"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."
Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.
"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."
Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.
---
Suara Nurani Halimah
Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.
"Suamiku... kau membunuh ayahku?"
Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:
"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"
Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.
"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: RAHASIA DAPUR
Malam itu, Halimah tidak tidur—ia mengadili pikirannya sendiri.
Setiap kenangan tentang Datuk Maringgih terasa bertabrakan dengan ucapan ayahnya.
Dan setiap ucapan ayahnya terasa asing di telinganya.
Ia duduk lama di tepi ranjang.
Bukan sebagai anak Datuk Sulaiman.
Tapi sebagai perempuan yang ingin tahu kebenaran.
Langkahnya akhirnya menuju dapur—tempat rahasia tak pernah berteriak.
Malam semakin larut. Lampu minyak di kamar Halimah sudah padam, tapi matanya masih terbuka lebar. Ia menatap langit-langit yang hanya samar terlihat dalam gelap.
Pikirannya berputar. Seperti kaset rusak yang memutar kenangan yang sama berulang-ulang.
Datuk Maringgih menuntunnya pulang saat senja.
Ayahnya berteriak, "Bajingan!"
Datuk Maringgih tersenyum memberinya kue.
Ayahnya meludahi nama itu.
Datuk Maringgih menyelamatkan Salim.
Ayahnya menyiksanya.
Mana yang benar?
Halimah membolak-balikkan tubuhnya. Bantal dipeluk, lalu dilepas. Selimut ditarik, lalu ditendang.
Tidur tak kunjung datang.
Pukul satu dini hari. Pukul dua. Pukul tiga.
Ia duduk. Tangannya meraba wajahnya sendiri—basah. Tanpa sadar ia menangis.
Aku harus tahu, bisiknya dalam hati. Aku harus tahu kebenaran.
Halimah turun dari tempat tidur. Kakinya menyentuh lantai dingin. Ia berjalan pelan, membuka pintu kamar dengan hati-hati.
Rumah gelap. Hanya sesekali cahaya bulan masuk melalui celah jendela.
Ia melangkah melewati kamar Usman dan Hasan—keduanya tidur pulas. Melewati kamar ayah dan ibunya—Siti, ibunya, tidur di samping ayahnya yang mendengkur pelan.
Hatinya berdebar. Bagaimana kalau mereka bangun? Bagaimana kalau ketahuan?
Tapi kakinya terus melangkah.
Menuju dapur.
Di ujung rumah, di bangunan kecil terpisah, ada dapur tempat Nyai Imah biasa memasak. Juga tempat tidur sederhana perempuan tua yang sudah mengasuhnya sejak kecil.
Halimah mengetuk pelan.
Tok. Tok. Tok.
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi. Sedikit lebih keras.
Pintu terbuka. Nyai Imah muncul dengan wajah mengantuk, rambut putihnya kusut. Tapi begitu melihat Halimah, matanya langsung waspada.
"Neng Halimah? Jam segini? Ada apa?"
Halimah menelan ludah. "Nyai... aku harus bicara."
Nyai Imah mengerjapkan mata. Lalu membuka pintu lebih lebar. "Masuk."
Di dalam dapur, lampu minyak dinyalakan kecil. Cahaya temaram menerangi wajah Halimah yang pucat dan mata sembab.
Nyai Imah duduk di depan Halimah. Tangannya meraih tangan Halimah.
"Neng, cerita. Apa yang terjadi?"
Halimah menunduk. Air matanya jatuh lagi.
"Nyai... aku bingung. Aku sangat bingung."
"Bingung kenapa?"
"Ayah..." Halimah berhenti. Ia takut mengatakannya. Tapi ia sudah sampai di sini. Tidak bisa mundur.
"Ayah bilang Datuk Maringgih itu bajingan. Jahat. Perusak." Suaranya bergetar. "Tapi aku... aku ingat semua kebaikannya, Nyai. Aku ingat ia menuntunku pulang. Aku ingat ia membawakan kue. Aku ingat ia selalu baik padaku."
Nyai Imah diam. Wajahnya tenang, tapi matanya menunjukkan sesuatu—mungkin iba, mungkin juga tahu.
"Ayah juga bilang seluruh kampung bodoh karena percaya padanya." Halimah melanjutkan. "Tapi Nyai... masa semua orang bodoh? Masa hanya ayahku yang benar?"
Nyai Imah menghela napas panjang. Ia memandang Halimah dengan penuh kasih.
"Neng, dengar. Nyai sudah tua. Nyai sudah lihat banyak hal di kampung ini." Suaranya pelan, hati-hati. "Nyai kenal Datuk Maringgih sejak ia masih kecil. Cucu Kyai Agung Mahmud itu. Nyai kenal juga ayah Neng—Datuk Sulaiman—sejak ia masih berdagang kecil."
Halimah menatap Nyai Imah, berharap.
"Nyai, mana yang benar? Ayah atau...?"
Nyai Imah diam lama. Lalu ia berkata pelan, "Neng, Nyai hanya bisa bilang: Datuk Maringgih tidak berubah."
Halimah mengerjapkan mata. "Maksud Nyai?"
"Ia tetap orang yang sama. Yang dulu menuntun Neng pulang. Yang dulu bawa kue. Yang dulu baik pada siapa pun." Nyai Imah menatap Halimah dalam-dalam. "Yang berubah bukan dia."
Halimah membeku.
Yang berubah bukan dia.
Maka... yang berubah adalah...
Ia tidak bisa menyelesaikan kalimat dalam hatinya.
"Nyai..." Halimah berbisik. "Aku takut."
"Takut apa, Neng?"
"Aku takut... kalau ternyata ayahku..."
Ia tidak bisa melanjutkan.
Nyai Imah menggenggam tangannya lebih erat. "Neng, kebenaran memang kadang menyakitkan. Tapi lebih sakit hidup dalam kebohongan."
Halimah menangis. Tapi tidak keras. Tangis yang tertahan, keluar bersama isak yang ditahan.
Nyai Imah membiarkannya menangis. Tangan tuanya mengusap punggung Halimah.
Setelah tangis reda, Halimah mengangkat wajah.
"Nyai, apa yang harus aku lakukan?"
Nyai Imah diam berpikir. Lalu ia berkata, "Neng, jangan ambil keputusan tergesa-gesa. Tapi kalau Neng mau tahu kebenaran lebih jauh... Neng bisa melihat sendiri."
"Melihat sendiri?"
"Iya. Lihat langsung. Bukan dari kata orang. Bukan dari kata ayah Neng. Tapi dari mata kepala Neng sendiri."
Halimah menatap Nyai Imah. "Bagaimana caranya?"
Nyai Imah tersenyum tipis. "Neng tahu Datuk Maringgih punya kebiasaan?"
"Kebiasaan?"
"Ia setiap sore pergi ke mushola. Bukan mushola besar, tapi mushola kecil di ujung kampung. Yang dekat sungai. Ia sholat magrib di sana, lalu pulang berjalan kaki."
Halimah mengerutkan dahi. "Berjalan kaki? Ia kan punya kereta?"
"Ya. Tapi untuk perjalanan magrib, ia lebih suka jalan. Katanya, biar bisa merasakan tanah di kaki." Nyai Imah tersenyum. "Ia orang sederhana, Neng. Tidak seperti yang ayah Neng gambarkan."
Halimah diam. Informasi itu masuk ke kepalanya.
Mushola ujung kampung. Dekat sungai. Magrib. Berjalan kaki.
"Besok," bisik Halimah. "Besok sore aku akan ke sana."
Nyai Imah menatapnya tajam. "Neng, hati-hati. Jangan sampai ketahuan ayah Neng. Jangan sampai—"
"Aku tahu, Nyai." Potong Halimah. "Aku tidak akan bilang siapa pun."
Hening.
Nyai Imah menghela napas. "Neng, Nyai hanya ingin Neng tahu satu hal: apa pun yang Neng temukan nanti, Nyai akan tetap di sini. Nyai akan tetap sayang Neng."
Halimah tersenyum. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tersenyum.
"Terima kasih, Nyai."
Halimah bangkit. Ia harus kembali ke kamar sebelum fajar.
Tapi sebelum pergi, ia berbalik. "Nyai, tolong jangan bilang siapa pun tentang pembicaraan kita."
Nyai Imah mengangguk. "Mulut Nyai terkunci rapat, Neng."
Halimah melangkah keluar. Udara dingin menyambutnya. Langit masih gelap.
Ia melangkah pelan, masuk ke rumah, melewati kamar-kamar yang masih sunyi.
Sesampainya di kamar, ia berbaring di tempat tidur. Matanya terbuka lebar.
Besok sore. Mushola ujung kampung. Aku akan lihat sendiri.
Pikirannya mulai tenang. Tapi hatinya masih berdebar.
Pagi datang. Halimah bangun dengan mata sembab. Tapi ia berusaha tersenyum seperti biasa saat sarapan.
"Akumu kenapa?" tanya Siti. "Mata sembab."
"Tidak tidur nyenyak, Bu. Mungkin terlalu banyak mimpi."
Datuk Sulaiman menatapnya sekilas, tapi tidak bertanya.
Halimah makan dengan tenang. Tapi di dalam hatinya, ia menghitung jam.
Menunggu sore.
Menunggu magrib.
Menunggu kebenaran.
Sore tiba setelah hari yang terasa panjang.
Matahari mulai condong ke barat. Langit jingga.
Halimah berpamitan pada ibunya. "Bu, aku mau jalan-jalan sebentar. Ke sungai."
Siti mengangguk. "Jangan terlalu lama. Sebentar lagi magrib."
"Iya, Bu."
Halimah melangkah keluar. Jantungnya berdebar kencang.
Mushola ujung kampung. Dekat sungai.
Ia berjalan menyusuri jalan setapak. Melewati rumah-rumah petani. Melewati pohon-pohon besar.
Semakin dekat, semakin keras debaran jantungnya.
Oh ini mushola yang dikatakan nyai imah maksud. Besok kita pasti bertemu
[Bersambung...]