NovelToon NovelToon
Asisten Kesayangan Pak Manager

Asisten Kesayangan Pak Manager

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Cinta pada Pandangan Pertama / Office Romance
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Seribu Bulan

Felicia datang ke kantor itu hanya untuk bekerja.
Bukan untuk jatuh cinta pada manajer yang usianya lima belas tahun lebih tua—dan seharusnya terlalu jauh untuk didekati.
James Han tahu batas. Jabatan, usia, etika—semuanya berdiri di antara mereka.
Tapi semakin ia menjaga jarak, semakin ia menyadari satu hal: ada perasaan yang tumbuh justru karena tidak pernah disentuh.
Ketika sistem memisahkan mereka, dan Felicia hampir memilih hidup yang lain, James Han memilih menunggu—tanpa janji, tanpa paksaan.
Karena ada cinta yang tidak datang untuk dimiliki, melainkan untuk dipilih di waktu yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seribu Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian Dua Puluh Dua

Seminggu berlalu sejak ketegangan di area parkir itu, namun Rey tampaknya bukan tipe pria yang mudah mengibarkan bendera putih.

Pria berusia dua puluh tujuh tahun itu masih gencar melancarkan serangan halus; mulai dari sapaan manis di pagi hari, ajakan makan siang yang konsisten, hingga tawaran tumpangan pulang yang selalu ia selipkan di sela-sela obrolan kerja.

Tentu saja, Felicia selalu punya seribu satu alasan untuk menolak dengan halus. Selain karena ia tak ingin memberi harapan palsu pada Rey—yang menurut Pak Han jelas-jelas menaruh hati padanya—Felicia juga berusaha menjaga martabatnya di depan sang calon suami (meski status itu masih rahasia).

Ia sadar betul, meski belum ada janur kuning melengkung, ia punya tanggung jawab moral untuk menjaga jarak sesuai permintaan Pak Han.

Siang ini, suasana kantor terasa sedikit lebih lengang. Pak Han sedang berada di ruang rapat utama bersama jajaran direktur dan seluruh manajer cabang. Felicia sendiri memilih untuk tidak ikut.

Mengingat rapat tersebut hanya bersifat koordinasi singkat, ia merasa lebih berguna menyelesaikan tumpukan dokumen di mejanya daripada harus duduk formal hanya untuk mencatat poin-per-poin yang sebenarnya sudah ada di luar kepala Pak Han.

Saat sedang asyik menatap layar monitor sambil sesekali memijat tengkuknya yang kaku, sebuah suara membuyarkan konsentrasinya.

"Tumben sendirian, Fel? Nggak ikut ke ruang rapat?"

Felicia mendongak, mendapati Anissa tengah berdiri di samping mejanya. Wanita itu tampak santai membawa sekotak makan siang dan botol minum yang terlihat sangat mahal.

"Eh, iya nih, Ca. Masih banyak yang harus dikejar. Mbak Maria juga lagi keluar makan bareng anak-anak bagian sampel," jawab Felicia jujur, sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.

"Aku duduk di sini boleh? Meja sebelah lagi penuh banget," tanya Anissa sambil memberi isyarat ke arah kursi kosong di depan meja Felicia.

"Silakan, Ca. Kosong kok," jawab Felicia ramah.

Anissa bukan orang asing bagi Felicia. Sebagai staf pemasaran, ia sering berurusan dengan Felicia dan Maria untuk urusan teknis; mulai dari meminta sampel produk untuk display gerai ritel, hingga keperluan konten media sosial.

Namun, ada satu hal yang membuat Anissa punya posisi "istimewa" di kantor ini. Ia dikenal sebagai salah satu orang kepercayaan Pak Han di divisi pemasaran.

Bisa dibilang, Anissa adalah tangan kanan Pak Han. Bahkan sejak Pak Han memegang jabatan ganda sebagai Manajer Pemasaran sekaligus Sampel, hampir separuh beban kerja operasional didelegasikan kepada Anissa. Kedekatan profesional mereka seringkali membuat karyawan lain merasa segan pada wanita yang gesit dan cerdas ini.

Anissa mulai membuka kotak makannya, namun matanya sesekali melirik ke arah meja kerja Pak Han yang kosong, lalu kembali menatap Felicia dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Gimana rasanya jadi asisten Pak Han, Fel? Pasti pusing ya, ngadepin ritme kerjanya yang kayak robot gitu?" tanya Anissa santai, namun nadanya terdengar seperti sedang menjajaki sesuatu.

"Ya gitu, Ca. Kamu tahu sendiri lah Pak Han kayak apa. Kamu kan lebih dulu kerja bareng beliau dibanding aku, pasti sudah hafal gimana ajaibnya beliau," sahut Felicia sambil mengaduk makanannya, mencoba bersikap sesantai mungkin.

Anissa terkekeh pelan, namun matanya tidak lepas dari wajah Felicia. "Iya sih. Dulu bahkan orang-orang kantor mengiranya aku yang bakal ditarik jadi asisten pribadinya, saking nempelnya dia sama aku kalau urusan kerjaan. Cuma karena aku keburu naik jabatan jadi leader, mungkin dia jadi sungkan. Eh, tapi itu sudah jadi rezeki kamu sih, Fel."

Felicia hanya bisa tersenyum kaku. Kalimat "rezeki" yang diucapkan Anissa entah kenapa terdengar sedikit seperti sindiran di telinganya.

"Lagian kamu memang lebih cocok jadi leader, Ca. Kamu kan jauh lebih senior dan paham strategi pemasaran dibanding cuman jadi asisten yang ngurus jadwal meeting sama revisi laporan."

Anissa mulai menyuap makanannya, namun gerakannya sangat santai, seolah ia punya semua waktu di dunia untuk menguliti informasi dari Felicia. "Eh, ngomong-ngomong, seminggu belakangan ini kamu sering kelihatan berangkat bareng Pak Han ya? Bukannya beliau tinggal di mess kantor, ya?"

Felicia menghela napas tertahan. Nah, kan. Benar dugaanku, batinnya. Ia bisa merasakan tatapan menyelidik Anissa yang tajam di balik senyum ramahnya. Ini bukan sekadar obrolan makan siang biasa; ini adalah interogasi halus.

"Oh, itu..." Felicia berdeham, mencoba mengingat skenario alasan yang sudah ia sepakati bersama Pak Han tempo hari. "Itu karena Pak Han belakangan ini lagi sering bolak-balik ke kantor cabang Cipta. Kebetulan rutenya lewat depan gang kost aku, jadi ya... beliau nawarin sekalian biar sekalian bisa bahas schedule beliau untuk seharian."

Anissa mengangguk-angguk pelan, meski gurat skeptis masih tertinggal di sudut matanya. Ia meneguk air mineralnya dengan anggun sebelum kembali menanggapi.

"Oh, gitu ya? Kirain kamu memang sengaja dijemput khusus," ucap Anissa dengan nada yang menggantung, seolah sedang menguji apakah Felicia akan goyah dengan pernyataannya. "Soalnya Pak Han itu bukan tipe orang yang mau repot-repot numpangin orang lain kalau nggak ada kepentingan yang benar-benar mendesak."

Felicia merasa tenggorokannya mendadak kering. "Ya, mungkin karena sekarang kerjaan lagi numpuk banget, Ca. Jadi beliau mau serba cepat."

"Iya juga sih," Anissa tersenyum, kali ini senyumnya terlihat lebih lebar tapi entah kenapa terasa makin dingin bagi Felicia.

"Tapi hati-hati lho, Fel. Di kantor ini dinding pun punya telinga. Jangan sampai alasan searah itu malah jadi gosip yang nggak enak, apalagi buat posisi kamu yang masih baru di samping beliau."

Ketegangan di meja makan itu mendadak berubah. Suara bising di pantry kantor seolah meredup, menyisakan keheningan tajam di antara Felicia dan Anissa.

"Maksud kamu?" tanya Felicia. Kerutan di dahinya dalam, mencoba mencerna ke mana arah pembicaraan ini.

Anissa tidak langsung menjawab. Ia meletakkan sendok dan garpunya dengan perlahan, menimbulkan bunyi denting kecil yang entah kenapa terdengar mengintimidasi. Ia kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Felicia, mempersempit jarak di antara mereka hingga Felicia bisa menangkap tatapan matanya yang sangat serius—dan dingin.

"Ya... jangan sampai beredar gosip kalau kamu lagi godain bos sendiri," bisik Anissa. Suaranya rendah, hampir seperti desisan yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.

Felicia terkesiap, punggungnya refleks bersandar pada kursi. "Godain? Ca, aku ini cuma kerja—"

"Aku tahu, aku tahu," potong Anissa cepat, sambil mengangkat satu tangan seolah menenangkan Felicia, meski senyumnya tidak mencapai mata.

"Tapi kamu tahu sendiri kan, di kantor ini orang lebih suka percaya drama daripada fakta. Apalagi posisi asisten pribadi itu rawan banget. Orang-orang bakal mikir, kok bisa asisten baru yang pengalamannya belum seberapa, tiba-tiba dijemput tiap pagi?"

Anissa kembali menyandarkan tubuhnya, menyilangkan tangan di depan dada dengan pose yang sangat dominan.

"Aku cuma kasih tahu kamu sebagai sesama perempuan, Fel. Pak Han itu aset berharga perusahaan. Kalau sampai ada gosip miring soal dia dan asistennya, itu bukan cuma ngerusak reputasi kamu, tapi juga bisa nggu jabatan yang sedang dia kejar di Pusat. Kamu nggak mau kan jadi batu sandungan buat karir dia?"

Felicia merasa tangannya mendadak dingin. Kalimat Anissa barusan bukan sekadar saran, tapi terasa seperti peringatan—atau mungkin, ancaman halus. Anissa seolah ingin menegaskan bahwa dialah yang paling tahu apa yang terbaik untuk Pak Han, bukan Felicia.

"Terima kasih atas perhatiannya, Ca," jawab Felicia berusaha tenang, meski detak jantungnya sudah tidak karuan. "Tapi aku rasa Pak Han cukup pintar untuk tahu mana yang profesional dan mana yang nggak."

Anissa hanya tersenyum miring, lalu kembali meraih botol minumnya. "Semoga aja kayak gitu, Fel."

1
Seribu Bulan 🌙
siap kak makasih yaa😍
Andina Jahanara
lanjut sampe tamat kak 💪
Faidah Tondongseke
Ceritanya seru,Cinta bersemi di kantor,Asiik deh pokoknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!