Katarina Ayudia adalah siswi genius penerima beasiswa yang hidup sederhana, sementara Alarick Valerius adalah putra tunggal konglomerat sekaligus ketua geng motor yang ditakuti. Cinta mereka yang membara harus menghadapi tembok besar bernama Victoria Valerius, ibu Alarick, yang merancang fitnah keji untuk memisahkan mereka. Victoria mengancam masa depan Kate dan memanipulasi Alarick hingga pria itu percaya bahwa Kate adalah gadis oportunis yang telah mengkhianatinya dengan banyak pria.
Perpisahan pahit selama bertahun-tahun meninggalkan luka mendalam, Kate hidup dalam kemiskinan dan kerja keras demi bertahan hidup, sementara Alarick tumbuh menjadi CEO dingin yang menderita trauma psikologis berupa rasa mual hebat setiap kali menyentuh Kate karena bayangan fitnah masa lalu.
langsung baca aja dear😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Investigasi
Senin pagi itu, matahari bersinar terlalu terik untuk suasana hati Kate yang kalut. Berita di akun Elite Secret telah bermutasi menjadi teori konspirasi yang liar. Di SMA Garuda, Elara tidak lagi diam. Ia menggunakan seluruh pengaruhnya untuk melacak siapa pun yang berani berada di dekat Alarick. Dan instingnya yang tajam sebagai predator sosial membawanya ke satu kesimpulan, perempuan di foto itu memiliki gestur yang terlalu tenang, terlalu terdidik, dan sangat kontras dengan gaya anak-anak motor—dia pasti seorang gadis pintar.
Di SMA Garuda, Alarick sedang duduk di atas motornya di parkiran, dikelilingi oleh anggota geng Viper. Wajahnya datar, seolah berita yang mengguncang sekolah sama sekali tidak menarik baginya.
"Al, Elara gila," bisik Rio, tangan kanan Alarick. "Dia denger rumor kalau cewek di mal itu anak SMA Pelita karena gelang yang dia pakai mirip dengan gaya anak-anak sana. Dia sekarang menuju ke sana, Al. Dia mau melakukan inspeksi."
Alarick yang awalnya terlihat bosan, seketika menegakkan punggungnya. Matanya yang gelap memancarkan kilatan berbahaya. "Siapa yang kasih dia izin buat masuk ke wilayah Pelita?"
"Nggak ada yang bisa ngelarang dia kalau dia udah obsesi, Al. Lo tahu itu."
Tanpa sepatah kata pun, Alarick menyalakan mesin motornya. Suara raungan knalpotnya membelah keramaian parkiran, meninggalkan debu yang mengepul. Ia tidak peduli dengan jam pelajaran yang akan dimulai. Pikirannya hanya satu, Kate.
Sementara itu, di SMA Pelita, Bara Mahendra tidak tinggal diam. Ia bukan tipe orang yang meledak-ledak seperti Elara. Bara bekerja dengan logika yang dingin. Ia duduk di ruang OSIS, membandingkan foto di ponselnya dengan foto-foto kegiatan sekolah di mading digital.
"Gelang itu..." gumam Bara.
Ia memutar memori ke kejadian di kantin minggu lalu. Ia ingat betul bagaimana Kate menarik kerah bajunya untuk menutupi tanda di lehernya. Saat itu, ia melihat gelang perak tipis dengan liontin kecil berbentuk buku melingkar di pergelangan tangan Kate. Di foto paparazzi itu, meski sedikit buram, liontin itu terlihat identik.
Bara mengepalkan tinjunya hingga urat-urat di lengannya menonjol. Baginya, Kate adalah trofi yang harus ia menangkan untuk melengkapi statusnya sebagai raja sekolah. Mengetahui bahwa Kate mungkin telah disentuh oleh musuh bebuyutannya, Alarick Valerius, membuat harga dirinya hancur berkeping-keping.
"Jadi, si suci ini ternyata suka bermain api dengan sampah jalanan?" Bara tertawa sinis, sebuah tawa yang tidak mengandung kebahagiaan. "Kita lihat seberapa kuat Alarick bisa melindungimu saat semua orang tahu siapa kamu sebenarnya, Kate."
Kate sedang duduk di pojok perpustakaan yang paling tersembunyi, mencoba fokus pada soal-soal trigonometri yang rumit. Namun, suara derap langkah sepatu hak tinggi yang keras di lantai kayu perpustakaan membuatnya mendongak.
Elara berdiri di sana, dikelilingi oleh dua pengikutnya. Wajahnya yang cantik tertutup oleh riasan tebal yang kini tampak menyeramkan karena amarah. Di belakangnya, beberapa siswi SMA Pelita mengikuti dengan penasaran, termasuk Maya yang tampak bingung.
"Jadi... ini dia?" Elara menatap Kate dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan. "Si Genius Katarina Ayudia? Anak yatim piatu yang hidup dari belas kasihan beasiswa dan bibi tukang kue?"
Kate menutup bukunya dengan tenang, meski tangannya di bawah meja gemetar hebat. "Ada perlu apa, ya? Ini perpustakaan SMA Pelita, bukan tempat nongkrong SMA Garuda."
"Jangan sok berani sama gue, jalang!" Elara menggebrak meja Kate hingga beberapa buku jatuh ke lantai. "Gue tahu itu lo. Cewek yang ada di mal sama Alarick. Lo pikir dengan pakai baju mahal dan masker, lo bisa jadi putri? Lo tetep aja sampah Bitch!"
Seluruh penghuni perpustakaan berbisik. Maya menatap Kate dengan mata membelalak, tidak percaya dengan apa yang ia dengar. "Kate... itu nggak bener, kan?"
"Tunjukkan pergelangan tangan lo!" perintah Elara kasar. Ia mencoba menarik tangan Kate secara paksa. "Tunjukkan gelang lo! Gue mau buktiin kalau lo cewek murahan yang berani goda cowok gue!"
Kate mencoba menarik tangannya kembali. "Lepaskan, Elara! Kamu nggak punya hak!"
"Gue punya hak atas segala hal yang berhubungan dengan Alarick!" Elara mengangkat tangannya, siap mendaratkan tamparan keras di wajah Kate.
Namun, sebelum tangan Elara menyentuh kulit Kate, sebuah tangan lain yang jauh lebih besar dan kuat menangkap pergelangan tangan Elara di udara.
"Sentuh dia sekali lagi, dan gue nggak akan peduli kalau lo perempuan."
Suara itu rendah, berat, dan penuh ancaman. Alarick Valerius berdiri di sana, masih mengenakan jaket kulitnya yang berbau aspal. Napasnya memburu, menandakan ia baru saja berlari naik ke lantai tiga.
Elara mematung, wajahnya memucat seketika. "Al-Alarick? Kenapa kamu ada di sini? Kamu bela cewek ini?"
Alarick tidak menjawab Elara. Ia melepaskan tangan Elara dengan sentakan kasar hingga gadis itu terhuyung ke belakang. Alarick kemudian beralih ke Kate. Di depan seluruh siswa SMA Pelita yang menonton dengan mulut ternganga, Alarick berlutut di depan Kate, mengambil buku-buku Kate yang jatuh, dan meletakkannya kembali ke meja dengan sangat hati-hati.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Alarick, suaranya berubah menjadi sangat lembut, sebuah nada yang belum pernah didengar oleh siapa pun kecuali Kate.
Kate hanya bisa mengangguk pelan, air mata mulai menggenang di sudut matanya karena ketakutan dan rasa lega yang bercampur aduk.
Alarick berdiri kembali, kini ia berbalik menghadap Elara dan seluruh kerumunan di sana. Ia merangkul bahu Kate dengan sangat posesif, menariknya mendekat ke dadanya.
"Dengerin gue baik-baik, semuanya," suara Alarick menggema di seluruh ruangan perpustakaan yang mendadak senyap. "Gue nggak pernah jadi milik siapa pun, kecuali cewek ini. Dan siapa pun, gue ulangi, siapa pun yang berani ganggu dia, bikin dia nangis, atau sekadar natap dia dengan pandangan menghina, mereka bakal berurusan langsung sama gue."
Elara gemetar, air mata kemarahan mengalir di pipinya. "Tapi Al, dia cuma anak miskin! Dia nggak level sama kita!"
Alarick menyeringai sinis. "Level? Dia punya otak yang nggak bakal sanggup lo beli pakai harta orang tua lo. Dan satu lagi, Elara... jangan pernah sebut diri lo cewek gue lagi. Karena mulai detik ini, satu-satunya ratu di hidup gue cuma Katarina Ayudia."
Di ambang pintu perpustakaan, Bara Mahendra berdiri diam. Ia menyaksikan pemandangan itu dengan hati yang terbakar. Rencananya untuk membongkar rahasia Kate telah didahului oleh pengakuan publik Alarick sendiri. Alarick tidak menyembunyikan Kate karena malu, ia menyembunyikannya karena ia ingin melindunginya.
Berita itu menyebar seperti api di atas bensin. Dalam satu jam, seluruh kota tahu, Alarick Valerius, sang raja jalanan yang dingin, telah menyerahkan hatinya pada si genius dari SMA Pelita.
Alarick membawa Kate keluar dari sekolah, mengabaikan teriakan guru dan petugas keamanan. Ia membawa Kate ke tempat favorit mereka, motornya.
"Al, semuanya hancur," bisik Kate saat mereka sudah berada di parkiran yang sepi. "Sekolah, reputasiku, Bibi Sarah pasti akan tahu..."
Alarick melepas helmnya, menangkup wajah Kate dengan kedua tangannya. "Nggak ada yang hancur, Kate. Gue bakal urus semuanya. Gue bakal bicara sama bibi lo. Gue bakal pastiin beasiswa lo aman. Gue punya cara buat bungkam orang-orang itu."
"Kenapa kamu lakukan ini di depan umum?"
Alarick menatap mata Kate dalam-dalam, sebuah tatapan yang penuh dengan kejujuran yang menyakitkan. "Karena gue capek lihat lo sembunyi. Gue mau dunia tahu kalau lo milik gue, supaya mereka takut buat nyakitin lo saat gue nggak ada di samping lo."
Malam itu, Alarick tidak menyelinap lewat balkon. Ia datang lewat pintu depan rumah Kate, mengenakan kemeja rapi, membawa sebuket bunga matahari, siap menghadapi Bibi Sarah. Ia sadar, mencintai Kate berarti ia harus keluar dari bayang-bayang dan menjadi pria yang layak untuknya.
Namun di kegelapan kota, Bara Mahendra dan Elara bertemu. Sebuah aliansi gelap terbentuk. Mereka memiliki satu tujuan yang sama menghancurkan hubungan yang dianggap "suci" itu dengan cara apa pun.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading😍