NovelToon NovelToon
SHADOW OF DEATH

SHADOW OF DEATH

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Kenzo Huang, pria keturunan Jepang&Cina yang terjebak dalam kasus palsu perdagangan barang ilegal, memasuki penjara dengan hati hampa dan sering diintimidasi oleh geng dalam tahanan. Sampai suatu hari, dia diselamatkan oleh Lin Dong – seorang tahanan yang ditangkap karena membela adik perempuannya, Lin Xian Mei. Meski berbeda latar belakang, mereka menjalin persahabatan yang seperti saudara kandung, berbagi cerita tentang keluarga dan harapan masa depan.
Demi membalas kebaikan Lin Dong, Kenzo Huang berjanji untuk mencari jejak dan menjaga adik serta ibu nya.
Dalam perjalanan mencari jejak sang adik Lin Dong, Kenzo Terlibat organisasi dunia bawah Shehua dan menjadikannya pembunuh bayaran yg di kenal dengan sebutan Shadow Of Death

(update setiap hari)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.29 — PERANG BAI MA

Kenzo menatap Cao Xiu. Tangan masih di udara. Sayap hitam masih terbuka. Seperti malaikat maut yang sedang memutuskan siapa yang hidup dan siapa yang mati.

"Kau hidup."

Kenzo bicara. Suaranya parau. Bukan suara manusia. Suara sesuatu yang lain. Sesuatu yang gelap.

"Tapi ingat."

"Jangan pernah sentuh orang-orang ku lagi."

Dia turunkan tangan. Perlahan.Bayangan hitam di belakang nya berangsur menghilang,Kulitnya kembali normal. Tapi matanya masih merah. Masih berbahaya.

Cao Xiu bangkit. Perlahan. Tangan gemetar. Kaki lemah. Tapi matanya. Mata Cao Xiu. Penuh amarah. Penuh dendam. Penuh keinginan balas.

"Kau pikir kau menang?"

Cao Xiu tertawa. Pendek. Kasar.

"Ini wilayahku."

"Ini tempatku."

Dia angkat tangan. Ke atas. Ke arah penonton. Ke arah pintu.

"Keluar!!!"

Pintu terbuka. Banyak pintu. Dari semua arah. Kanan. Kiri. Belakang. Atas.

Orang keluar. Banyak orang. Pria. Besar. Bertato. Bertelanjang dada. Bersenjata. Pisau. Batang besi. Rantai.

Tujuh ratus orang. Mungkin lebih. Mungkin kurang. Tapi banyak. Terlalu banyak.

"Mereka semua anak buahku."

"Kau sendirian."

Cao Xiu tersenyum. Lebar. Seperti baru saja menang. Seperti melihat musuhnya akan mati.

Kenzo melihat. Ke kiri. Ke kanan. Ke depan. Ke belakang.

Tujuh ratus orang. Mengelilingi. Seperti tembok. Seperti lautan. Seperti sesuatu yang tidak bisa dilalui.

Tapi Kenzo tidak takut. Tidak mundur. Tidak berpikir untuk lari.

Dia berdiri. Tegak. Sayap hitamnya keluar lagi. Perlahan. Besar. Menakutkan.

"Ayo."

Kenzo bicara. Pendek. Sederhana.

"Datang."

Pertarungan dimulai.

Tiga orang datang duluan. Dari depan. Pisau di tangan. Cepat. Berisik. Berbahaya.

Kenzo bergerak. Tidak cepat. Tidak lambat. Tepat.

Tangan kanan. Ke leher pertama.

BRAAKKK!!!

Tangan kiri. Ke kepala kedua.

BRAAKKK!!!

Kaki. Ke perut ketiga.

BRAAKKK!!!

Tiga orang jatuh. Tidak bergerak. Atau bergerak terlalu banyak. Seperti boneka yang patah.

Empat orang datang. Dari belakang. Dari kiri. Dari kanan.

Kenzo berputar. Cepat. Seperti topang. Seperti sesuatu yang tidak bisa dihentikan.

Siku. Lutut. Tinju. Kaki. Setiap gerakan mematikan. Setiap gerakan menghancurkan.

BRAAKKK!!!

BRAAKKK!!!

BRAAKKK!!!

BRAAKKK!!!

Empat orang jatuh. Ditambah tiga tadi. Tujuh. Masih banyak lagi. Masih terlalu banyak.

Tapi Kenzo tidak berhenti. Tidak lelah. Tidak kenal takut.

Dia terus bergerak. Terus menghancurkan. Terus membunuh.

Daniel melihat. Dari lantai. Masih terluka. Masih lemah. Tapi masih bisa berpikir. Masih bisa bergerak.

Dia ambil ponsel. Dari saku. Mengetik. Cepat.

("Zhao Bowen.")

("Di mana kau?")

Jawaban cepat. Datang.

("Di luar. Menunggu perintah.")

Daniel lihat Kenzo. Yang sedang bertarung. Yang sedang membunuh. Yang sedang menjadi monster.

"Kak Kenzo..."

Daniel bicara. Pelan. Hampir tak terdengar.

Kenzo mendengar. Atau merasakan. Dia berbalik. Sejenak. Dari pertarungan.

"Zhao Bowen."

Daniel tunjuk ponsel.

"Sudah siap."

Kenzo angguk. Pendek. Cepat.

"Bawa dia pergi."

"Bawa Xiu Zhu."

"Keluar dari sini."

Daniel mengangguk. Berusaha bangkit. Berusaha berdiri. Berusaha berjalan.

Zhao Bowen muncul. Dari pintu belakang. Dengan orang. Banyak orang. Tiga ratus orang. Dari kelompok Kenzo.

"Kak Daniel!!!"

Zhao Bowen berlari. Mendekat. Melihat Daniel terluka. Melihat Xiu Zhu terbaring. Melihat Kenzo sedang bertarung.

"150 orang ikut aku."

"150 orang bantu Kak Kenzo."

Dia bagi. Cepat. Tepat. Seperti perintah. Seperti rencana.

150 orang mendekati Daniel. Mengangkat. Membawa. Keluar. Ke pintu belakang. Ke tempat yang aman.

150 orang lain mendekati Kenzo. Membantu. Bertarung. Melawan tujuh ratus orang Cao Xiu.

Pertarungan menjadi lebih besar. Lebih berdarah. Lebih gila.

Tapi sebelum semuanya selesai. Sebelum seseorang menang. Sebelum seseorang kalah.

Suara. Dari atas. Dari tangga. Dari pintu utama.

"Hei!!!"

Suaranya keras. Berwibawa. Penuh kekuasaan.

Semua berhenti. Semua menoleh. Semua melihat.

Hong Feng.

Pemimpin Bai Ma. Raja kota hitam. Yang memiliki semuanya. Yang mengatur semuanya.

Dia berdiri. Di tangga. Di atas. Melihat ke bawah. Ke pertarungan. Ke darah. Ke kegilaan.

"Apa ini?"

Suaranya dingin. Marah. Kecewa.

"Perang?"

"Di tempatku?"

Dia turun. Perlahan. Setiap langkah terdengar. Seperti denting jam. Seperti sesuatu yang akan berakhir.

Semua diam. Cao Xiu diam. Anak buah Cao Xiu diam. Anak buah Kenzo diam. Hanya Kenzo. Yang masih berdiri. Yang masih memiliki sayap hitam. Yang masih menjadi monster.

Hong Feng mendekati Kenzo. Berhenti. Tiga meter. Dua meter. Satu meter.

"Kau."

Hong Feng bicara. Suaranya lebih pelan. Lebih berbahaya.

"Kau yang membuat kekacauan ini."

"Kau yang merusak di wilayah ku."

Kenzo menatap. Mata merah. Tidak takut. Tidak hormat. Tidak peduli.

"Aku tidak peduli."

Kenzo bicara. Suaranya parau. Bukan suara manusia.

"Kau. Cao Xiu. Siapa pun."

Dia angkat tangan. Bayangan hitam di belakangnya lebih besar. Lebih gelap. Lebih menakutkan.

"Aku akan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik orang-orang ku."

Dia menatap Cao Xiu. Sejenak. Lalu kembali ke Hong Feng.

"Tak terkecuali kau."

Kenzo berbalik. Dari Hong Feng. Dari Cao Xiu. Dari semuanya.

Dia berjalan. Ke pintu. Ke tangga. Ke luar.

Anak buahnya mengikuti. 150 orang. Diam. Teratur. Seperti bayangan. Seperti tentara yang setia.

Hong Feng melihat. Tidak berkata apa-apa. Tidak menghentikan. Hanya melihat.

Cao Xiu juga melihat. Mata penuh amarah. Penuh dendam. Tapi tidak berani bergerak. Tidak berani mengejar.

Kenzo hilang. Ke kegelapan. Ke malam. Ke tempat yang aman.

Hong Feng menoleh. Ke Cao Xiu. Yang masih berdiri. Yang masih gemetar. Yang masih penuh amarah.

"Kau."

Hong Feng bicara. Suaranya dingin. Lebih dingin dari sebelumnya.

"Kau melanggar perintahku."

Cao Xiu terkejut. Melihat Hong Feng. Wajahnya pucat.

"T-Tuan Hong..."

"Diam."

Hong Feng angkat tangan. Satu jari. Ke wajah Cao Xiu.

"Aku bilang jangan ganggu Kenzo."

"Aku bilang dia milikku."

"Kenapa kau tidak dengar?"

Cao Xiu mundur. Satu langkah. Dua langkah.

"Aku... aku hanya ingin..."

"Kau ingin apa?"

Hong Feng mendekat. Cepat. Tangan kanannya mencengkeram leher Cao Xiu. Mengangkat. Seperti Kenzo mengangkat Zhou Ming.

"Kau ingin mati?"

Cao Xiu tercekik. Batuk. Tidak bisa menjawab. Tidak bisa bergerak.

Hong Feng melempar. Cao Xiu jatuh. Ke lantai. Batuk. Menghirup udara.

"Dengar."

Hong Feng berjongkok. Di depan Cao Xiu. Mata ke mata.

"Kalau kau ganggu Kenzo lagi..."

"Aku akan membunuhmu."

"Bukan dengan cepat."

"Dengan lambat."

"Dengan menyiksa."

Cao Xiu mengangguk. Cepat. Penuh ketakutan. Penuh penyesalan.

Hong Feng berdiri. Berbalik. Pergi.

Tinggal Cao Xiu. Di lantai. Sendirian. Dengan dendam yang lebih besar. Dengan rencana yang lebih gelap.

Kenzo berjalan. Ke markas Wangguan. Langkah pelan. Berat.

Tubuhnya lelah. Bukan fisik. Sesuatu yang lain. Sesuatu yang kosong.

Dia kembali normal. Mata merah hilang.

Bayangan hitam hilang. Kulit biasa.

Tapi di dalam. Sesuatu berbeda. Sesuatu telah berubah.

150 orang mengikuti. Diam. Tidak berani bicara. Tidak berani mendekat.

Mereka melihat. Di arena. Apa yang Kenzo lakukan. Apa yang berubah dalam diri nya.

Mereka takut. Tapi kagum. Juga setia. Itu yang penting.

...$ BERSAMBUNG $...

1
Aisyah Suyuti
seru
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
tak kira saya xinmei gak ketolong
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Cry/ "aku nggak bisa bayangin gimana perasaan nya yang campur aduk begitu"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Whimper/ "kok tiba-tiba jadi genre horor begini Thor"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Hammer/ "khodam nya keluar ya Thor"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Determined/ "wahhh! laki-laki sejati, aku salut padamu sobat!"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Applaud/ "bisa di spill alasannya, kok bisa keluar tanpa bersyarat?"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Proud/ "santai bener ya, hidupnya Kenzo"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Scare/ "hah? napi? beneran nih!"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Panic/ "ehh? siapa ya?"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Sneer/ "jualan nasi kucing aja kak, pasti laris"
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
Lin dong yang mengawali, Kenzo yg mengakhiri.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
semoga Kenzo hanya kehilangan empati bukan kehilangan cinta.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
sumpah terganggu sama tanda titik di setiap katanya.
🔵🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦≛⃝⃕|ℙ$ Avi🦐ˢ⍣⃟ₛ
baguss weh😍😍😍 saya suka saya suka
Capt Blacksheep TUAN PERAMAL🐑
👍
Capt Blacksheep TUAN PERAMAL🐑: awkk awok
total 4 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
nama perempuan nya Kenzo juga belum hapal sekarang tambah lagi nama anak buahnya Kenzo yg namanya susah diingat.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
nah loh sapa tuh Kenz, kira-kira mau dibeli baik-baik Xiu nya atau diambil cara paksa?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
Kenzo partner Kamu diculik tuh
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
bergabung dengan visi dan misi masing masing, yg pasti gak ada ketulusan. tapi semoga aja Kenzo gak dapat cewek lagi.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!