Sebuah kepingan masalalu pahit dan manis tentang perjuangan hidup sebuah keluarga kecil sederhana di lereng gunung Prau. Luka yang tak bisa sembuh dan kenangan yang tak bisa di hapus, hingga pada akhirnya berdamai dengan luka dan keadaan adalah jalan terbaiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pondasi di Balik Asap Tungku
Hidup pas-pasan ternyata tidak selamanya berarti kekurangan. Meski seragam sekolahku tidak selalu baru dan sepatuku seringkali harus dijahit ulang, aku tidak pernah merasa kecil hati. Ayah dan Ibu selalu memberikan "yang terbaik" menurut versi mereka, versi yang mungkin terlihat sangat sederhana di mata orang lain, tapi bagiku adalah kemewahan yang tak ternilai harganya.
Kepulangan Ibu memang memberikan warna baru di rumah, namun anehnya, suara-suara sumbang tentang Ayah tidak serta-merta menguap. Orang-orang di desa seolah memiliki stok kebencian yang tak habis-habis, selalu mencari celah untuk merendahkan Ayah hanya karena Ibu terlihat lebih dominan dalam urusan mencari nafkah di luar kota sebelumnya. Mereka melihat permukaan, tanpa pernah mau menyelam ke dalam dasar pengorbanan Ayah.
Malam itu, gerimis turun membasahi atap seng rumah kami, menciptakan irama monoton yang dingin. Kami berempat, Ayah, Ibu, Kakak, dan Aku, duduk melingkar di depan tungku api yang menyala terang di dapur. Asap kayu bakar yang tipis membumbung, membawa aroma kehangatan yang jujur.
Ibu menatapku, lalu melirik Ayah yang sedang mengorek bara api dengan sepotong kayu. Seolah tahu apa yang sering kudengar di sekolah atau di rumah Nenek, Ibu membuka suara.
"Nok, dengarkan Ibu," ujar Ibu dengan nada yang sangat serius namun tenang. "Jangan pernah biarkan omongan orang lain membuatmu kurang menghargai Ayah. Di keluarga ini, Ayahmu tetap yang paling utama. Beliau adalah imam dan pondasi kita."
Aku terdiam, menyimak setiap kata yang keluar dari bibir Ibu.
"Ibu menghargai Ayahmu lebih dari Ibu menghargai diri Ibu sendiri," lanjutnya sambil menatap Ayah dengan penuh arti. "Kalau tidak ada Ayah yang menjagamu dan Kakak selama Ibu pergi, kalau tidak ada dia yang merawat rumah ini dengan sabar, Ibu tidak akan punya tempat tinggal yang layak untuk pulang. Ibu kerja di sana tenang karena tahu kalian ada di tangan yang tepat."
Ayah tersenyum tipis, matanya memantulkan cahaya jingga dari api tungku. Ia tampak sedikit malu, namun ada rasa bangga yang tersirat di wajahnya yang kuyu.
"Ayah memang sering direndahkan orang, Nok," sahut Ayah perlahan. "Tapi sejak Ibumu pulang, dia terus memberi Ayah semangat, tekanan yang baik, supaya Ayah tidak mudah ditindas. Dia mengingatkan Ayah untuk tetap berdiri tegak."
Ayah memindahkan sebuah ubi yang sedang dibakar di dalam abu panas. "Beginilah Ayahmu. Ayah tidak masalah orang mau bilang apa, mau menghina atau merendahkan seperti apa. Bagi Ayah, itu sudah jadi makanan sehari-hari. Ayah sudah kebal. Yang penting, kamu dan Kakak baik-baik saja, bisa makan, dan sekolah dengan benar. Itu sudah cukup bagi Ayah."
Aku melihat ke arah Kakak yang juga terdiam menyimak. Di balik kepulan asap tungku, aku menyadari sebuah kenyataan yang indah. Meski pernikahan mereka dimulai dari sebuah perjodohan, yang mungkin dulu tidak pernah mereka bayangkan, ternyata mereka telah berhasil menciptakan ruang cinta yang kokoh. Mereka tidak saling menjatuhkan, melainkan saling melindungi dan menutupi lubang satu sama lain. Itu adalah bentuk dari sebuah cinta sejati yang tulus dan paling dalam.
Ibu adalah sayap yang terbang jauh untuk mencari nafkah, dan Ayah adalah akar yang mencengkeram bumi dengan kuat agar rumah kami tidak roboh diterjang badai. Mereka adalah tim yang luar biasa.
Dalam hati, aku memanjatkan doa yang paling tulus kepada Tuhan. Aku tahu setiap manusia punya titik lelahnya, punya batas sabarnya yang suatu saat bisa retak. Aku hanya memohon, semoga Tuhan meluaskan hati Ayah agar tetap punya kesabaran yang tak bertepi, dan menguatkan punggung Ibu agar tetap tegar.
Malam itu, di depan tungku api yang mulai meredup, aku belajar bahwa kehormatan sebuah keluarga tidak ditentukan oleh seberapa banyak uang yang dihasilkan, melainkan oleh seberapa besar rasa hormat yang diberikan seorang istri kepada suaminya, dan seberapa tulus seorang ayah berkorban untuk anak-anaknya.
Aku sadar, di usiaku yang baru lima tahun ini, aku memang belum bisa memikul karung pupuk atau memanjat tebing Gunung Prau. Tapi aku bisa memberikan satu hal yang tak bisa dibeli dengan uang kiriman mana pun, rasa bangga yang tulus. Aku berjanji, setiap butir keringat Ayah dan setiap tetes air mata rindu Ibu akan kubayar dengan keberhasilan yang nyata suatu saat nanti.
Ekonomi keluarga kami mungkin masih merayap, tapi cinta kami sudah lama terbang melampaui puncak gunung. Kami mungkin tidak punya banyak hal yang bisa dipamerkan pada tetangga, tapi kami punya sesuatu yang jarang mereka miliki, sebuah rumah yang dindingnya memang berlubang, namun di dalamnya tak pernah bocor oleh pengkhianatan dan keputusasaan.
Malam semakin larut, dingin pegunungan menusuk sela-sela dinding, tapi di dalam dadaku, ada api yang terus menyala, api yang sama dengan yang ada di tungku tadi. Api yang akan terus kubawa untuk menerangi jalan masa depanku, membuktikan pada dunia bahwa anak kecil dari rumah berdinding bambu ini, kelak akan menjadi kebanggaan bagi akar yang kuat dan sayap yang tegar.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰