NovelToon NovelToon
Gadis Mungil Milik Mafia Kejam

Gadis Mungil Milik Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Romantis / Cintamanis / Mafia
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Sabrina Rasmah

Rea Adelia, gadis sebatang kara yang lugu dan ceroboh, merantau ke kota besar demi mencari kerja. Namun, malam pertamanya di kota itu berubah menjadi mimpi buruk sekaligus awal takdir baru. Di sebuah gang sempit menuju kosannya, ia menemukan Galen Alonso—seorang pemimpin mafia kejam yang terluka parah akibat pengkhianatan.
Niat baik Rea membawanya menolong Galen ke dalam kamar kosnya yang sempit. Tanpa Rea sadari, menolong Galen berarti menyeret nyawa polosnya ke dalam dunia gelap yang penuh darah. Di antara sekat dinding kos yang rapuh, si gadis manis yang ceroboh harus hidup bersama sang mafia tampan yang berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Meninggalkan Jejak di Gang Sempit

Galen bergerak secepat kilat. Sebelum pria itu sempat meminta ampun, sebuah pukulan mentah mendarat telak di rahangnya hingga pria itu tersungkur ke lantai dengan wajah berlumuran darah.

"Tuan, tolong! Ampun!" teriak pria itu ketakutan.

Galen tidak berhenti. Ia mencengkeram kerah baju pria itu dan kembali memberikan bogem mentah berkali-kali sampai pria itu tak berdaya. Kemarahan Galen sudah di puncak kepala melihat gadis selugu Rea diperlakukan seperti itu.

"Leon! Urus sampah-sampah ini. Pastikan mereka menyesal karena telah lahir ke dunia," perintah Galen dengan suara dingin yang mematikan.

"Siap, Tuan!" Leon segera masuk bersama beberapa anak buah bersenjata untuk menangani pria tersebut dan Liona yang mematung di luar.

Galen beralih ke arah ranjang. Ekspresinya melunak sesaat melihat Rea yang lemas dengan napas terengah-engah akibat pengaruh obat bius. Dengan gerakan lembut, Galen menyelimuti tubuh Rea dengan jas hitamnya, lalu menggendong tubuh mungil itu dalam dekapannya.

"Paman... paman datang..." gumam Rea lirih, tangannya yang lemah mencoba mencengkeram kemeja Galen.

"Tidurlah, kau sudah aman," bisik Galen sambil mengecup kening Rea—tindakan yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri.

Galen membawa Rea keluar dari hotel, melewati kerumunan orang yang tak berani menatap matanya. Ia tidak membawa Rea ke mansion mewahnya yang sedang tidak aman, melainkan membawanya kembali ke tempat yang dianggap Rea sebagai rumah: Kosan sempit itu.

Sesampainya di mobil, Galen memacu kendaraannya dengan cepat. Di sepanjang perjalanan, ia terus menggenggam tangan Rea yang dingin. Di dalam hatinya, Galen bersumpah: siapa pun yang berani membuat Rea menangis lagi , mereka akan berhadapan dengan seluruh kekuatan dunia bawah miliknya.

Sesampainya di kosan, Galen kembali membopong Rea masuk ke kamarnya, membaringkannya di ranjang, dan duduk di sampingnya sambil menunggu obat bius itu hilang sepenuhnya. Galen tetap terjaga, menjaganya sepanjang malam.

Galen yang sedang duduk di pinggir ranjang tersentak melihat reaksi Rea. Efek minuman yang dicekokkan pria di hotel tadi ternyata mengandung zat yang mulai bereaksi hebat pada tubuh Rea.

"Rea! Hentikan, apa yang kau lakukan?" Galen menangkap tangan kecil Rea yang sedang berusaha merobek bagian bahu gaunnya karena merasa gerah yang luar biasa.

"Pamannnn... kenapa sangat panasss... paman..." racau Rea dengan napas memburu. Matanya tampak sayu dan berkaca-kaca karena pengaruh obat tersebut. Wajahnya yang manis kini memerah sempurna.

Rea meronta, kekuatannya yang tak seberapa tetap membuat Galen kewalahan karena ia takut menyakiti gadis itu. "Rea, sadarlah! Ini pengaruh obat," bentak Galen lembut, mencoba menenangkan Rea.

Namun, Rea yang sudah kehilangan kesadaran penuh justru menarik kemeja Galen, membuat wajah mereka sangat dekat. "Paman... dingin... Rea mau yang dingin..."

Galen mengeraskan rahangnya. Sebagai pria dewasa, melihat Rea dalam kondisi seperti ini adalah ujian berat bagi pertahanannya. Namun, Galen Alonso bukan pengecut yang memanfaatkan keadaan. Ia adalah pelindung.

"Sialan, obat itu benar-benar keras," desis Galen.

Sentuhan bibir Rea yang tiba-tiba membuat Galen membeku seketika. Jantung sang mafia yang biasanya sedingin es itu berdegup kencang secara tidak beraturan. Namun, Galen segera sadar bahwa Rea melakukan itu karena pengaruh obat jahat yang diberikan pria di hotel tadi, bukan atas kesadarannya sendiri.

Dengan lembut namun tegas, Galen melepaskan tautan bibir Rea dan memegang kedua bahu mungil gadis itu.

"Rea, tenangkan dirimu! Ini bukan kamu yang sebenarnya," ucap Galen dengan suara rendah yang bergetar.

Rea mulai menangis, racauannya semakin tidak jelas. Melihat kondisi Rea yang menderita, Galen merasa sangat hancur sekaligus murka pada orang yang menyakitinya.

Tanpa membuang waktu, Galen membopong Rea. Ia menenangkannya dengan lembut, memastikan Rea merasa aman.

Perlahan, napas Rea yang tadinya memburu mulai teratur. Kesadarannya mulai kembali sedikit demi sedikit meskipun kepalanya masih sangat berat. Ia menatap Galen dengan tatapan sayu.

"Paman... maafkan Rea..." bisik Rea sebelum akhirnya jatuh pingsan karena kelelahan luar biasa di pelukan Galen.

Galen menghela napas panjang, ia mengangkat tubuh Rea, mengganti pakaiannya dengan kaos kering yang paling sopan, dan menyelimutinya dengan sangat rapat. Malam itu, Galen tidak tidur. Ia duduk di lantai di samping ranjang Rea, menggenggam tangan kecil gadis itu sambil menunggu pagi datang, bersumpah dalam hati bahwa siapa pun yang menyentuh Rea lagi akan menghadapi neraka di tangannya.

Sinar matahari pagi masuk melalui celah jendela kamar, membuat Rea perlahan membuka matanya yang terasa sangat berat. Kepalanya berdenyut nyeri. Saat mencoba duduk, matanya menangkap sosok Galen yang tertidur dengan posisi duduk di lantai, menyandarkan kepalanya di pinggiran ranjang Rea.

"Pamannnnnn..." panggil Rea lirih, suaranya serak.

Galen langsung terjaga. Matanya menatap Rea dengan raut cemas. "Rea, kau sudah bangun? Bagaimana perasaanmu? Masih pusing?"

Rea menunduk, melihat dirinya sudah mengenakan kaos oblong besar. Wajahnya langsung memerah. "Paman... Paman yang mengganti bajuku ya?"

Galen berdeham canggung, ia membuang muka. "Ssttt... lupakan saja. Jangan berpikiran macam-macam."

Rea tidak terima, ia mengerucutkan bibirnya. "Paman! Aku sudah berumur 18 tahun, ya! Aku bukan anak kecil lagi!"

Mendengar itu, Galen hanya mendengus tipis.

Rea memegang kepalanya yang masih sedikit sakit, ia berusaha mengingat kejadian di hotel. "Paman... tadi malam apa yang terjadi? Rea cuma ingat Nyonya Liona mengajak ke atas, lalu ada pria besar, terus... Rea merasa sangat panas. Selebihnya Rea tidak ingat apa-apa."

Galen terdiam sejenak. Ia tidak ingin menceritakan betapa hancurnya pria yang mencoba menyentuh Rea, atau tentang kejadian ciuman di kamar itu. Ia ingin menjaga Rea.

"Kau pingsan karena kelelahan, dan aku menjemputmu," jawab Galen singkat. "Liona bukan orang baik. Mulai hari ini, kau tidak boleh bekerja di kafe itu lagi. Mengerti?"

"Tapi Paman, nanti Rea tidak punya uang..."

"Aku yang akan mengaturnya," potong Galen tegas. "Sekarang diam dan makanlah bubur yang sudah kubeli di depan tadi."

Rea hanya bisa mengangguk pasrah, meski hatinya merasa aneh melihat sikap Galen yang menjadi jauh lebih protektif pagi ini.

"Rea, nanti kau ikut dengan saya," ucap Galen dengan nada yang tidak menerima bantahan saat mereka sedang sarapan.

Rea yang sedang mengunyah bubur langsung berhenti, matanya yang bulat mengerjap bingung. "Ke mana, Paman?"

"Ke rumah saya."

Rea meletakkan sendoknya, wajahnya tampak heran. "Lho, katanya Paman orang jalanan? Katanya tidak punya rumah?"

Galen terdiam sejenak, mencari alasan yang masuk akal untuk gadis sepolos Rea. "Sekarang sudah punya. Saya baru saja mendapatkannya kembali," jawabnya singkat sambil melirik arloji mahal di tangannya.

"Iyakahhhh? Wah, Paman hebat! Cepat sekali dapat rumahnya," seru Rea dengan nada takjub yang sangat jujur. "Apa Paman menang undian?"

Galen hanya menghela napas, tidak sanggup menjelaskan kerumitan bisnis mafianya. "Sudah, Rea. Selesaikan sarapanmu, lalu kemasi barang-barangmu."

Rea yang penurut segera menghabiskan makanannya dan mulai membereskan barang-barangnya. Ia memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper pink usang, termasuk HP Nokia kuning yang ia beli untuk Galen. "Ayo Paman, Rea sudah siap!"

Begitu mereka melangkah keluar dari gerbang kosan, langkah Rea terhenti. Matanya terbelalak melihat sebuah mobil SUV hitam mewah dengan kaca gelap terparkir tepat di depan gang sempit itu. Di samping mobil, berdiri Leon yang mengenakan setelan jas rapi dan kacamata hitam.

"Wihhh, Paman... lihat mobil itu! Keren sekali ya, seperti di film-film mafia yang Rea tonton!" bisik Rea sambil menarik-narik ujung kemeja Galen. "Apa itu mobil jemputan Paman? Paman sekarang kerja jadi sopir orang kaya ya?"

Galen hanya melirik Leon dengan tatapan tajam, memberi kode agar anak buahnya itu tetap diam dan tidak membocorkan identitasnya. Leon pun membungkuk hormat, membuat Rea semakin bingung.

"Paman, kok bapak itu membungkuk sama Paman?" tanya Rea polos.

"Dia... dia hanya menyapa. Ayo masuk," ucap Galen sambil membukakan pintu mobil untuk Rea, meninggalkan kehidupan gang sempit itu menuju dunia yang jauh lebih berbahaya—mansion miliknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!