✨Rilis episode setiap hari Senin, Rabu, Jum'at, pukul 19.00 wib, dan Minggu Pukul 07.00 wib.
Di dunia lamanya Ren Akasa adalah pria kantor yang di perlakukan buruk oleh atasan dan juga rekan kerjanya.
Tekanan kerjaan yang gila, gaji yang sering di tunda juga rekan kerja yang manipulatif. Suatu ketika ia di tarik ke dunia lain, BUKAN untuk menjadi PAHLAWAN melainkan untuk menjadi RAJA IBLIS.
Antara menjadi penyelamat yang bijak, atau menjadi penguasa tirani yang dingin, mengingat selama hidupnya di dunia nyata ia diperlakukan bagai pecundang.
dengan kekuatan yang Ren miliki, apakah dunia lain akan menjadi pelampiasannya akibat perlakuan dari dunia lamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lorenzo Leonhart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Operasi Likuidasi Oakhaven
Matahari mulai condong ke barat, membiaskan cahaya oranye yang suram di atas perbukitan batu yang membatasi wilayah Rawa Keruh dengan dataran rendah Oakhaven.
Di balik tebing-tebing terjal itu, asap hitam mengepul tipis dari sebuah kamp yang dijaga ketat oleh sindikat perdagangan manusia. Pagar kayu tinggi dengan kawat berduri sihir mengelilingi area tersebut.
Dari kejauhan, Ren bisa mendengar sayup-sayup suara cambuk dan rintihan yang menyayat hati, simfoni kekejaman yang membuat darahnya mendidih secara perlahan.
Ren Akasa berdiri di puncak tebing, diapit oleh dua jenderal rasi bintangnya. Angin kencang menerpa jubah hitamnya yang beraksen emas, memberikan kesan agung namun mematikan di tengah lanskap yang tandus.
"Sepuluh penjaga di menara, setidaknya tiga puluh prajurit bayaran di darat, dan satu tanda mana yang cukup besar di tenda pusat," Valeria melaporkan dengan nada bisnis yang tajam. Mata biru esnya berpendar saat ia memindai aliran energi kamp.
"Penyihir kontrak. Mereka menggunakan Physical Null Barrier pada gerbang utama untuk menjaga komoditas mereka tetap aman."
"Tuan Leon," Shallan berkata dengan suara alto yang halus namun sedingin es, matanya yang merah menatap kamp di bawah seperti seorang dewi melihat sarang semut yang menjijikkan.
"Bau ketakutan dan keserakahan manusia-manusia itu merusak udara sore. Izinkan saya turun dan 'membersihkan' hama ini agar pemandangan Anda tidak terganggu."
Valeria melirik sinis. "Jangan gegabah, Sucubbus. Kau akan memicu alarm sihir jika masuk tanpa rencana. Biarkan yang berotak bekerja dulu sebelum ototmu mengambil alih."
Shallan hanya tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya.
"Oh, Valeria. Kadang ketakutan absolut adalah cara tercepat untuk mematikan alarm apa pun."
"Cukup," suara Ren memotong potensi perdebatan itu dengan otoritas mutlak. Ia menatap kamp di bawah dengan pandangan analitis.
"Dengarkan instruksiku. Kita akan menyerang sekarang. Namun, ada satu aturan mutlak : Gunakan maksimal 10% kekuatan fisik dan sihir kalian."
Shallan mengangkat alisnya yang rapi. "Hanya sepuluh persen, Tuan? Apakah Anda khawatir kami akan terlalu cepat bosan?"
"Aku khawatir kalian akan meratakan bukit ini," jawab Ren datar. Ia menunjuk ke arah kandang besi di belakang kamp. "Struktur kandang itu rapuh. Jika Valeria melepaskan badai salju penuh atau jika Shallan menghantam tanah dengan kekuatan aslinya, gelombang kejutnya akan membunuh sepuluh sandera Lizardman itu sebelum mereka sempat kita selamatkan. Kita di sini untuk operasi penyelamatan, bukan pemusnahan massal yang ceroboh."
Ren menarik napas dalam, merasakan energi Mahkota Vargos yang berdenyut tenang di nadinya. "Valeria, bekukan rute pelarian dan netralkan penghalang gerbang. Shallan, hancurkan pertahanan udara dan menara pengawas. Lumpuhkan mereka, jangan bunuh pemimpinnya. Aku akan masuk melalui gerbang depan."
Langkah Sang Penguasa dan Badai Dingin
Penyerbuan dimulai tanpa peringatan. Valeria Lockhart mengangkat tongkat kristalnya. Meskipun es adalah elemen favoritnya, sebagai Archmage Rasi Leo, ia menguasai fleksibilitas.
"Wind Step."
Valeria merapalkan sihir angin tingkat dasar pada dirinya sendiri. Tubuhnya menjadi seringan bulu, memungkinkannya meluncur turun dari tebing curam dengan kecepatan yang tidak wajar, mendarat tanpa suara di titik buta di samping kamp.
Ia mengarahkan tongkatnya ke gerbang utama yang dilindungi sihir. "Penghalang fisik tidak berarti apa-apa di hadapan suhu nol mutlak. Frost Bind."
Seketika, embun beku merambat dengan kecepatan kilat, menyelimuti engsel gerbang kayu yang tebal dan mekanisme penguncinya. Kayu dan besi itu membeku hingga ke intinya, menjadi rapuh seperti kaca tipis.
Di saat yang sama, sebuah bayangan merah melesat ke langit dari puncak tebing. Shallan melompat. Meski hanya menggunakan 5% kekuatannya, kekuatan otot kakinya yang mengerikan membawanya terbang setinggi dua puluh meter dalam satu lonjakan, melampaui tinggi pagar kamp. Ia mendarat tepat di atap menara pengawas utama.
KRAAAKKK! BOOM!
Pendaratan itu menciptakan ledakan suara yang memekakkan telinga. Struktur kayu menara yang kokoh tidak sanggup menahan beban dan tekanan dari kedatangan Jenderal Leo. Menara itu runtuh seketika, mengirimkan serpihan kayu tajam dan dua penjaga yang malang jatuh ke tanah. Shallan mendarat dengan anggun di tengah puing-puing, debu mengepul di sekitar kakinya yang jenjang.
Ia berdiri tegak, menatap puluhan tentara bayaran yang kini mengelilinginya dengan senjata terhunus dan wajah pucat.
"Selamat sore, Anjing-anjing penjaga," ucap Shallan dengan nada bosan. Ia menguraikan cambuk hitam panjang dari pinggangnya. "Tuanku menginginkan ketenangan. Kalian terlalu berisik."
Lima prajurit nekat maju menyerang. Shallan hanya mengibaskan cambuknya sekali.
WHPAAK!
Ujung cambuk itu bergerak lebih cepat dari mata manusia, memotong udara dan membelah zirah kulit kelima prajurit itu sekaligus. Mereka jatuh pingsan karena hantaman fisik yang presisi sebelum darah sempat keluar.
"Menyedihkan," gumam Shallan.
Kehancuran logika manusia di gerbang depan, Ren melangkah masuk. Ia tidak menendang gerbang itu. Ia hanya meletakkan telapak tangannya di permukaan kayu yang sudah dibekukan oleh Valeria. Dengan dorongan ringan, gerbang setinggi empat meter itu hancur berkeping-keping menjadi ribuan pecahan es dan kayu.
Ren berjalan masuk melalui hujan serpihan es dengan langkah yang teratur, jubahnya tidak tersentuh satu pun kotoran. Auranya ditekan seminimal mungkin, namun keberadaannya sendiri sudah cukup membuat udara terasa berat.
"Siapa kau?!" seorang kapten tentara bayaran berteriak panik, mengayunkan pedang baja berkualitas tinggi ke arah leher Ren.
Ren tidak menghindar. Ia bahkan tidak berkedip. Saat bilah pedang itu berjarak satu inci dari kulitnya, Ren mengangkat dua jarinya, dilapisi mana hitam tipis, dan menjepit bilah pedang itu.
Ting.
Ren menarik bilah pedang itu kebawah lalu memutar pergelangan tangannya sedikit. Krak! Pedang baja itu patah menjadi dua bagian semudah mematahkan ranting kering.
Mata kapten itu terbelalak. Sebelum ia sempat memproses apa yang terjadi, Ren mengepalkan tangannya dan melakukan gerakan tinju pendek ke arah dada kapten itu, sebuah pukulan 1 inci.
BUM!
Meski Ren menahan kekuatannya habis-habisan, kapten itu terpental ke belakang sejauh sepuluh meter, tubuhnya menabrak dinding barak kayu hingga jebol.
"Aku adalah pemilik baru tanah ini," suara Ren bergema di seluruh kamp yang kini kacau balau. "Dan kalian tidak membayar sewa."
Di tengah kekacauan itu, penyihir kontrak dari Arthemis keluar dari tenda pusat. Wajahnya pucat pasi melihat pasukannya dilumpuhkan oleh dua wanita mengerikan dan gerbangnya dihancurkan oleh seorang pria yang mematahkan pedang dengan jari kosong.
"Mati kau, Monster!" teriak penyihir itu, merapal mantra api tingkat menengah. "Ignis Sphere!"
Sebuah bola api besar melesat ke arah Ren. Valeria, yang melihat dari kejauhan, hendak bergerak untuk menangkisnya, namun ia berhenti saat melihat Ren mengangkat tangannya dengan tenang.
Saat bola api itu menyentuh telapak tangan Ren, mahkota transparan di kepalanya bersinar sesaat. Bukannya meledak, api itu seolah-olah tersedot ke dalam pusaran hitam di telapak tangan Ren, mengecil dan padam tanpa meninggalkan bekas luka bakar sedikit pun.
"Mustahil... sihirku... ditelan?" penyihir itu jatuh terduduk, kakinya lemas karena teror murni.
Ren berjalan mendekat, bayangannya menutupi penyihir yang gemetar itu.
"Sihirmu tidak efisien," ucap Ren dingin.
"Terlalu banyak energi yang terbuang hanya untuk pertunjukan visual yang menyedihkan."
Jika pembantaian sepihak ini bisa disebut demikian, berakhir dalam waktu kurang dari lima menit. Shallan telah melumpuhkan sisa pasukan dengan kombinasi serangan fisik dan cambukan presisi yang membuat mereka tak sadarkan diri.
Valeria telah membekukan kaki mereka yang mencoba kabur.
Ren berjalan melewati tubuh-tubuh yang bergelimpangan menuju kandang besi di belakang tenda. Sepuluh pemuda Lizardman menatapnya dari balik jeruji. Mata kuning mereka melebar, campuran antara ketakutan melihat kekuatan Ren dan harapan yang rapuh.
"Valeria," panggil Ren.
Valeria muncul di samping Ren, ia menjentikkan jarinya dan pilar es kecil muncul, menghancurkan gembok-gembok besi tersebut dengan presisi bedah tanpa melukai penghuninya.
Ren mengulurkan tangannya kepada Lizardman yang paling depan. Aura pemimpinnya yang menekan tadi menghilang, digantikan oleh ketenangan seorang yang bijak.
"Waktunya pulang. Gorn sedang menunggu kalian."
Lizardman muda itu ragu sejenak, namun melihat kejujuran yang aneh di mata Raja Iblis itu, ia menyambut tangan Ren dengan gemetar.
Ren kemudian berbalik ke arah penyihir kontrak dan pemimpin kamp yang kini terikat.
"Kalian berdua," ucap Ren datar. "Kalian akan ikut kami. Aku punya seseorang yang sangat ingin bertemu dengan 'rekan bisnis' yang menculik anak-anaknya."
Ren menoleh ke arah Shallan. "Bawa mereka. Pastikan mereka tidak mati di jalan karena ketakutan."
Shallan membungkuk hormat dengan gerakan yang sangat anggun dan profesional.
"Dimengerti, Tuan Leon. Saya akan memastikan mereka tetap 'segar' dan sadar sepenuhnya sampai kita tiba di hadapan Gorn."
Mata merah Shallan berkilat dingin ke arah kedua tawanan itu, membuat mereka semakin gemetar. Tidak ada godaan, tidak ada main-main. Hanya efisiensi seorang eksekutor.
Legitimasi di atas lumpur malam telah jatuh sepenuhnya saat rombongan itu kembali ke tepi Rawa Keruh. Ratusan obor tulang menyala, menerangi kegelapan rawa. Gorn, sang tetua Lizardman, berdiri di depan barisan kaumnya dengan tombak di tangan.
Ketika sepuluh pemuda Lizardman keluar dari kegelapan di belakang Ren, utuh dan selamat, suasana tegang di rawa itu seketika pecah. Desisan syukur dan tangisan lega bergema.
Gorn maju ke depan. Ia menatap Ren. Zirah merah marun sang Raja Iblis tidak terkena setetes darah pun, bukti nyata dari perbedaan kekuatan yang absolut. Gorn kemudian melihat tawanan manusia yang diseret di belakang oleh Shallan yang tampak tak tersentuh.
"Raja Leon ke-9," suara Gorn berat, wibawanya yang keras kini melunak oleh rasa hormat. "Kau menepati janjimu. Kau membawa kembali darah daging kami. Kau melakukan apa yang tidak pernah dilakukan oleh raja mana pun sebelumnya."
Perlahan, Gorn menurunkan tubuh raksasanya. Ia berlutut di lumpur pekat di hadapan Ren. Tindakan itu diikuti oleh seluruh kaum Lizardman di sana, menciptakan gelombang kesetiaan yang menggetarkan tanah rawa.
"Kaum Lizardman tidak pernah melupakan hutang," ucap Gorn. "Mulai malam ini, Rawa Keruh adalah bagian dari Vargos. Tombak kami, pengetahuan kami tentang rawa ini, dan nyawa kami adalah milikmu, Rajaku."
Ren mengangguk pelan, menerima sumpah itu dengan tenang. Di hadapannya, sebuah jendela sistem muncul, hanya sebagai pencatat sejarah.
[ LAPORAN PENCAPAIAN ]
[ Operasi: Likuidasi Oakhaven - Sukses Mutlak ]
[ Kerusakan Collateral: 0% ]
[ Status Diplomasi: Kaum Lizardman kini menjadi Vassal (Bawahan Setia) Vargos ]
Ren menatap langit malam. Langkah pertama telah berhasil. Ia telah mengamankan perbatasan, mendapatkan tenaga kerja, dan mengirim pesan bisu ke Arthemis.
"Gorn, istirahatlah malam ini," ucap Ren.
"Besok pagi, datanglah ke kastil. Kita akan bicara tentang pembangunan. Aku tidak butuh budak. Aku butuh rekan kerja untuk membangun kembali negeri ini."
Ren berbalik dan berjalan kembali menuju kastilnya, diikuti oleh dua jenderalnya yang setia. Di dalam hatinya, Ren tahu, 90 hari ke depan akan menjadi masa percobaan paling brutal dalam hidupnya.
Bersambung.