Keputusan itu telah final. Keluarga besar Hartono menemukan anak kandung mereka yang tertukar selama 21 tahun. Tanpa ragu, Mama Linda nyonya Hartono menjemput Rhea dan membawanya pulang ke rumah megah Hartono. Kepulangan Rhea disambut hangat, bahkan Reno kakak tertua, memeluknya penuh kasih. Namun tanpa disadari, mereka melupakan Aresha anak yang telah dibesarkan sejak bayi. Sejak saat itu, Rhea memperlakukan Aresha dengan kejam, menyiksa bahkan menyiksa demi memvalidasi statusnya. Hingga sebuah perjamuan investor berakhir tragedi, Rhea mendorong Stefani adik dari Samba CEO terkaya di negara M hingga koma dan menuduh Aresha. Nyonya Linda mengetahui kebenaran, menghapus semua bukti tetap memilih mengorbankan Aresha demi melindungi anak kandungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon richa dhian p., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Empat Puluh
Dan untuk pertama kalinya, Aresha benar-benar menggoyahkan hati serta prasangka keluarga besar Hartono.
Bisik-bisik mulai berubah arah. Tatapan yang tadinya tajam kini disusupi keraguan. Namun Rhea tidak tinggal diam. Ia segera melangkah maju, memecah keheningan sakral yang baru saja diciptakan Aresha.
“Kak, kesehatan Ayah sudah tidak baik lagi. Tidak bisakah kamu mengalah saja untuk mengakui kesalahanmu?” Suaranya lembut. Wajahnya polos, penuh perhatian arag semia mengira dia anak yang sangat berbakti.
Beberapa anggota keluarga mengangguk pelan.
“Kasihan Tuan Hartono…”
“Jangan buat beliau tambah sakit…”
Aresha hanya menatap Rhea tanpa berkedip. Ia tahu sandiwara itu terlalu sempurna untuk disebut tulus.
“Reno, hari ini kamu sebagai anak laki-laki tertua harus mendisiplinkan adikmu dengan hukuman empat puluh cambukan.” Tiba-tiba suara Ayah menggema.
Ruangan kembali sunyi.
“Kalau tidak, pergi dari Kediaman Hartono sebagai pewaris!” tambah Ayah dengan nada tinggi dan tak terbantahkan.
Mama tersentak.
Reno membeku.
Namun Aresha tetap bersimpuh di bawah Al-Qur’an, darah yang tadi mengering di pelipisnya menjadi saksi keberaniannya.
“Bahkan jika kamu membunuhku hari ini, aku tidak akan mengakuinya di bawah Al-Qur’an,” jawab Aresha dengan nada datar namun tak gentar.
Kalimat itu membuat beberapa orang bergidik.
“Sudah cukup! Apa kamu akan memperlakukan kakakmu ini sampai mati?” Reno berbalik ke arah Ayah, suaranya bergetar antara marah dan ragu.
Namun sebelum suasana berubah, Reno kembali memutar arah.
“Stefani dan Samba yang menjebakmu, apakah kamu masih belum mengerti?” tambahnya, memutarbalikkan fakta dengan keyakinan yang dipaksakan.
Bisik-bisik kembali menyebar.
“Benar juga…”
“Kasus itu memang rumit…”
“Tapi sumpah tadi…”
“Jangan membuang-buang waktu. Ambil rotan ini. Cambuk adikmu empat puluh kali.” Ayah menyerahkan rotan panjang simbol tradisi keluarga Hartono jika ada kesalahan berat.
Reno menatap rotan itu lama. Tangannya gemetar.
Mama menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya mulai jatuh.
“Lakukan. Aresha masih putriku,” tegas Ayah tanpa ragu.
Kalimat itu terdengar aneh. Masih putriku namun hukuman itu begitu kejam.
“Aresha anak perempuan. Pasti dia tidak tahan. Biarkan aku yang mengambil hukuman ini!” Mama berteriak, meraih tangan suaminya.
Bisik-bisik terdengar semakin jelas.
“Bu Linda masih membela dia…”
“Padahal bukan anak kandung…”
“Tapi dia memang membesarkannya…”
“Kamu pasti tahu ini. Siapa pun yang melakukan kesalahan berat harus menanggungnya!” bentak Ayah.
Mama terisak.
“Kak, jangan keras kepala lagi. Asal kamu mengaku kamu yang mendorong Nona Stefani dari lantai dua, Ayah pasti akan meringankan hukumanmu,” kata Rhea cepat, memperburuk keadaan dengan nada lembut yang menusuk.
“Lihat? Dia masih memberi kesempatan…”
“Rhea memang berhati baik…”
“Ayah, maafkan saja Aresha. Mari kita lupakan hukuman keluarga ini,” ucap Reno pelan, masih ragu.
Namun Ayah berdiri tegak.
“Aresha hanya gadis desa yang aku pungut dan aku besarkan. Dia bukan putri kandung kami. Dan hari ini dia masih membuat keributan di keluarga besar serta tidak bisa menghormati semua orang di sini!” Bentak Ayah.
Ruangan mendadak hening.
Kalimat itu seperti pedang yang ditancapkan tepat di dada Aresha.
“Bagaimana bisa aku memaafkannya begitu saja?” tambah Ayah, melipat tangannya ke belakang.
Mama gemetar.
“Suamiku, cukup… lepaskan Aresha…” bisiknya dengan air mata mengalir.
“Cukup, Linda! Putrimu adalah Rhea. Apakah kamu tidak membela dia?” Ayah menunjuk ke arah Rhea yang langsung memasang wajah sendu.
Mama menoleh perlahan.
Tatapannya pada Rhea penuh dilema.
“Bagiku Aresha sudah orang luar sejak dia berniat membunuh Stefani. Jika kita tidak menanggapinya dengan tegas, kita akan berurusan panjang dengan keluarga Sambadono,” ucap Ayah tegas, seolah ia yang paling benar.
Aresha tersenyum tipis senyum yang bukan lagi pahit, melainkan dingin.
“Sekarang sudah ditentukan oleh keluarga. Apa yang aku katakan tidak berguna, kan?” tanyanya pelan sambil menoleh ke arah Reno.
Reno menatapnya.
“Aresha, kamu berani menjawab? Baiklah. Hari ini aku akan mendisiplinkanmu atas nama Ayah,” bentaknya, seakan sedang meyakinkan dirinya sendiri.
Aresha tidak bergerak.
Tidak ada lagi ketakutan di wajahnya.
Rhea tersenyum puas.
“Splak!” Suara rotan membelah udara.
Reno mengangkat tangannya dengan gemetar, tetapi pukulan itu tetap jatuh.
Aresha terhuyung. Namun ia tidak menjerit.
Bisik-bisik terdengar semakin ramai.
“Ya Tuhan…”
“Sudah cukup…”
“Tapi itu tradisi keluarga…”
Rotan kembali terangkat.
Suara itu kembali terdengar.
Setiap kali pukulan jatuh, Reno terlihat semakin goyah. Tangannya tidak lagi setegas awal. Napasnya memburu.
Namun Ayah berdiri tegak, tidak memberi tanda untuk berhenti.
Mama menangis tersedu.
“Suamiku, hentikan… aku mohon… dia anak yang kita besarkan…” suaranya pecah.
Beberapa bibi mulai terisak pelan.
“Terlalu keras…”
“Tapi kalau dihentikan, wibawa keluarga…”
Aresha akhirnya tumbang.
Napasnya berat. Tubuhnya gemetar.
Namun kepalanya tetap tegak.
“Aku… tidak… bersalah…” bisiknya.
Kalimat itu lebih menyakitkan daripada teriakan.
Reno berhenti sejenak. Ia menatap rotan di tangannya, lalu pada Aresha.
Wajahnya penuh konflik.
Di saat hukuman hampir mencapai setengahnya...
Di dalam mobil yang melaju cepat di jalan raya, Samba menatap Stefani yang masih belum sadar sepenuhnya.
“Dimana Aresha?” tanya Samba tiba-tiba, suaranya rendah namun berbahaya.
“Nona Aresha dibawa paksa oleh Tuan Reno,” jawab asistennya dari kursi depan.
Wajah Samba mengeras.
“Berhenti.” Perintah Samba.
Mobil direm mendadak.
“Antarkan Nona Stefani ke rumah sakit. Cepat. Aku turun ke mobil belakang.” Tanpa ragu, Samba berpindah ke mobil pengawalnya.
Ia duduk di tengah, wajahnya seperti badai yang siap menghancurkan apa pun di depannya.
“Semua ikut aku. Kita jemput seseorang,” perintahnya tegas.
Mesin mobil meraung.
Barisan mobil itu berbalik arah menuju Kediaman Hartono.
Kembali di ruang keluarga.
Rotan terangkat lagi.
Reno menggertakkan gigi.
Rhea berdiri dengan wajah tenang, tetapi matanya berbinar puas.
“Akhiri saja…” bisik salah satu paman.
“Kalau terus begini bisa celaka…”
“Cukup! Aku mohon! Hentikan!” tangisnya pecah. Mama tiba-tiba berlutut di depan Ayah.
Ruangan gempar.
“Bu Linda sampai berlutut…”
“Ini sudah keterlaluan…”
Namun Ayah tetap tak bergeming.
Di jalan raya yang mulai lengang, konvoi mobil hitam melaju cepat membelah malam. Lampu-lampu kota memantul di kaca jendela, menciptakan kilatan-kilatan cahaya yang menari di wajah Samba.
Ia duduk di kursi tengah mobil pengawalnya. Wajahnya keras, rahangnya mengencang. Tidak ada lagi ketenangan seperti biasanya. Hanya amarah yang ditahan rapat dan kekhawatiran yang tak ingin ia akui.
“Pastikan Stefani sampai di rumah sakit dengan pengawalan penuh,” ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari jalan di depan.
“Baik, Tuan,” jawab asistennya dari kursi depan.
Beberapa detik hening.
“Dimana Aresha sekarang?” tanya Samba lagi, suaranya lebih rendah.
“Menurut informasi terakhir, Nona Aresha dibawa paksa oleh Tuan Reno ke Kediaman Hartono.”
Jari Samba mengepal perlahan di atas pahanya.
“Kediaman Hartono…” gumamnya.
Bayangan Aresha terlintas di benaknya wajah keras kepala yang selalu berusaha terlihat kuat, bahkan ketika dunia menekannya dari segala arah.
“Percepat,” perintahnya singkat.
Mobil melaju lebih kencang. Suara mesin meraung, menyatu dengan detak jantung Samba yang tak lagi stabil.
Dalam batinnya, sesuatu terasa tidak beres. Ia mengenal keluarga Hartono tradisi mereka, cara mereka “mendisiplinkan”, cara mereka menjaga harga diri.
Dan jika Aresha benar-benar sendirian di sana…
Samba menutup mata sejenak, lalu membukanya dengan tatapan yang berubah dingin.
“Kalau mereka berani menyentuhnya…” bisiknya pelan, hampir tak terdengar.
Asistennya menoleh sekilas melalui kaca spion, merasakan aura yang berbeda dari tuannya malam itu.
Mobil berbelok tajam menuju jalan utama yang mengarah ke Kediaman Hartono.
Lampu gerbang rumah besar itu sudah terlihat samar di kejauhan.
Dan malam itu....
Seseorang akan menyesal telah memulai sesuatu yang tak bisa mereka hentikan.