"menikah, atau kamu kami coret dari daftar pewaris?"
"tapi dia gila mah,"
.........
Narendra meradang saat jalinan kasihnya selama bertahun-tahun harus kandas dan berakhir dengan menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya.
Reyna, putri konglomerat yang beberapa tahun belakangan di isukan mengidap gangguan jiwa karena gagal menikah adalah perempuan yang menjadi istri Narendra.
tak ada kata indah dalam pernikahan keduanya, Naren yang belum bisa melepas masa lalunya dan Rayna yang ingin membahagiakan keluarga nya di tengah kondisi jiwanya, saling beradu antara menghancurkan atau mempertahankan pernikahan.
apakah Naren akhirnya luluh?
apakah Rayna akhirnya menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyky Pamella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MPG_7
Setelah mengantar Mamah sampai ke depan pintu unit, aku menarik napas panjang. Udara di lorong apartemen terasa lebih berat dari biasanya, seolah ikut menekan dadaku yang sejak tadi tak kunjung tenang. Aku menatap punggung Mamah yang menjauh menuju lift, memastikan benar-benar tak ada lagi yang tertinggal.
Begitu pintu lift tertutup, aku berbalik dan melangkah menuju kamar Narendra.
Tujuanku sederhana—mengambil barang-barangku yang sudah terlanjur kutata rapi di dalam lemari milik Narendra.
Dan kebodohanku. Aku merutuki diriku sendiri sepanjang langkah. Bagaimana bisa aku sempat berpikir akan tinggal sekamar dengan Narendra? Menganggap semuanya akan berjalan normal, seolah pernikahan ini lahir dari cinta? Aku mendengus pelan.
Kalau saja Narendra tahu isi kepalaku saat itu, mungkin ia akan menertawakanku habis-habisan.
Baru saja aku hendak melangkahkan kaki lebih jauh, suara ponsel berdering memecah keheningan.
Aku membeku. Nada dering itu… aku kenal. Refleks kepalaku menoleh ke kanan dan kiri, mencari sumber suara. Detik berikutnya, mataku menangkap sebuah benda hitam yang tertindih bantal kecil di atas sofa paling ujung.
Aku bergegas menghampirinya dan meraih ponsel itu.
“Astaga… ini ponsel Mamah,” gumamku panik. “Pasti Mamah belum jauh.”
Tanpa pikir panjang, aku langsung berbalik menuju lift. Untuk mencapainya, aku harus melewati lorong berbentuk leter L yang terletak tepat di depan unit. Di antara belokan lorong dan pintu lift, berdiri sebuah pot raksasa berisi pohon palem yang dipangkas artistik menyerupai bonsai—cukup besar untuk menutupi dua orang dewasa yang berdiri di belakangnya.
Langkahku terhenti mendadak. Ada dua sosok di sana. Salah satunya Narendra. Dan yang satu lagi… Ajeng.
Dadaku seperti diremas keras. Aku bahkan belum sempat memproses keberadaan mereka ketika sebuah tamparan keras mendarat di pipi Narendra.
PLAK!
Aku refleks menutup mulutku sendiri. Ajeng menamparnya. Keras.
Namun yang membuatku lebih terkejut bukan tamparan itu—melainkan sikap Narendra setelahnya. Ia sama sekali tidak membalas, tidak menghindar. Wajahnya hanya menunduk pasrah, lalu tangannya terangkat, berusaha merengkuh Ajeng ke dalam pelukannya.
Pemandangan itu seperti tamparan kedua kali, tapi kali ini untukku.
Belum sempat otakku mencerna sepenuhnya apa yang kulihat, suara khas itu terdengar.
Ting…Pintu lift terbuka. Aku menoleh spontan. Dan dunia seakan berhenti berputar.
Mamah. Beliau keluar dari lift dengan langkah santai, wajahnya masih menampakkan sisa-sisa kepanikan karena ponselnya yang tertinggal.
Narendra jelas tidak menyadari kehadiran Mamah. Fokusnya sepenuhnya tertuju pada Ajeng. Posisi mereka pun terhalang oleh pohon palem raksasa itu.
Aku menelan ludah. bergerak secepat yang aku bisa. Mamah semakin mendekat. Jika beliau melihat Ajeng dan Narendra dalam posisi itu, semuanya akan tamat—bukan hanya pernikahan ini, tapi juga harga diri semua orang yang terlibat.
Tanpa memberi waktu pada rasa takut, kakiku bergerak sendiri. Aku berlari.
Dengan kekuatan penuh, aku mendorong tubuh Ajeng hingga ia tersungkur ke bawah pot besar itu. Belum sempat ia bereaksi, aku sudah berdiri tepat di depan Narendra—mengambil alih posisi Ajeng seolah-olah akulah yang sejak tadi bersamanya.
Ajeng dan Narendra sama-sama melotot. Namun aku tidak memberi mereka kesempatan untuk bicara.
“Sayang,” ucapku nyaring, sengaja kubuat semanis mungkin.
“Ayo anterin aku ke parkiran. Ini ponsel Mamah ketinggalan, pasti mamah belum jauh.” ucapku sembari melirik ke arah kanan dengan sudut mataku, memberi isyarat pada Narendra.
Butuh satu detik baginya untuk memahami. Namun begitu sadar, Narendra langsung bereaksi. Tangannya refleks merengkuh pinggangku, sikapnya berubah seolah kami benar-benar pasangan harmonis.
Kami melangkah mendekati Mamah. “Mah,” sapa Narendra santai.
“Tadi kita mau nyusulin Mamah ke parkiran. Ini, kan? Ponselnya ketinggalan.” Ia mengambil ponsel itu dari tanganku dan menyerahkannya pada Mamah.
“Alhamdulillah…” Mamah menghela napas lega. “Ternyata benar ketinggalan. Mamah sudah panik, kirain jatuh.”
“Mamah ih,” selorohku sambil tersenyum. “Belum tua tapi sudah pikun.” selorohku
“Ehhh…” Mamah mencubit lenganku gemas. “Sudah mau punya dua cucu, wajar dong kalau pikun tipis-tipis.”
Aku mengernyit. “Dua cucu? Bayinya Mbak Fatma kembar, Mah?”
“Ihhh, siapa bilang?” Mamah memutar bola matanya.
“Kan Mamah bilang dua cucu.”
“Ya satunya dari kamu, sayang.” senyum mamah melengkung sempurna
"Uhuk… uhuuuk!" Aku tersedak saliva sendiri.
Mamah tertawa melihat reaksiku yang berlebihan.
“Lihat istrimu itu,” goda Mamah sambil menoel pundak Narendra. “Kelihatannya sudah tidak sabar memberi Mamah cucu.” Batukku semakin menjadi.
“Doain saja ya, Mah,” ujar Narendra tenang—terlalu tenang.
“Supaya Rayna cepat isi.” lanjutnya tanpa ragu
Isi?! Isi apa?! Angin?! Aku mengumpat dalam hati.
Namun, sialnya, senyum Narendra saat itu… terlalu manis untuk diabaikan. Lesung di kedua pipinya, bibir pink alaminya—semua berpadu sempurna. MasyaAllah tabarakallah. Kalau saja semua itu tidak palsu.
“Aamiin,” kata Mamah tulus. “Kalian akan selalu jadi bagian terpenting di setiap doa-doa Mamah.”
Mamah kembali melangkah masuk ke lift yang sudah terbuka.
“Mamah pulang dulu ya. Kalian juga buruan istirahat,” ujarnya sambil tersenyum jahil. “Dan cetakkan cucu-cucu lucu untuk Mamah.” senyumnya hilang di balik Pintu lift menutup.
Begitu suara mesin lift menghilang, Narendra langsung melepaskan pelukannya dariku. Ia berlari ke arah pot besar tempat Ajeng bersembunyi. Aku mengikutinya dari belakang, langkahku lebih santai.
Aku tak bisa menahan senyum geli. Ajeng masih meringkuk di bawah pot, tubuhnya menempel ke tembok seperti tokek ketakutan.
Begitu melihat kami berdiri di hadapannya, ia langsung bangkit.
“Lihat!” teriaknya histeris sambil menunjuk Narendra. “Lihat apa yang si gila ini lakukan padaku!”
aku hanya berdiri tenang, bersedekap dada bersiap untuk menyaksikan drama telenovela.
“Tadi pagi, setelah kamu sadar dari pingsan, kamu tidak langsung mencariku!” lanjut Ajeng. “Kamu malah sibuk mengumumkan pernikahanmu dengan perempuan gila ini!”
Perempuan gila? Aku mendengus pelan.
“Dan sekarang,” Ajeng terisak, “kamu menjadikanku seperti wanita jalang yang bisa kamu lepaskan kapan saja saat keluargamu datang.”
Deg. Dadaku mencelos. Jadi Narendra tahu. Bahkan terlibat dalam perilisan kabar pernikahan kami tadi pagi. Padahal… bukankah dia yang paling ingin merahasiakannya?
“Aku tidak punya pilihan, sayang,” ucap Narendra lembut sambil menggenggam tangan Ajeng. “Papah tadi malam pulang dari Jepang. Beliau langsung minta pernikahan ini dipublikasikan.”
Aku memejamkan mata sesaat.
“kamu tahukan, apa konsekuensinya kalau aku melawan Papah?”
Penjelasan itu bukan hanya untuk Ajeng—tapi juga untukku.
“Sampai kapan, Ren?” Ajeng memukul dada Narendra. “Sampai kapan kita menjalani hubungan seperti ini? Aku capek…”
mataku reflek ikut memicing merasakan ngilu akibat pukulan itu. tapi jika terus menyaksikan ini, aku bisa-bisa muntah di tempat.
“Mas,” potongku tegas. “Suruh siluman tokek peliharaanmu ini pergi. Sekarang.”
Mereka berdua menatapku bersamaan.
“Jaga ucapanmu, Rayn,” suara Narendra meninggi.
Ajeng justru merapat ke dadanya. “Lihat, sayang. Dia kurang ajar sekali padaku.”
Aku terkekeh dingin. “Cih. Aku justru sedang menyelamatkan kisah cinta Romeo dan Juminten di hadapanku ini,” ujarku dramatis. “Kalau saja tadi aku tidak datang tepat waktu, kisah kalian sudah wassalam.”
“Rayna benar,” potong Narendra. “Tempat ini sudah tidak aman. Kamu tidak tahu pengaruh Papah. Seluruh penghuni apartemen ini bisa jadi mata-matanya.”
Aku tersenyum penuh kemenangan saat Ajeng menatapku dengan mata berapi-api.
“Aku masuk dulu, Mas,” ujarku sambil menyentuh pundak Narendra. “Ada yang mau aku bicarakan.”
Narendra tidak menolak sentuhanku. Mata Ajeng hampir mencolot.
Lumayan. Satu dayung, dua puluh tiga pulau terlampaui, pikirku.
Aku melangkah pergi menuju meja kecil di samping kolam renang. Duduk, menenangkan diri. Perkataan Maya kembali terngiang di kepalaku. Sepertinya… memang sudah waktunya. Aku akan mengajukan syarat pertamaku.
Malam pertama kemarin—yang lebih mirip arena negosiasi—aku dan Narendra sepakat: aku akan melindungi hubungannya dengan Ajeng, asal ia memenuhi lima syarat yang akan kuajukan.
Saat itu aku belum tahu apa saja syaratnya. Sekarang aku tahu. Dan Narendra harus siap mendengarnya.