NovelToon NovelToon
Secret Admirer: Surat Untuk Bintang

Secret Admirer: Surat Untuk Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Rebirth For Love / Cintapertama / Idola sekolah / Cinta Murni
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyla Aluna, siswi kelas XI IPA 2 di SMA Cakrawala Terpadu Surabaya, adalah definisi 'invisible girl'. Selama dua tahun, ia menyimpan perasaan pada Bintang Rigel, kapten basket sekaligus siswa paling populer di sekolah. Karena terlalu takut untuk bicara langsung, Keyla menumpahkan perasaannya melalui surat-surat tulisan tangan yang ia selipkan secara diam-diam di laci meja Bintang, menggunakan nama samaran 'Cassiopeia'.

Masalah muncul ketika Bintang mulai membalas surat-surat tersebut dan merasa jatuh cinta pada sosok Cassiopeia yang cerdas dan puitis. Situasi semakin rumit ketika Vanya, primadona sekolah yang ambisius, mengetahui hal ini dan mengaku sebagai Cassiopeia demi mendapatkan hati Bintang.

Keyla kini terjebak dalam dilema: tetap bersembunyi di balik bayang-bayang demi menjaga harga dirinya, atau memberanikan diri keluar ke cahaya dan memperjuangkan cintanya sebelum Bintang menjadi milik orang yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: BAYANG-BAYANG SEMU

Kembang api terakhir telah meledak, menyisakan asap tipis yang menggantung di langit malam Surabaya. Sorak-sorai siswa SMA Cakrawala Terpadu membahana, menandakan puncak acara *Cakrawala Fest* telah usai. Namun, bagi Keyla Aluna, dunia baru saja runtuh dalam keheningan yang memekakkan telinga.

Keyla berjalan seperti mayat hidup membelah kerumunan. Kakinya yang dibalut *sneakers* putih terasa berat, seolah gravitasi Bumi tiba-tiba melipatgandakan kekuatannya khusus untuk menariknya jatuh. Di telinganya, suara musik DJ dari panggung utama terdengar seperti dengungan lebah yang jauh dan menyebalkan.

"Key! Keyla, tunggu!" Dinda menyusul dengan napas terengah-engah, menerobos gerombolan siswa yang sedang sibuk ber-swafoto.

Dinda berhasil mencengkeram lengan Keyla tepat di dekat gerbang keluar menuju area parkir motor. "Heh, lo mau kemana? Kita nggak bisa diem aja, Key! Sumpah, *iki gak masuk akal*! Lo liat sendiri kan tadi? Itu Vanya jelas-jelas nipu!"

Keyla berhenti, tapi tidak menoleh. Matanya menatap kosong ke arah deretan motor yang terparkir. "Udah, Din. Semuanya udah jelas."

"Jelas apanya? Jelas kalau Vanya itu ular!" Dinda menghentakkan kakinya kesal, logat Suroboyoan-nya makin kental karena emosi. "Lo harus balik ke sana. Lo tampar mukanya pake fakta. Lo sebutin isi surat lo yang cuma lo sama Tuhan yang tahu!"

"Dan bikin Bintang malu?" Keyla akhirnya berbalik, menatap sahabatnya dengan mata yang basah namun anehnya tidak meneteskan air mata. "Liat situasi tadi, Din. Bintang senyum. Dia bahagia. Kalau aku dateng sekarang dan bikin keributan, aku cuma bakal jadi perusak suasana. Aku cuma bakal jadi... *fans* gila yang obsesi."

Sementara itu, di tengah lapangan yang bermandikan cahaya sorot panggung, drama sesungguhnya sedang dikukuhkan.

Bintang Rigel masih berdiri di sana, jantungnya berdegup kencang—bukan karena adrenalin sisa pertandingan basket atau keriuhan Pensi, tapi karena sosok di hadapannya. Vanya Clarissa, dengan gaun *midnight blue* yang elegan, berdiri begitu dekat hingga Bintang bisa mencium aroma parfum mahal yang menguar darinya.

Tangan Bintang masih menggenggam surat ke-20. Amplop biru donker itu terasa hangat di telapak tangannya.

"Vanya..." Bintang memulai, suaranya parau. "Jadi selama ini... lo?"

Vanya tersenyum, sebuah senyuman yang telah ia latih di depan cermin ratusan kali. Senyuman yang memancarkan kerapuhan palsu. Ia melirik cepat ke arah surat di tangan Bintang. Kertas biru tua. *Navy Blue*.

"Maaf aku nggak jujur dari awal, Bin," ucap Vanya lembut, matanya menatap manik mata Bintang dengan intensitas yang diperhitungkan. "Aku... aku takut. Di sekolah, orang-orang kenal aku sebagai Vanya si ketua *Cheerleader*, cewek ambisius, cewek populer. Aku takut kalau kamu tahu sisi lain aku—sisi yang puitis, yang rapuh, yang cuma bisa ngomong lewat kertas—kamu bakal ilfeel."

Bintang menatap surat di tangannya, lalu menatap Vanya. Keraguan sempat melintas di benaknya. Gaya bahasa di surat-surat itu sangat dalam, penuh dengan istilah astronomi yang rumit. Apakah Vanya yang selalu bicara soal *skincare* dan *followers* ini benar-benar mengerti tentang *Paradoks Olbers* atau *Kesetimbangan Hidrostatis*?

"Tapi, Van..." Bintang mencoba mencari konfirmasi. "Di surat ini... lo nulis tentang apa?"

Ini adalah momen kritis. Vanya tahu ia sedang diuji. Jantungnya berpacu, tapi wajahnya tetap tenang. Ia mengingat kepingan informasi yang ia kumpulkan: Kertas biru donker di tangan Bintang, dress code *Midnight Blue* yang ia curi idenya dari Dinda, dan istilah yang ia dengar samar-samar saat Keyla bergumam di perpustakaan minggu lalu, ditambah intel dari surat 'Fondasi' yang pernah ia curi.

Vanya melangkah maju, mempersempit jarak, memegang tangan Bintang yang memegang surat. Ia bertaruh pada kartu as-nya: manipulasi emosi.

"Bintang Biner," bisik Vanya, menembak tepat sasaran berdasarkan apa yang ia dengar dari percakapan Keyla dan Dinda di koridor sebelum Pensi dimulai. Ia melihat mata Bintang membelalak kaget. *Gotcha*.

"Sistem bintang ganda yang saling mengorbit," lanjut Vanya, mengarang bebas dengan nada dramatis. "Itu metafora buat kita, kan? Kamu dan aku. Dua bintang yang bersinar di orbit yang sama, tapi nggak pernah berani bersentuhan. Malam ini... aku capek cuma jadi bayangan, Bin. Aku mau jadi *companion star* kamu yang nyata."

Penjelasan itu tidak sepenuhnya akurat secara astrofisika—Keyla menulis tentang bagaimana satu bintang bisa menyerap materi bintang lain sampai meledak—tapi bagi Bintang yang sedang dilanda euforia dan kebingungan, kata-kata itu terdengar masuk akal. Terlebih lagi, Vanya menyebutkan "Bintang Biner", judul surat yang baru saja ia baca sekilas judulnya tapi belum sempat ia dalami isinya.

"Lo tahu judulnya..." gumam Bintang, pertahanan logikanya runtuh. "Berarti beneran lo."

"Siapa lagi yang tahu kalau kamu sebenernya pengen jadi Arsitek, bukan Dokter?" Vanya memainkan kartu curiannya dari Bab 9. "Siapa lagi yang tahu kalau kamu merasa kesepian di tengah keramaian? Itu aku, Bin. Cassiopeia itu aku."

Keraguan di hati Bintang tersapu oleh ombak kelegaan. Selama berbulan-bulan ia mencari sosok misterius itu, dan ternyata sosok itu ada di depan matanya. Gadis tercantik di sekolah, yang ternyata menyimpan kedalaman yang tak terduga. Bintang merasa bersalah pernah meragukan Vanya.

"Gue..." Bintang tergagap, lalu tersenyum canggung. "Gue nggak nyangka. Ternyata lo sekeren itu."

Vanya tersenyum lebar, kali ini senyum kemenangan yang tulus. Ia mengeratkan genggamannya pada jari-jari Bintang. "Sekarang kamu udah nemuin aku. Jangan lepasin lagi, ya?"

Bintang mengangguk, lalu membalas genggaman itu. Di bawah langit malam Surabaya, Bintang Rigel resmi menjadi milik Vanya Clarissa. Kebohongan itu telah terpatri menjadi kebenaran.

***

Jauh dari kerlap-kerlip lampu panggung, di area parkiran motor yang remang-remang, Dinda sedang membanting helm *bogo*-nya ke jok motor Honda Scoopy.

"*Jancuk!* Sumpah, *mangkel* aku!" umpat Dinda keras-keras, tidak peduli pada beberapa adik kelas yang menoleh kaget. "Ini nggak adil, Key! Vanya itu maling! Dia maling surat lo, maling ide lo, sekarang maling cowok lo! Terus lo mau diem aja kayak patung Pancoran?!"

Keyla sudah duduk di boncengan, memeluk tas ranselnya erat-erat di dada seolah itu adalah pelampung penyelamat di tengah badai. "Ayo pulang, Din. *Please*... aku mau pulang."

Dinda menatap wajah sahabatnya. Di bawah sinar lampu jalan yang kuning suram, wajah Keyla terlihat pucat pasi. Tidak ada air mata, tapi tatapan matanya mati. Dinda menghela napas panjang, menelan kembali amarahnya yang meledak-ledak. Ia tahu, saat ini Keyla tidak butuh motivator. Ia butuh tempat sembunyi.

"Oke. Kita pulang," kata Dinda pelan, suaranya melembut. Ia naik ke motor, menyalakan mesin. "Tapi dengerin aku, Key. Ini belum selesai. Gusti Allah nggak tidur. Bangkai kalau ditutupin baunya bakal kecium juga."

Motor Dinda melaju membelah jalanan Surabaya yang masih padat. Angin malam yang hangat menampar wajah mereka. Mereka melewati Jalan Tunjungan yang ikonik, dengan deretan lampu gantung dan bangunan kolonial yang estetik. Biasanya, Keyla akan mengagumi arsitektur Hotel Majapahit atau keramaian di depan Tunjungan Plaza, tapi malam ini semuanya terlihat abu-abu.

Keyla menyandarkan kepalanya di punggung Dinda. Pikirannya melayang kembali ke momen di lapangan basket tadi. Saat Vanya menyentuh lengan Bintang. Saat Bintang menatap Vanya dengan tatapan yang selama ini Keyla impikan—tatapan kekaguman.

*Cassiopeia sudah mati,* batin Keyla perih. *Rasi bintang itu sudah diambil alih oleh supernova palsu.*

Keyla merogoh saku roknya, menyentuh secarik kertas kecil yang belum sempat ia berikan. Itu adalah *sticky note* kutipan dari Carl Sagan yang ingin ia selipkan di surat ke-20 tadi: *"We are made of starstuff."* Remasan tangannya membuat kertas itu kusut tak berbentuk.

Sesampainya di depan rumah Keyla di perumahan daerah Rungkut, suasana sepi. Orang tua Keyla mungkin sudah tidur.

"Lo yakin nggak mau gue temenin nginep?" tawar Dinda khawatir.

Keyla menggeleng lemah sambil turun dari motor. "Nggak usah, Din. Aku butuh sendiri."

"Janji jangan ngelakuin hal bodoh?" Dinda menatap tajam.

"Aku cuma mau tidur, Din. Makasih ya buat hari ini. Maaf dress cantiknya jadi sia-sia."

Dinda mendengus. "Dress-nya nggak sia-sia. Yang makainya tetep cantik. Yang buta itu si Bintang."

Setelah motor Dinda menghilang di tikungan, Keyla masuk ke kamarnya. Ia tidak menyalakan lampu utama, hanya lampu belajar di meja sudut. Kamarnya penuh dengan nuansa antariksa—poster galaksi, stiker *glow in the dark* di langit-langit, dan tumpukan buku astronomi.

Keyla duduk di depan mejanya. Di sana, tersusun rapi perlengkapan 'perang'-nya selama dua tahun ini: satu set pena kaligrafi, tumpukan kertas berbagai jenis dan warna, stiker segel lilin, dan buku jurnal tempat ia merancang konsep setiap surat.

Ia membuka laci, mengambil kotak kaleng bekas biskuit yang berisi salinan surat-surat yang pernah ia kirim. Ia membaca satu per satu fotokopi tulisan tangannya sendiri. Surat tentang *Nebula*, tentang *Lubang Hitam*, tentang *Komet Halley*.

Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya jebol. Bahu Keyla terguncang hebat. Isak tangisnya pecah, tertahan oleh bantal yang ia tekan ke wajahnya agar tidak membangunkan seisi rumah.

Betapa bodohnya dia. Berpikir bahwa ketulusan tulisan tangan bisa mengalahkan pesona fisik yang nyata. Vanya benar. Di dunia ini, pemenang adalah mereka yang berani tampil di bawah cahaya, bukan yang bersembunyi di balik bayang-bayang teleskop.

Dengan tangan gemetar, Keyla mengambil semua perlengkapan menulisnya. Pena, kertas, tinta, semuanya ia masukkan ke dalam kantong kresek hitam besar.

"Selesai," bisiknya parau pada kegelapan kamar. "Misi selesai, Cassiopeia. Kamu *abort mission*."

Keyla mengikat kantong plastik itu dengan simpul mati. Besok pagi, ia akan membuangnya ke tempat sampah depan kompleks sebelum berangkat sekolah. Mulai besok, tidak akan ada lagi surat biru di laci Bintang Rigel. Tidak akan ada lagi teka-teki astronomi.

Yang tersisa hanyalah Keyla Aluna, si gadis *invisible* yang kembali menjadi debu antariksa, melayang tanpa tujuan di orbit yang sepi, menyaksikan bintang kesayangannya bersinar untuk orang lain.

1
Mymy Zizan
bagussssssssss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!