Di dunia tempat kekuatan adalah hukum dan kelemahan adalah dosa, Qiu Liong hanyalah sampah sekte murid buangan dengan akar spiritual retak, bahan ejekan, dan simbol kegagalan.
Ia dihina, dipermalukan, bahkan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.
Namun takdir berputar ketika ia menemukan Inti Kekosongan Tanpa Batas, warisan kuno dari dewa yang telah musnah. Kekuatan itu bukan sekadar energi… melainkan kemampuan untuk menembus hukum langit, menelan takdir, dan menciptakan ulang realitas.
Dari seorang pecundang yang diinjak-injak, Qiu Liong bangkit.
Ia akan merobek langit. Menghancurkan para dewa. Dan memahat namanya sebagai legenda yang tak akan pernah pudar.
Karena ketika dunia menertawakannya…
ia diam-diam sedang belajar menjadi tak terbatas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Bunuh Diri
Tiga hari setelah insiden di tangga batu, nama Qiu Liong kembali disebut di Balai Tugas Sekte Awan Biru.
Balai itu tidak semegah Balai Utama, namun aura di dalamnya lebih menekan. Papan kayu besar dipenuhi gulungan misi, dari yang sederhana seperti mengumpulkan ramuan, hingga yang berlabel merah berbahaya.
Qiu Liong berdiri di depan meja tetua pengawas dengan perban tipis masih melingkar di pelipisnya.
“Qiu Liong,” ucap Tetua Pengawas tanpa mengangkat kepala. “Ada tugas yang belum ada sukarelawan.”
Beberapa murid luar yang berdiri di sekitar saling bertukar pandang.
Tugas tanpa sukarelawan jarang berarti sesuatu yang baik.
“Apa tugasnya, Tetua?” tanya Qiu Liong tenang.
Tetua itu akhirnya mengangkat wajahnya. Tatapannya tajam, namun sulit ditebak apakah ada niat tersembunyi di baliknya.
“Pergi ke Hutan Kabut Hitam di lereng utara. Selidiki hilangnya dua murid luar yang dikirim seminggu lalu. Jika memungkinkan, bawa mereka kembali.”
Bisikan langsung terdengar di ruangan.
“Hutan Kabut Hitam?”
“Itu wilayah binatang buas tingkat dua…”
“Bahkan murid inti pun jarang ke sana sendirian.”
Tetua Pengawas menambahkan, “Laporan terakhir menyebutkan ada jejak Serigala Bayangan dewasa di sana.”
Serigala Bayangan.
Makhluk buas yang mampu menyatu dengan kabut, bergerak tanpa suara, dan menyerang dari titik buta.
Bagi murid luar dengan kultivasi stabil pun, itu ancaman serius.
Bagi Qiu Liong?
Itu hampir pasti kematian.
“Karena ini tugas berisiko tinggi,” lanjut tetua itu, “imbalan kontribusi sekte akan dilipatgandakan.”
Tak ada yang bergerak maju.
Sunyi memenuhi ruangan.
Semua orang tahu ini bukan misi biasa.
Ini adalah misi yang biasanya diberikan pada mereka yang dianggap bisa diabaikan jika gagal kembali.
Tatapan beberapa murid perlahan mengarah pada Qiu Liong.
Seseorang berbisik pelan, cukup terdengar, “Cocok untuknya.”
Qiu Liong menatap papan misi itu lama.
Hutan Kabut Hitam.
Wilayah terlarang bagi murid luar.
Tempat di mana banyak yang tak pernah kembali.
Ia tahu betul.
Ini bukan kebetulan.
Ini cara halus untuk menyingkirkan beban tanpa perlu mengusirnya secara langsung.
“Bagaimana?” tanya Tetua Pengawas, suaranya netral.
Qiu Liong menarik napas dalam.
Jika ia menolak, ia akan semakin dipandang rendah.
Jika ia menerima…
ia mungkin tak akan kembali.
Namun bukankah ia sudah berdiri di tepi jurang sejak lama?
Apa lagi yang bisa diambil darinya?
“Aku akan pergi,” jawabnya akhirnya.
Ruangan hening.
Beberapa murid tampak terkejut, beberapa tersenyum tipis.
Tetua Pengawas mengangguk pelan. “Berangkat besok pagi. Kau boleh memilih satu senjata tambahan dari gudang murid luar.”
Qiu Liong memberi hormat.
Saat ia berbalik meninggalkan balai, suara tawa kecil kembali terdengar.
“Misi bunuh diri…”
“Setidaknya sekte akan lebih tenang tanpa dia.”
Langkah Qiu Liong tidak terhenti.
Di luar, angin sore berembus membawa aroma dedaunan dan tanah lembap.
Langit tampak lebih luas dari biasanya.
Ia berhenti sejenak di halaman kosong, memandang puncak gunung tempat paviliun murid inti berdiri megah.
Apakah ini cara sekte mengujinya?
Atau sekadar membuangnya?
Tangannya mengepal perlahan.
Jika ia mati di Hutan Kabut Hitam, namanya akan hilang begitu saja.
Namun jika ia kembali…
ia tak lagi sekadar pecundang yang bertahan.
Ia akan menjadi seseorang yang selamat dari kematian.
Angin menyentuh wajahnya yang masih menyisakan bekas luka.
Untuk pertama kalinya sejak lama, rasa takut muncul jelas di dalam dadanya.
Bukan takut pada binatang buas.
Bukan takut pada hutan gelap.
Melainkan takut bahwa ia benar-benar tidak cukup kuat.
Ia menutup mata sejenak.
“Jika ini memang jurang,” gumamnya pelan, “maka biarkan aku jatuh sejauh mungkin.”
Karena terkadang, hanya dengan menyentuh dasar terdalam,
seseorang bisa menemukan kekuatan untuk bangkit lebih tinggi.
Esok pagi, Qiu Liong akan melangkah ke Hutan Kabut Hitam.
Sendirian.
Dan mungkin untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
ia benar-benar akan menghadapi batas antara hidup dan mati.
jangan bikin kecewa ya🙏💪