Elara Vance mengira hidupnya di London akan tenang setelah lulus kuliah seni. Namun, satu kesepakatan rahasia ayahnya menyeret Elara ke dunia Julian Moretti—pengusaha muda dengan pengaruh luar biasa yang gerak-geriknya selalu dipenuhi misteri. Demi melindungi keluarganya, Elara setuju untuk masuk ke dalam sebuah pernikahan kontrak.
Julian itu dingin dan penuh kendali, namun ia memiliki satu aturan: tidak boleh ada yang menyentuh Elara selain dirinya. Di balik kemewahan mansion Moretti, Elara harus mencari tahu siapa pria itu sebenarnya, sambil menyembunyikan cincin rahasia di jarinya yang menjadi tanda bahwa ia adalah milik sang penguasa bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: PIKSEL YANG TERSERAK
Julian membawa Elara ke sebuah gedung tua di kawasan industri yang tenang. Di lantai paling atas, terdapat sebuah studio dengan jendela besar yang menghadap ke arah cakrawala London. Ruangan itu penuh dengan kanvas kosong, bau minyak cat yang khas, dan debu yang menari di bawah cahaya sore.
"Ini tempat apa?" tanya Elara, suaranya bergema di ruangan yang sunyi.
"Studio pribadimu," jawab Julian—atau J—sambil meletakkan tas di sudut. "Kau selalu bilang, saat dunia terasa terlalu bising, kau hanya butuh warna untuk membuatnya diam."
Elara berjalan perlahan, jemarinya menyentuh permukaan kanvas yang kasar. Ia merasakan getaran aneh di ujung jarinya. Tubuhnya mengenali tempat ini, meski otaknya menolak memberikan gambar yang jelas.
"Cobalah melukis," ucap Julian lembut. Ia menyiapkan palet dan beberapa tube cat. "Mungkin itu bisa membantumu... merasa lebih baik."
Elara ragu sejenak, lalu mengambil kuas.
Awalnya, gerakannya kaku. Namun, perlahan-lahan, tangan itu bergerak sendiri. Ia mulai menggoreskan warna biru tua dan abu-abu, membentuk langit yang mendung.
Julian memperhatikan dari kejauhan, dadanya terasa sesak. Ini adalah pemandangan yang paling ia rindukan: Elara yang tenggelam dalam dunianya sendiri.
Deg.
Tiba-tiba, mata digital Elara berdenyut. Sebuah residual echo menghantam.
Bukan lagi sekadar bayangan. Kali ini, itu adalah suara.
"Elara, lihat aku. Jangan lihat darahnya. Lihat mataku."
Tangan Elara gemetar. Ia tidak sengaja menumpahkan cat merah di atas kanvas biru tersebut. Warna merah itu mengalir seperti... darah.
Glitch memori itu meledak lebih kuat.
Elara melihat kilasan Julian yang berdiri di atas seseorang yang tergeletak. Julian memegang pistol. Wajah Julian penuh jelaga, tampak seperti monster yang diceritakan Kael.
"Agh!" Elara menjatuhkan kuasnya, memegangi kepalanya yang berdenyut hebat.
"Elara? Ada apa?" Julian berlari mendekat, mencoba menopang tubuh Elara.
"Jangan sentuh aku!" Elara mendorong Julian dengan tenaga yang luar biasa, matanya menatap Julian dengan ketakutan yang murni. "Aku mengingatnya... aku ingat kau memegang senjata. Aku ingat kau berdarah.
Kau... kau membunuh seseorang, kan?"
Julian terpaku. Elara mengingat kejadian di pelabuhan, tapi tanpa konteks. Dia ingat Julian yang tampak mengerikan, tapi dia tidak ingat bahwa Julian melakukannya untuk menyelamatkannya. Chip itu telah membuang "alasan" dan hanya menyisakan "visual yang traumatis".
"Elara, itu tidak seperti yang kau bayangkan. Aku—"
"Berhenti berbohong!" Elara mundur hingga menabrak rak kanvas. "Kael benar. Kau adalah monster yang mencoba berpura-pura menjadi malaikat pelindungku. Setiap kali aku mencoba mengingatmu, yang kurasakan hanya rasa sakit dan bau besi!"
Elara menatap lukisan yang rusak itu. Warna merah yang berantakan di atas warna biru yang damai. Itu adalah metafora hidupnya: Julian adalah noda darah yang merusak kedamaiannya.
"Aku ingin pergi dari sini," ucap Elara, suaranya dingin dan tajam. "Jangan pernah membawaku ke tempat ini lagi. Aku benci melihatmu. Aku benci bagaimana tubuhku gemetar setiap kali kau ada di dekatku."
Julian berdiri diam di tengah studio yang kini terasa seperti medan perang. Ia melihat Elara pergi dengan tergesa-gesa, meninggalkannya sendirian di antara lukisan yang belum selesai.
Ia menyadari satu hal yang paling menyakitkan: usahanya untuk mengembalikan memori Elara justru menjadi senjata bagi Kael. Karena bagi Elara yang sekarang, Julian Moretti adalah tokoh antagonis dalam cerita yang fragmennya sedang ia susun kembali.
Di layar ponsel Elara yang tertinggal di meja, sebuah notifikasi masuk dari Kael:
"Sudah kubilang, bukan? Masa lalu itu menyakitkan. Kemarilah, Elara. Aku punya penawar untuk rasa sakitmu."