Setelah Addam mendapat pesan aneh dari sahabat Astrid–adik tirinya, Addam memutuskan untuk mencari tahu kejadian sebenarnya yang dialami oleh adiknya itu.
Untungnya Addam tidak sendirian. Dalam upayanya menjalankan rencananya, Addam ditemani dan diberi bantuan oleh Naya, sahabat Astrid yang mengabarinya pesan aneh itu. Bukan hanya mereka berdua, seorang teman Addam yang bernama Mahesa juga ikut membantu mereka mencari Astrid.
Langkah demi langkah sulit harus ditempuh oleh Addam, Naya, dan Mahesa hingga mereka menemukan kebenaran yang tak pernah mereka duga.
Akankah mereka semua pada akhirnya bisa menemukan Astrid setelah banyak jalan dan rintangan yang dilalui?
Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?
Bagaimana mereka menjalani kembali hari-hari mereka setelah kejadian besar itu terungkap?
🍀🍀🍀
Cerita ini fiksi. Jika terdapat kemiripan nama, lokasi, ataupun peristiwa dalam cerita, mohon dimaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rin Arunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Saksi
Ketika Bagus akan hampir tiba di ruangannya, dari kejauhan ia bisa melihat seorang pria dengan jaket lusuh baru saja keluar dari ruangan tim mereka.
Dengan langkah cepatnya, Bagus segera memasuki ruang kerjanya dan melancarkan pertanyaan tentang pria itu.
“Lan. Tadi siapa?” tanya Bagus.
“Namanya Pak Rajiman, dia katanya tunawisma yang sering ke sekitar TKP pertama, Pak. Pertamanya dia nyariin Mahesa, tapi dia lanjut buat ngasih keterangan kalau di sana ada mobil yang sudah beberapa hari terparkir,” jawab Wulan sambil mengoperasikan komputer di hadapannya.
Kedua alis Bagus tertaut begitu ia mendengar ucapan Wulan. “Nyari si Mahesa? Kenapa? Terus, dia nemu mobil di mana?”
Wulan: “Katanya dia punya sesuatu yang penting buat Mahesa. Terus kalau mobil itu ada di gedung bekas sekolahan di dekat waduk itu, Pak.”
Bagus: “Kamu gak bilang ke dia kalau di sini bisa simpan titipannya buat si Mahesa?
Wulan: “Sudah, Pak. Tapi dia nolak. Katanya harus Mahesa yang terima langsung...”
Bagus: “Terus kata dia apa yang aneh sama mobil itu?”
Wulan: “Katanya, dulu Pak Rajiman itu sempet lihat pria yang keluar dari mobil itu, sama cewek, tapi dengan gelagat yang aneh. Rupanya orang yang dilihat Pak Rajiman adalah korban pertama, Pak”
Bagus: “Ya Tuhan… Tapi bukannya waktu itu pas penyelidikan di sana, gak ada nemuin mobil terparkir, ya?
Wulan: “Memang, Pak. Pak Rajiman bilang kalau setelah itu si pria langsung pergi lagi pakai mobil itu. Tapi tanpa diduga, Pak Rajiman ngelihat mobil itu lagi udah terparkir di sana…”
Bagus: “Ya udah, kita cepet cek ke sana. Terus, si Mahesa udah dateng?”
Wulan menggeleng. “Belum,” katanya pelan.
“Suruh langsung ke sana aja. Kita ketemu di sana. Dan ajak si Gilang juga. Mana si Gilang?” Bagus mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.
“Dia, lagi di toilet, Pak. Katanya perutnya sakit…”
Bagus menghela nafas. “Oke. Kalo gitu saya pergi duluan. Segera nyusul, ya.”
“Siap, Pak” jawab Wulan.
#
Tok! Tok!
Pintu itu diketuk oleh seseorang di luar sana.
“Misi, Pak,” tanpa menunggu jawaban, Eko segera membuka pintu kayu berwarna coklat tua itu.
“Eh, Mas. Cepet banget,” Alden tampak buru-buru menutup laptop yang tadi masih ia gunakan.
Eko tersenyum canggung. “Anu… Saya gak tenang kalau dinanti-nanti, Pak.”
“Printernya tolong simpan di sini ini ya,” Alden menunjuk sebuah meja kecil yang berada tepat di sebelah meja kerjanya.
“Iya Pak,” Eko menuruti ucapan Alden. Printer yang ada dipangkuannya lalu diletakkannya di atas meja kayu kecil itu.
Saat itu, tanpa sengaja Eko melihat sehelai kertas yang tergeletak di dekat kaki kursi Alden. Eko lalu mengambil kertas itu dan menyerahkannya pada Alden.
“Pak. Ini, ada yang jatuh…” kata Eko.
“Oh. Makasih Mas Eko,” kata Alden sambil menyambar uluran kertas dari tangan Eko.
Tanpa sengaja, pandangan Eko menangkap tulisan 'Editor Nayana Anindya' pada kertas yang diserahkannya pada Alden barusan.
“Kasihan lho Bu Naya,” ucap Eko tiba-tiba.
Mendengar ucapan Eko, Alden tentu keheranan. “Maksudnya?”
“Temennya yang jadi penulis juga, hilang kabar, udah lama.” ucapan Eko tersendat-sendat, antara tak yakin dan tak ingin bercerita lebih banyak.
“Hilang kabar? Siapa? Kok saya gak tahu?” Alden bertanya lebih banyak.
“Namanya Astrid, Pak. Katanya udah beberapa hari ini lagi dicariin sama Bu Naya. Katanya...” Eko menekankan kalimat terakhir seolah menegaskan bahwa dirinya sendiri juga tak yakin dengan ucapannya.
“Astaga...” Alden menutup mulutnya yang ternganga. “Kasihan banget ya. Semoga dia cepet ngabarin lagi...”
“Mudah-mudahan aja ya, Pak. Eng—saya permisi ya, Pak.” Eko segera berbalik meninggalkan ruangan Alden.
Printer yang tadi dibawa Eko kini tersimpan rapi sesuai permintaan Alden.
“Ya. Makasih Mas Eko.”
Alden menyandarkan kembali punggungnya di kursi. Kertas itu kini disimpannya di meja, gantian ponselnya yang ia raih.
Pesan yang baru saja masuk ke ponselnya itu kini menjadi fokusnya.
Naya || Siang Pak Alden. Baik Pak, saya coba hubungi lagi penulis tersebut. Kabar terakhir yang saya dapat, dia memang sedang ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Terima kasih, Pak..
Dahi Alden tampak mengernyit. Sebuah pertanyaan besar baru saja tumbuh di benak pria itu.
‘Sepenting apa urusan si penulis sampai ia tidak bisa dihubungi bahkan oleh editornya sendiri?’
#
Di lain tempat, Wulan dan Gilang terlihat turun dari mobil hitam yang baru saja berhenti.
Kedua orang itu kini berjalan cepat menuju sebuah gedung tua yang cukup bobrok. Temuan terbaru mereka lah yang mengantarkannya ke tempat itu.
Di sana, sudah ada Mahesa dan Bagus yang terlebih dulu tiba dan mengamankan lokasi.
“Kita tunggu tim forensik. Temuan ini gak pernah masuk ke laporan sebelumnya,” kata Bagus sambil menyilang tangan di dada.
Keempat orang detektif itu kini tengah sibuk mengamati mobil hitam yang berada di balik dinding bangunan bobrok itu. Keberadaan mobil itu jelas mengundang kecurigaan mereka setelah pengakuan yang diberikan Pak Rajiman.
Tim forensik yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Mereka sigap melakukan tugasnya dengan teratur, nyaris tanpa kendala.
“Pak...!” teriak Deni, salah seorang petugas forensik yang saat itu bertugas di TKP.
Bagus, Mahesa, Wulan dan Gilang terlihat kompak mendekati panggilan itu.
“Ada apa, Pak Deni?” tanya Bagus.
Deni yang tadi memanggil Bagus hanya terdiam mematung. Tapi meski tak ada kata yang terucap, kedua matanya seolah tengah berkata ‘lihat ke arah sana’.
Dan seperti memahami diamnya Deni, Bagus serta ketiga timnya sama-sama menatap ke dalam kabin mobil. Di sana, mereka mendapati pemandangan yang cukup mengejutkan; sebuah foto polaroid berukuran kecil yang menunjukkan potret sepasang pria dan wanita. Sayangnya, foto itu tampak sangat rusak sehingga sulit untuk mengenali wajah pria berambut pendek yang berada di sebelah wanita itu.
Ketika Mahesa melongok masuk ke dalam kabin mobil itu, dirinya merasa déjà vu dan memorinya seolah berkata ‘Aku tahu tempat ini. Aku pernah melihatnya.’
Dan untuk menjaga ingatannya itu, Mahesa mengambil beberapa potret kabin mobil yang memicu perasaan aneh yang baru saja dirasakannya itu.
“Ini?!” kedua mata Bagus melotot seraya mengambil foto polaroid itu. Bagus kemudian memperlihatkan foto itu pada ketiga anggota timnya.
“Ini bukannya korban yang ditemukan mengambang di waduk itu, ya?” ucap Gilang spontan.
“Betul, Lang” sahut Mahesa. “Tapi pria ini siapa?”
Selain temuan foto polaroid itu, ditemukan juga sebuah kartu tol elektronik, struk belanja, dan sebuah botol minum yang isinya masih bersisa.
Bagus segera meminta tim forensik untuk mengamankan semua barang bukti berharga itu. “Pak Deni, nanti tolong secepatnya kabari saya, ya?”
“Siap, siap. Nanti kalau hasil pemeriksaan sudah keluar, saya segera hubungi Pak Bagus!”
“Terima kasih banyak...!”
Raut wajah Bagus, Mahesa, Gilang dan Wulan tampak sangat cerah. Temuan besar itu seolah memantik kembali api semangat mereka yang nyaris padam.
Bagus dan Mahesa kembali berada dalam satu mobil yang sama sementara Gilang dan Wulan berada di mobil lain, sesuai dengan bagaimana mereka datang ke lokasi itu.
“Sa. Kamu dititipin apa sama Pak Rajiman?” tanya Bagus dengan wajah datar.
“Pak Rajiman? Tidak ada, Pak. Saya malah belum ketemu sama orang itu...” jawab Mahesa tanpa melirik Bagus, ia hanya fokus pada kemudi di tangannya.
Mendengar jawaban Mahesa, tak ada lagi ucapan atau pertanyaan yang keluar dari mulut Bagus. Pria itu memilih diam dan tak mengatakan apapun sampai mereka tiba kembali ke tempat kerja mereka.