Adven Mahardhika Alkhatiri, seorang lelaki yang penuh rahasia dalam hidupnya. Bahkan keberadaan anaknya juga menjadi rahasia dan teka teki tersendiri untuk keluarga Alkhatiri yang begitu terpandang.
Rahasia besar apakah yang selama ini dia simpan? dan mampukah dia mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya terhadap seorang perempuan bernama Sukma Paramitha?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 ( Berdebar )
"Sekarang kamu duduk saja di sini, jangan bantu asisten rumah tangga, biar mereka yang memasak, Axel jaga... kakak cantik kamu ini" ucap Adven saat dia sudah sampai di rumah kedua orang tuanya.
Hampir saja Adven keceplosan mengatakan kalau Sukma adalah mommy dari Axel, bukan tidak mau memberi tahu Sukma tentang kebenaran, tapi Adven perlu banyak bukti supaya Sukma yakin dan bisa terbebas dari ancaman Monica.
"Siap Daddy, Axel akan jaga kakak cantik" jawab Axel
"Pak, masa saya tidak bantu bantu, kan malu pak" ucap Sukma
"Kamu bantu Axel mengerjakan tugas sekolahnya saja" jawab Adven
"Iya kak, Axel punya tugas menggambar keluarga, Axel gambar kakak cantik jadi mommy Axel bolah kan?" tanya Axel dengan tatapan polos
"Tapi...."
"Kakak cantik tidak suka ya jadi mommy Axel?" tanya Axel terlihat kecewa dan Sukma menatap Adven yang juga terlihat berharap Sukma bersedia menjadi ibu Axel, benar benar jadi ibunya yang belum sempat menggendong Axel sejak bayi.
"Kakak suka ko, Axel bolah gambar kakak di sini juga kalau Daddy Axel memberikan ijin" jawab Sukma mengusap pipi Axel
"Daddy?"
"Boleh, memang seharusnya dia ada di sana kan" jawab Adven membuat Axel senang
Sukma meremas dadanya karena terasa berdetak begitu kencang saat Adven mengatakan kalau Sukma memang sudah seharusnya ada di gambar itu. ada perasaan yang sempat hilang tapi Sukma masih belum tahu perasaan apa yang hilang itu.
"Kenapa?" tanya Adven berjongkok dan memegang dada kiri Sukma.
"Tidak tahu pak, jantung saya berdetak kencang, apa saya kena serangan jantung ya?" tanya Sukma
"Mungkin kamu sedang jatuh cinta"
"Hah.. jatuh cinta, apa seperti ini rasanya? tapi pada siapa?" tanya Sukma menatap mata Adven
"Denganku" jawab Adven yang tangannya mulai naik ke pipi Sukma yang sekarang mulai memerah.
"Daddy, kakak cantik wajahnya merah, mungkin sakit dad" ucap Axel
"Daddy akan ke dapur dulu mengambil air minum, kamu jaga mommy kamu" ucap Adven
"Mommy?"
"Iya, kakak cantik kamu itu kan akan jadi model mommy kamu di buku gambar, panggil dia mommy supaya gambarnya jadi bagus" jawab Adven
"Horee.. Axel punya mommy sekarang!" pekik Axel
"Pak.."
"Sudah diam, kamu sudah saya kontrak seumur hidup, jadi turuti saya" potong Adven segera pergi karena jantungnya juga sudah mulai tidak aman setelah tangannya sempat menyentuh sesuatu yang kenyal milik Sukma.
"Mom" kaget Adven saat melihat Jocelyn sedang mencibir di balik dinding ruang makan bersama Tsania.
"Tidak apa apa, kalian kan suami istri, wajar kalau kamu pegang pegang dia" cibir Jocelyn
"Sayang sekali kakak lupa bawa handphone, kalau bawa tadinya mau kakak foto" ledek Tsania
"Astaga, ini yang membuatku malas tinggal di rumah ini, para perempuan di sini menyebalkan" gerutu Adven pergi ke arah dapur.
"Pasti karena cinta itu, dia mau ambilkan minum untuk istrinya, padahal ambilkan minum untuk mommy saja dia jarang sekali" sinis Jocelyn
"Tidak apa apa mom, yang penting es kutub itu sekarang sudah cair" bujuk Tsania
"Benar, mommy punya hiburan baru sekarang, lihat Adven bucin sama istrinya" jawab Jocelyn.
"Tapi ma mas Adam ko belum kembali ya, padahal Daddy sudah pulang tadi berbarengan dengan Adven" ucap Tsania
"Mungkin Adam mengurus meeting menggantikan Adven" jawab Jocelyn
\=\=\=\=\=\=\=\=
Di sebuah kafe.
"Baiklah, kerja sama kita sudah ditanda tangani, Terima kasih sudah memilih perusahaan kami untuk menjadi rekan bisnis perusahaan Anda" ungkap Adam menjabat tangan Anita, seorang direktur di perusahaan properti yang bekerja sama dengan perusahaan Alkhatiri.
"Sama sama pak, ini sudah ke tiga kalinya saya bekerja sama dengan perusahaan pak Adven, dan saya senang bisa secara langsung bertemu anda pak Adam" jawab Anita
"Saya harus pamit pulang Bu, mungkin anda juga sibuk" ucap Adam merasa risih karena tatapan Anita padanya begitu intens
"Saya juga mau langsung pulang, anak saya menunggu saya di rumah, usianya sudah hampir sepuluh tahun" jawab Anita
"Benarkah? anak saya berusia lima tahun" ucap Adam
"Ya, saya melihatnya di sosial media, dia begitu beruntung mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya, tidak seperti saya yang harus menyembunyikan anak saya dari mata publik" ungkap Anita
"Apa anak anda..."
"Ya, dia lahir karena sebuah kesalahan besar, saya di per kosa sepuluh tahun lalu saat saya baru lulus kuliah, dia menarik saya ke dalam mobilnya saat saya dalam perjalanan pulang dari rumah teman saya" jawab Anita
"Oh.. maaf saya tidak bermaksud" ungkap Adam
"Tidak apa apa, mungkin orang itu juga sedang mabuk, dia bahkan tidak ingat saya sepertinya" jawab Anita tersenyum kecut.
"Tapi anda pasti ingat orang itu kan? kenapa tidak lapor polisi?" tanya Adam
"Saya ingat, tapi percuma saja saya melakukan itu, tepat saat saya ingin meminta pertanggungjawaban dari dia, dia sudah menikahi perempuan lain" jawab Anita
"Saya pamit" ucapnya lagi lalu pergi meninggalkan Adam dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.
"Kenapa aku merasa bersalah karena mengungkit masa lalunya" gumam Adam
"Apa kita akan langsung pulang kak?" tanya David
"Iya, kita langsung pulang saja, mommy dan Daddy pasti sudah menunggu" jawab Adam
"Kak, dia terlihat seperti memendam sesuatu tadi" bisik David
"Kamu juga merasakan itu?" tanya Adam
"Iya, padahal dulu kalau meeting dengan Adven, dia selalu bisa saja, tapi saat dengan kak Adam dia seperti menahan sesuatu" jawab David
"Apa aku terlihat jelek atau bau?" tanya Adam
"Kakak wangi dan tampan, wajah kakak juga yang paling mirip dengan Tante Jocelyn jadi pastinya tampan, beda dengan Adven yang mirip Om Akhtar" jawab David membuat Adam tertawa
"Akan aku adukan Daddy nanti supaya kamu di pecat" ledek Adam
"Janganlah kak, David belum menikah dan punya istri" keluh David
"Maaf pak" panggil seorang pelayan
"Iya" ucap Adam berhenti
"Ini, sepertinya kunci mobil anda tertinggal di meja bapak" ucap pelayan
"Ini bukan kunci mobil saya, mungkin milik Bu Anita, dia pasti ada di depan biar saya berikan padanya" ucap Adam dan pelayan itu mengangguk.
"Gantungan kunci mobilnya unik, ada kancingnya segala" ucap David dan Adam melihat gantungan kunci itu dengan teliti.
"Pak Adam, itu milik saya" ucap Anita
"Oh iya, ini... Tadi pegawai kafe yang memberikan pada saya" jawab Adam memberikan kunci itu.
"Kancing ini..."
"Ini milik ayah anak saya, hanya ini satu satunya bukti yang berhasil saya bawa setelah saya di tinggalkan di pinggir jalan" jawab Anita membuat Adam mematung.
"Salah ngomong lagi kamu kak, dia jadi marah sepertinya" bisik David