Deskripsi — MY DANGEROUS KENZO
📚✨ Naya Putri Ramadhani selalu hidup di bawah aturan Mommy yang super strict. Serba rapi, serba disiplin… sampai napasnya terasa terkekang.
Tapi ketika study tour sekolah datang, Naya menemukan sedikit kebebasan… dan Kenzo Alexander Hartanto.
Kenzo, teman kakaknya, santai, dewasa, tapi juga hyper affectionate. Suka peluk, suka ngegodain, dan… bikin jantung Naya deg-degan tiap kali dekat.
Bagaimana Naya bisa bertahan antara Mommy yang strict, Pappi yang hangat, dan Kenzo yang selalu bikin dia salah tingkah? 💖
💌 Happy Reading! Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Dinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 - My Dangerous Kenzo
...----------------...
...✨📚💌 HAPPY READING! 💌📚✨...
...Selamat datang di cerita ini, semoga kamu betah, nyaman, dan ketagihan baca 😆💫...
...Siapin hati ya… siapa tahu baper tanpa sadar 💖🥰...
...⚠️🚨 DISCLAIMER 🚨⚠️...
...Cerita ini fiksi yaa ✨...
...Kalau ada yang mirip, itu cuma kebetulan 😌...
...No plagiarism allowed ❌📝...
...----------------...
Jam setengah lima pagi.
Naya mengeliat pelan saat kesadarannya mulai kembali. Matanya terbuka setengah, masih berat oleh sisa kantuk. Tangannya refleks bergerak ke samping—kosong.
Kenzo sudah tidak ada di sana.
Namun, kasur di sebelahnya masih terasa hangat. Hangat yang jelas bukan ilusi. Naya terdiam beberapa detik, menatap sisi kosong itu, jantungnya berdenyut pelan. Berarti… semalaman Kenzo benar-benar ada di sini.
Menemaninya.
Memeluknya.
Mengusap-usap punggungnya sampai ia tertidur tenang.
Ingatan samar mulai muncul. Lengan Kenzo yang melingkar protektif. Napasnya yang teratur. Usapan lembut di punggung Naya, berulang dan sabar, seolah ingin memastikan Naya baik-baik saja. Tidak ada kata-kata berlebihan, hanya kehadiran.
Naya menarik selimut sedikit lebih rapat, tanpa sadar mencari sisa kehangatan itu. Dadanya terasa aneh—hangat tapi juga sesak. Ada perasaan aman yang jarang ia rasakan, dan justru itu yang membuatnya bingung.
Kenzo selalu seperti ini. Datang tanpa banyak janji, tapi tinggal dengan tindakan.
Dari arah luar kamar, terdengar suara pelan. Seperti langkah kaki yang ditahan agar tidak berisik, lalu suara gelas dan air mengalir. Naya memejamkan mata sejenak, bibirnya melengkung tipis.
Dia belum pergi.
Entah kenapa, kesadaran itu membuat napas Naya terasa lebih ringan.
Pagi masih terlalu dini, tapi kehadiran Kenzo membuat segalanya terasa… tidak sesepi biasanya.
Naya bangun dari tempat tidur lalu melangkah ke kamar mandi. Air dingin menyentuh kulitnya, sedikit menyadarkan pikiran yang masih dipenuhi sisa kehangatan semalam. Ia bersiap sekolah seperti biasa—seragam rapi, rambut terikat sederhana.
Saat pintu kamar terbuka dan Naya melangkah keluar, pandangannya langsung tertarik ke arah jendela besar yang terhubung ke kolam.
Kenzo.
Cowok itu duduk di kursi dekat jendela, berhadapan dengan pappi. Posisi mereka santai, tapi pembicaraannya terlihat cukup serius. Kenzo sesekali mengangguk, pappi bicara sambil memberi gestur tangan. Namun di sela-selanya, tawa kecil muncul. Senyum Kenzo terlihat sopan, dewasa—berbeda dari sikap usilnya pada Naya.
Naya berhenti sejenak, hanya memperhatikan dari kejauhan.
Aneh… Kenzo bisa sedeket itu sama pappi, batinnya.
Ia lalu menuruni tangga menuju meja makan. Di sana sudah ada Reno yang sibuk dengan ponselnya, dan Mommy yang duduk tegak sambil memerhatikan meja.
Naya mengambil piring, lalu mulai menuangkan nasi goreng ke piringnya. Sedikit saja. Tidak penuh.
Mommy melirik cepat.
“Makannya cuma segitu?” tanyanya datar.
“Iya, My,” jawab Naya pelan.
Reno melirik sekilas ke piring Naya, lalu kembali ke ponselnya. “Ntar laper di sekolah,” gumamnya.
Naya hanya mengangkat bahu kecil.
Beberapa detik kemudian, langkah kaki terdengar mendekat. Kenzo muncul di ambang ruang makan. Seragamnya rapi, rambutnya masih sedikit lembap, wajahnya bersih tanpa ekspresi usil—versi yang biasanya hanya dilihat orang dewasa.
“Nay,” panggilnya pelan.
Naya menoleh.
“Hemm?”
“Jangan lupa minum susu,” katanya santai sambil menunjuk gelas di dekat piring Naya.
Mommy memperhatikan interaksi itu tanpa komentar, tapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang sulit ditebak.
Naya menurut. Tangannya meraih gelas, meski pipinya terasa hangat karena tatapan Kenzo yang terlalu familiar untuk ukuran pagi hari.
Reno mendengus kecil.
Naya menunduk, fokus ke makanannya. Tapi hatinya tidak setenang ekspresinya.
Karena ia tahu—
hari-hari setelah ini tidak akan sesederhana pagi ini.
Di sekolah, suasana lorong mulai ramai oleh siswa yang berlalu-lalang. Naya berjalan di tengah, diapit Reno di satu sisi dan Kenzo di sisi lain. Formasi yang sudah seperti pagar hidup.
Langkah mereka terhenti saat seseorang menghadang dari depan.
Arsen.
“Nay,” panggilnya.
Naya refleks menoleh.
“Iya, Sen?”
Arsen tersenyum tipis. “Minggu ini kita kerjain tugas bareng lagi, kan?”
Naya ragu. Bibirnya terbuka, lalu tertutup lagi.
“Emm, Sen…”
Belum sempat Naya melanjutkan, Reno sudah menyela.
“Nggak bisa. Nyokap nggak ngijinin.”
Arsen mengerutkan kening. “Hah?”
Kenzo maju setengah langkah, berdiri sedikit lebih depan dari Naya. Tangannya santai di saku, tapi sorot matanya tegas.
“Nyokapnya Naya galak,” ucap Kenzo datar tapi menusuk.
“Naya nggak boleh deket-deket cowok. Jadi lo… jauh-jauh.”
Lorong mendadak terasa sunyi.
Beberapa siswa yang lewat melirik penasaran. Arsen terdiam, wajahnya jelas menahan emosi. Pandangannya beralih ke Naya, seolah mencari pembenaran.
Naya menunduk.
“Maaf, Sen…”
Kata sederhana itu justru terasa paling menusuk.
Arsen menghela napas, lalu tersenyum hambar.
“Ya udah. Gue cuma nanya.”
Ia melangkah pergi, bahunya terlihat sedikit menegang.
Begitu Arsen menjauh, Naya langsung menoleh ke Kenzo.
“Ken…”
Kenzo melirik ke bawah, menatap Naya singkat.
“Gue nggak salah, kan?”
Reno mendengus kecil.
“Kalau nyokap denger langsung dari Kenzo, bisa bahaya.”
Kenzo tersenyum miring.
“Makanya gue yang ngomong. Biar jelas.”
Naya tidak menjawab. Dadanya terasa sesak—bukan karena Arsen, tapi karena ia mulai sadar…
setiap langkahnya kini selalu berada dalam pengawasan.
Dan itu baru hari pertama.
Di kelas, Naya baru saja duduk ketika Citra sudah lebih dulu menoleh ke arahnya. Tatapan Citra tajam, penuh rasa ingin tahu.
“Tuh kan,” ucapnya sambil nyengir.
“Tumben anak baru nggak ngintilin lo?”
Naya membuka tasnya pelan.
“Mommy marah kemarin.”
Citra mendengus kecil.
“Bener kan dugaan gue.”
Ia menyandarkan dagu di telapak tangan.
“Reno juga cerita ke gue. Udah deh, Nay. Jangan deket-deket dia.”
Naya berhenti mengeluarkan buku, lalu menoleh.
“Kenapa?”
Citra memutar bola matanya.
“Gue enek liatnya.”
Nada suaranya jujur, tanpa basa-basi.
“Keliatan banget dia deketin lo. Nggak pake mikir.”
Naya hanya menghembuskan napas pelan.
“Hem…”
Citra melunak sedikit.
“Gue bukannya jahat, Nay. Gue cuma nggak mau lo kenapa-kenapa.”
Naya menunduk, menatap mejanya sendiri.
Ia tahu… Citra tidak sepenuhnya salah.
Tapi entah kenapa, setiap kali orang-orang menyuruhnya menjauh,
dadanya justru terasa semakin sesak.
...----------------...
Citra dan Naya berjalan bersama menuju kantin.
Dari kejauhan, Arsen memperhatikan Naya dan Citra yang sedang duduk berdampingan. Tatapannya tajam, rahangnya mengeras. Tanpa ragu, ia melangkah mendekat.
“Nay,” panggilnya.
Naya menoleh.
“Iya, Sen?”
Arsen berdiri tepat di depan mereka.
“Kenapa sih lo nggak boleh deket sama gue, tapi deket sama Kenzo boleh-boleh aja?”
Beberapa siswa di sekitar mulai melirik. Suasana kelas yang tadinya biasa mendadak terasa panas.
“Kenzo emang udah sering main ke rumah,” jawab Naya tenang.
Arsen mendengus.
“Hati-hati. Lo bisa suka lagi.”
Citra melirik kanan-kiri, sadar beberapa pasang mata mulai memperhatikan mereka.
“Maksud lo?” Naya menyipitkan mata.
“Kalo gue nggak boleh deket sama lo,” suara Arsen meninggi,
“lo juga jangan deket sama dia.”
“Urusannya sama lo apa?” balas Naya cepat.
Arsen makin nyolot.
“Gue denger dia playboy.”
Naya tersenyum tipis—dingin.
“Gak papa. Gue yang jadi playgirlnya.”
Citra refleks menelan ludah.
“Nay—”
“Dia ganti-ganti cewek!” Arsen makin emosi.
“Sama gue dia nggak ganti,” jawab Naya mantap.
Citra berdiri di antara mereka, bingung harus bagaimana.
“Udah, udah—”
Belum sempat Citra melanjutkan, Kenzo dan Reno sudah berjalan mendekat. Aura mereka langsung bikin sekitar jadi hening.
“DIA SANA SINI MAU!” bentak Arsen.
“GUE BIKIN DIA GAK MAU!,” sahut Naya tanpa ragu.
“DIA COWOK GAK WARAS, NAY!!”
“GUE, GUE BIKIN DIA WARAS!!!.”
Kenzo terkekeh kecil, berdiri tepat di samping Naya.
“My girl on fire.”
Reno langsung maju setengah langkah, tepat berhadapan dengan Arsen.
“Heh! Lo apain adek gue, hah?”
Arsen menoleh tajam.
“Rese lo—”
“Hus, hus. Jauh-jauh,” potong Citra cepat, mendorong Arsen menjauh.
Kenzo menatap Arsen lurus, senyumnya hilang.
“Lo gak paham juga ternyata.”
Arsen terdiam, dadanya naik turun.
Sementara Naya berdiri di tempatnya—
jantung berdegup kencang,
tapi punggungnya tegak.
Untuk pertama kalinya,
dia tidak mundur.
“Ternyata bener,” Arsen mendengus, matanya menatap Naya tajam,
“lo suka kan sama si Kenzo ini. Bela-in dia terus.”
Belum sempat Naya menjawab, Reno sudah lebih dulu maju setengah langkah.
“Gue gak masalah adek gue suka Kenzo. Jelas dia ganteng,” ucap Reno santai tapi nusuk.
“Nah… elu?”
Arsen terdiam. Rahangnya mengeras, matanya beralih ke Kenzo sebentar—lalu ke Naya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Arsen berbalik dan pergi begitu saja, menembus kerumunan murid.
Suasana masih tegang.
“Jangan ge’er lo!” kata Reno ke Kenzo sambil menunjuk.
“Ayo, cabut. Bentar lagi bel pulang.”
Reno berjalan duluan, tangannya sudah tergenggam dengan tangan Citra.
Citra sempat menoleh ke Naya, memberi tatapan you okay? sebelum menghilang di lorong.
Kenzo melangkah mendekat.
Tangannya terangkat, merangkul bahu Naya dengan gerakan pelan tapi protektif.
Naya masih terdiam, napasnya belum sepenuhnya stabil.
“It’s okay, my princess,” bisik Kenzo lembut di dekat telinganya.
“I’m here.”
Naya menunduk sedikit, membiarkan dirinya bersandar sesaat.
Entah sejak kapan, rasa aman itu terasa… nyata.
Dan untuk pertama kalinya,
dia tidak merasa sendirian menghadapi dunia yang ribut.
...----------------...
...💥 Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾 biar nggak ketinggalan update selanjutnya!...
...🙏💛 TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA! 💛🙏...
...Dukung karya lokal, gratis tapi berasa 🫶📖...
...Biar penulisnya senyum terus 😆✨...
...----------------...