rasakan hanyalah kekosongan yang tenang.

"Javier, ya?"

Aruna tersenyum pahit. Dia melihat kacamata renang biru itu.

"Kamu itu terlalu mahal buat kosan ini, Jang. Eh, Javi."

Aruna berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya yang berantakan. Dia menatap bibirnya sendiri, teringat sinkronisasi semalam yang membuatnya serasa diputar di mesin cuci.

"Oke, Aruna. Cukup," ucapnya pada bayangannya sendiri.

"Dia itu bintang dunia, kamu itu bintangnya tugas Layouting. Dia makan steak emas, kamu makan bakso kerikil. Garis takdirnya udah balik ke jalurnya masing-masing."

Dia mengambil sebuah kotak sepatu bekas dari bawah meja. Dengan perlahan, Aruna memasukkan surat itu, kacamata renang biru, dan satu bungkus plastik es mambo yang sudah kosong ke dalamnya.

"Semua kenangan kloningan ini... aku simpan di sini," gumamnya.

"Nggak bakal aku buang, tapi nggak bakal aku cari lagi. Biar jadi legenda urban di kosan ini aja."

Pintu kamarnya digedor dengan brutal.

DUAK! DUAK! DUAK!

"ARUNA! UJANG! BANGUN! INI ADA SURAT DARI KELURAHAN! KATANYA ADA PENDUDUK GELAP YANG MIRIP ARTIS DI KOSAN INI!" suara megafon Mbak Widya menggelegar.

Aruna membuka pintu dengan tenang, membuat Mbak Widya hampir terjungkal karena tidak ada perlawanan.

"Mana si Ujang?! Mbak dapet laporan kalau semalem ada van hitam parkir di depan gang!"

"Ujang udah pulang ke pabriknya, Mbak," jawab Aruna santai.

"Pabrik?! Maksud kamu dia beneran kloningan?!"

Mbak Widya melotot.

"Iya. Dan dia bilang, daster pink Mbak itu sebenarnya punya radiasi nuklir, makanya dia kabur karena takut prosesornya karatan,"

Aruna berbohong dengan wajah datar.

Mbak Widya terdiam, lalu meraba dasternya dengan panik.

"APA?! RADIASI NUKLIR?! Pantesan Mbak sering ngerasa gatel-gatel kalo nyapu!"

Mbak Widya langsung lari terbirit-birit menuju kamar mandi umum untuk dekontaminasi.

Aruna hanya menggelengkan kepala. Komedi konyol ini biasanya akan direspons Javi dengan teori konspirasi yang lebih gila, tapi sekarang, koridor itu sunyi.

Seminggu berlalu. Hidup Aruna kembali ke setelan pabrik, kurang tidur, banyak tugas, dan sering diomelin dosen. Teman-temannya di kampus sempat heboh karena Javier LUMINOUS akhirnya muncul kembali di TV setelah "istirahat panjang karena kelelahan".

"Ar, liat deh! Si Javier makin ganteng ya di TV!" seru temannya sambil menyodorkan HP.

Aruna hanya melirik sekilas ke arah layar. Di sana, Javier sedang memakai setelan jas seharga satu unit rumah, tampak sangat berwibawa dan tidak terjangkau. Tidak ada lagi kemeja flanel kebesaran, tidak ada lagi sarung di leher, dan tidak ada lagi wajah polos yang minta dibelikan es mambo.

"Biasa aja," jawab Aruna tenang sambil lanjut mengarsir tugas anatominya.

"Dih, kok dingin banget? Biasanya lo kan paling semangat bahas cowok ganteng!"

"Gue udah pensiun jadi fans, guys. Sekarang gue fans sama diri gue sendiri supaya bisa lulus tepat waktu," ucap Aruna sambil tersenyum.

Dalam hatinya, Aruna tahu. Pria di layar itu adalah Javier, sang raja panggung. Tapi pria yang ada di memorinya adalah Ujang, si kloningan gagal yang takut kecoa dan sangat bangga memakai plester dinosaurus. Dan dia memilih untuk menyimpan Ujang tetap di dalam kotak sepatunya, tidak tercampur dengan Javier yang milik dunia.

Sore itu, Aruna duduk di depan warung Bang Tejo. Dia membeli satu es mambo rasa melon.

"Mas Ujang ke mana, Mbak Ar? Kok nggak kelihatan?" tanya Bang Tejo sambil mengelap meja.

"Ujang udah dapet kerjaan bagus, Bang. Jadi penguji keempukan kasur di luar negeri," jawab Aruna asal.

"Wah, hebat ya. Pantesan, aura wajahnya emang aura orang sukses, meski sering pake kacamata renang."

Aruna menggigit es mambonya. Rasanya dingin, manis, dan sedikit meninggalkan rasa getir di lidah. Dia menatap langit Jakarta yang mulai jingga.

"Selamat tinggal, Ujang," bisiknya pelan.

"Makasih udah bikin hidupku yang ngebosenin ini jadi kayak film komedi konyol selama dua minggu."

Aruna berdiri, membuang plastik es mambonya ke tempat sampah, dan berjalan pulang menuju kosannya. Dia tidak menoleh lagi ke belakang, tidak menunggu mobil van hitam, dan tidak berharap ada keajaiban. Dia membiarkan kenangan itu tersimpan rapi sebagai rahasia termanis antara seorang mahasiswi DKV dan seorang kloningan yang pernah nyasar di hidupnya.

1
Indhira Sinta
bagus
falea sezi
/Curse//Curse/ada aj
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!