Satu kontrak, dua keluarga, dan ribuan rahasia. Bagi Bhanu Vandana, Selena Arunika adalah aset yang ia beli. Bagi Selena, Bhanu adalah tirani yang harus ia taklukkan. Di aula yang beraroma cendana, mereka tidak memulai sebuah pernikahan, melainkan sebuah peperangan. Saat fajar bertemu dengan matahari yang beku, siapa yang akan bertahan ketika topeng-topeng kekuasaan mulai retak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Special chapter 5
Keputusan telah diambil. Malam itu, Sangkar Faraday yang telah melindungi Altair selama lima belas tahun tidak lagi terasa seperti benteng, melainkan seperti peti mati yang terlalu sempit. Ancaman Eleanor terhadap nyawa Selena—protokol Mother-Kill yang ditanamkan melalui residu genetik masa lalu—adalah pemicu yang menghancurkan sisa-sisa kesabaran sang Alpha.
"Altair, jangan! Jika kau membuka akses sarafmu di sini, setiap intelijen di dunia akan mengunci koordinat kita!" teriak Bhanu, mencoba menahan pundak putranya.
Namun, Altair tidak lagi mendengarkan. Ia melangkah keluar dari teras rumah, berdiri bertelanjang kaki di atas salju yang membeku. Ia menengadah ke arah langit malam yang gelap. "Mereka sudah tahu kita di sini, Ayah. Bersembunyi hanya akan membuat kita mati perlahan. Biarkan mereka melihat apa yang selama ini mereka takuti."
Altair menarik napas dalam-dalam, dan untuk pertama kalinya sejak ia lahir, ia meruntuhkan tembok mentalnya.
Dalam hitungan detik, sistem saraf Altair melakukan Sinkronisasi Alpha. Seolah-olah sebuah bendungan raksasa jebol, kesadaran Altair melesat keluar, menembus lapisan atmosfer, dan menyatu dengan jaringan satelit global. Di mata Altair, dunia tidak lagi terdiri dari pohon, salju, atau bangunan. Dunia adalah aliran data yang tak berujung—bit-bit informasi yang mengalir seperti sungai cahaya keemasan.
Ia bisa "melihat" ribuan pesan teks yang terkirim di Zurich, ia bisa "mendengar" percakapan rahasia di gedung Pentagon, dan ia bisa "merasakan" setiap detak jantung manusia yang terhubung dengan jam tangan pintar.
"Aku menemukanmu, Nenek," desis Altair.
Perjalanan menuju Singapura dilakukan dengan pesawat tempur pribadi Vandana yang telah dimodifikasi oleh Dahayu dari jarak jauh. Di dalam pesawat, Altair duduk terdiam, matanya terus berpendar. Ia sedang berperang di dunia maya, menangkis ribuan serangan siber yang mencoba mengunci sistem navigasi pesawat mereka.
Saat mereka memasuki wilayah udara Singapura, kota itu tampak seperti sirkuit elektronik raksasa. Di pusatnya, berdiri "The Ark", sebuah gedung pencakar langit berbentuk piramida terbalik yang permukaannya dilapisi panel surya cair. Gedung itu adalah pusat syaraf dari The Nephilim.
"Raka sudah di posisi," ucap Bhanu sambil memeriksa senapan taktisnya. Di layar monitor pesawat, muncul siluet Raka yang bergerak cepat menembus ventilasi bawah tanah gedung tersebut. "Dia telah melumpuhkan sensor fisik. Sisanya tergantung padamu, Altair."
Selena memegang tangan Altair. "Ingat, kau adalah anakku sebelum kau menjadi Alpha. Jangan biarkan mesin itu menelan hatimu."
Altair mengangguk, lalu ia berdiri di pintu pesawat yang terbuka saat mereka masih melayang di ketinggian seribu kaki. Tanpa parasut, ia melompat.
Namun, Altair tidak jatuh. Medan elektromagnetik yang keluar dari tubuhnya bereaksi dengan medan magnet bumi, menciptakan bantalan energi yang membuatnya meluncur stabil menuju puncak The Ark. Di belakangnya, Bhanu dan tim elit Vandana terjun mengikuti dengan peralatan taktis lengkap.
Pertempuran di puncak The Ark adalah kekacauan futuristik yang luar biasa. Eleanor melepaskan "The Reapers 2.0"—pasukan robotik yang dikendalikan oleh kesadaran manusia yang telah diunggah sebagian. Mereka bergerak dengan kecepatan yang melampaui batas manusia.
Bhanu dan Raka menjadi perisai fisik. Mereka bertarung dengan senjata-senjata EMP (Electro-Magnetic Pulse) yang dibuat khusus untuk melumpuhkan sendi-sendi robot tersebut. Suara dentuman peluru dan ledakan sirkuit memenuhi udara.
"Majulah, Altair! Selesaikan ini!" raung Raka sambil menghantamkan kapak taktisnya ke kepala salah satu robot.
Altair berjalan tenang di tengah medan perang. Setiap robot yang mencoba mendekat mendadak membeku, lalu sendi-sendinya berputar balik menyerang teman-temannya sendiri. Altair tidak perlu menyentuh mereka; ia hanya perlu "memerintah" sistem operasi mereka untuk mengkhianati penciptanya.
Ia sampai di ruang inti, sebuah aula raksasa yang berisi ribuan tangki berisi cairan nutrisi. Di tengah ruangan, sebuah sosok mengerikan menunggu. Dr. Eleanor tidak lagi memiliki kaki; tubuh bagian bawahnya menyatu dengan komputer induk gedung itu. Kabel-kabel saraf berwarna perak keluar dari tulang belakangnya, terhubung ke langit-langit.
"Lihatlah dirimu, cucuku," Eleanor tertawa, suaranya bergema langsung di kepala Altair. "Kau adalah keindahan yang tak terbatas. Bergabunglah denganku. Kita akan menghapus penderitaan manusia dengan mengubah mereka menjadi kode yang sempurna. Tidak ada lagi kelaparan, tidak ada lagi rasa sakit, hanya kedamaian digital yang abadi."
"Kedamaian tanpa pilihan adalah penjara, Nenek," jawab Altair.
"Kau bicara soal pilihan?" Eleanor mencibir. "Aku akan menunjukkan padamu apa itu pilihan!"
Eleanor mengaktifkan protokol Mother-Kill. Di luar ruangan, Selena tiba-tiba ambruk, memegangi kepalanya saat sebuah frekuensi destruktif mulai menghancurkan sel-sel otaknya dari dalam.
"Lepaskan Ibuku!" raung Altair.
"Pilih, Altair! Serahkan kesadaranmu padaku untuk memimpin dunia ini, atau saksikan ibumu menjadi abu digital dalam hitungan menit!"
Altair gemetar. Frekuensi di sekelilingnya menjadi sangat tidak stabil hingga kaca-kaca di aula itu pecah menjadi butiran debu. Inilah momen yang selama ini ditakuti oleh Kakek Elias: saat sang Alpha harus memilih antara cintanya sebagai manusia atau kekuasaannya sebagai Dewa.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain..
Annyeong love...