Kepulangan Andrea adalah hal yang paling Vhirel tunggu-tunggu. Hubungan mereka tidak pernah bisa di larang, selalu ada canda dan tawa meski kerap kali ada permusuhan yang pada akhirnya mereka saling mengerti bahwa sebuah perbedaan adalah sesuatu yang indah dalam sebuah hubungan. Namun sayangnya, status mereka hanyalah sebatas kakak beradik.
Lantas mengapa bisa mereka menganggapnya lebih dari sekedar itu?
Mereka bahkan tak pernah peduli jika keduanya telah menentang takdir Tuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMPERSALAHKAN PANGGILAN MAS
Aroma gurih bawang goreng mulai menari-nari di udara, bertalu-talu dengan bunyi spatula yang beradu dengan wajan penggorengan.
Bik Minah bergerak gesit di antara kepulan uap air mendidih dan deru mesin penghisap asap. Tangannya yang legam dimakan usia tampak begitu terampil, sebelah tangannya membalik telur mata sapi, sementara tangan lainnya memastikan nasi goreng di wajan besar tidak gosong.
"Bibik!"
Suara dan langkah kaki yang ringan terdengar mendekat. Tak mengejutkan, namun cukup memecah setengah lamunan Bik Minah.
Dea muncul di ambang pintu dapur, ia sudah segar dengan gulungan rambutnya yang tinggi. Tanpa banyak bicara, ia langsung menyambar celemek cadangan yang tergantung di balik pintu.
"Bik. Aku yang masak, boleh?" tanya Dea lembut sembari mulai mencuci tangannya di wastafel.
Bik Minah nyaris menjatuhkan spatula saking kagetnya. Ia menoleh dengan mata membelalak, memperhatikan anak majikannya itu kini sibuk mengupas bawang bombay.
"Lho, Non Dea? Tumben sekali Non pagi-pagi sudah turun ke dapur mau bantu Bibik?" tanya Bik Minah heran. Pasalnya, rbiasanya Dea baru akan muncul saat semua hidangan sudah rapi tersaji di atas meja makan.
Dea hanya memberikan senyum simpul yang penuh arti. Rona merah tipis mendadak muncul di kedua pipinya, kontras dengan cahaya lampu dapur yang terang.
"Aku cuma kepengin belajar sedikit, Bik," jawab Dea pelan, suaranya nyaris tenggelam di balik desis minyak panas. "Aku... mau buatin masakan spesial buat Mas Vhirel. Bibik bimbing aku ya, biar rasanya pas."
Bik Minah mengernyitkan dahi. "Ma-Mas Vhirel?"
"Yup!" Angguk Dea mantap.
"Berhenti menyebut nama Kakakmu dengan panggilan itu, Dea!" Potong seseorang.
Suara itu membuat keduanya tersentak. Apalagi Dea. Terdengar tegas dan menusuk. Dea menoleh ke belakang dan mendapati Maudi tengah mendekatinya. "Mama, ngagetin aja!" protesnya.
"Kamu sebut apa kakakmu tadi? Mas?!" Ulang Maudi. "Mama gak salah dengar, kan?"
"Enggak." Geleng Dea. Ia meletakkan pisau di talenan dan berbalik menatap sang Ibu. "Emangnya salah, Ma?"
"Salah besar!" Tandas Maudi segera, suaranya naik satu oktaf dan membuat Bik Minah yang ada di dekatnya, kini menjauh dan lebih memilih berpura-pura sibuk dengan pekerjaan lainnya.
Ya. wanita yang tak lagi muda itu segera mematikan kompor, menuangkan telur dan nasi goreng ke mangkuk besar, lalu membawanya pergi menuju meja makan meninggalkan keduanya di dapur.
“Apa-apaan sih kamu memanggil kakakmu dengan sebutan itu?!” protes Maudi, nadanya meninggi. “Asal kamu tahu, Dea… sebutan Mas itu biasanya dipakai untuk orang-orang yang punya hubungan khusus!”
“Dea juga punya hubungan kok sama Mas Vhirel!” Celetuk Dea tanpa sadar.
Ucapan itu meluncur begitu saja, tanpa sempat disaring. Maudi tersentak, matanya membesar. "Apaaa?!"
Menyadari apa yang baru saja ia katakan, Dea langsung tergagap. Wajahnya memucat, napasnya tertahan. “Ma—maksud Dea…” suaranya mengecil, nyaris bergetar. “Ma-maksud Dea… hu-hubungan keluarga. Kakak beradik, Ma! Salah emang kalau adik manggil kakaknya Mas?!”
Ia menunduk cepat, jemarinya saling meremas gugup. Kata-kata barusan terasa seperti jebakan yang ia buat sendiri.
Bukan karena bohong—melainkan karena ada kebenaran lain yang tak berani ia ucapkan.
"Udah!" Sambar Maudi. "Mas itu hanya cukup untuk Luna. Gak berlaku buat kamu!"
Luna.
Nama itu meluncur seperti palu.
Dea membeku, seolah sesuatu menghantam dadanya pelan tapi perih. Ia menelan ludah, berusaha menjaga wajahnya tetap datar, meski matanya refleks berkilat.
"Salah emang dengan sebutan itu?" Protes seseorang muncul dari balik pintu.
Nampak, Vhirel mendekati keduanya. Sementara itu, Dea segera mengusap kasar matanya yang berkaca seiring dengan garis senyum terpancar halus di bibirnya. "Mas." lirihnya.
"Biarin Ma, Dea manggil aku dengan sebutan itu. Kenapa harus dipermasalahkan si?" Sambung Vhirel.
"Kenapa?!" Ulang Maudi mendesis ringan. "Vhirel... bukannya kamu ya, yang justru gak mau di panggil Mas oleh Dea?! Kamu bilang..."
"Awalnya." Sela Vhirel pelan. "Tapi, keseringan di panggil Mas sama Dea... lucu juga. Yang jadi masalah itu... asal jangan panggil aku Mbak!"
Dea spontan terkekeh. Tawa kecil yang lolos tanpa izin, memecah ketegangan yang sejak tadi menyesakkan dada. Ia cepat-cepat menutup mulutnya, menunduk malu, tapi senyum itu terlanjur tinggal.
"Aaaargh!" Maudi mengacak rambutnya sendiri, frustrasi. Ia memalingkan wajah, lalu berjalan meninggalkan keduanya di dapur.
Vhirel menarik senyum penuh kemenangan, melirik punggung Ibunya yang menjauh sebelum kembali menatap Dea. Gadis itu tampak kegirangan—matanya berbinar, senyumnya mengembang lebar, seolah barusan ia baru saja dibela habis-habisan.
Vhirel menggeleng kecil, geli. “Jangan senang dulu,” katanya pelan, sambil melingkarkan kedua lengannya di pinggul Dea.
"Mas! nanti kalau ada yang lihat gimana?!"
Vhirel justru semakin mengeratkan pelukannya, menarik tubuh Dea hingga nyaris tak berjarak. Hingga, aroma maskulin miliknya bercampur mendominasi indra penciuman Dea di tengah harum tumisan bawang yang masih mengepul dari penggorengan.
Sudut bibir Vhirel terangkat sedikit, membentuk seringai tipis yang terlihat sangat menyebalkan sekaligus menawan di mata Dea. Tatapannya yang tajam sempat menyapu seisi dapur—memastikan tidak ada asisten rumah tangga atau anggota keluarga lain yang tiba-tiba muncul dari balik pintu—sebelum kembali mengunci manik mata Dea dengan intensitas yang membuat napas gadis itu tertahan.
"Aman!" bisiknya rendah. Hembusan napas hangatnya menyapu daun telinga Dea, menciptakan desir halus yang merambat cepat ke seluruh tubuh. "Tumben pagi-pagi udah ke dapur."
Vhirel sempat tertegun sesaat. Ia tidak menyangka Dea akan membalas keberaniannya secepat itu. Namun, seringai di wajahnya perlahan mencair menjadi senyuman lembut yang tulus saat merasakan jemari Dea bertaut di tengkuknya.
"Aku... mau masakin sarapan khusus buat kamu, Mas."
Vhirel mendesis rendah. Nampak satu barisan halus di bibirnya.
Dea terperangah. Jantungnya serasa berhenti berdetak selama satu detik penuh. Ini adalah sisi Vhirel yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tidak ada lagi binar jenaka atau nada menggoda yang biasa pria itu gunakan untuk menjahilinya.
Vhirel bergerak dengan gerakan yang sangat halus, hampir seperti tarian yang tenang. Di saat yang sama, ia perlahan melepaskan pelukannya di pinggang Dea, lalu dengan lembut menuntun jemari gadis itu agar turun dari lehernya.
Dea yang masih terpaku, terhipnotis oleh tatapan Vhirel yang begitu dalam, sampai ia tidak menyadari ada sebuah bayangan yang perlahan memanjang di lantai dapur, mendekat dari arah pintu masuk. "Mas..." gumamnya pelan, masih merasa linglung oleh suasana yang baru saja mereka ciptakan.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Dea untuk memproses keadaan, Vhirel sedikit membungkuk dan mendaratkan satu kecupan singkat namun hangat di kening Dea. Kecupan yang sangat cepat, seolah itu adalah segel rahasia di antara mereka. "Kalau gitu, masakin makanan yang paling enak buat aku, ya?" bisiknya lembut, sebelum akhirnya ia berbalik dan melangkah pergi dengan langkah ringan seolah tidak terjadi apa-apa.
Dea masih terperangah, jemarinya menyentuh keningnya sendiri yang masih terasa hangat. Namun, keheningan itu hanya bertahan sedetik.
"Non Dea. Sarapannya sudah siap, Non. Ibu sama Bapak dari tadi nunggu Non di ruang makan."
Suara Bik Minah yang tiba-tiba muncul dari balik pintu berhasil membuat Dea hampir melompat dari tempatnya berdiri. "Eh iya, Bik." angguknya. "Tapi... baru aja aku mau masakin Mas Vhirel makanan. Bibik udah yang masakin semuanya, ya..." katanya setengah kecewa.
"Ah!" Bik Minah menjentikkan ibu jari. "Tenang aja, Non. Gimana kalau Non yang nanti sore yang masak, siapin makan malam?"
Dea terdiam sejenak, membiarkan ide itu berputar-putar di kepalanya seperti kincir angin. Senyumnya yang tadi malu-malu dan rasa yang nyaris kecewa, kini berubah menjadi seringai penuh rencana. Ia menoleh ke arah Bik Minah dengan binar jenaka yang persis seperti binar mata Vhirel beberapa menit lalu. "Aku punya ide!"
****
kekasih tetapi ingat sebagai kakak beradik,,,