Zahra mencintai Akhsan, kakak kandungnya yang juga menjadi dosen di kampusnya. Menyadari perasaan tak wajar adiknya, Akhsan membangun benteng tinggi dan memilih untuk meminang Gea guna memutus harapan Zahra.
Namun, tragedi berdarah terjadi tepat malam hari saat mereka akan menikah. Kecelakaan hebat merenggut nyawa Gea dan mengungkap fakta mengejutkan—Akhsan ternyata bukan anak kandung Papa Hermawan. Demi menjaga nama baik keluarga dari undangan yang telah tersebar, Papa Hermawan mengambil keputusan ekstrem: Zahra harus menggantikan posisi Gea di pelaminan.
Pernikahan yang dahulu menjadi dambaannya kini berubah menjadi mimpi buruk bagi Zahra. Akhsan yang hancur karena kehilangan Gea berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia menuduh Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan maut tersebut, menjebak Zahra dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan kebencian dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Pagi itu, suasana di meja makan kediaman utama Hermawan terasa sangat mencekam.
Hanya ada denting sendok yang beradu dengan piring porselen.
Akhsan duduk dengan setelan jas abu-abu gelap yang rapi, namun lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan bahwa ia tidak tidur sepanjang malam.
Pikirannya penuh dengan wajah Aruna dan tanda X yang menghantuinya.
Mama Hermawan turun dengan gaun sutranya, duduk di ujung meja sambil sibuk dengan ponselnya.
Tanpa melihat kondisi putranya, ia langsung berucap dengan nada menuntut.
"Akhsan, kirimkan Mama dua ratus juta pagi ini. Mama ada arisan berlian dengan teman-teman sosialita Mama siang nanti. Malu kalau Mama tidak setor sekarang," ucap Mama santai sambil menyesap kopinya.
BRAKK!
Guncangan hebat terjadi. Akhsan memukul meja dengan kedua tangannya hingga piring-piring beradu dan sebuah gelas berisi jus pecah berantakan di atas lantai marmer.
Mama tersentak, tangannya gemetar hingga ponselnya nyaris jatuh.
"Jangan uang saja yang ada di pikiran Mama!" bentak Akhsan dengan suara menggelegar, matanya merah karena amarah yang memuncak.
"Mama tidak tahu bagaimana kondisi perusahaan saat ini? Saham kita merosot! Papa sedang berjuang melawan stroke di kamar sebelah, dan Mama hanya memikirkan arisan?"
"A-akhsan, kenapa kamu bicara begitu pada Mama? Mama hanya—"
"Cukup!" potong Akhsan dengan telunjuk mengarah tepat ke wajah ibunya. "Mulai sekarang, Mama harus tetap di rumah! Rawat Papa dengan benar. Jika aku tahu Mama pergi keluar untuk foya-foya lagi sementara perusahaan sedang di ujung tanduk, aku tidak akan memberikan satu sen pun! Mama mengerti?!"
"I-iya, Akhsan, iya. Mama mengerti," ucap Mama dengan suara bergetar ketakutan.
Ia belum pernah melihat Akhsan semurka ini. Putranya yang dulu bisa dikendalikan, kini telah berubah menjadi pria dingin yang tak segan-segan menghancurkan siapa pun.
Akhsan menyambar kunci mobilnya di atas meja tanpa menghabiskan sarapannya.
Napasnya masih menderu cepat. Ia melirik jam di pergelangan tangannya dimana jam menunjukkan pukul tujuh.
Ia harus segera berangkat dan tidak boleh terlambat sedetik pun menjemput Aruna.
Kemarahan pada ibunya tadi seolah menjadi bahan bakar energinya pagi ini.
Di kepalanya, hanya ada satu misi: menghadapi Aruna Adrian, satu-satunya wanita yang memegang kunci keselamatan Hermawan Group, sekaligus satu-satunya wanita yang bisa membangkitkan rasa bersalah yang paling dalam di jiwanya.
Tanpa menoleh lagi pada ibunya yang masih terpaku, Akhsan melangkah keluar menuju mobilnya.
Ia harus menjemput Aruna di apartemen tepat pukul delapan.
Ia tidak tahu, bahwa di balik pintu apartemen itu, sebuah kejutan pahit yang disiapkan Aruna dan Christian telah menunggunya.
Sementara itu Di dalam kamar apartemen yang masih hangat oleh sisa kemesraan semalam, Christian masih berbaring santai di atas tempat tidur, menatap kagum pada istrinya.
Aruna sudah tampil sempurna dengan gaun couture berwarna hitam pekat yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sangat anggun.
Christian bangkit perlahan, mengambil topeng renda hitam dari atas meja nakas dan memasangkannya dengan lembut di wajah Aruna.
"Aku akan menyusulmu nanti, Sayang. Ingat, jangan nakal," bisik Christian dengan senyum menggoda di sudut bibirnya.
Aruna terkekeh, ia mengusap rahang suaminya. "Aku hanya akan nakal kalau sama kamu, Mas," jawabnya manja sebelum mengecup singkat bibir Christian.
Aruna melangkah keluar kamar dengan aura dingin yang kembali terpasang.
Ia turun ke lobby apartemen, duduk di kursi beludru sambil sesekali melirik jam tangan berliannya.
Tepat pukul delapan lebih dua, mobil Akhsan berhenti di depan lobby. Akhsan keluar dengan terburu-buru, wajahnya tampak sedikit tegang.
"Terlambat dua menit, Pak Akhsan," ucap Aruna dingin tanpa berdiri dari duduknya. Matanya yang tajam menatap Akhsan dari balik renda hitam.
Akhsan menghela napas panjang, mencoba mengatur napasnya yang memburu.
"Maaf, Nona Aruna. Jakarta sedang tidak bersahabat pagi ini, kemacetan benar-benar di luar kendali saya."
Aruna hanya berdiri tanpa menyahut, melangkah anggun menuju mobil. Akhsan segera membukakan pintu untuknya.
Di dalam mobil, keheningan kembali meraja. Mereka menuju kantor pusat Hermawan Group agar Aruna bisa meninjau langsung operasional perusahaan sebelum kucuran dana investasi diberikan.
Sepanjang perjalanan, Aruna hanya melirik ke luar jendela, namun ia tahu bahwa Akhsan diam-diam memperhatikannya melalui spion tengah.
Akhsan beberapa kali tertangkap basah sedang menatap bibir merah Aruna yang dipoles sempurna.
Bentuk bibir itu, cara Aruna bernapas, bahkan cara Aruna membetulkan rambutnya... semuanya mengirimkan gelombang debaran yang menyakitkan bagi Akhsan.
'Bibir itu, benar-benar mirip Zahra, batin Akhsan sambil menelan salivanya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa sangat kering.
"Ada apa, Tuan Akhsan? Apakah saya tampak aneh di mata Anda pagi ini?" tanya Aruna tiba-tiba, tanpa menoleh, namun ia tahu Akhsan sedang memerhatikannya.
Akhsan tersentak, ia segera mengalihkan pandangannya kembali ke jalanan. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba mengusir bayangan Zahra yang terus tumpang tindih dengan sosok Aruna.
"Tidak, Nona. Tidak ada yang aneh. Saya hanya sedang memikirkan agenda rapat kita nanti," dusta Akhsan.
Begitu mobil berhenti di depan gedung pencakar langit Hermawan Group, puluhan karyawan yang sudah berbaris rapi membungkuk hormat.
Akhsan turun dan dengan sigap membukakan pintu untuk Aruna.
Ia menjulurkan tangannya, menawarkan bantuan dengan sikap yang sangat protektif.
"Silakan, Nona Aruna. Mari saya tunjukkan bagaimana jantung dari perusahaan ini bekerja," ucap Akhsan dengan nada bangga.
Aruna menyambut tangan itu, membiarkan Akhsan membimbingnya masuk ke lobi yang megah. Namun, baru beberapa langkah mereka memasuki koridor utama menuju lift eksekutif, sebuah teriakan melengking memecah suasana formal tersebut.
"AKHSAN! JAUHKAN TANGANMU DARI WANITA ITU!"
Sisil muncul dari balik pilar dengan wajah yang merah padam karena cemburu yang sudah mencapai ubun-ubun.
Ia berlari ke arah mereka dan mencoba mendorong Aruna agar menjauh dari Akhsan.
"Sisil!! Hentikan!" bentak Akhsan, ia menarik Aruna ke belakang punggungnya untuk melindungi wanita itu.
"Tidak, Mas! Kamu menjemputnya, menyetir untuknya, dan sekarang memegang tangannya di depan semua orang?! Siapa sebenarnya dia? Dia hanya wanita bertopeng yang ingin merebutmu!" teriak Sisil semakin histeris.
Ia menunjuk wajah Aruna dengan jari yang gemetar.
"Pergi kamu dari sini! Jangan dekati calon suamiku!"
"SISIL, CUKUP!"
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Sisil. Suasana mendadak senyap seperti kuburan.
Para karyawan menahan napas, tidak percaya melihat sang CEO menampar asisten sekaligus tunangannya di depan publik.
Sisil terjerembap ke lantai, memegangi pipinya yang mulai memar, matanya menatap Akhsan dengan tidak percaya.
Aruna, yang sejak tadi hanya menonton dengan tenang, mengeluarkan suara tawa kecil yang terdengar sangat meremehkan.
"Tuan Akhsan, ini benar-benar seperti drama telenovela kelas rendah," ucap Aruna sambil membetulkan letak sarung tangan sutranya.
Ia menatap Akhsan dengan tatapan dingin dari balik topeng.
"Saya datang ke sini untuk urusan bisnis bernilai miliaran, bukan untuk melihat pertengkaran rumah tangga Anda yang memuakkan."
Akhsan menunduk malu, napasnya memburu karena amarah.
"Maafkan saya, Nona Aruna. Ini tidak akan terjadi lagi."
Aruna melangkah maju, melewati Sisil yang masih terduduk di lantai.
"Saya mau ke ruangan Anda sekarang. Saya lelah berdiri di sini."
Aruna berhenti sejenak tepat di samping Sisil, ia menunduk sedikit tanpa melepaskan topengnya.
"Dan kamu, Nona. Karena kamu tampaknya tidak punya pekerjaan yang jelas selain berteriak, tolong siapkan makanan sehat untuk saya. Antarkan ke ruangan Tuan Akhsan dalam lima belas menit. Tanpa minyak, tanpa pedas. Mengerti?"
Aruna kembali berjalan menuju lift tanpa menunggu jawaban.
Akhsan segera menyusulnya, meninggalkan Sisil yang menangis sesenggukan di tengah koridor, menjadi bahan tontonan seluruh kantor.
Bagi Aruna, ini baru permulaan dari kehancuran martabat orang-orang yang dulu menghancurkannya.