Adrina, 27 tahun, adalah gadis mandiri yang hidup dalam senyap. Setelah ibunya meninggal dan ayahnya memilih membangun keluarga baru, Adrina memutuskan tinggal sendiri di sebuah kosan sempit—tempat ia belajar berdamai dengan kesendirian dan masa lalu yang tak lagi ia bagi pada siapa pun. Lulus kuliah tanpa arah pekerjaan yang jelas, ia sempat menganggur cukup lama hingga sebuah tawaran tak terduga datang: menjadi asisten seorang artis papan atas yang sedang berada di puncak popularitas.
Nama itu adalah Elvario Mahendra—aktor sekaligus penyanyi terkenal, digilai publik karena wajahnya yang nyaris sempurna dan bakatnya yang luar biasa. Namun di balik sorot lampu, Elvario dikenal arogan, temperamental, dan sulit ditangani. Dalam satu bulan terakhir, ia telah mengganti enam asisten. Tidak ada yang bertahan. Semua menyerah oleh tuntutan, amarah, dan standar tinggi yang tampak mustahil dipenuhi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NYAWA DIMEJA MAKAN
Rizal terhenti, menatapnya selama beberapa detik dengan tatapan takjub. "...Lo aneh ya, Drin," katanya akhirnya. "Tapi gue suka cara kerja lo."
Adrina hanya tersenyum tipis. Alih-alih langsung merebahkan diri di sofa empuk itu, ia melepas tasnya, menggulung lengan kemejanya, lalu melirik ke arah dapur bersih yang tampak jarang tersentuh.
"Mas, dapurnya boleh dipakai?"
Rizal mengernyit bingung. "Buat apa?"
"Sarapan."
"Sarapan?" Rizal tertawa pendek. "Jam segini biasanya El bangun saja belum, apalagi kepikiran soal makan."
"Justru itu," jawab Adrina ringan.
Tanpa menunggu izin kedua kali, ia melangkah ke dapur. Di dalam lemari es, isinya tak terlalu banyak, namun cukup untuk melakukan sesuatu. Ada telur, roti, sedikit sayuran, susu, dan buah-buahan. Adrina bergerak cekatan. Tangannya tampak hafal dengan rutinitas dapur, meski ini pertama kalinya ia berada di sana. Ia mulai menumis ringan, memanggang roti, dan memotong buah dengan presisi.
Rizal berdiri di ambang dapur, menyaksikan pemandangan itu dengan perasaan campur aduk antara kagum dan bingung. "Lo yakin nggak salah ambil kerjaan? Harusnya lo buka kafe."
Adrina terkekeh pelan tanpa mengalihkan pandangan dari wajannya. "Saya cuma nggak bisa lihat orang memulai hari yang berat dengan perut kosong, Mas."
Beberapa menit kemudian, aroma mentega hangat dan tumisan bawang memenuhi apartemen. Seperti ada nyawa yang pelan-pelan ditiupkan ke dalam ruangan yang biasanya hanya berbau pengharum ruangan otomatis itu.
Langkah kaki terdengar dari arah kamar utama. Elvario muncul mengenakan kaos hitam polos dan celana pendek. Rambutnya berantakan, dan wajahnya menampilkan raut datar khas orang yang baru saja dipaksa bangun oleh indra penciumannya. Ia berhenti di tengah ruang tamu, hidungnya kembang kempis.
"Kenapa apartemen gue bau... enak?" tanyanya dengan suara serak.
Rizal menunjuk ke arah dapur dengan ibu jarinya. "Itu pelakunya."
Elvario menoleh. Tatapannya jatuh pada punggung Adrina yang tengah sibuk mengaduk masakan. Adrina baru menyadari keberadaan sang majikan saat suara langkah kaki mendekat ke arah meja makan.
"Oh, pagi," ucap Adrina singkat sambil menoleh. Nada suaranya biasa saja, tidak ada kekakuan atau rasa sungkan yang berlebihan.
Elvario mengerutkan kening. "Jam berapa lo datang?"
"Tujuh. Lebih sedikit," jawab Adrina.
"Dia gila, El!" Rizal menyambar. "Gue saja kaget pas buka pintu."
Adrina mengangkat bahu. "Lebih aman begini."
Elvario menatap meja makan yang kini terisi piring-piring berisi sarapan sederhana namun tertata sangat cantik. "...Ini apa?"
"Sarapan," kata Adrina. "Mas bisa makan sekarang, atau nanti setelah mandi."
Elvario duduk perlahan, seolah masih mencoba memproses apakah ini nyata atau bagian dari mimpinya. "Kenapa lo masak?"
Adrina berhenti sebentar dari kegiatannya, lalu menjawab dengan nada yang jauh lebih lembut dari sebelumnya. "Karena hari ini panjang, Mas."
Hening sejenak. Elvario mengambil sendok, lalu mencicipi masakan itu. Satu detik. Dua detik.
"...Enak," ucapnya lirih. Namun, seolah tersadar ia baru saja memuji, ia langsung meralat dengan ketus, "Maksud gue—cukup layak dimakan."
Rizal tersenyum penuh arti sambil ikut duduk di meja makan. "Ini baru hari kedua, dan lo sudah bikin rekor baru, Drin. Gue belum pernah lihat ada orang yang masak di apartemen ini jam tujuh pagi."
Adrina meletakkan segelas air putih di dekat tangan Elvario. "Mas, kalau saya nanti tertidur di sofa, tolong makanannya dihangatkan saja ya kalau sudah dingin," ucapnya santai sambil berjalan menuju sofa ruang tamu.
Elvario terpaku, sendoknya tertahan di udara. "...Tidur?"
"Iya," jawab Adrina sambil merebahkan tubuhnya di sofa dan memejamkan mata. "Dua puluh menit saja. Alarm saya sudah terpasang."
Rizal melongo melihat asisten barunya yang begitu santai. "Lo nyaman banget ya tidur di sini."