NovelToon NovelToon
Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5

Di rumah keluarga Dafa, suasana yang dulu terasa hangat kini mulai berubah. Laras semakin menunjukkan kekuasaannya, memanfaatkan kehamilannya sebagai tameng untuk mendapatkan perhatian dan perlakuan istimewa dari seluruh anggota keluarga. Salah satu yang paling sering menjadi sasaran perlakuan semena-menanya adalah Lestari, adik iparnya.

"Lestari, tolong buatkan aku jus jeruk sekarang juga. Aku haus," perintah Laras dengan nada menyebalkan sambil duduk santai di sofa.

Lestari yang sedang sibuk mencuci piring menoleh sekilas. "Mbak, aku lagi nyuci piring. Bisa tunggu sebentar?"

Laras langsung merajuk dan meletakkan tangannya di perutnya seolah sedang kesakitan. "Aduh, kenapa perutku tiba-tiba kram? Mas Dafa!" teriaknya memanggil suaminya.

Dafa yang baru saja turun dari lantai atas langsung berlari mendekat. "Kenapa, Sayang? Kamu sakit?" tanyanya panik.

"Ini semua gara-gara Lestari! Aku minta dibuatkan jus jeruk, tapi dia malah menunda-nunda. Aku jadi stres dan perutku kram," adu Laras dengan wajah memelas.

Dafa menoleh tajam ke arah adiknya. "Lestari! Kenapa kamu tega sama kakak iparmu? Apa kamu nggak lihat dia sedang hamil? Bisa nggak kamu lebih peka sedikit?"

Lestari mengepalkan tangannya, menahan emosi. "Mas, aku nggak bilang nggak mau. Aku cuma minta dia tunggu sebentar karena aku lagi nyuci piring! Kenapa aku selalu disalahkan?"

"Sudah! Cepat buatkan jus untuk Laras. Jangan banyak alasan!" bentak Dafa.

Lestari menghela napas panjang dan melangkah menuju dapur, merasa begitu terhina. Sejak kepergian Raya, rumah ini tak lagi sama. Laras benar-benar mengambil alih segalanya. Ia bertindak seolah dirinya adalah ratu, dan semua orang harus menuruti kemauannya. Bahkan dia meracuni otak Dafa agar rumah ini tidak memakai pembantu sebab ada Lestari. Hitung-hitung Lestari belajar sebelum dia berumah tangga nanti.

Saat dia menuangkan jus ke dalam gelas, tiba-tiba ibunya, Bu Rina, masuk ke dapur. "Lestari, jangan terlalu keras kepala. Kamu harus mengerti, Laras itu sedang hamil, dia butuh perhatian lebih."

Lestari menahan amarahnya. "Bu, apa karena dia hamil, dia bisa berbuat semaunya? Memanfaatkan keadaan untuk menindas orang lain? Apa Ibu nggak lihat bagaimana dia memperlakukan aku?"

Bu Rina menghela napas. "Kamu masih kecil, Lestari. Kamu belum mengerti rasanya hamil. Jangan membantah lagi."

Lestari hanya bisa diam. Hatinya penuh dengan kekecewaan. Dia sadar, tidak ada satu pun yang berpihak padanya di rumah ini.

Lestari menghela napas panjang, menahan amarah yang mulai membakar dadanya. Ia memijat pelipisnya, mencoba meredam kekesalannya saat mendengar alasan ibunya yang terasa mengada-ada.

"Bu, ini nggak masuk akal! Kita butuh pembantu, bukan malah membiarkan aku jadi budak di rumah ini!" ujar Lestari dengan suara yang mulai meninggi.

Ibunya, Bu Rina, hanya melipat tangan di dada. Wajahnya tegas, tak menunjukkan sedikit pun niat untuk mengalah. "Lestari, kamu ini perempuan. Udah sewajarnya bantu-bantu di rumah. Lagipula, rumah ini juga rumah kamu! Kenapa malah ngeluh?"

"Bu! Aku juga punya kerjaan di luar! Aku bukan cuma duduk santai di rumah seperti Laras!" protes Lestari.

Laras yang sejak tadi mendengar pertengkaran mereka, hanya tersenyum sinis sambil mengelus perutnya yang membuncit. "Yah, kalau kamu nggak mau bantu, mungkin kamu yang harus keluar dari pekerjaan. Biar bisa fokus di rumah, ngurusin aku dan semua pekerjaan rumah. Gimana?"

Mata Lestari langsung menatap tajam ke arah Laras. "Kamu pikir aku ini siapa? Pembantu pribadi kamu?"

Laras mengangkat bahu dengan santai. "Bukan pembantu, tapi adik ipar yang baik hati. Masa sih bantu kakak ipar sendiri aja berat? Aku kan lagi hamil, Tar. Harus banyak istirahat. Suamiku juga nggak suka kalau aku kecapekan."

Lestari mengepalkan tangannya, mencoba sekuat tenaga menahan emosinya. Namun, Bu Ratna justru membela Laras lagi. "Dengerin kakak iparmu, Tar. Laras ini lagi hamil. Kamu itu harusnya ngerti, bukannya malah bikin suasana nggak enak. Udah, nggak usah bahas pembantu lagi!"

"Jadi aku harus terus-terusan disuruh-suruh sama dia, gitu?" Lestari menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca. "Bu, ini nggak adil!"

"Adil nggak adil, ini rumah keluarga. Kamu harus ngerti keadaan. Sudah, nggak usah banyak alasan!"

Lestari merasa dadanya sesak. Ia menoleh ke arah Dafa yang sejak tadi diam saja, berharap kakaknya itu mau membelanya. Namun, Dafa hanya duduk dengan santai, seperti tidak peduli.

"Mas Dafa, kamu nggak mau bilang sesuatu? Aku ini adikmu!" suara Lestari terdengar penuh harap.

Dafa akhirnya mengangkat kepalanya, menatap adiknya sekilas sebelum menoleh ke arah Laras. "Ya udah, Tar. Kamu nurut aja, ya. Kasihan Laras. Dia kan lagi hamil."

Lestari terkesiap, merasa dikhianati. Air matanya hampir jatuh, tapi ia segera menahannya. Ia tidak akan menangis di depan mereka. Tidak akan menunjukkan kelemahan.

"Baiklah." Lestari mengangguk pelan, lalu berbalik menuju kamarnya. Sebelum masuk, ia menoleh dan menatap Laras yang tersenyum puas.

"Jangan kira aku akan diam terus, Laras. Aku akan membalas semuanya."

Tak lama setelah perdebatan di ruang keluarga, Dafa tiba-tiba menerima telepon yang membuat ekspresinya berubah drastis. Wajahnya yang semula tenang seketika menegang, tangannya mengepal di sisi tubuhnya, seolah menahan sesuatu.

"Ya? Apa? Baik, saya segera ke sana," katanya dengan nada serius sebelum menutup telepon.

Laras, yang sedang duduk santai dengan tangannya mengelus perutnya, menatap suaminya dengan penuh keingintahuan. "Mas, ada apa? Kok wajahnya tiba-tiba tegang begitu?"

Ibu Dafa juga ikut angkat bicara, "Iya, Nak, ada apa? Kenapa ekspresi kamu begitu? Apa ada masalah di kantor?"

Lestari yang masih kesal dengan ibunya tadi hanya memperhatikan dari jauh sambil melipat tangan di dadanya, tapi dalam hatinya juga ikut penasaran. Dafa tidak langsung menjawab, hanya mengambil jasnya yang terlipat di sofa dan bersiap melangkah keluar.

"Mas, ngomong dong! Kenapa sih?" desak Laras lagi, suaranya sedikit naik karena merasa diabaikan.

Dafa menghembuskan napas kasar, menatap istrinya sekilas sebelum menjawab, "Ini urusan kantor, aku harus segera ke sana."

"Tapi, Mas..." Laras ingin bertanya lebih jauh, tetapi Dafa sudah melangkah cepat keluar rumah.

Ibu Dafa menoleh ke arah Lestari, yang sejak tadi hanya diam di sudut ruangan. "Kamu tahu sesuatu?" tanyanya.

Lestari mengangkat bahu. "Mana mungkin aku tahu, Bu? Saya kan hanya anak yang disuruh-suruh di rumah ini," balasnya dengan nada sinis.

Ibu Dafa mengerutkan kening mendengar jawaban itu, tetapi tidak mengatakan apa-apa lagi. Sementara itu, Laras mulai cemas. Apa yang terjadi di kantor Dafa? Dan kenapa suaminya terlihat begitu serius?

Lestari yang melihat wajah cemas kakak iparnya dan ibunya segera memanfaatkan situasi. Dengan nada penuh sindiran, ia melipat tangan di dada dan berkata dengan santai, "Jangan-jangan perusahaan Mas Dafa bangkrut? Wah, kalau benar, itu baru berita besar!"

Sontak, Bu Rina menatapnya dengan tajam. Laras yang sejak tadi diam langsung menyulut amarahnya. "Lestari! Kamu pikir bangkrut itu hal sepele? Kalau perusahaan bangkrut, kita semua juga akan kena dampaknya!" Laras membentak dengan nada tinggi, membuat suasana semakin tegang.

Namun, bukannya takut, Lestari justru tersenyum sinis. "Ah, buatku itu justru kabar baik. Aku sudah terbiasa hidup susah, sudah terbiasa jadi pembantu di rumah sendiri. Tapi kalian? Kalau mendadak jatuh miskin, bagaimana rasanya? Kan adil kalau aku juga punya teman seperjuangan?"

"Lestari!" teriak Bu Rina, wajahnya memerah karena marah. "Jangan bicara sembarangan!"

Laras ikut mencibir, "Kamu ini benar-benar nggak tahu diuntung, ya? Sudah enak tinggal di sini, masih saja banyak bicara!"

Lestari mengangkat bahu dengan santai, "Aku hanya berusaha menerima nasib. Lagipula, kalau perusahaan itu benar-benar bangkrut, aku rasa rumah ini akan dijual, dan kalian juga akan mulai belajar bagaimana rasanya kerja keras."

Bu Rina menghela napas berat, mencoba meredakan ketegangan. "Sudahlah, jangan memperkeruh keadaan. Begini saja, kalau masalah Dafa sudah selesai dan semuanya kembali normal, Ibu janji akan mencarikan pembantu untukmu."

Mata Lestari berbinar mendengar janji ibunya. Ia hampir melompat kegirangan, tetapi tetap berusaha terlihat tenang. "Serius, Bu? Ibu nggak akan mengingkari janji, kan?"

"Ibu janji," kata Bu Rina dengan suara lebih tenang.

Lestari tersenyum puas, sementara Laras hanya mendengus kesal, malas menanggapi lebih lanjut. Ia memilih berbalik dan masuk ke kamar, meninggalkan mereka berdua di ruang tamu. Lestari, dengan senyum penuh kemenangan, merasa sedikit terhibur setelah semua perlakuan yang diterimanya selama ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!