Slamet, seorang pengangguran yang hobi main game dan punya utang pinjol (pinjaman online) di 12 aplikasi berbeda, saking frustasinya, dia mencoba melakukan ritual pesugihan yang dia temukan di grup Facebook "Cepat Kaya Tanpa Kerja".
Bukannya dapat emas setumpuk, Slamet malah salah kirim sesajen. Dia malah melakukan kontrak kerja dengan Koperasi Makhluk Halus Nasional. Ternyata, dunia ghaib sedang mengalami krisis eksistensi karena manusia zaman sekarang sudah tidak takut setan (lebih takut tagihan cicilan).Slamet tidak jadi tumbal, tapi dipekerjakan sebagai "Manager Citra & Viralitas" untuk hantu-hantu lokal supaya mereka bisa eksis lagi di TikTok dan menakuti manusia modern. Komedinya muncul dari Slamet yang harus mengajari Kuntilanak cara skincare-an biar nggak kusam saat live streaming, atau Pocong yang minta dicarikan jasa lari maraton karena bosan lompat terus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Politik Alam Baka
Baru saja Slamet ingin menikmati sesuap bubur ayam yang hangat yang ayamnya beneran ayam, bukan jelmaan siluman HP-nya kembali bergetar. Tapi kali ini getarannya berbeda. Bukan getaran halus, tapi getaran yang membuat sendok di tangannya ikut berdenting.
[Pesan dari Pak Gendut: "Met, buruannya abisin buburnya. Nyai sudah di kantor. Kita dapet proyek raksasa. Kalau sukses, utang pinjol lo bukan cuma lunas, tapi lo bisa beli aplikasinya sekalian. Buruan ke kantor!"]
Slamet menatap Arini yang sedang asyik mengaduk bubur (Arini tim bubur diaduk, sementara Slamet tim tidak diaduk perbedaan prinsipil pertama mereka).
"Rin, kayaknya sarapan kita harus dipersingkat. Panggilan kerjaan," keluh Slamet.
Arini mengelap mulutnya dengan tisu. "Tenang, Mas. Sebagai asisten sekaligus 'Aset Strategis', aku udah siap. Kali ini hantu mana lagi yang mau kita glow-up?"
Mereka sampai di kantor K.MN Regional Jakarta Timur yang kini sudah pindah ke sebuah penthouse mewah di atas gedung yang "katanya" angker di daerah Kuningan. Di sana, Nyi Blorong sudah menunggu bersama seorang pria bertubuh tegap, memakai kemeja safari putih, tapi wajahnya tertutup kabut tipis.
"Slamet, kenalkan. Ini adalah Bapak Ki Ageng Metro," kata Nyi Blorong. "Beliau adalah calon Gubernur Ghaib DKI Jakarta periode 2026-2031. Beliau butuh tim sukses yang paham cara kerja otak manusia zaman sekarang."
Ki Ageng Metro menjabat tangan Slamet. Tangannya dingin seperti es batu yang baru keluar dari freezer. "Saya dengar kamu bisa bikin Pocong jadi viral. Saya mau kamu bikin saya terpilih jadi Gubernur. Saingan saya berat, Slamet. Dia adalah 'Tuan Meneer', hantu Belanda yang mau mengubah Jakarta jadi Batavia lagi. Dia janjikan banjir hilang dengan cara menyedot airnya ke dimensi lain, tapi dia mau rakyat ghaib kita kerja rodi lagi."
Slamet duduk di sofa kulit yang sangat empuk. "Pak Ki Ageng, politik di dunia ghaib itu biasanya gimana? Pake serangan fajar juga?"
"Lebih parah, Met," sahut Pak Gendut yang tiba-tiba muncul sambil membawa tumpukan berkas. "Di sini serangannya pake 'Serangan Sesajen'. Lawan kita bagi-bagi kemenyan impor kelas satu dan darah ayam cemani organik ke setiap RT (Rukun Tuyul) dan RW (Rukun Wewe). Kita nggak punya budget segitu gede buat main politik uang... eh, politik sesajen."
Slamet terdiam, otaknya mulai berputar cepat. Dia menoleh ke Arini. "Rin, gimana menurut kamu?"
Arini mengeluarkan tabletnya, jari-jarinya menari di atas layar. "Menurut riset saya, pemilih ghaib di Jakarta itu mayoritas adalah 'Gen-Z Ghaib' arwah-arwah yang baru meninggal di bawah tahun 2010. Mereka udah bosen sama janji-janji kolonial atau janji-janji mistis kuno. Mereka mau sesuatu yang... inklusif."
"Tepat!" seru Slamet. "Pak Ki Ageng, kita jangan lawan mereka pake kemenyan. Kita lawan pake 'Program Kerja Digital'. Kita bikin kampanye: JAKARTA GHAIB 4.0."
Ki Ageng Metro tampak bingung. "Maksudnya?"
"Begini, Pak," Slamet berdiri dan mulai presentasi di depan layar hologram. "Masalah utama hantu di Jakarta itu apa? Satu, kurangnya lahan angker karena diganti apartemen. Dua, polusi cahaya yang bikin hantu susah nakutin orang karena lampu jalan terang banget. Tiga, persaingan sama konten kreator yang hobi uji nyali."
Slamet melanjutkan, "Kita janjikan 'Taman Literasi Misteri' di setiap kelurahan. Kita kasih Wi-Fi gratis di setiap pohon beringin. Dan yang paling penting... kita janjikan 'Legalitas Tempat Tinggal'. Jangan ada lagi penggusuran hantu karena pembangunan mal tanpa izin amdal ghaib!"
Nyi Blorong menggebrak meja, tapi kali ini dengan ekspresi puas. "Brilian! Selama ini Tuan Meneer cuma janji in kemewahan, tapi Slamet janji in solusi hidup!"
"Tapi ada satu masalah, Met," kata Pak Gendut. "Tuan Meneer punya buzzer ghaib yang kuat. Dia pake ribuan arwah mantan buzzer politik dunia nyata yang pas mati langsung dikontrak sama dia. Mereka jago bikin hoaks. Sekarang aja udah beredar hoaks kalau Pak Ki Ageng itu sebenernya jelmaan hantu impor dari Bekasi."
Slamet tertawa sinis. "Buzzer? Kita punya Arini. Arini, bikin narasi 'Anak Bangsa'."
Arini langsung mengetik dengan cepat. "Kita bikin hashtag #Ghaib.Lokal.Bangkit. Kita bikin video pendek Pak Ki Ageng lagi makan kerak telor bareng rakyat kecil di bawah jembatan layang. Kita tunjukkan kalau beliau itu hantu yang 'merakyat', bukan hantu yang duduk di kursi goyang sambil minum wine ghaib kayak si Meneer itu."
Maka dimulailah kampanye gila itu. Slamet dan Arini berkeliling ke sudut-sudut paling gelap di Jakarta. Mereka masuk ke gorong-gorong untuk menemui Serikat Buaya Putih, mereka naik ke atap gedung tua untuk diskusi dengan komunitas Kuntilanak Karir.
"Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian!" seru Slamet di depan ratusan Pocong yang berkumpul di sebuah lapangan kosong di pinggiran Cakung. "Jangan mau suara kalian dibeli pake satu tusuk sate gagak! Sate itu cuma bikin kenyang semalam, tapi kebijakan Pak Ki Ageng bakal bikin kalian tenang selamanya! Kami janjikan asuransi kesehatan spiritual agar kain kafan kalian nggak gampang sobek!"
Suasana memanas saat tim Tuan Meneer mencoba melakukan sabotase. Tiba-tiba, ribuan lalat hijau besar menyerbu lokasi kampanye, menciptakan suara dengungan yang memekakkan telinga.
"Hoaks! Ki Ageng itu antek manusia!" teriak salah satu buzzer ghaib yang menyerupai sesosok pria kurus dengan lidah panjang.
Slamet tidak panik. Dia mengambil HP-nya, lalu menyambungkannya ke speaker besar. "Bang Omen! Sekarang!"
Seketika, frekuensi radio di area itu berubah. Bang Omen dari Ghaib-Net mengirimkan gelombang audio yang hanya bisa didengar oleh telinga hantu. Gelombang itu berisi rekaman rahasia Tuan Meneer yang sedang menghina hantu-hantu lokal, menyebut mereka "kaum primitif yang cuma bisa nakutin orang di kamar mandi".
Suasana langsung berbalik. Para hantu lokal marah besar. "Usir Meneer! Jakarta milik hantu pribumi!"
Kampanye itu pun viral. Bukan cuma di dunia ghaib, tapi juga di dunia manusia. Orang-orang di Twitter (X) mulai bingung kenapa hashtag #Ghaib.Lokal.Bangkit trending nomor satu selama tiga hari berturut-turut.
"Mas Slamet, kayaknya kita sukses besar," kata Arini saat mereka sedang beristirahat di sebuah warung kopi (kali ini mereka aman karena diawasi oleh dua bodyguard Genderuwo berpakaian batik).
Slamet menatap layar tabletnya. Polling suara Ki Ageng Metro naik drastis menjadi 65 persen. "Sukses sih iya, Rin. Tapi saya ngerasa ada yang aneh. Tuan Meneer nggak mungkin diem aja setelah rahasianya dibongkar Bang Omen."
Benar saja, malam itu, saat Slamet dan Arini hendak pulang ke kosan, sebuah bayangan besar menutupi jalan mereka. Bukan Auditor, bukan Satpol PP Ghaib. Tapi sesosok pria tinggi besar dengan kulit seputih porselen, memakai seragam perwira Belanda lengkap dengan pedang yang mengeluarkan api biru.
Itulah Tuan Meneer.
"Slamet Sudjatmiko..." suara Tuan Meneer terdengar sangat berwibawa namun dingin. "Kamu pikir kamu pintar dengan main digital? Kamu lupa, Jakarta ini dibangun di atas pondasi yang aku buat. Aku punya 'Sertifikat Hak Guna Bangunan' atas seluruh tanah angker di kota ini."
Tuan Meneer mengeluarkan sebuah dokumen tua yang sangat besar. "Menurut hukum pertanahan ghaib, siapapun yang memiliki sertifikat ini, dialah yang berhak jadi Gubernur otomatis tanpa pemilu. Dan tebak siapa yang tanda tangan di sini?"
Slamet melihat dokumen itu. Di sana ada tanda tangan... Gubernur Jenderal Hindia Belanda.
"Wah, ini mah namanya kecurangan konstitusi!" teriak Arini.
Tuan Meneer tertawa meremehkan. "Kecurangan? Ini namanya legitimasi sejarah. Sekarang, serahkan semua kampanye Ki Ageng, atau aku akan menggusur seluruh hantu di Jakarta ke laut, dan kamu... akan aku jadikan patung hidup di museum Fatahillah!"
Slamet terpojok. Dia tahu, melawan sertifikat tanah itu susah, apalagi kalau sertifikatnya dari zaman kompeni yang birokrasinya lebih berbelit daripada kabel headset di saku.
Namun, Slamet teringat sesuatu. Dia menoleh ke Arini, lalu tersenyum tipis. "Rin, inget nggak pasal tentang 'Nasionalisasi Aset' tahun 1958?"
Arini langsung paham. "Ah! Undang-Undang Nomor 86 Tahun 1958 tentang Nasionalisasi Perusahaan-Perusahaan Milik Belanda!"
Slamet menoleh ke Tuan Meneer. "Tuan Meneer, sertifikat Anda itu sudah kadaluarsa sejak tahun 1958! Secara hukum Indonesia yang juga diakui oleh PBB Ghaib semua aset Belanda di Indonesia sudah dinasionalisasi menjadi milik negara! Jadi, sertifikat Anda itu sekarang cuma selembar kertas buat bungkus kacang!"
Tuan Meneer terbelalak. "Apa?! Tidak mungkin! Itu hukum manusia!"
"Hukum manusia adalah hukum ghaib di tanah Indonesia, karena kedaulatan itu mutlak!" Slamet maju satu langkah. "Sekarang, mending Tuan pulang ke Belanda, atau saya panggil tim 'Audit Sejarah' dari K.MN buat sita pedang api Anda itu sebagai barang rampasan perang!"
Tuan Meneer gemetar. Dia tidak menyangka akan kalah debat hukum lagi oleh seorang manusia yang bahkan utang pinjolnya belum lunas semua. Dengan teriakan frustasi, dia menghilang dalam ledakan cahaya putih.
Slamet terduduk lemas di aspal. "Rin... kayaknya saya harus kuliah hukum beneran deh kalau begini terus."
Arini tertawa sambil memeluk Slamet. "Nggak usah, Mas. Kamu udah cukup jadi pengacara ghaib paling jago di Jakarta."
Keesokan harinya, Ki Ageng Metro menang mutlak. Jakarta Ghaib merayakan kemenangan dengan pesta pora. Slamet dan Arini mendapatkan bonus yang sangat besar cukup untuk melunasi seluruh utang Slamet dan membeli sebuah mobil bekas (yang untungnya nggak berhantu).
Tapi, di tengah perayaan itu, Nyi Blorong memanggil Slamet ke ruangan pribadinya.
"Slamet, ada pesan dari 'Pusat' di Gunung Lawu," kata Nyi Blorong dengan nada serius. "Keberhasilanmu di Jakarta terdengar sampai ke telinga Sang Raja Ghaib Nusantara. Beliau mau kamu jadi 'Menteri Komunikasi dan Informatika Ghaib' untuk seluruh Indonesia."
Slamet melongo. "Menteri? Nyai, saya baru aja mau tenang..."
"Jabatan ini nggak bisa ditolak, Met. Karena kalau kamu nolak, mereka bakal kirim 'Tagihan Karma' atas semua keberuntungan yang kamu dapet bulan ini."
Slamet menghela napas. Kariernya menanjak terlalu cepat. Dari tumbal pinjol menjadi calon menteri.
"Oke," kata Slamet mantap. "Tapi syaratnya satu: Arini jadi Wakil Menterinya. Dan saya mau budget buat bikin 'Tol Langit Ghaib' supaya sinyal di pelosok desa biar hantu-hantu di sana juga bisa glow-up."
Nyi Blorong tersenyum. "Apapun buat kamu, Pak Menteri."
Slamet keluar dari ruangan, disambut oleh Arini. Dia menatap langit Jakarta yang kini terasa lebih ramah. Hidup memang aneh; kadang kamu harus berteman dengan setan untuk bisa hidup layak sebagai manusia.