Dalam hujan deras yang menyesakkan, Yuki berlari menyelamatkan diri bersama bayi perempuannya, Ai Chikara, dari masa lalu yang mengancam nyawa mereka. Sebuah kecelakaan di tengah pelariannya justru mempertemukannya dengan Kai, pria asing yang tanpa ragu memberi perlindungan.
Di rumah keluarga Kai, Yuki dan bayinya menemukan kehangatan, perawatan, dan rasa aman yang belum pernah mereka rasakan. Di balik sikap dingin Kai dan kelembutan ibunya, perlahan tumbuh ikatan yang tak terduga—ikatan yang mungkin mampu menyembuhkan luka, sekaligus mengubah takdir mereka.
Namun, saat malam hujan berlalu, bayang-bayang masa lalu Yuki belum tentu ikut menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Detik Ketika Kai Tidak Lagi Berpaling
Malam semakin larut.
Di lorong lantai dua, langkah Kai terhenti.
Ia berdiri diam, satu tangannya masih berada di saku celana, wajahnya datar seperti biasa. Namun matanya—tajam, waspada—menatap ke arah pintu kamar tamu yang sedikit terbuka.
Ada sesuatu yang salah.
Bukan suara.
Bukan gerakan mencurigakan.
Melainkan… perasaan.
Kai telah hidup terlalu lama dalam dunia gelap untuk mengabaikan naluri seperti itu.
Ia menoleh ke arah penjaga yang berdiri beberapa meter darinya dan mengangkat satu jari—isyarat diam. Penjaga itu mengangguk, mundur tanpa suara.
Kai melangkah perlahan mendekati pintu kamar.
Dari celah kecil itu, ia melihat Yuki.
Wanita itu duduk di tepi ranjang, tubuhnya sedikit membungkuk, satu tangan memeluk bayi, satu lagi mencengkeram baju sendiri. Bahunya naik turun tidak teratur. Rambutnya melekat di leher karena keringat.
Dan yang paling jelas—
napasnya kacau.
Kai menegang.
“Itu bukan mimpi buruk biasa,” gumamnya dalam hati.
Ia pernah melihat ekspresi itu sebelumnya.
Di wajah para korban penyiksaan.
Di mata orang-orang yang pikirannya dikurung masa lalu.
Serangan panik.
Kai membuka pintu sepenuhnya, namun tidak langsung masuk.
Ia mengetuk pelan. Satu kali.
Yuki tersentak.
Matanya membelalak, tubuhnya refleks memeluk bayi lebih erat. Ketakutan langsung menguasai wajahnya.
Kai segera mengangkat kedua tangannya sedikit, memperlihatkan telapak tangannya—gerakan refleks yang jarang ia lakukan.
“Yuki,” ucapnya pelan. Nada suaranya rendah, stabil. “Ini aku.”
Yuki menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Beberapa detik berlalu sebelum ia benar-benar mengenali sosok di depannya.
“K-Kai…?” suaranya nyaris tak terdengar.
Kai melangkah masuk perlahan, memastikan setiap gerakannya terlihat jelas dan tidak mengancam.
“Aku dengar kamu terbangun,” katanya. “Kamu tidak apa-apa?”
Itu pertanyaan sederhana.
Namun bagi Yuki, itu seperti pintu yang terbuka terlalu lebar.
Tubuhnya bergetar hebat.
“A-aku…” napasnya terhenti. “Aku tidak bisa… bernapas…”
Kai langsung berlutut di hadapannya, menjaga jarak satu lengan—cukup dekat untuk membantu, cukup jauh agar tidak menakutinya.
“Lihat aku,” katanya lembut, tapi tegas. “Fokus ke suaraku.”
Yuki menggeleng, air mata jatuh deras.
“Aku takut… aku merasa… dia ada di sini…” suaranya pecah.
Kai tidak bertanya siapa “dia”.
Ia sudah tahu.
“Yuki,” Kai menurunkan suaranya lebih dalam, lebih stabil. “Kamu aman. Tidak ada siapa pun di rumah ini yang bisa menyentuhmu tanpa izinku.”
Nada itu bukan janji kosong.
Itu pernyataan fakta.
Namun Yuki masih gemetar.
Kai memperhatikan bayi di pelukan Yuki, Ai Chikara yang mulai menggeliat karena merasakan ketegangan ibunya.
“Kita atur napas dulu,” kata Kai. “Ikuti aku. Tarik napas… perlahan.”
Ia mencontohkan.
Satu tarikan panjang.
Satu hembusan pelan.
Awalnya Yuki gagal. Napasnya masih tersengal.
Kai tidak memaksanya.
“Tidak apa-apa,” katanya. “Pelan saja. Tidak perlu sempurna.”
Beberapa detik kemudian, Yuki mencoba lagi.
Kali ini, napasnya sedikit lebih panjang.
Kai mengangguk kecil.
“Bagus.”
Tangannya terangkat sedikit, lalu berhenti di udara.
“Bolehkah aku mendekat?” tanyanya singkat.
Yuki menatapnya ragu. Namun tatapan Kai tidak berubah tidak ada tekanan, tidak ada tuntutan.
Yuki mengangguk pelan.
Kai bergeser sedikit lebih dekat, lalu duduk bersila di lantai.
“Pegang tanganku,” katanya.
Yuki ragu sejenak, lalu dengan tangan gemetar, ia menyentuh jari Kai.
Hangat.
Stabil.
Tidak kasar.
Air matanya kembali mengalir.
“Aku takut kehilangan kendali,” bisiknya. “Aku takut menyakiti anakku…”
Kai langsung menjawab, tanpa ragu, tanpa basa-basi.
“Kamu tidak akan.”
Nada itu membuat Yuki menatapnya.
“Orang yang takut menyakiti anaknya,” lanjut Kai, “adalah orang yang paling kecil kemungkinannya melakukannya.”
Yuki terisak.
“Aku merasa lemah…”
“Tidak,” Kai menyela. “Kamu bertahan.”
Kalimat itu sederhana.
Namun menghantam tepat di jantung Yuki.
Kai berdiri, lalu mengambil selimut tipis dari kursi di sudut kamar.
“Boleh aku menggendong Ai sebentar?” tanyanya.
Yuki terkejut.
“Kamu…?”
“Aku tidak akan lama,” kata Kai. “Kamu butuh kedua tanganmu untuk menenangkan diri.”
Yuki menatap bayinya, lalu kembali ke Kai.
Entah kenapa… ia percaya.
Dengan hati-hati, Yuki menyerahkan Ai Chikara.
Kai menerima bayi itu dengan canggung yang nyaris tidak terlihat. Tubuhnya kaku, tapi pegangannya aman. Ia mengayun sangat pelan, hampir tak bergerak.
Ai Chikara tidak menangis.
Justru kembali tertidur.
Kai sedikit terkejut, namun tidak menunjukkannya.
“Kamu lihat?” kata Kai. “Dia tenang.”
Yuki menutup mulutnya, air matanya jatuh lagi—kali ini bukan karena takut, tapi karena lega.
“Aku…” napasnya kini lebih teratur. “Aku pikir aku sudah gila.”
Kai menggeleng.
“Trauma tidak membuatmu gila,” katanya. “Trauma membuatmu bertahan dengan cara yang salah.”
Ia menatap Yuki, tajam namun tidak dingin.
“Dan itu bisa diperbaiki.”
Sunyi menyelimuti kamar.
Hanya suara napas bayi.
“Kenapa kamu peduli?” tanya Yuki tiba-tiba, suaranya serak.
Kai terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung menjawab.
“Ada hal-hal,” katanya akhirnya, “yang tidak bisa kutoleransi.”
“Termasuk?” Yuki menatapnya.
Kai menatap ke arah jendela.
“Laki-laki yang menyakiti wanita dan anak.”
Nada suaranya berubah.
Lebih gelap.
Lebih dingin.
Yuki menggigil—bukan karena takut, tapi karena merasakan sesuatu yang besar dan berbahaya berada di balik ketenangan pria itu.
“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya,” kata Kai. “Tapi satu hal pasti—selama kamu di sini, malam tidak akan menyentuhmu.”
Ia mengembalikan Ai Chikara ke pelukan Yuki.
Bayi itu tetap tertidur.
Kai berdiri.
“Jika kamu terbangun lagi,” katanya sebelum pergi, “jangan ragu memanggil. Aku tidak tidur malam ini.”
Yuki menatap punggung Kai saat ia melangkah keluar kamar.
Untuk pertama kalinya sejak lama…
ketakutan itu tidak sepenuhnya menguasainya.
Dan di lorong gelap rumah itu, Kai berdiri lama—wajahnya tanpa ekspresi, namun pikirannya sudah bergerak jauh.
Serangan panik itu bukan hanya luka.
Itu tanda bahwa masa lalu Yuki akan segera menuntut balasan.
Dan Kai…
tidak berniat membiarkannya datang tanpa harga.
Lampu kamar hanya menyala redup.
Cahaya kuningnya jatuh lembut di dinding, membuat bayangan bergerak pelan setiap kali tirai bergoyang tertiup angin malam.
Yuki duduk bersandar di kepala ranjang.
Ai Chikara tertidur di pelukannya, napas kecil bayi itu teratur—kontras dengan detak jantung Yuki yang masih belum sepenuhnya tenang.
Kai berdiri di dekat jendela, punggungnya menghadap Yuki. Tangannya bersedekap, rahangnya mengeras, seperti sedang menahan sesuatu yang tidak ia biarkan keluar.
Beberapa menit berlalu dalam diam.
Yuki akhirnya membuka suara.
“Maaf…”
Kai menoleh perlahan. “Untuk apa?”
“Saya… membangunkanmu. Merepotkanmu.” Suaranya lirih, hampir seperti berbisik.
Kai mendekat dua langkah, lalu berhenti. “Kamu tidak merepotkan.”
Yuki tersenyum kecil, pahit. “Semua orang bilang begitu… sebelum akhirnya pergi.”
Kai menatapnya tajam. “Aku tidak semua orang.”
Keheningan kembali turun.
Yuki menunduk, jemarinya memainkan ujung selimut. “Aku tidak bermaksud terlihat lemah.”
“Kamu tidak terlihat lemah,” jawab Kai cepat.
Yuki menatapnya. “Aku gemetar. Aku tidak bisa bernapas. Aku bahkan takut pada bayanganku sendiri.”
“Itu bukan kelemahan,” kata Kai, suaranya rendah tapi pasti. “Itu reaksi tubuh yang pernah disakiti terlalu lama.”
Yuki menghela napas panjang. “Setiap malam… rasanya sama. Aku selalu berpikir sudah aman, tapi pikiranku tidak pernah percaya.”