Hidup Aulia Maheswari berubah dalam sekejap. Sebuah pengkhianatan merenggut kepercayaan, dan luka yang datang setelahnya memaksanya belajar bertahan.
Saat ia mengira hidupnya hanya akan diisi trauma dan penyesalan, takdir mempertemukannya dengan sebuah ikatan tak terduga. Sebuah kesepakatan, sebuah tanggung jawab, dan perasaan yang tumbuh di luar rencana.
Namun, bisakah hati yang pernah hancur berani percaya pada cinta lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34.Tidak mau! ~Arumi
Adrian berjalan ke depan dan membuka pintu. "Iya?"
"Selamat pagi, Pak Adrian."
Tubuhnya langsung mematung. Di hadapannya berdiri lima pria di teras rumah. Bukan kurir makanan. Bukan tamu biasa. Empat di antaranya berbadan besar dengan ekspresi datar, sementara satu pria berpenampilan rapi mengenakan jas berdiri paling depan. Di tangannya tergenggam map tebal berwarna cokelat.
Wajah Adrian perlahan memucat. Keringat dingin mulai merambat di pelipisnya. Kakinya terasa lemas, seolah lantai yang ia pijak tidak lagi benar-benar kokoh.
Pria berjas itu membuka mapnya dengan tenang.
"Kami datang atas perintah langsung Bapak Archio. Hari ini adalah batas akhir waktu yang diberikan kepada Anda."
Suasana mendadak terasa pengap.
"Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, seluruh aset atas nama Anda akan dialihkan sebagai bentuk penggantian dana perusahaan. Kami hanya menjalankan proses administrasinya."
"Lima hari adalah waktu yang cukup untuk berkemas dan meninggalkan rumah, bukan? Jadi hari ini tidak ada lagi alasan untuk tetap tinggal. Silakan segera mengosongkan rumah ini."
"Mas kok lama banget? Ngobrol sama siapa?"
Arumi berjalan mendekat. Pandangannya langsung menangkap beberapa pria yang berdiri di teras, meski sebagian tubuh mereka tertutup oleh bahu tegap Adrian.
Rasa penasarannya mengalahkan situasi. Ia menyelinap di bawah lengan Adrian dan berdiri tepat di depan para pria itu.
"Kalian siapa, Pak?" tanyanya, alisnya berkerut.
Ia menoleh ke Adrian. "Mereka siapa, Mas?" ulangnya lagi. Namun Adrian tetap diam, wajahnya tegang, rahangnya mengeras.
Pria berjas di depan itu akhirnya mengalihkan pandangannya pada Arumi.
"Bu, kami datang untuk mengambil alih rumah ini sesuai perintah yang telah disampaikan sebelumnya. Kami minta Anda dan suami segera meninggalkan rumah."
Arumi mengerjap, belum sepenuhnya memahami.
"Kami memberi waktu tiga puluh menit untuk berkemas dan mengeluarkan barang pribadi. Perlu kami ingatkan, seluruh aset bernilai di dalam rumah ini termasuk bagian dari penggantian dana perusahaan. Anda hanya diperkenankan membawa barang pribadi seperti pakaian."
Hening.
Kalimat itu terasa menggantung di udara, berat dan tidak masuk akal.
Arumi menoleh perlahan ke arah Adrian. Tatapannya berubah. Bukan lagi penasaran.
Melainkan bingung yang mulai retak.
Arumi menggeleng cepat. "Tidak... siapa kalian? Hak apa yang kalian punya atas rumah suamiku? Mas, itu tidak benar kan? Tolong usir mereka. Mengganggu pagiku saja!" ujarnya, mendekat dan menggoyangkan lengan Adrian.
Namun Adrian tidak bergeming. Ia hanya menatap Arumi, bibirnya kelu, tak satu pun kata keluar.
"Mas... ayo dong. Ini rumah kamu. Kenapa mereka mau mengusir kita? Kenapa rumahnya mau diambil, Mas?" suaranya meninggi, nyaris pecah karena tak mendapat jawaban.
Para pria di teras itu tetap berdiri tanpa ekspresi, seolah teriakan Arumi bukan sesuatu yang perlu mereka tanggapi.
"Maaf, Arumi. Ayo kita berkemas," ujar Adrian akhirnya, pelan namun tegas.
Kalimat itu seperti tamparan.
Arumi kembali menggeleng. Wajahnya memerah, antara marah dan menahan tangis. Dadanya naik turun tidak teratur.
"Tidak mau! Ini rumah kamu. Aku tidak mau pergi dari sini!" teriaknya semakin lantang.
Tangannya mencengkeram lengan Adrian lebih kuat, seolah berharap pria itu berubah pikiran. Namun yang ia rasakan hanya tubuh kaku yang tidak lagi berusaha melawan keadaan.
.
.
"Aku sudah dipecat, Arumi!" suara Adrian akhirnya pecah. Rendah, tapi menghantam. "Aku ada masalah di kantor. Jadi ayo... sebelum semuanya dibawa ke jalur hukum, lebih baik kita pergi sendiri."
Kalimat itu seperti merobek sesuatu di dalam dada Arumi.
Air matanya luruh begitu saja. Bukan semata karena Adrian dipecat, melainkan karena rasa malu yang tiba-tiba menelanjangi dirinya di depan lima orang asing itu. Rumah yang selama ini ia banggakan. Status yang ia pegang erat. Semua terasa runtuh dalam satu tarikan napas.
Kakinya perlahan kehilangan tenaga. Tubuhnya melorot ke lantai tepat di ambang pintu, lututnya membentur marmer dingin. Tangisnya pecah tanpa bisa ia tahan lagi, tersedu dan berantakan.
Ia masih menggeleng, berulang kali, seperti anak kecil yang menolak kenyataan.
"Tidak... tidak mungkin..." gumamnya di sela isak.
Tangannya direntangkan, tubuh mungilnya seolah menjadi tameng di depan pintu, berusaha menghalangi lima pria bertubuh besar itu masuk ke dalam rumah.
Namun waktu tidak berhenti hanya karena ia menangis.
Kelima pria itu saling pandang, jelas mulai kehilangan kesabaran.
"Kalau Bapak dan Ibu tidak segera berkemas, kami yang akan membantu prosesnya," ujar salah satu pria bertubuh tegap dengan rambut sedikit panjang. Nada suaranya tetap datar, tapi langkahnya sudah maju.
"Tidak!" jerit Arumi. Ia bangkit setengah berlutut dan meraih kaki pria itu. "Jangan lakukan itu! Ini rumah suami saya. Rumah ini hadiah untuk saya. Tolong... jangan!"
Isaknya makin tak terkendali. Tangannya memeluk kaki pria tersebut, memohon tanpa harga diri.
Namun yang ia dapat hanya dorongan kasar dari kaki besar itu. Tidak sampai menendang, tapi cukup keras membuat tubuh Arumi terjungkal ke belakang. Punggungnya membentur lantai, napasnya tercekat.
Tanpa banyak bicara lagi, kelima pria itu melangkah masuk. Sepatu mereka menginjak lantai rumah yang selama ini Arumi jaga kebersihannya. Pandangan mereka menyapu ruang tamu, lukisan, televisi besar, lemari pajangan.
Salah satu dari mereka mulai mencatat sesuatu di berkas.
"Pak Adrian, mohon percepat. Waktu Anda tinggal sedikit."
Di bawah tatapan pengawasan mereka, Adrian berjalan ke kamar. Tangannya gemetar saat membuka lemari. Ia menarik pakaian satu per satu, memasukkannya ke dalam koper tanpa dilipat, tanpa diatur. Semua dilempar begitu saja, seperti hidupnya yang kini juga tidak lagi tersusun rapi.
Sementara di luar kamar, tangis Arumi masih terdengar, pecah dan memantul di dinding rumah yang sebentar lagi bukan lagi milik mereka.
...****************...
Hampir lima belas menit kemudian, Adrian keluar dari kamar dengan tiga koper besar. Resletingnya bahkan tidak tertutup rapi. Tidak ada barang lain selain pakaian yang ia bawa. Tidak ada dokumen penting yang ia banggakan dulu. Tidak ada barang mewah yang dulu membuatnya merasa berhasil.
Kunci mobil BMW miliknya sudah lebih dulu ia serahkan. Dua unit motor YZF R25 kesayangannya juga telah dicatat dan diambil alih. Semuanya berpindah tangan tanpa bisa ia tahan.
Adrian berhenti di ambang pintu. Napasnya berat.
Di sana, Arumi masih terduduk di lantai, menangis tersedu dengan bahu yang naik turun tak beraturan. Rambutnya berantakan, pipinya basah, dan wajahnya sembab. Melihatnya seperti itu membuat dada Adrian terasa diremas.
"Ayo, sayang," ucapnya lirih.
Ia menyodorkan satu koper berukuran sedang pada Arumi. Wanita itu langsung berdiri, tangannya meraih koper tersebut dengan gerakan tergesa, seolah hanya ingin segera menjauh dari tatapan orang-orang di dalam rumah itu.
Tanpa berpikir panjang, Arumi melangkah cepat ke arah garasi.
"Mobil itu juga disita, Arumi."
Langkahnya terhenti mendadak.
"MAS!" teriaknya, suaranya pecah dan penuh penolakan. Ia menoleh tajam, matanya merah, tidak percaya.
Adrian menunduk sebentar sebelum kembali menatapnya. "Iya. Semuanya disita."
Suaranya terdengar pasrah. Tidak ada lagi yang bisa dipertahankan.
"Ayo kita pesan taksi online saja. Kita kembali ke rumah lama."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tuh malah sudah berpelukan bukan dekat lagi tapi nempel