NovelToon NovelToon
Cuz I'M Your Home

Cuz I'M Your Home

Status: tamat
Genre:Menjadi Pengusaha / Cintamanis / Menikah dengan Kerabat Mantan / Tamat
Popularitas:661
Nilai: 5
Nama Author: Hyeon Gee

Karena pertumbuhan anak laki-laki terkadang memang sedikit lambat dari anak perempuan. Dan tinggi 182 sentimeter setelah 20 tahun berlalu, sudah lebih dari cukup untuk tidak membuat malu pemilik tinggi 160 sentimeter dengan kecentilannya…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyeon Gee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

“Hah! Hah! Hah! David? Vid? David? Buka pintunya, Ya?!”

Anak SMA keturunan Tionghoa itu bergegas keluar dari pintu samping kamarnya yang langsung terhubung ke halaman depan rumah. Dilihatnya Echa menggedor pagar utama rumahnya dengan wajah ketakutan.

“Heh? Kenapa, Cha?”

Pintu pagar terbuka dan tangis Echa pun pecah. Dia menangis sejadi-jadinya dalam pelukan David. Dan tanpa mereka ketahui, Garra yang memiliki rumah tepat di seberang rumah David pun tengah memperhatikan keduanya dengan tatap kosong dari jendela kamarnya yang redup.

“Kenapa?” bisiknya pelan.

Begitu banyak tanya dan tiba-tiba ponselnya berdering, menampakkan nama ’Titi’ dilayarnya. Dan tanpa melepas pandangan, dia menjawab teleponnya.

“Oi? Kenapa?”

“Ko, bisa ke rumah gak? Echa panas banget badannya. Orang rumah berangkat ke Yogya tadi sore.”

Kening Garra pun berkerut karena berita itu, Namun, dia tetap berusaha tenang.

“Aku di luar, Ti. Kamu coba telepon Xander dulu, ya. Aku masih agak lama soalnya.”

“Tuhaaan…ya, sudah. Thanks, Ko.”

“Iya, sorry.”

Tenang, untuk waktu yang cukup lama, Garra masih berdiri di balik jendelanya, dia sedikitpun tidak melepas pandangan sejak Xander tiba dengan mobilnya dan membawa Echa yang pingsan di halaman David. Sampai mobil yang Xander bawa melaju jauh baru Garra menghela napas pelan. Dia duduk di tepi ranjang dan memutar-mutar ponselnya.

“Lima, empat, tiga, dua, satu.”

Seakan sudah memperhitungkan semuanya, Garra pun sesaat memandangai layar ponselnya sebelum kemudian mengangkat telepon dari David tersebut.

“Ko, kalo kamu pulang nanti liat pintu pagar rumah kebuka. Tolong kunci’in, ya. Aku bawa Echa ke rumah sakit sama Xander. Dia kayanya dipukulin sama pacarnya.”

Mendengar suara panik David serta amarah yang tertahan, Garra hanya mencengkeram erat sprainya.

“Iya, nanti. Aku kuncikan. Hati-hati, ya.”

“Thanks, Ko.”

Sambungan terputus dan bergegas Garra keluar dari kamarnya. Dia meraih kunci motor serta jaket varsity-nya.

“Ke mana kau?” tanya Siryl, Kakak keduanya.

“Jalan, Ce. Ada urusan dikit.”

“Aku titip terang bulan(Martabak Manis) cokelat keju, ya. Pake duitmu dulu, nanti kuganti.”

“Iya.”

“Tariringkyuh. Hati-hati.”

Abai, usai mengunci serta memeriksa seluruh pintu juga pagar rumah David. Dia pun melaju dengan motornya ke Tepian Sungai Mahakam dan menghampiri salah satu kumpulan anak muda yang tengah tertawa riang.

“Indra?”

Baru saja orang bernama Indra itu menoleh, wajahnya langsung disambut dengan pukulan dari Garra hingga ia terpental cukup keras ke aspal. Hal itu membuat suasana hampir ricuh, beberapa orang mulai memegangi Garra dan orang lainnya berusaha menjauhkan Indra darinya.

“Deeek, cuma dititipin terang bulan kenapa sampai ke kantor polisi?”

Siryl yang datang bersama Kakak tertua mereka, Sandyo, pun mengomel dan menepuk cukup kuat lengan Garra yang wajahnya juga dipenuhi lebam.

“Kenapa?” tanya Sandyo.

“Dia mukul Echa, Ko. Echa lari ke rumah Titi. Tapi, Titi gak tau soal aku nyamperin orang ini. Dia lagi di rumah sakit nunggu orangtua Echa datang,” sahut Garra memelas.

“Haaa…syukur gak ada Bapak, Dek. Kamu kalo bikin masalah mikir-mikir. Kenapa juga kamu ngurusin soal Echa?” sahut Sandyo berusaha sabar.

“Gak, Ko. Aku gak suka aja denger dia dipukulin. Memangnya Koko bisa nerima kalo Cece dipukulin sampai ketakutan terus pingsan?”

“Haaa…kucincang yang ada,” omel Sandyo dan sesaat membuat Garra melirik Siryl sambil tersenyum puas.

“Echa baik, Ko. Mungkin aku baru kenal sebentar karena kebetulan sering ngumpul tempat Titi. Aku denger juga dia sering dikekang sama pacarnya. Dia dikatain l*nte sama orang itu cuma gara-gara Echa nunggu jam pulang sekolah sambil nonton basket.”

“Cuma nonton langsung dikatain l*nte? Dia nonton sambil telanjang atau gimana? Gak, kan?” omel Siryl tak percaya.

“Cuma nonton, Ce. Kebetulan aku pulang cepet dari mereka. Aku juga jemput Titi, jadilah ikut main waktu itu,” sahut Garra meyakinkan.

“Waaah, Ko. Gak cukup kalo cuma di cincang ini, mah. Bagusnya dimasukkan neraka.”

“Haaa…sudah diam di sini. Aku urus ke dalam dulu.”

Ada senyum yang kedua adiknya sembunyikan tatkala berhasil menghasut Si Sulung yang kedua telinganya sudah memerah karena menahan amarah.

“Thank you, Ce. Semingguan aku traktir kamu terang bulan sama moonbuck.”

Hanya pukulan lemah yang Siryl tujukan ke lengan Garra dan membuat adiknya hanya tersenyum geli sebelum kemudian merangkulnya erat.

Kadang aku pikir, tidak buruk memiliki Kakak Perempuan, karena merekalah tameng utama dari semua perlindungan yang ada…

1
Amiera Syaqilla
beautiful story💕
goyangi13: thank u 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!