Hidup Alya sebagai sandwich generation bagi dua orang tua yang sakit, bagi keluarga yang bergantung, dan bagi dirinya sendiri yang jarang diberi ruang untuk lelah. Di usia seperempat abad lebih, ia belajar bertahan tanpa berharap apapun.
Hingga seorang pria datang dan mengubah pola hidupnya, Reyhan. Hanya dengan kehadiran yang tenang dan kesediaan untuk tinggal, bahkan saat hidup Alya terlalu rumit untuk diringkas dengan kata cinta.
Dalam pernikahan yang dewasa dan tidak ideal, Alya perlahan belajar bahwa menjadi kuat tidak berarti harus sendirian. Bahwa bersandar bukan kelemahan. Dan bahwa cinta, kadang, tidak datang untuk menghapus beban, melainkan untuk menopangnya bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aizu1211, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
Tidak ada yang berubah secara kasatmata setelah pertemuan itu.
Pagi tetap datang dengan cara yang sama. Jalanan tetap padat. Gedung kantor tetap berdiri dengan wajah yang tak pernah menanyakan apa pun.
Alya bangun lebih awal, menyiapkan diri dengan rutinitas yang sudah dihafalnya di luar kepala. Ia memilih pakaian kerja yang sederhana, menyisir rambut dengan gerakan yang rapi, lalu berdiri sejenak di depan cermin cukup lama untuk memastikan dirinya tampak baik-baik saja.
Alya berusaha tersenyum, senyuman terlebar yang ia bisa, ia terlihat baik-baik saja.
Namun ada sesuatu yang tinggal lebih lama dari yang ia duga. Bukan bayangan wajah Reyhan, bukan pula percakapan singkat di ruang rapat. Yang menetap justru perasaan aneh bahwa ia tidak sendirian memikul hari itu perasaan yang tidak mengganggu, tapi juga tidak bisa diabaikan.
Setelah mengunjungi Papa di rumah sakit, Alya bekerja seperti biasa. Ia menyelesaikan berkas, menghadiri rapat kecil, menjawab pertanyaan dengan suara yang tetap tenang. Tidak ada yang bertanya tentang kemarin. Tidak ada yang menyinggung pertemuan itu. Dunia profesional bergerak dengan kejamnya yang sopan.
Namun di sela-sela itu, Alya beberapa kali berhenti sejenak. Bukan untuk melamun, melainkan untuk menata napas. Ia menyadari tubuhnya lebih cepat lelah. Kepalanya terasa penuh, seolah pikirannya belum benar-benar kembali dari tempat lain.
Menjelang siang, ia menerima panggilan dari rumah sakit.
“Tekanan darah Papa naik lagi,” kata Viko di seberang.
Alya mengucapkan terima kasih, menutup telepon, lalu menatap layar ponselnya lebih lama dari yang perlu. Ia menuliskan catatan kecil di buku agenda, dengan tulisan yang sedikit lebih miring dari biasanya.
Hari itu kembali mengingatkannya pada kenyataan yang tidak bisa ditunda.
Sore datang lebih cepat dari yang ia harapkan. Alya pulang lebih awal, langsung menuju rumah sakit. Di perjalanan, ia menyalakan radio tanpa benar-benar mendengarkan. Lampu-lampu merah berhenti terlalu lama, atau mungkin ia yang tidak sabar.
Di rumah sakit, papanya terbangun. Wajahnya terlihat lebih pucat, tapi matanya tetap tenang. Alya tersenyum kecil ketika papanya menoleh.
“Kamu pulang kerja cepat,” kata papanya.
“Iya,” jawab Alya. “Pekerjaan lebih cepat selesai.”
Itu tidak sepenuhnya benar, tapi juga tidak bohong.
Ia duduk di sisi ranjang, sedikit memijat pelan kaki papanya. Percakapan mereka sederhana tentang jadwal obat, tentang cuaca, tentang hal-hal kecil yang aman dibicarakan. Tidak ada yang menyebut kemungkinan buruk. Tidak ada yang bertanya sampai kapan ini akan berlangsung.
Malam turun pelan. Alya keluar ke lorong untuk mengambil udara. Di sana, ia berdiri di dekat jendela, memandang kota yang menyala satu per satu. Ia menyadari bahwa pikirannya kembali pada pertemuan kemarin bukan sebagai kenangan, melainkan sebagai tolok ukur.
Ia mengingat cara Reyhan menunggu sebelum berbicara. Cara ia tidak bertanya lebih jauh. Cara ia memberi ruang tanpa menjauh. Semua itu membuat Alya merasa sesuatu di dalam dirinya sedikit melunak dan itu justru yang membuatnya takut.
Karena melunak berarti membuka kemungkinan.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk, singkat dan formal. Bukan pesan pribadi. Tidak ada sapaan hangat. Hanya tindak lanjut pekerjaan yang telah dibicarakan. Alya membaca pesan itu, lalu membalasnya dengan nada yang sama.
Ia menutup layar, menyelipkan ponsel ke dalam tas.
Ia belum siap untuk lebih dari itu.
Di rumah, malam itu Alya sulit tidur. Ia berbaring dengan mata terpejam, mendengarkan suara jam dinding yang berdetak pelan. Pikirannya melayang ke banyak hal, ke pekerjaan yang belum selesai, ke jadwal kontrol berikutnya, ke adiknya yang berusaha terlihat kuat.
Dan di antara semua itu, ada satu ruang kecil yang terus terisi oleh pertanyaan yang tidak ingin ia jawab.
‘Berapa lama aku bisa menahan semuanya sendirian?’
Keesokan harinya, Alya datang ke kantor dengan wajah yang sama tenangnya. Namun Pingkan memperhatikannya lebih lama dari biasanya.
“Kamu kelihatan capek,” katanya.
Alya tersenyum. “Sedikit.”
Pingkan tidak menimpali. Ia hanya menggeser segelas air ke meja Alya, lalu kembali ke tempatnya. Perhatian yang diberikan tanpa perlu dibalas.
Hari itu berjalan dengan ritme yang lebih lambat. Alya menyelesaikan tugas-tugas rutin, tapi pikirannya sering tertinggal. Ia membuat satu kesalahan kecil lagi, salah kirim lampiran dan harus memperbaikinya sebelum makan siang.
Ia tidak kesal. Ia hanya lelah. Dan tetap melakukan apa yang ia bisa dengan sebaik mungkin.
Siang itu, saat Alya duduk sendirian di ruang makan kecil kantor, ia menyadari sesuatu yang sederhana, meski semuanya terlihat sulit, selalu ada hal baik setiap harinya.
Salah satunya teman kerja yang suportif, mereka tak pernah bertanya, cukup mengamat dan memahami, tanpa menghakimi.
Contohnya makan siang ini, Alya tidak bisa pergi ke kantin karena merevisi surat yang sudah ia kirim dalam kondisi benar beberapa menit lalu, dan para seniornya membelikan makan siang untuknya.
Lengkap dengan minuman boba manis kesukaan Alya, sikap mereka dan perhatian ini, sudah lebih dari cukup.
Di tempat lain, Reyhan menjalani hari dengan kesibukan yang tak jauh berbeda. Ia mengajar, menghadiri rapat fakultas, menandatangani dokumen. Tidak ada yang menyinggung pertemuan kemarin, dan ia tidak membawanya ke mana-mana.
Namun di sela-sela aktivitas itu, ia beberapa kali berhenti lebih lama dari yang perlu. Ia menyadari satu hal kecil yang jarang ia rasakan sebelumnya, keinginannya untuk memastikan seseorang baik-baik saja tanpa merasa perlu hadir.
Malam itu, Alya kembali ke rumah sakit. Papanya tertidur lebih awal. Adik Alya terlihat kelelahan, dan Alya memintanya pulang sebentar untuk beristirahat.
“Papa ditemani aku,” kata Alya.
“Aku saja kak, kakak istirahatlah, besok masih kerja kan?”
“Biar aku saja, kamu juga perlu istirahat”
Mereka berdua saling tatap, rasa lelah itu tertutup dengan rasa khawatir.
Alya tahu alasan Viko tidak mau digantikan, kondisi papa mereka sering tiba-tiba drop, dan bocah kecil itu takut terjadi sesuatu yang tidak mereka inginkan.
“Kalau ada apa-apa, kamu orang pertama yang kakak hubungi, janji”
“Oke, aku akan jaga mama di rumah” Alya mengangguk, Viko pulang setelah membereskan barang yang perlu ia bawa pulang.
Alya duduk sendirian di kamar rawat, membaca tanpa benar-benar memahami isi halaman. Ia menatap wajah papanya yang tenang, lalu menutup buku. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, air matanya jatuh tanpa suara.
Ia tidak menangis lama. Hanya cukup untuk melepaskan tekanan yang menumpuk di dadanya.
Dalam diam itu, Alya menyadari bahwa hidupnya sedang berada di titik yang rapuh dan ia tak punya siapapun selain keluarga kecil itu.
Kemungkinan buruk itu akan selalu ada, meski di tepis dengan berbagai cara Alya ketakutan, tidak ada yang bisa menjamin besok, semuanya akan baik-baik saja.
Ketika malam semakin larut, Alya bangkit dan merapikan selimut papanya. Ia berdiri sejenak sebelum keluar ruangan, menarik napas panjang. Besok akan datang dengan urusannya sendiri. Pekerjaan akan menunggu. Keluarga akan tetap membutuhkan.
Namun kini, Alya tahu satu hal kecil, ia tidak harus menghadapi semuanya dengan keras.
Kadang, cukup dengan menyadari bahwa ia boleh merasa lelah dan bahwa perasaan itu tidak membuatnya lemah.
TBC