Di balik gerbang kemewahan keluarga terpandang, Putri tumbuh sebagai bayangan. Terlahir dari rahim yang tak pernah diinginkan, ia adalah noda bisu atas sebuah perasaan yang tak terbalaskan.
Warisan pahit dari ibu yang pergi sesaat setelah melahirkannya, ia dibesarkan di bawah tatapan dingin ibu tiri dan kebisuan sang ayah, Putri tak pernah mengenal apa itu kasih sayang sejati. Ia hanyalah boneka yang kehadirannya tak pernah diinginkan, namun keberadaannya tak bisa disingkirkan.
Ketika takdir kembali bermain kejam, Putri sekali lagi dijadikan tumbal. Sebuah skandal memalukan yang menimpa keluarga besar harus ditutup rapat, dan ia, sang anak yang tak pernah diinginkan dan yang tak berarti, menjadi kepingan paling pas dalam permainan catur kehormatan.
Ia dijodohkan dengan Devan, kakak kelasnya yang tampan dan dingin, pria yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Tamara.
Di sanalah penderitaan Putri berlanjut, akankah ia menyerah pada takdir yang begitu pahit, atau bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebencian Di Mata Mereka
Devan baru pulang kerja, ia heran melihat rumahnya yang begitu sepi. Benar-benar sepi, tidak ada Putri di sana, tidak ada perempuan yang selama ini terus menanti kepulangannya.
Hati Devan mulai bertanya, mungkinkah dia mulai merasakan getaran cinta itu?
Suara langkah kaki pelan terdengar menuruni tangga. Bukan langkah berat bi Rena, melainkan langkah ringan yang hati-hati. Devan menoleh dan mendapati Putri sedang menuruni anak tangga terakhir.
Devan terpaku sejenak.
Putri mengenakan dress sederhana berwarna peach lembut yang jatuh pas di bawah lutut. Potongannya elegan, namun terlihat sedikit longgar di tubuhnya yang semakin hari semakin menyusut. Lengan gaun itu panjang sampai ke pergelangan tangan, tertutup rapat.
Devan tahu persis apa yang disembunyikan di balik kain itu, lebam-lebam ungu yang ia tuduh sebagai akibat dari kecerobohan.
Wajah Putri dipoles make-up tipis, menyamarkan pucat pasinya, membuat tulang pipinya yang menonjol terlihat lebih tegas namun cantik. Rambutnya digerai rapi, membingkai wajah tirusnya dengan anggun.
Untuk sedetik, Devan lupa untuk bernapas. Istrinya terlihat... rapuh, namun memukau.
"Bi Rena mana?" tanya Devan ketus, memutus kekaguman sesaatnya sendiri dengan cepat. "Aku panggil dari tadi nggak nyaut. Kebiasaan kalau sore suka ngilang."
Saking gugupnya, Devan malah lupa kalau bi Rena sudah tidak bekerja lagi dengan mereka
Putri menatap Devan dengan tatapan bingung, lalu tersenyum tipis. Ia seakan tahu kalau Devan sedang terpukau dengan penampilannya saat itu.
Putri turun dari tangga dan kemudian melangkah mendekat, mengambil tas kerja Devan yang tergeletak di sofa, hendak membawanya ke kamar seperti biasa.
Saat Putri melewatinya, Devan bisa mencium aroma tubuh istrinya. Bukan parfum mahal, tapi aroma sabun bayi dan minyak kayu putih, aroma orang sakit yang berusaha disembunyikan.
Devan menatap punggung kurus itu. Gaun peach yang dikenakan istrinya itu memang indah, tapi di mata Devan sekarang, gaun itu tampak seperti pembungkus kado yang membungkus kotak kosong yang ringkih.
"Kamu mau ke mana rapi-rapi begitu?" tanya Devan tiba-tiba, menghentikan langkah Putri di tangga.
Putri menoleh, wajahnya sedikit terkejut karena Devan bertanya.
"Malam ini kan ulang tahun pernikahan mama dan papa, Mas. Mas Devan lupa? Kita harus ke sana untuk makan malam keluarga."
Devan menepuk jidatnya, ia benar-benar lupa. Pantas saja Putri berdandan. Pantas saja dia memakai lengan panjang, untuk menutupi aib lebam itu di depan orang tuanya agar Devan tidak disalahkan.
Gadis itu, dia bahkan masih memikirkan reputasi Devan di saat tubuhnya sendiri sedang hancur.
"Aku mandi dulu, tunggu di bawah," perintah Devan singkat, lalu bergegas naik tangga mendahului Putri, menghindari tatapan mata istrinya yang terlalu tulus.
Di dalam kamar mandi, di bawah guyuran shower air dingin, Devan memukul dinding keramik dengan kepalan tangannya.
"Sialan!" rutuknya.
Bayang-bayang Putri dengan gaun peach dan lebam tersembunyi itu terus menghantuinya. Kopi buatan Putri masih terasa di ujung lidahnya, menjadi pengingat bisu betapa butanya dia selama ini.
Selama ini, Putri yang ia anggap tidak berguna, Putri yang dia anggap hanya sampah di keluarganya dan kehidupannya. Ternyata, Putri lah orang yang selama ini telah mengurus segala keperluannya, menyiapkannya sarapan setiap pagi.
Devan kesal dan marah, Karena ternyata masakan yang selama ini selalu membuat lidahnya rindu, masakan yang selalu dia puji-puji, itu adalah buatan perempuan yang setiap hari dirinya maki-maki.
"Argh!" Devan mengacak-acak kesal rambutnya, ia benar-benar frustasi, belum lagi keadaan Putri sekarang juga membuat pikirannya tidak tenang.
***
Perjalanan menuju rumah orang tua Devan dihabiskan dalam kebisuan yang menyesakkan.
Putri duduk di kursi penumpang, memeluk tas tangannya erat-erat seolah itu adalah pelampung penyelamat.
Udara pendingin mobil terasa menusuk kulitnya yang tipis hingga ke tulang, membuatnya sedikit menggigil.
Devan melirik sekilas, menyadari getaran halus di bahu istrinya. Tanpa bicara, tangannya bergerak mengecilkan suhu AC dan memutar arah semburan angin agar tidak langsung mengenai Putri.
Putri menoleh, sedikit terkejut.
"Jangan geer," ucap Devan datar, pandangannya tetap lurus ke jalan. "Aku cuma nggak mau kamu masuk angin terus muntah di mobil mahal aku."
Putri tersenyum tipis. "Makasih, Mas."
Suasana pun kembali hening, tidak ada lagi suara yang terdengar sampai mereka tiba di tempat tujuannya.
Sesampainya di kediaman mewah orang tua Devan, Putri tercengang. Suasana pesta kecil-kecilan itu ternyata cukup ramai, beberapa kerabat dekat sudah hadir, dia pikir ini hanya makan malam biasa.
Ketika mereka masuk, tatapan mata tertuju pada pasangan itu. Devan yang gagah dengan kemeja navy yang pas di badan, dan Putri yang tampak anggun namun rapuh dalam balutan gaun peach-nya.
"Wah, pengantin baru akhirnya datang juga."
Sambut bu Ambar, mamanya Devan. Wanita paruh baya yang masih terlihat modis itu memeluk Devan hangat, lalu beralih menatap Putri dengan pandangan menilai dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Pelukan untuk Putri hanya sekadar formalitas, tanpa sentuhan kulit yang berarti.
"Kamu kok kurus sekali, Putri?"
komentar bu Ambar tajam, suaranya cukup keras hingga beberapa kerabat menoleh.
"Tulang pipimu sampai menonjol begitu. Apa Devan tidak kasih kamu uang belanja yang cukup buat makan enak?" tanya pak Pramudita, papanya Devan.
Pertanyaan itu terdengar seperti candaan, tapi isinya menyengat.
Putri menunduk, meremas tali tasnya. "Maaf, Ma. Putri memang sedang kurang nafsu makan belakangan ini."
"Jangan bikin malu suami, Put," tambah bu Ambar lagi, kali ini berbisik namun cukup jelas di telinga Devan. "Istri itu cerminan suami. Kalau kamu kucel dan kurus kering begini, orang pikir Devan menelantarkan kamu. Padahal Devan kan sudah berbaik hati menikahi kamu yang menjadi pengganti Tamara."
Berbaik hati? Jelas salah, yang seharusnya bicara seperti itu adalah Putri. Dia yang sudah rela menjadi calon pengantin pengganti untuk menutupi aib dua keluarga itu, tapi tidak ada seorang pun dari mereka yang tahu berterima kasih padanya.
Rahang Devan mengeras, biasanya ia akan diam saja atau ikut memojokkan Putri. Tapi malam ini, setelah kejadian kopi dan melihat lebam di tangan Putri, komentar mamanya terdengar sangat mengganggu di telinganya.
"Ma, udah," potong Devan tiba-tiba. Tangannya terulur, merangkul pinggang Putri, sebuah gestur yang membuat tubuh Putri menegang kaget. "Putri kurus karena dia rajin ngurus rumah. Dia nggak pakai pembantu, Ma. Semua dia kerjain sendiri, jadi wajar kalau capek."
Bu Ambar terbelalak, begitu juga Putri. Devan membelanya?
"Ayo, kita makan. Aku laper." Devan menarik Putri menjauh dari mamanya, membawa istrinya menuju meja makan panjang yang sudah penuh dengan hidangan.
Di meja makan, siksaan yang sebenarnya baru dimulai.
Hidangan utama malam itu adalah steak daging sapi. Bagi orang sehat, itu terlihat menggugah selera. Tapi bagi Putri yang sedang menderita mual hebat akibat kankernya, aroma daging panggang itu terasa memutar isi perutnya.
Putri duduk dengan keringat dingin membasahi punggung, ia memegang pisau dan garpu dengan tangan gemetar. Tenaganya hilang entah kemana, memotong daging di piringnya terasa seperti memotong batu.
"Tuhan, tolong jangan biarkan aku pingsan di sini," bisik Putri, ia berdoa dalam hati.
Tangannya gemetar makin hebat saat mencoba menekan pisau. Denting garpu yang beradu dengan piring keramik terdengar berisik dan langsung menarik perhatian sepupu Devan yang duduk di seberang.
"Mbak Putri kenapa? Kok gemeteran gitu tangannya? Sakit?" tanya sepupu itu polos.
Semua mata di meja makan kini tertuju pada tangan Putri.
Devan menoleh, melihat tangan kurus istrinya yang berjuang mati-matian hanya untuk memotong sekerat daging. Urat-urat biru di punggung tangan Putri terlihat jelas menonjol.
Wajah Putri memerah menahan malu. "E-enggak... cuma agak licin pisaunya," elaknya gugup.
Ia mencoba menekan pisau itu lagi sekuat tenaga, namun tiba-tiba rasa nyeri hebat menjalar dari sendi-sendinya, pegangannya goyah.
Klontang!
Garpu terlepas dari tangannya, jatuh ke piring menimbulkan bunyi nyaring yang memecah keheningan makan malam.