NovelToon NovelToon
Ranjang Kedua Suamiku

Ranjang Kedua Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Pelakor
Popularitas:39.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Andila

Rania Felisya, seorang istri yang selama ini mempercayai pernikahannya sebagai rumah paling aman, dikejutkan oleh kenyataan pahit ketika tidak sengaja mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan ganda itu menghancurkan keyakinannya tentang cinta, persahabatan, dan kesetiaan.

Di tengah luka dan amarah, Rania memutuskan untuk segera berpisah dengan suaminya—Rangga. Namun, Rangga tidak menginginkan perpisahan itu dan malah menjadikan anak mereka sebagai alat sandera.

"Kau benar-benar iblis, Rangga!" ucap Rania.

"Aku bisa menjadi iblis hanya untukmu, Rania," balas Rangga.

Akankah Rania berhasil melepaskan diri dari Rangga dan membalas semuanya, atau malah semakin terpuruk dan hancur tak bersisa?

Yuk ikuti kisah mereka selanjutnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Pertemuan Kembali.

"Baiklah, kami akan segera memproses laporan Anda."

Rania langsung mengucapkan terima kasih karena laporannya diterima, dia yang sejak tadi merasa takut dan tegang bisa sedikit bernapas lega karena telah berhasil membuat laporan.

Petugas itu kemudian memberikan Surat Tanda Terima Laporan Polisi (STTLP) sebagai bukti laporan sah yang telah dilakukan, juga menyuruh Rania untuk mengumpulkan bukti-bukti lain atau pun saksi untuk semakin memperkuat laporan yang telah di buat. Bisa juga dengan menggunakan jasa pengacara agar kasusnya berjalan lancar dan memberikan hasil yang sesuai.

"Baik, Pak. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak," ucap Rania dan dibalas dengan anggukan kepala petugas itu dan akan segera memberi kabar untuk perkembangan laporannya.

Rania berjalan keluar dengan senyum diwajahnya, dia merasa sedikit lega karena sudah melaporkan semua perbuatan Rangga dan keluarga laki-laki itu. Namun, sekarang dia merasa bingung harus pergi ke mana.

"Aku merindukan Dafa," gumam Rania, dia mendudukkan tubuhnya dikursi yang berada tepat di depan kantor polisi. "Sekarang apa yang harus aku lakukan?" Dia mendessah bingung.

Rania tidak bisa lagi kembali ke rumah Rangga, dia juga tidak bisa mengambil Dafa. Lalu, apa yang harus dia lakukan sekarang?

"Aku harus ke kantor pengacara," gumamnya. Lebih baik dia meminta bantuan pengacara agar tidak salah jalan dan supaya kasusnya bisa cepat selesai.

Rania melihat ke sana kemari untuk mencari taksi, tapi ternyata tidak terlihat ada satu pun taksi yang melintas di tempat itu. Bahkan dia juga tidak melihat angkutan umum lainnya.

"Panasnya... " gumam Rania sembari menyeka keringat yang membasahi wajah, lalu berjalan ke depan untuk mencari taksi yang mungkin melintas dipersimpangan jalan sana.

Cukup lama Rania berjalan, tapi sama sekali tidak ada taksi yang melintas. Keringat sudah banyak membanjiri wajahnya, dan tubuhnya sudah lelah terbakar matahari.

"Sebenarnya ke mana semua sih, taksi di kota ini?" ucap Rania dengan kesal. Dia ingin memesan taksi online, tetapi entah kenapa dari tadi aplikasinya tidak bisa digunakan. Dia bahkan sampai ingin membanting ponsel itu sangking lelahnya.

Di tengah kekesalan Rania, tiba-tiba ada sebuah mobil berwarna hitam pekat tampak sedang melaju ke arahnya. Dia menatap mobil itu dengan tajam, lalu mengernyit kening saat merasa jika mobil hitam itu tidak asing.

"Kayak pernah lihat mobil itu di mana yah?" Rania mencoba mengingat-ingat mobil hitam itu, sampai akhirnya mobil itu berhenti tepat di hadapannya membuat tubuhnya tersentak.

"Ke-kenzo?" ucap Rania saat melihat siempunya mobil keluar, sementara laki-laki itu tampak melihat ke arahnya dan segera mendekat.

Rania terpaku melihat kedatangan Kenzo, laki-laki yang sudah beberapa kali tidak sengaja dia temui, bahkan juga sudah berbaik hati menolongnya.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Rania terkesiap. "Sa-saya sedang mencari taksi." jawabnya canggung.

Kenzo mengangguk, kemudian melihat ke arah jalanan. "Tidak ada taksi." katanya datar, lalu kembali melihat ke arah Rania.

"I-iya, sepertinya tidak ada taksi," balas Rania dengan senyum kaku. Dia juga tahu kalau tidak ada taksi. Kalau ada, pasti dari tadi dia sudah tidak berada di sini. Entah kenapa dia jadi merasa kesal.

Kenzo terdiam, matanya memperhatikan penampilan Rania yang tampak lumayan kacau. Kenapa wanita itu selalu acak-acakan saat bertemu dengannya?

"A-anda sendiri mau ke mana?" tanya Rania. Dia melirik ke arah Kenzo yang malah diam di sampingnya.

"Ke sini," jawab Kenzo, datar dan cepat.

Rania mengernyit kening, lalu melirik ke arah perumahan yang ada di belakangnya. Apa rumah laki-laki itu di sini? Atau mungkin Kenzo ingin menemui seseorang di perumahan itu?

"Ah sudahlah, memang apa urusannya denganku." Rania menggelengkan kepala, mencoba untuk tidak ikut campur dengan urusan laki-laki itu.

"Ka-kalau gitu saya permisi duluan, yah," pamit Rania. Dia harus segera pergi dari tempat itu karena kakinya sudah tidak tahan lagi untuk berdiri.

"Mau ke mana?"

Rania yang sudah melangkah pergi menghentikan langkah kakinya. "Mau cari taksi lagi." jawabnya sembari kembali mengusap keringat yang sejak tadi tidak mau berhenti keluar.

"Ayo!" ajak Kenzo seraya berjalan kembali ke mobilnya membuat Rania terdiam bingung.

"Apa dia mengajakku pergi bersamanya?" Rania menatap bingung dan juga terheran-heran.

Kenzo yang sudah akan masuk ke dalam mobil tidak jadi membuka pintu mobilnya saat melihat Rania masih diam dan mematung di tempat. "Tidak mau ikut?" katanya tajam.

Rania mengerjap kaget. "Ke-kenapa Anda mengajak saya?" tanyanya bingung. Apalagi laki-laki itu bicara dengan singkat-singkat membuatnya sama sekali tidak mengerti.

"Cepat masuk!" perintah Kenzo, dia lalu membuka pintu mobilnya dan duduk di belakang kemudi.

Rania terbelalak, merasa aneh sekaligus kesal melihat tingkah laki-laki itu. Kenapa Kenzo seperti itu sih? Memangnya laki-laki itu tidak bisa bicara secara normal layaknya manusia pada umumnya? Lalu, kenapa pula laki-laki itu mengajaknya?

Tin!

Rania terjingkat kaget saat Kenzo menekan klakson, spontan dia mendekat ke mobil laki-laki itu sembari menatap dengan tajam.

"Cepat!" ucap Kenzo lagi dengan tidak sabar.

Rania menggertakkan gigi geram, lalu perlahan tangannya membuka pintu mobil untuk segera duduk di sana. Namun, belum sempat dia masuk mobil, tiba-tiba ada panggilan seseorang yang membuatnya kembali menoleh ke belakang.

"Tunggu, Rania!"

*

*

*

Bersambung.

1
partini
horang kayah mah bebas
gasskeeuunn lah.. saling menghancurkan nya
partini
kata keramat keluar Weh MASA LALU
aihhh macam jelangkung ga ini Thor
partini
keluarga Cemara ❤️
sehat selalu Thor
Ayu Andila: Terima kasih kakak🙏
total 1 replies
partini
ternyata ortunya bang Ken bengek juga
rangga, main yuukkk.. main fitnah2an🤭🤣
partini
babang Kenz pasti happy bangt melihat rona kecemburuan di wajah Rania
Yuliana Tunru
rangga benar2 arogan dan.pemarah trs lah bersikap bgtu hingga pengadilan tak segan2 lg menghukum krn terbukti kdrt
cinta semu
pokok ny Rania harus Badas,hempas suami durjana Rangga
cinta semu
makin seru ...apalagi baca ny sambil makan tahu kocek..woww pedas2 mantap ...pas buat nyalura. emosi Krn kubu Rangga yg suka nyolot 😂
partini
ayang Kenzo
wakwaaawwwww.. makin tegang nih pas babank kenzo datang
Cookies
seru seru, lanjut thor
davil_14
lanjut
davil_14
bagus ceritanya
Lisna Wati
lanjut
partini
kandangin aja semuanya
Ayu Andila: sekeluarga😭
total 1 replies
partini
Ken Rania lagi di awasi loh masa ga tau sih kamu
partini
Jul Jul pintar dah ketemu aja rania
partini
aduh Kenz yg perlu di dekati tuh anaknya dulu malah kaya gitu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!